Misteri Hilangnya Klara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut seorang gadis yang sedang duduk di kursi bawah pohon mahoni. Dia adalah Klara, gadis yang cukup pendiam dan kutu buku yang selalu membaca buku di bawah pohon mahoni yang ada di dekat kelasnya. Berkali-kali Klara membenarkan rambutnya yang diterbangkan oleh angin. Sekarang angin tersebut sudah mulai kencang membuat Klara menengadahkan kepalanya ke atas awan yang sudah berwarna abu-abu. Ternyata hari ini akan turun hujan yang cukup deras dan bercampur dengan angin. “Sebentar lagi hujan deras. Sebaiknya aku segera masuk ke kelas.” Klara beranjak dari tempat duduknya.

Baru saja kakinya menyentuh ubin kelas, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya dan disertai dengan angin yang berhembus dengan kencang. Seakan-akan alam sedang menunjukkan kemarahannya kepada manusia yang telah merusak alam. Klara berjalan menuju tempat duduknya dengan tenang. Kemudian dia duduk dan kembali membaca buku yang ada di tangannya. Terdengar olehnya, pembicaraan teman-temannya di bangku belakang.

“Eh kalian tahu enggak,” ucap Siska yang sedang mengobrol.
“Tahu apa?” sahut teman-teman yang lain penasaran.
“Kalian tahu rumah kosong di ujung sekolah kita itu kan?” jawab Siska bersemangat.
“Iya. Ada apa dengan rumah itu?” tanya Wanda teman sebangku Klara yang ikut mengobrol bersama Siska dan teman-temannya.
“Kemarin waktu aku pulang sekolah, aku tidak sengaja melewati rumah kosong yang ada di depan sekolah kita. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa seberani itu untuk bisa melewati rumah kosong tersebut sendirian,” ucap Siska berbangga diri.

“Terus-terus.”
“Terus, Ketika aku tepat berada di depan rumah kosong itu, aku sempat menengokkan kepalaku, untuk sekedar melihat ruangan yang ada di dalamnya, apakah benar aura rumah itu seseram perkataan orang-orang di sekitar sini yang konon katanya setiap orang yang masuk ke dalam rumah tersebut akan hilang secara misterius. Akan tetapi setelah aku amati dan aku cermati, rumah tersebut biasa-biasa saja dan enggak ada hal yang menarik apa pun untuk dijelajahi. Aku pun kembali berjalan meninggalkan rumah tersebut sambil sesekali menengokkan kepalaku,” ucap Siska.

“Udah, ceritanya sampai situ doang?” tanya Wanda yang tadinya sangat tertarik dengan cerita Siska yang menyeramkan, mendadak kecewa karena tidak mendapatkan hal yang menyeramkan dari cerita tersebut.
“Belum, cerita ini belum selesai,” jawab Siska.
“Ya udah cepat dilanjutin, kita-kita kan udah penasaran banget dengan kelanjutan cerita kamu,” ucap Sari.

“Iya-iya aku lanjutin. Waktu itu aku berkali-kali menengokkan kepalaku, berharap suatu kejadian akan muncul. Akan tetapi nasibku tidak seberuntung perkiraanku hingga pada tengokan yang kelima aku melihat seorang wanita yang berlumuran darah sedang memandang ke arahku dengan tatapan penuh kemarahan. Aku tidak tahu apa maksud dia memandang aku seperti itu. Tapi dari tatapannya, seakan-akan dia sedang meminta sesuatu yang pernah aku ambil. Padahal aku tidak pernah menyentuh apa-apa di rumah tersebut. Jangankan menyentuh, masuk ke dalam rumah tersebut pun aku tidak pernah.”

“Mungkin hantu tersebut memang kehilangan sesuatu. Makanya setiap ada orang yang masuk kedalam rumah tersebut, mereka akan hilang secara misterius,” ucap Wanda menebak-nebak. “Atau mungkin hantu tersebut dendam dengan pacarnya, sehingga setiap ada orang yang masuk ke dalam rumahnya, hantu tersebut akan membunuh mereka dengan sadis,” timpal Rara.
“Ah enggak mungkin hantu bisa bertindak kriminal seperti itu,” ucap Sari yang tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis.
“Bisa saja hantu bertindak kriminal. Di sinetron-sinetron juga banyak hantu yang melakukan tindak kriminal,” Jawab Rara yang berbanding terbalik dengan Sari.

“Kamu itu kebanyakan nonton sinetron tahu. Makanya kamu jadi korban sinetron, suka baper dan menyamakan dunia kita dengan dunia sinetron. Coba deh kamu contoh aku, yang kebanyakan suka nonton berita, jadi enggak pernah baper dan enggak pernah ketinggalan berita-berita ter-update dan terbaru di Tv,” ucap Sari.
“Biarin, aku kan sukanya nonton sinetron, biar gaul. Enggak kayak kamu, udah enggak gaul dan sukanya nonton berita kayak orangtua, makanya muka kamu terlihat sedikit tua,” balas Rara dengan sengit.
“Apa kamu bilang? Huuuu … Dasar korban sinetron.” ucap Sari sambil menjulurkan lidahnya meledek Rara.

Rara hanya bisa mencubit Sari, melampiaskan kekesalannya. Mereka semua tertawa melihat perdebatan antara Sari dengan Rara, sampai tiba-tiba mereka dikagetkan oleh bel yang berdentang tanda masuk. Siska dan teman-temannya kini sudah kembali ke tempat duduk mereka masing-masing termasuk Wanda teman sebangku Klara. Klara yang sedari tadi menyimak cerita Siska secara diam-diam, menjadi penasaran dengan rumor rumah tersebut. Akhirnya dia memutuskan setelah pulang sekolah akan menjelajahi rumah kosong tersebut.

Bel tanda pulang telah berbunyi. Semua anak-anak segera mengemasi peralatan sekolah mereka masing-masing untuk segera pulang ke rumah. Hari ini terlihat beberapa anak sudah tidak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan sekolah mereka. Mungkin karena efek dari cerita seram Siska yang mereka dengar saat istirahat.

“Baik anak-anak, pelajaran hari ini sudah selesai dan kita akan melanjutkannya besok. Untuk ketua kelas silahkan memimpin doa.” Ucap pak Bahrun guru IPA di sekolah tersebut. “Berdoa mulai.” Ucap sang ketua memimpin doa dengan lantang. Semua anak-anak mengikuti instruksi sang ketua. Mereka berdoa dengan khusyuk tanpa main-main.
“Selesai!” ucap sang ketua mengakhiri doa.
“Cukup sekian dari bapak. Hati-hati di jalan ya? Wassalamualaikum Wr. Wb,” ucap pak Bahrun mengakhiri pertemuan hari ini. “Waalaikumsalam Wr. Wb.” Jawab murid-murid secara serempak. Mereka semua berebut ke luar dari ruang kelas, hanya Klara dan beberapa anak saja yang masih santai berada di ruang kelas.

“Ra, kita pulang bareng yuk?” ajak Wanda.
“Maaf Da, hari ini aku ada urusan, jadi aku enggak bisa pulang bareng sama kamu,” tolak Klara dengan sopan.
“Oh gitu ya? Ya udah enggak apa-apa, aku pulang dulu ya?” ucap Wanda yang kemudian tersenyum.
“Iya, hati-hati di jalan ya?” ucap Klara sambil tersenyum.
“Iya,” jawab Wanda yang juga diikuti dengan senyumannya. Setelah menjawab perkataan Klara, dia berlari ke luar kelas mencari teman yang bisa ia ajak untuk pulang bersama-sama. Klara berjalan ke luar kelas sambil celingukan mengamati keadaan sekitar. Setelah aman dia berjalan sambil berlari menuju rumah kosong di depan sekolah.

Entah apa yang membuat kaki Klara cepat sekali berada di depan rumah kosong tersebut. Dia berdiri mematung di depan rumah tersebut sambil mengamati rumah yang sudah dipenuhi dengan semak belukar yang merambat. Masuk enggak ya? Batin Klara ragu-ragu. Setelah beberapa menit Klara menimbang-nimbang atas keraguannya, akhirnya dia memutuskan untuk memasuki rumah kosong tersebut. Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba sebuah guntur menggelegar, membuat Klara terlonjak dari pijakannya dan sebuah angin kencang menerpa wajah Klara.

“Astagfirullahaladzim, kenapa di saat-saat seperti ini harus ada guntur dan angin besar? Membuat suasana makin mencekam saja,” gerutu Klara sambil memandang ke atas langit yang sekarang sudah kembali berwarna kelabu. “Sepertinya akan turun hujan deras lagi. Sebaiknya aku cepat-cepat masuk ke dalam rumah ini.” Klara melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah tersebut. Setelah dia berada di dalam rumah tersebut, Klara segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia mengamati setiap benda yang dia temui di depannya, sampai dia menemukan sebuah ruangan yang cukup luas dan hanya ada sebuah ranjang serta lemari kecil di sampingnya. Sepertinya, dulu ini adalah kamar seorang wanita yang dilihat oleh Siska kemarin, batin Klara.

Dia melangkahkan kakinya perlahan-lahan memasuki ruangan tersebut dan mendekati lemari kecil yang berada di samping ranjang. Klara merasa penasaran dengan isi lemari tersebut, dia pun membukanya secara pelan-pelan. Ketika pintu lemari tersebut hampir terbuka, tiba-tiba sebuah suara bedebam memekakan telinga dan membuat Klara kaget setengah mati. “Astagfirullahaladzim, suara apalagi itu? Bikin kaget saja. Mungkin itu suara kucing atau jangan-jangan itu pencuri? Sebaiknya aku cepat-cepat membuka lemari ini dan pergi sebelum pencuri itu membunuhku,” ucap Klara sambil membuka lemari tersebut dengan tenaga penuh.

Pelan-pelan pintu lemari tersebut terbuka dan ternyata isi di dalamnya adalah sebuah kotak yang berisikan kalung berliontin hati. Klara mengamati kalung tersebut dengan terkagum-kagum. Setelah puas memandang kalung tersebut, dia melihat sebuah potret seorang gadis bersama dengan seorang kekasihnya di bawah kalung tersebut. Klara mengambil kalung tersebut dan juga mengambil potret yang ada di bawahnya. Dia mengamati siapa orang yang ada di potret tersebut.

“Siapa orang ini? Sebelumnya aku tidak pernah melihat mereka berdua, atau jangan-jangan mereka adalah orang yang mempunyai rumah ini?!” ucap Klara menebak-nebak.
“Em.. enggak tahu ah. Lagian aku juga enggak mau tahu tentang mereka berdua.”

Klara meletakkan kembali potret tersebut ke tempat semula. Dan dia mengamati kembali kalung berliontin hati yang ada di tangannya. “Wow bagus juga kalungnya. Apa sebaiknya aku bawa pulang saja ya? Dan aku juga belum pernah mempunyai kalung, lagian setiap aku minta dibeliin kalung ke mama pasti enggak pernah dibeliin.”
Klara mengalungkan kalung tersebut di lehernya sambil tersenyum bahagia, setelah kalung tersebut melingkar di lehernya tiba-tiba sebuah angin kencang menerpa seluruh tubuhnya dan dia menjerit karena di depannya berdiri sesosok wanita yang penuh dengan darah mendekat ke arahnya.

“Ahh, siapa kamu?” tanya Klara dengan histeris karena hantu wanita tersebut semakin mendekat ke arahnya dan tercium bau yang sangat anyir dari tubuh wanita tersebut, membuat Klara merasa mual.
“Sekarang kamu harus ikut aku ke dalam kalung tersebut,” ucap hantu wanita tersebut sambil menatap Klara dengan tajam. “Kenapa aku harus ikut kamu?”
“Karena kamu telah memakai kalung itu ke lehermu. Sekarang kamu harus menerima akibatnya.”
“Tidak, aku tidak sengaja memakainya. Sekarang aku akan mengembalikkannya,” ucap Klara mencoba bernegosiasi dengan hantu tersebut.
“Tidak, kamu sudah terlambat. Sekarang kamu harus ikut aku.”
“Tidak, aku tidak mau ikut kamu. Argghhh!!” erang Klara menahan sakit di kepalanya, karena rambut Klara ditarik secara paksa oleh hantu tersebut dan tubuh Klara terseret mengikuti hantu wanita tersebut pergi ke dalam kalung yang dipakai Klara.

Kalung berliontin hati tersebut kembali ke tempat semula yaitu di atas sebuah potret seorang gadis bersama kekasihnya di dalam lemari kecil di samping ranjang. Hujan mulai turun membasahi seluruh permukaan bumi. Dan rumah tersebut kembali dengan kekosongannya dan kemisteriusannya, seakan-akan menjadi saksi bisu atas kejadian menghilangnya Klara di dalam kalung tersebut.

Cerpen Karangan: Irmayul Afifah
Facebook: Irmayul Afifah

Cerpen Misteri Hilangnya Klara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Rumah Angker

Oleh:
Minggu ini Yona berkumpul dengan Vela, Ricky, Hesa dan Lyla. Yona tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, desa yang penuh dengan kemisteriannya, dan penuh dengan

Penakut

Oleh:
Aku dan teman-teman seperjuanganku bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Walaupun aku ini sudah memakai seragam putih abu-abu, tapi bukan berarti permainan seperti ini dilarang ‘kan ? Yahh.. Kuakui juga

I Said Seriously

Oleh:
“Sepi amat sekolahmu.” Kata Kak Reno. “Yaiyalah, Kak. Orang sekarang baru jam 6 kurang 15! Kakak, sih, kepagian nganterinnya.” Jawabku. Bersalaman dengan Kak Reno. Kemudian masuk. “Pagi, Pak. Sendirian

Nightmare

Oleh:
Beni adalah siswa SMA Merah Putih. Dia sangat populer dan dijuluki sebagai Beni’s Male Number One. Walaupun kenyataannya begitu, dia tidak pernah merasa sombong ataupun bersikap semena-mena. Itulah sebabnya

Musik Tengah Malam

Oleh:
Musik piano yang membuatku terjaga di tengah malam kembali terdengar. Sudah beberapa hari ini rumahku menjadi horor karena alunan musik tersebut. Alunan musik yang entah dari mana datangnya membuatku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *