Misteri Rumah Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

“Sial, sudah semakin larut, di sini, di mana aku bisa menemukan tempat untuk beristirahat?” Gerutu Ami kesal.

Aku melirik, tanpa berkomentar apa pun. Kembali ku perhatikan kegelapan-kegelapan malam yang dengan cepat menghilang dari pandanganku, karena laju mobil yang ku tumpangi memang sangat cepat. Kami baru saja pergi berlibur dari luar kota, memang jalan yang kami ambil ini merupakan jalan pintas, menurut Ami ini jalan yang akan membawa kami lebih cepat sampai, tapi bukannya cepat, yang ada kami malah nyasar entah ke mana, hingga kami kemalaman di jalan. Hanya saja, kami seperti ada di sebuah perkampungan yang memang tidak terlalu banyak rumah di sini, dari tadi ku perhatikan kami selalu melewati perkebunan, dan jalanan sepi, bak kota tak berpenghuni.

“Kita istirahat di mana dong Ri, kamu tuh dari tadi diem terus?” Nada Ami agak meninggi.
Aku kembali menatapnya. “Di mana lagi? Kau lihat sepanjang perjalanan tadi kita tidak menemukan sebuah hotel, losmen, ataupun tempat penginapan lainnya? Apa kau mau beristirahat di tempat sesunyi ini? Sudah jalankan saja mobilnya, jika kau lelah biar aku yang menyetir!” Jawabku dengan nada datar, seolah tak peduli apa yang dipikirkan dan dirasakan Ami saat ini. Seketika mobil terhenti, Ami ke luar dari mobil. “Aku lelah, kamu yang nyetir!” Kata Ami singkat langsung pindah ke bangkuku sebelumnya. Tanpa banyak bicara aku hanya menurutinya dan mulai melajukan mobil kembali.

Cukup lama perjalanan, aku dan Ami sama-sama terdiam. Hingga akhirnya…
“Ri, stop deh, lihat tuh ada rumah nyala, gimana kalau kita minta tolong ke sana aja? Ini udah malam banget, lagian aku lelah?” Ucap Ami menunjukkan sebuah rumah padaku.
Aku hanya mengangguk tanda setuju, segera ku parkirkan mobil di depan rumah itu. “Permisi?” Teriak Ami tak sabaran. Beberapa kali kami melakukannya, tapi sama sekali tak ada jawaban. Akhirnya Ami mendekat masuk, dan ternyata pintunya tidak terkunci. Sesaat Ami melirik ke arahku, ia langsung membuka pintu itu, dan hendak masuk.

“Hei, Ami! Kita tak bisa masuk begitu saja, nanti kita dikira pencuri!” Aku mencegahnya.
“Tidak akan, kita juga sudah beberapa kali mengucapkan salam, tapi tak ada jawaban bukan, mungkin saja ini seperti penginapan, atau rumah yang sudah tidak terpakai, atau entahlah, anggap saja ini rejeki kita. Sudahlah aku lelah, jika kau tak mau masuk terserah kau!” Ami langsung masuk begitu saja. Sementara aku masih terdiam mematung memandang sekeliling rumah itu, hingga akhirnya… “Aaahhhhh Ri, Riana sini cepetan!” teriak Ami yang sontak membuatku kaget dan segera menghampirinya.

“Ada apa?” Tanyaku panik.
“Lihatlah, lihat rumah ini bagus sekali bukan, dan lihat ada makanan di sini, buah-buahan, aahh sepertinya Tuhan memang sayang pada kita Ri.” Ami tampak girang. Rumah ini memang terlihat bagus, bersih, dan terawat. Ada makanan, juga buah-buahan segar. Hanya saja mengapa rumah sebagus ini dibiarkan begitu saja, apa sang pemilik tidak takut kalau ada pencuri masuk, atau orang jahat lainnya, dan ke mana sebenarnya mereka? Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di benakku. Aku terus memperhatikan setiap detail rumah itu. Rasa penasaran semakin muncul di benakku.

“Ami, lebih baik kita lanjutkan perjalanan saja!” ucapku hendak berlalu. “Apa kau gila? Tidak, aku tidak mau!” Ami bersikeras. Seperti ada sesuatu yang mengawasi, sesosok bayangan dapat ku tangkap dengan jelas di salah satu ruangan di sana. Perasaanku semakin tak karuan.
“Ayo pergi sekarang Ami!” Nadaku meninggi.
“Ada apa denganmu? Aku sudah lelah, ayolah hanya semalam saja, besok kita lanjutkan lagi!” Ami tampak begitu kesal. “No.” seketika angin terasa menerpa tubuhku.

Sebuah bayangan seperti sedang memperhatikan kami, diriku semakin tak karuan, di satu sisi ku perhatikan Ami terlihat baik-baik saja, ia benar-benar asyik menikmati hidangan di sana, keringat terus bercucuran dari tubuhku, detak jantungku berdetak semakin kencang, napasku semakin tak teratur. Aku kembali ke arah Ami, kali ini ia tampak terdiam kaku, wajahnya tertunduk.

“Ami, are you oke?” Kataku cemas dan berusaha mengendalikan diriku. Perlahan ku lihat wajah Ami berubah, pandangannya kosong, wajahnya benar-benar pucat, dan dia menatap seolah ingin membunuhku. “Ada apa Ami? Ini aku Riana, ayolah, kau tak apa?” Aku semakin tak mengerti dengan situasi ini. Ia mendekat dan mendekat, dengan cepat ia membanting tubuhku menabrak tembok, kemudian ia mencekikku, hingga tubuhku benar-benar terangkat. “A..a..mi ini a..ku, le..pas..aahhh..kan!” Aku bahkan sampai tak bisa lagi bernapas.

“Brruuukkkk.” kembali ia membanting tubuhku.

Dengan semampuku, aku berusaha bangkit, dan menjauhinya, aku berusaha ke luar dari rumah itu. Hanya saja, pintu itu tiba-tiba terkunci rapat, seolah tak memberiku celah untuk bisa pergi dari sana. Berulang kali aku berusaha menyadarkan Ami, tapi semua itu sia-sia saja. Ami semakin menggila, dia tidak terkendali, entah apa yang merasuki tubuhnya hingga dia jadi seperti itu. “Kalian tak apa?” Suara seorang wanita mengagetkanku. Di satu sisi ku lihat Ami masih sibuk dengan buah-buahan segar di tangannya.

“Ada apa ini, bukankah tadi.”
“Kau tak apa?” Wanita itu kembali bertanya.
“Kalian siapa?” tanyaku dengan nada panik.
“Tenanglah, namaku Clara dan ini suamiku Thomas, kami pemilik rumah ini.”
Mendengar itu aku jadi merasa bersalah, takut-takut nantinya aku dikira maling yang masuk ke rumah mereka.

“Maafkan kami, tadi kami.” belum sempat melanjutkan kata-kataku, sang lelaki sudah memotong perkataanku. “Tak apa, kami sangat senang jika ada tamu yang datang, bahkan kami akan senang jika selamanya kalian mau tinggal di sini bersama kami.” mereka saling berpandangan. Ku perhatikan Ami seolah tak peduli dengan percakapan kami.
“Apa-apaan ini, dia tak mengenal kami, membiarkan pintu rumahnya tidak terkunci, tidak marah saat mengetahui kami ada di rumahnya, tidak marah melihat Ami menghabiskan makanannya, dan sekarang mereka minta kami tinggal dengan mereka? Ini konyol.” pikirku.

“Tidak, terima kasih kami harus pergi, dan ku rasa sebentar lagi kami akan melanjutkan perjalanan.”
“Aku akan tinggal di sini.” ucap Ami dengan nada santai. Aku berusaha menarik tangan Ami ke luar, tapi ia seolah tak peduli denganku. Kedua orang tadi tiba-tiba berubah, dan seperti ada lubang besar yang menganga di lantai, seolah seperti neraka, api begitu mendidih jelas ku lihat di sana. Aku berusaha ke luar dan menggenggam erat tangan Ami, tapi wanita itu menarik kakiku hingga aku terjatuh. Aku tetap berusaha berontak, tapi tenaga mereka sangat kuat hingga Ami lepas dari genggamanku.

“Tidaaaakkkk… Ammmiiii..!!!”

Aku melihat lubang itu kembali tertutup dan setelah itu entahlah. Aku berusaha bangkit dan melihat sekelilingku.

“Di mana aku?”

Perlahan ku buka mata dan coba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ku lihat sebuah rumah tua tepat di hadapanku. Kepalaku seperti terbentur benda keras, aku tak bisa mengingat apa pun. Aku berusaha bangkit mendekati mobilku. “Ami? Kita di mana?” Aku segera melajukan mobil dari tempat itu, selama perjalanan ku lihat Ami hanya terdiam hingga akhirnya. “Aku akan menbawamu kembali.” seketika mobil tak dapat ku kendalikan hingga akhirnya aku menabrak sebuah pohon besar.
“Ikutlah kembali ke rumahku!”

Cerpen Karangan: Margareta Wila
Facebook: Margareta Wila

Cerpen Misteri Rumah Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tempat Kosku

Oleh:
Ah, kubaringkan tubuhku di kasur, badanku terasa capek seharian mencari tempat kos, dan akhirnya dapat juga dengan harga sangat murah 1 bulan 200 ribu, walaupun tempatnya tak begitu bagus

Hantunya Beneran

Oleh:
Pernah gak kalian ke rumah hantu di suatu lokasi bermain? Pernah gak kalian sadar di antara hantu yang bohongan ada hantu yang beneran? Gue pernah. Jadi waktu gue masih

Sahabat Sejati Tak Sejati

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Namaku Ulfah, aku seorang anak perempuan yang sangat suka dengan kata Sahabat. Tapi selama enam tahun di Sekolah Dasar

Boneka Misterius

Oleh:
Seperti biasa aku sekolah, apalagi hari ini adalah hari piketku. “Vika, Jangan lupa! Kamu kebagian bersihin gudang sekolah!” kata ketua piket. “Sabar ya, Vika!” kata temanku Talia menghibur. Ketika

Dendam Siluman Tikus (Part 2)

Oleh:
Aku bersembunyi di bawah meja. Aku masih hidup. Aku menatap sebuah kaca, tergambar wajahku menyiratkan ketakutan. Aku tahu aku tidak bisa mengharapkan ampunan apa pun dari Malak. Dia sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *