Misteri Seorang Gadis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 20 May 2013

Everyday is holiday. Maha, Aryo, Dani, Yuli, dan Vita mengawali liburan sekolah mereka dengan menginap di villa dekat perkebunan kopi milik orang tua Aryo. Mereka sengaja membangun villa itu sebagai hadiah untuk Aryo atas keberhasilannya meraih ranking 1 umum di sekolahnya. Mereka berlima sengaja pergi waktu subuh untuk melihat pemandangan matahari terbit dari villa itu. Dalam perjalanan menuju villa, Maha mendengar suara jeritan seorang gadis.
“He eh.. tunggu deh, denger ga tadi? Ada yang jerit..” kata Maha.
“Ga ada suara apa-apa, ngaco lu..” kata Aryo. Yuni dan Vita mulai merinding. Dani menutup kupingnya dengan headset.
“Udah deh..jalan lagi yuk, udah deket juga villanya..”
Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan Maha yang masih bingung dan penasaran.

Sampai di villa, meraka di sambut oleh penjaga villa itu, Bik Mayu dan Mang Asep. Aryo, Dani, Yuli, dan Vita langsung masuk ke dalam villa. Maha masih terdiam di luar. Bik Mayu lalu menghampirinya.
“Kenapa bengong-bengong sendiri Den, ayo masuk.. sarapan dulu. Aden pasti lelah sekali…”
“Nanti dulu bik. Aku rasa ada yang aneh dekat villa ini..”
“Aneh kenapa Den? Kalo boleh Bik Mayu tahu..”
“Tadi waktu lewat air terjun, aku denger ada cewek menjerit bik..” jawaban dari Maha membuat jantungnya berdebar, peluh dinginpun keluar.
“Aneh kan bik?” dengan terbata-bata, ia menjawab pertanyaan Maha, “mungkin warga desa seberang yang lagi mandi, Den..”
“Ooh.. mungkin juga bik. Ya udah.. aku masuk dulu ya bik.”
“Nggih Den, silahkan..” Bik Mayu duduk lemas di kebun depan. Jantungnya masih berdebar dan ia mulai ketakutan. Semakin ia melirik ke sekitar, semakin ia ketakutan dan gelisah.

Aryo, Dani, Yuli, dan Vita sibuk dengan menu sarapannya masing-masing. Maha hanya numpang lewat di depan mereka dan menuju lantai 2.
“Kakak, sarapan dulu, nanti maagnya kambuh..” ajak Vita.
“Nanti dulu dik…” hatinya terasa terpanggil untuk naik ke lantai 2. Keanehan kembali ia rasakan ketika ia melewati kamar paling ujung. Di dekat kamar itu adalah tempat strategis untuk melihat pemandangan matahari terbit. Lalu ia memutuskan berdiri di sana.
“Yah.. telat deh.. mataharinya udah naik..” Maha dikejutkan oleh suara gadis dari dalam kamar itu. Ia ingin membuka pintu itu, tapi gadis di dalam membuka jendela sambil menyapanya, “Ada tamu ya…” kata gadis itu lembut.
“Maaf kalau aku mengganggumu, aku..”
“Kakak, ayo turun, kita jalan-jalan lagi..” terdengar suara Vita memanggilnya, ia menoleh ke arah Vita, “Iya dik, tunggu bentar,” “Aku turun dulu ya…” saat kembali memalingkan matanya ke arah gadis itu, didapati sudah menghilang dari jendela itu. Maha lalu membuka pintu kamar itu dan yang didapatinya, kamar itu kosong. Bulu kuduknya merinding. Ia kembali dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Broo.. ngapain lo di sini?”
“Aaah.. kirain lo hantu, dari mana sih? Kenapa bisa ada di sini, Dan?”
“Tadi gue ke toilet, terus sekalian aja naik.. ternyata pemandangannya bagus juga ya..”
“Ayo turun.. udah ditungguin di bawah. Kita jalan-jalan lagi.”
“Asikk jalan-jalan lagi.” Mereka lalu meninggalkan tempat itu. Seketika gadis itu kembali membuka jendelanya.
“Lama banget sih.. ngapain aja kalian di atas?”
“Ini.. si Maha, melamun sendirian depan kamar di ujung itu tuh..” kata Dani sambil menunjuk tempat itu.
“Aah.. dasar lu..!” ledek Aryo.

“Den, nanti jangan pulang terlalu sore ya.. sepertinya akan hujan.” Kata Mang Asep.
“Oke.. mamang. Siapin nanti kamar buat kita ya + makanannya.” Mereka berangkat menuju air terjun yang kata Aryo, pemandangannya indah itu. Tak lama kemudian, sampailah mereka.
“Kakak.. bagus banget buat foto-foto..” Vita mengambil HP dalam ranselnya, “Fotoin kak..”
“Yaah.. narsis banget kamu dik..”
“Kiri-kiri, kurang melek tuh..”
“Apaan sih lo Dan!”
“Cuma ada satu air terjunnya, Yo?”
“Ada 2. Ini yang gede, yang kecilan di sana, deket pohon cemara tuh..”
“Gue ke sana ya.. mau foto-foto.. ha ha”
“Awas ya.. nanti di culik kuntilanak lo..”
Ketika sampai di sana, Maha bertemu dengan gadis yang di jendela tadi. Gadis itu sedang bermain air.
“Hai.. ketemu lagi. Tadi kemana sih?”
“Kamu yang kemana..” gadis itu tertawa kecil.
“Boleh aku foto?”
“Dengan senang hati..”
Setelah mendapat foto-fotonya, Maha melanjutkan obrolannya. Ia menanyakan nama gadis itu, namun gadis itu tidak menjawabnya. Lalu terdengar suara Yuli memanggilnya.
“Mahaaa…! Kamu dimana sih? Ayoo pulang, udah mau hujan nih..”
“Aku udah mau pulang nih.. kamu ga pulang juga?” tanya Maha kepada gadis itu. Dia menggelengkan kepalanya.
“Kakak, ayo pulang.. mau ujan nih!” Vita memanggilnya tidak jauh dari tempat itu.
“Iya dik, iya.. tunggu..” Maha beranjak dari tempat itu. “Aku pulang ya…”
“Sinta..” kata gadis itu.
“Akhirnya jawab juga.. Ok! Sampe ketemu di villa.”
Vita yang dari kejauhan bingung melihat kakaknya bicara sendiri. “Aah.. bodo amat! Kakak mana mau jujur kalo di tanya..”

Setelah berkumpul kembali di air terjun yang pertama, mereka lalu kembali ke villa. Dan sampai sebelum hujan.
“Untung.. kalo sampe kehujanan, berabe urusannya.” Kata Dani.
“Aaah.. lu.. kan emang darurat terus orangnya.. ha ha ha” ledek Aryo. Maha sibuk sendiri dengan kameranya. Ia terus melihat foto-foto gadis itu. Dan tetap berlanjut sampai di meja makan.
“Gue duluan ya.. udah kenyang. Mau mandi trus istirahat..”
“Cepet banget..”
“Kenapa mesti lama-lama? Ha ha ha..” Maha menuju lantai atas, kamar paling ujung.

Gadis itu sudah menunggunya di jendela. Maha memperlihatkan hasil fotonya kepada Sinta. Ia hanya tersenyum tanpa berkomentar apa-apa. Mereka berdua di tempat itu sampai larut malam. Saat itu bulan purnama, sinarnya menerangi tempat itu. Dan itu mengejutkan Maha. Ia dengan jelas melihat wajah Sinta sangat pucat. Ketika ia menyanyakan hal itu, Sinta mennyuruhnya kembali ke kamarnya. Maha meninggalkan tempat itu dengan seribu pertanyaan dibenaknya. Sampai di kamarnya, Maha merebahkan tubuhnya dan seketika terlelap. Tapi belum lama ia terlelap, ia seperti terbangun. Ia berjalan menuju kamar Sinta dengan mengendap-ngendap. Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar Sinta, ia dapati gadis itu tengah berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Maha sungguh terkejut bukan main. Matanya seolah-olah bergerak sendiri melihat kaki Sinta yang tak menyentuh lantai, melayang. Sadar dengan apa yang dilihatnya, Maha berlari meninggalkan tempat itu. Ia berlari ketakutan, Sinta seolah-olah mengejarnya. Maha berlari ke luar villa, terus berlari sampai di air terjun yang tadi pagi ia kunjungi. Ia melihat Sinta sedang mengangis sambil menjerit kesakitan bersama seorang laki-laki yang sedang mencoba membunuhnya. Maha mencoba memukul laki-laki itu dengan batu, tapi ia tak dapat menyentuh benda apapun di sekitarnya.
“Ada apa denganku? Apakah aku sudah mati?”

Dengan jelas ia menyaksikan Sinta di bunuh oleh laki-laki itu. Lalu jasad Sinta di kubur dengan tidak layak di dekat air terjun itu. Maha mencoba berteriak untuk meminta pertolongan dan itu membuat dirinya terbangun dari tidur. Ia dapati teman-temannya, Bik Mayu, dan Mang Asep berada di kamarnya. Mereka semua nampak cemas. Maha lalu menceritakan semuanya sambil memperlihatkan foto-foto Sinta, yang baru ia sadari, Sinta adalah arwah seorang gadis yang di bunuh secara keji beberapa tahun yang lalu. Dan foto-foto yang diperlihatkannya hanya foto air terjun.

Bik Mayu dan Mang Asep baru menceritakan hal yang sebenarnya kepada mereka, bahwa Sinta adalah anak mereka yang hilang dan sampai sekarang belum mereka temukan. Mereka tidak percaya Sinta telah tiada. Dan hari itu juga, mereka bersama warga desa sebrang mencari jasad Sinta di sekitar air terjun. Naasnya, jasad Sinta hanya tinggal tulang-tulangnya saja. Kedua orang tuanya sangat shock.

Keesokan harinya, jasad Sinta dimakamkan secara layak di TPU setempat. Beberapa hari kemudian, Maha dan teman-temannya memutuskan untuk pulang. Mereka di jemput oleh orang tua Aryo. Sebelum meninggalkan villa, Maha kembali ke kamar paling ujung. Sinta sudah menunggunya di sana. Ia mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan untuk Maha. Maha mengangguk-anggukkan kepalanya, seketika Sinta menghilang bersama kenangan kejadian di hari-hari sebelumnya…

Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Facebook: Triyana Aidayanthi
Seorang penulis pemula nan amatiran yang jatuh cinta dengan dunia menulis karena suka menggambar, hehehe aneh kan?
Salam kenal ya sobat..
Boleh dong kritik, saran, dan share pengalamannya
Twitter : @_triyanaa

Cerpen Misteri Seorang Gadis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penunggu Lorong Kelas (Part 1)

Oleh:
Sekolah merupakan tempat yang penuh dengan pengalaman masa muda. Tak terkecuali pengalaman horor dan mengerikan. Banyak diantara kita sering mendengar kisah-kisah horror yang disebar melalui bibir ke bibir oleh

Serangan Zombie

Oleh:
Hari ini ada yang lain dengan orangtuaku. Kalian tau? Sejak kemarin wajah mereka terlihat aneh. Pandangan mereka sangat kosong. Kulit mereka penuh dengan luka di tangan, wajah, dan kaki.

Sang Miliuner

Oleh:
Pernahkah kau bermimpi untuk menjadi dirimu sendiri? Pernahkah kau merasa tidak sanggup membedakan antara esensi diri dan batas imajinasi? Kutenggak kaleng b*r kedua yang kubeli sore ini. Setelah pulang

Bernyanyi Di Kamar Mandi

Oleh:
Malam ini adalah malam minggu. Seperti remaja umumnya, aku dan teman-temanku memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Ya, tentunya sebelum itu aku harus mandi terlebih dahulu. Kebetulan aku tinggal di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Misteri Seorang Gadis”

  1. Riva Fitrya says:

    Wow, perfect.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *