Misteri Villa di Kaki Gunung (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 27 June 2015

Pada saat liburan kenaikan kelas yang lalu, aku, Dewi, Rachel, Wiro dan Valentino pergi berlibur di villa di kaki gunung yang terkenal angker. Kata orang, dulu ada perempuan yang bunuh diri di kaki gunung dekat villa itu. Katanya dia bunuh diri karena batal menikah. Arwahnya sering menampakkan diri pada turis yang berkunjung ke villa itu dengan berwujud wanita bergaun pengantin.

“Eh Wir, jadi nggak kita liburan di villa angker itu?” tanya Valentino saat kami berkumpul di markas.
“Ya jadi lah” kata Wiro.
“Kapan kita berangkat?” tanya Dewi.
“Besok aja gimana?” usulku.
“Boleh juga tuh, tapi berapa hari kita disana?” tanya Dewi lagi.
“Seminggu aja” jawab Wiro.
“Kita bawa perlengkapan tidur aja” kata Rachel.
“Oke deh!” jawab kami semua.
“Kita kumpul jam berapa?” tanya Valentino.
“Nanti besok jam 9 pagi aku jemput kalian semua di rumah masing-masing” kataku.
“Oke deh!” jawab mereka semua serempak.

Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku memasukkan bantal, selimut, baju ganti, handuk, sabun mandi, laptopku, modem, juga tentu saja gitar dan boneka kesayanganku ke dalam tasku yang super besar. Setelah itu aku sarapan dan mandi lalu menyuruh supirku menjemput teman-temanku. Pertama, aku ke rumah Wiro dan Dewi, habis itu Valentino, lalu yang terakhir aku menjemput Rachel.

“Pak, kita ke villa yang itu ya” pesanku. Bik Sumi dan Pak Parto memang tahu kalau aku dan teman-teman mau ke villa itu dan tahu juga bahwa villa itu berhantu.
“Yeeee!!! Kita sudah sampai nih!” kata Dewi.
“Yuk, kita turun dan temui Bu Ratna dan Pak Andi, penjaga villa ini!” kataku.
Kami pun turun dan menemui Bu Ratna dan Pak Andi.
“Selamat pagi anak-anak. Silahkan lihat-lihat kamarnya” Bu Ratna mempersilahkan kami melihat-lihat kamar.
“Kita tidur sendiri-sendiri atau sama-sama?” tanyaku pada Dewi dan Rachel.
“Sendiri-sendiri aja lah. Kan sekali-sekali” kata Rachel.
“Iya Yu. Masa sih kita tidur bareng terus” kata Dewi setuju.
“Oke deh!! Aku juga maunya tidur sendiri” kataku.
“Bagaimana dengan kalian?” tanyaku pada Wiro dan Valentino.
“Kita juga mau tidur sendiri-sendiri” jawab Wiro.

Aku memilih kamar nomor 121 di lantai 2 yang kasurnya besar, ada meja buat menulis, kamar mandi, televisi dan lampu tidur. Kalau Wiro pilih kamar nomor 413 yang ada di lantai 4. Valentino pilih kamar nomor 5 di lantai 1. Dewi memilih kamar nomor 133 di lantai 2. Sedangkan Rachel, memilih kamar nomor 13 di lantai 1.
“Perhatian buat Wiro, Valentino, Dewi, Ayu dan Rachel, makanannya sudah siap. Ayo makan dulu” panggil Bu Ratna dengan menggunakan pengeras suara.
Di villa itu hanya dihuni oleh kami berlima. Kami semua turun dan langsung menuju meja makan. Terhidang di depan kami soto ayam, opor ayam, ayam goreng, mie ayam, dan banyak sekali. Aku makan sampai tambah 3 kali. Setelah itu, kami istirahat.

Aku mendengar lagu di kamar sambil bermain gitar. Tiba-tiba teleponku berdering. Ternyata dari Valentino. “Ada apa Valen?” tanyaku.
“Itu, Rachel tadi tiba-tiba histeris. Nggak tau kenapa” kata Valentino.
“Oke deh, nanti aku turun kesana” kataku. Aku segera keluar dan lari ke kamar Dewi.
“Eh Wi, kita turun yuk. Katanya Rachel histeris nggak tau kenapa” kataku. Aku dan Dewi pun turun. Di kamar Rachel sudah ada Wiro dan Valentino.
“Rachel, kenapa sih?” tanyaku.
“Aku tadi lihat cewek pake baju pengantin di pojok kamar itu” tunjuk Rachel.
Bu Ratna dan Pak Andi kemudian datang. “Ada apa anak-anak?” tanya Bu Ratna.
“Nggak tau nih, si Rachel tiba-tiba histeris” kataku.
“Katanya ada hantu disana” tunjuk Wiro.
Seketika, wajah Bu Ratna menjadi pucat.
“Ibu kenapa?” tanya Valentino.
“Ah, tidak apa-apa anak-anak. Rachel, sebaiknya kamu istirahat saja ya” kata Bu Ratna. Kami pun bubar dan kembali ke kamar masing-masing.

Sore harinya, kami semua bermain di taman bunga di belakang villa. Malamnya, villa itu terasa bagaikan kastil-kastil drakula. Aku, Dewi, Rachel, Wiro dan Valentino berfoto menggunakan kamera digital yang dibawa Valentino. “Sudah belum?” tanyaku.
“Sabar, aku setel timernya dulu” kata Valentino.
“Cepetan lari!” kata Wiro.
“Cis!” kami berfoto berlima.

“Sudah nih, tapi lihat! Ini gambar apaan ya?” tanya Valentino keheranan. Saat kami lihat, ternyata gambar seorang perempuan berbaju pengantin yang ikut berfoto bersama kami.
“Lari!!!” teriak kami semua sambil lari masuk ke dalam villa. Aku bertabrakan dengan Bu Ratna yang menenteng koper.
“Ibu mau kemana?” tanyaku.
“Ibu mau pulang anak-anak. Ibu tidak tinggal disini. Di rumah anak-anak ibu menunggu” jelas Bu Ratna.
“Jadi kami sendirian di villa ini?!” tanya Dewi.
“Untuk malam hari saja anak-anak. Kalau ada masalah, kalian ke rumah ibu saja. Rumah ibu dekat kok, di belakang villa ini” kata Bu Ratna.
“Iya deh” jawab kami semua menyerah.

Pukul 9 malam, kami berlima berkumpul di ruang televisi dan menonton televisi. Setelah film kartun selesai, kami lanjutkan dengan bermain PS. Pukul setengah 12 malam, kami masuk ke kamar masing-masing dan tidur. Keesokan harinya, Dewi membangunkan aku pukul 5 pagi. “Ampun deh Wi, kamu nih apa-apaan sih!? Aku kan lagi tidur” kataku kesal.
“Itu, si Rachel histeris lagi” kata Dewi. Aku pun cepat-cepat turun ke kamar Rachel.
“Hantu itu lagi?” tanya Wiro.
“Iya dong, Kak! Pasti!” jawab Dewi.
“Bu Ratna belum datang ya?” tanyaku.
“Belum” jawab Valentino.
Kami pun segera mandi dan berganti pakaian dan berkumpul di ruang televisi sambil main PS.
“Kok hantu itu teror kamu terus sih, kenapa sih kita nggak pernah diteror?” tanyaku heran.
“Mungkin hantunya suka sama kamu kali, Cel” kata Wiro bercanda.
“Mana mungkin” bantahku.
“Aku curiga sama kamarmu, Li. Kayaknya kamu salah pilih kamar deh” kata Dewi.
“Iya juga sih, kamar kamu kan nomor 13 dan 13 itu kalau nggak salah angka sial!” kata Valentino.
“Kamu jangan nakut-nakutin gitu dong!” kata Rachel kesal.
“Iya deh maaf. Tapi itu kan fakta! Jadi aku sarankan kamu pindah kamar aja deh!” kata Valentino.
“Iya juga tuh, Cel. Kamu mau di teror terus?” kataku.
“Nggak! Aku tetap nggak mau! Kamar itu ada televisinya, ada AC, ada komputer, modem” kata Rachel menolak.
“Oke, terserah kamu aja” kata Wiro.

Beberapa menit kemudian, Bu Ratna datang. “Selamat pagi anak-anak. Bagaimana tidur kalian?” tanya Bu Ratna.
“Sangat nyenyak bu” jawabku seolah tak terjadi apapun.
“Kita sarapan dulu yuk” kata Bu Ratna.
Kami pun bubar ke kamar masing-masing. Aku membuka-buka internet dan mencari tahu informasi tentang villa ini. “Ya ampun!” aku tak percaya saat membaca bahwa Bu Ratna dan Pak Andilah pembunuh wanita berbaju pengantin itu. Aku cepat-cepat menghubungi sang ketua, Wiro menggunakan jam walkie-talkie milikku.
“Kenapa Ayu?” tanya Wiro.
“Panggil semua teman-teman untuk berkumpul di kamarku” kataku.
Wiro pun menghubungi semua teman. Tak berapa lama, semua teman-temanku telah berkumpul. “Apaan sih Ayu?” tanya Valentino.
“Baca itu!” kataku sambil menunjuk laptopku.
“Apa!!!???” kata mereka semua serempak saat membacanya.
“Kamu serius nih, Yu?” tanya Wiro tak percaya.
“Ya iyalah, masa iya iya dong” kataku.

“Anak-anak! Ayo makan!” teriak Bu Ratna dari bawah.
“I-iya bu” kataku terbata-bata.
“Kita makan yuk” kata Valentino dengan suara setengah berbisik. Kami pun segera makan.

Setelah makan, kami kembali ke kamar masing-masing. Aku bermain game di internet. Sorenya, kami bermain di taman bunga. Aku duduk di bawah pohon. Tiba-tiba Wiro ikut-ikutan duduk di bawah pohon bersamaku. Aku segera pindah ke ayunan, eh si Wiro ikut-ikutan lagi duduk di ayunan sama aku. “Ih, Wiro! Kamu kok ikut-ikutan aku terus sih!” aku sudah emosi.
“Hahahaha…!!!” Valentino tertawa-tawa.
“Kak, kak, ngapain ikut-ikutin Ayu terus?” kata Dewi di sela-sela tawanya.
Aku pun segera berlari masuk kamar. “Aaaaaaaa!!!” teriakku kaget karena berpapasan dengan hantu berbaju pengantin. Karena kagetnya, aku sampai jatuh pingsan.

Saat aku sadar, aku sudah berbaring di kamar dan dikelilingi 4 temanku. “Apa yang terjadi Ayu?” tanya Dewi.
“Aku tadi ketemu hantu baju pengantin itu dan aku pingsan karena saking kagetnya. Tau-tau aku bangun aku sudah disini” jelasku.
“Ya sudah, kamu istirahat aja” kata Wiro. Mereka pun meninggalkanku. Aku pun tertidur.

Saat aku bangun, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku keluar kamar dan mencari Dewi. Dewi tidak ada. Aku cari Wiro di lantai 4, Wiro tidak ada. Begitu juga dengan Rachel dan Valentino. Saat aku melewati ruang televisi, aku mendengar suara ribut-ribut. Aku pun masuk. “Wiro? Valen? Rachel? Dewi?” tanyaku.
“Kenapa Yu? Kamu sudah bangun ya?” tanya Dewi.
“Tadi aku cari-cari kalian dimana-mana tapi tidak ada” kataku sambil duduk. Wiro dan Valentino sedang main PS game Persona 4 arena. “Eh, Bu Ratna sudah pulang belum?” tanyaku.
“Sudah dari tadi” jawab Wiro.
Tiba-tiba, pet! Lampu mati. “Aaaaa!!!” Rachel ketakutan sambil memeluk Wiro.
“Ih, apaan sih ah! Penakut banget!” omel Wiro sambil melepaskan diri. Aku dan Dewi cekikikan.
Tiba-tiba, kami semua mendengar suara cekikikan. “Dewi, Ayu? Itu suara kalian?” kata Valentino yang diam mematung.
“Bukan” jawabku dan Dewi.
“Aaaaa!!! Lari!!!” teriak kami semua.

Kami naik tangga ke lantai 2. Kami berkumpul di kamarku. “Bagaimana kalau hari ini kita tidur bareng aja” usulku.
“Aaah nggak mau ah, kayak anak kecil aja tidur bareng” kata Rachel.
“Ya udah kamu tidur sendiri aja, aku sama Ayu mau tidur bareng” kata Dewi.

Pukul 9 malam kami segera tidur. Aku dan Dewi tidur di kamarku. Sekitar pukul 12 malam, terdengar jeritan perempuan “Aaaaaaa!!!”.
“Eh Yu, kamu denger nggak tadi kayak ada jeritan perempuan” kata Dewi.
“Tulalit, tulalit” hpku tiba-tiba berbunyi.
“Ayu! Cepetan kamu sama Dewi turun kesini, Rachel hilang” kata Valentino cemas.
“Apa!!!??? Rachel hilang???” kataku terkejut.
“Iya, cepetan lari!” kata Valentino.
“Apaan Yu?” tanya Dewi.
“Prilly hilang, Wi” kataku.
“Ayo kita cepetan kesana!” kata Dewi.

Aku dan Dewi segera turun. Di kamar Rachel, sudah ada Wiro dan Valentino. Semua memandangi kamar Rachel yang bersimpah darah. “Rasain! Kita ajak tidur sendiri, ngeyel! Makannya!” kata Dewi.
“Ssstt! Dewi! Kita tuh lagi sedih tau!” kataku.
“Hmmm, apa mungkin Rachel masih hidup?” tanyaku.
“Ya! mungkin saja! Kita harus berjuang mencarinya!” kata Wiro.
“Semangat teman-teman!!!”

Bersambung

Cerpen Karangan: Gratia Easter Sarah Nta’ola
Facebook: Gratia Easter Sarah Nta’ola

Gratia E.S. Nta’ola
TTL: Timika, 19 April 2003
Sekolah: SD Sion
Kelas: 6a

Cerpen Misteri Villa di Kaki Gunung (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kalung Liontin Merah (Part 1)

Oleh:
“Aku nggak akan menangis. Hal itu hanya dilakukan oleh orang lemah,” ucapku dalam hati. Tapi ternyata pikiranku tak sejalan dengan hatiku yang telah tergores sekian lama. Tersirat banyak luka

Hidup Ke 2

Oleh:
“Jangan ganggu aku, kumohon jangan mendekat” Aku meronta lalu seketika sebuah pecahan kaca menusuk perutku. Rasa sakit begitu hebat kunikmati. “Intan, bangun nak” Mama membangunkanku dari mimpi buruk itu.

Harapan Nan Semu

Oleh:
Kabut mulai menelusup menghiasi kaca jendela yang semalam dialiri air hujan yang begitu deras.. Sang mega mulai menyorot tepat pada kedua mataku, kicauan burung yang mengganggu nyenyaknya tidurku sehingga

Ketika Jembatan Itu Jatuh

Oleh:
Pagi itu Desa Moro digemparkan oleh bunyi deru air di Sungai. Dentuman keras berlangsung beberapa detik. Warga sangat panik. Akankah tanah longsor telah terjadi ataukah batu meteor jatuh ke

Lorong Sekolah di Malam Hari

Oleh:
Dari sebuah lorong yang sepi dan gelap terdengar sebuah suara sayup-sayup seorang gadis seperti sedang mengalunkan sebuah lagu. Malam itu bulan purnama memunculkan wajahnya, Devi memberanikan diri memasuki sekolahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Misteri Villa di Kaki Gunung (Part 1)”

  1. Fitri Az-Zahra says:

    Ditunggu kelanjutannya!!

  2. adellia pujaningtyas says:

    Mana nih kelanjutanya
    Ditunggu lho

  3. Suci indah sari says:

    Mana nih lanjutannya? Penasaran nya minta ampun bgt. Pengen tau apa yg terjadi sama si rachel!

  4. Delly lisva says:

    aku penasaran kok nggak keluar seh? dah berapa bulan ni? dari taun lalu. mungkin dah 1 taun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *