Misterious

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 24 May 2017

“Selamat pagi, sayang.” Seseorang tiba-tiba berada di sampingku. Berjalan bersamaku. Dialah Rendy, pacarku.
“Pagi juga. Tumben kamu berangkat pagi?”
“Ya, emang gak boleh aku berangkat pagi? Kan biar aku bisa lebih cepat ketemu kamu?”
“Yee pagi-pagi udah gombal.”

Rendy adalah kakak kelasku. Aku kelas 11. Sedangkan dia kelas 12. Kami memiliki hubungan spesial sejak awal aku kelas 11. Saat itu hujan, dan dia memberiku jas almamaternya untuk kupakai agar aku tak kedinginan. Dan di hari setelahnya, dia selalu ada setiap kali aku menunggu jemputan. Juga terkadang menjahiliku. Hingga kita semakin dekat, dan akhirnya berpacaran.

“Lewat sini, yuk?” Ajak Rendy. Dia mengajakku melewati koridor laboratorium biologi. Terkenal angker. Entah teori mana yang mendukung pernyataan itu. Yang jelas koridor itu sangat gelap, pengap, sepi, dan tak ada ruangan lain kecuali gudang. Sedangkan kelas-kelas berjarak cukup jauh dari laboratorium.
“Gak mau. Serem taukk.” Tolakku.
“Gapapa. Kan ada aku? Ayolah Van.”
“Eenngg… Tapi jangan tinggal aku, ya?”
“Iya, sayang. Janji. Yuk?”

Rendy menggandeng tanganku. Menaiki satu-persatu anak tangga. Dan tiba saatnya melewati koridor ini. Sungguh seperti tak ada udara di sini. Gelap. Pengap sekali. Yang menyebalkan adalah, ini koridor terpanjang di sekolah.
Saat sampai di tengah koridor. Aku merasa ada yang berjalan mengikuti kami di belakang. Karena penasaran, aku menengok. Tak ada seorang pun di sana. Ya. Anak-anak lebih menyukai koridor laboratorium kimia meski harus memutar jalan daripada koridor ini.

“Kamu kenapa? Takut?” Tanya Rendy.
Aku tak menjawab. Hanya mengeratkan genggamanku. Aku merasa ada seseorang. Yang mengamati kami. Semacam tatapan benci. Entahlah. Aku semakin takut. Dan ujung koridor masih belum terlihat. Menyadari aku semakin gelisah, Rendy mencoba menenangkanku.
“Kamu kenapa takut, sih? Di sini gak ada apa-apa. Cuma ada kita berdua. Jangan takut. Kan kamu sama aku.. Kamu gak percaya ya sama aku? Aku janji, Van, gak akan ada apa-apa.”
“Tapi feelingku gak enak, Ren. Aku beneran takut..” Jawabku.
“Kamu fikirin aja yang indah-indah. Jangan mikirin tentang rasa takutmu. Nanti kamu malah tambah takut. Percaya, aku bakalan lindungin kamu. Sampai kapanpun. Kamu gak perlu takut.”
Rendy menggenggam tanganku lebih erat. Dan kami berjalan lebih cepat. Syukurlah, ujung koridor sudah terlihat. Tapi, tunggu. Ada seorang wanita berdiri di persimpangan. Kenapa dia berdiri di sana? Apa dia tidak takut?

Tiba di kelasku.
“Gak ada apa-apa kan? Kamu aja yang terlalu parno. Hahaha.” Canda Rendy.
“Kan aku gak pernah lewat koridor itu sepagi ini. Dan kalaupun pake Lab. Biologi, ke sana rame-rame.”
“Hahaha. Ya udah jangan cemberut. Gausah takut. Aku ke kelas dulu, ya? Selamat belajar, sayang. See you.”
“See you.”
Aku masuk kelas. Duduk di bangku. Teringat gadis yang tadi. Yang berdiri di ujung koridor. Kenapa aku tak melihat wajahnya tadi?

Jam istirahat. Aku dan Sherly pergi ke kantin.
“Van? Vania? Hello… Kenapa sih kamu diem aja? Ntar kesambet.” Kata Sherly mengagetkanku.
“Huh? Enggak. Aku cuma, kepikiran sesuatu.”
“Kepikiran apa?”
“Gapapa. Gak penting, kok.”
“Iihh. Gak mau cerita nih? Aku ngambekk.”
“Vania?” Teriak seseorang.
Aku menatapnya. Melemparkan senyum padanya. Dia menghampiriku.
“Kak Ren, Vania nyebelin, tuh. Masa dari tadi diem mulu terus gak mau cerita kenapa.” Kata Sherly.
“Huh? Enggak.” Jawabku. Rendy menatapku serius.
“Kamu kenapa, Van? Cerita dong..” Katanya.
“Iya, cerita dong, Van.” Timpal Sherly.
“Enggak ada apa-apa, kok. Cuma tadi, aku lihat cewek berdiri sendirian di ujung koridor. Tapi aku gak tau siapa cewek itu.” Jawabku.
“Kamu serius?” Tanya Rendy.
“Iyaa. Serius.”
“Mungkin itu kakak kelas atau siswa lain yang lagi pengen menyendiri. Atau cari wifi. Di sana kan wifi-nya kenceng. Cuma gak ada yang berani ke sana.” Komentar Sherly.
“Iya, mungkin yang dikatakan Sherly bener. Kamu gak usah takut. Mindset-nya yang positif-positif aja.”
“Hmm. Iya. Bisa jadi.” Kataku lesu.

Rendy kemana sih? Lama banget. Biasanya dia yang nungguin di gerbang sampai aku keluar. Tapi kenapa hari ini dia lama sekali? Saat aku sedang bosan menunggu Rendy. Tiba-tiba ada 2 pesan masuk. Yang satu dari Rendy, dia bilang bahwa dia ada kelas tambahan, jadi dia tidak bisa tepat waktu. Dan yang satunya lagi, dari nomor asing, bilang bahwa dia menungguku di tempat yang sama. Huh? Apa maksudnya? Aku membalasnya, namun ia tak membalas pesanku lagi. Misterius.

10 menit kemudian. Rendy datang. “Maaf, membuatmu menunggu lama.”
“Gapapa.” Aku naik ke motornya. Menuju restoran terdekat.

“Kenapa sih diem aja? Marah sama aku?” Kata Rendy sambil memasukkan potongan beef ke dalam mulutnya.
“Enggak. Tadi ada yang SMS aku. Tapi aku gak tau itu nomornya siapa.”
“Bilang gimana?”
“Aku menunggumu di tempat yang sama saat kita bertemu. Entah apa maksudnya.”
“Hiraukan saja. Mungkin itu orang iseng.”

Pagi ini, Rendy datang menjemputku. Karena ibu harus pergi ke rumah paman. Kami tiba di sekolah terlalu pagi. Belum banyak siswa yang berangkat. Saat aku menunggu Rendy memarkir motornya. Ada satu pesan masuk. Mataku menyipit. Mencoba memahami maksud si pengirim pesan.
“Baca apa sih? Serius amat.” Tanya Rendy.
“Ini. Dari nomor yang kemarin.”
“Bilang apa?”
“Kumohon. Temuilah aku.” Aku mengangkat bahu. Rendy mengernyit. Tak ingin terlalu memikirkan tentang pesan iseng itu, aku menggandeng tangan Rendy dan berjalan menuju kelas.

Di kelas masih belum banyak orang. Bahkan tak ada orang. Kecuali Sherly.
“Masih sepi. Kamu berani, gak?” Tanya Rendy.
“Berani dong. Di dalem udah ada Sherly kok. Gapapa. Kamu ke kelas aja. Gak usah khawatir.”
“Kan cuma kalian berdua.”
“Gapapa, sayang. Aku berani kok.”
“Bener?” Aku mengangguk mantap.
“Ya udah. Aku ke kelas dulu, yaa. Daaaghh sayang. Love you.”
“Love you, too.”

“Hai, sher.” Sapaku.
“Hai. Berangkat bareng Kak Rendy?” Tanyanya.
“Iya. Ibu gak bisa anterin.”
“Oh.” Jawabnya singkat.

Selama jam pelajaran. Konsentrasiku bercabang. Aku ingin fokus pada materi yang disampaikan. Tapi ada sesuatu yang mengganggu. Suara seorang wanita menangis tersedu-sedu. Merintih. Memohon padaku untuk menemuinya. Kemudian dia menjerit. Aku merasakan kesakitannya. Namun aku tak bisa paham.
“Van? Kamu kenapa?” Tanya Sherly.
“Gapapa. Cuma agak pusing aja.”
“Kamu sakit?”
“Enggak. Aku cuma pusing, gak paham sama materinya. Hehe.” Jawabku berbohong.

Sepertinya Rendy paham apa yang terjadi denganku. Aku sangatlah kacau. Semua yang terjadi belakangan ini sangat tidak bisa dinalar. Saat pulang sekolah. Kami mampir sebentar di taman. Aku menceritakan semua yang terjadi pada Rendy. Dia mendengarkanku serius. Dan mimik wajahnya terlihat sedikit cemas. Namu berusaha untuk terlihat tenang.

“Coba hubungi nomor yang mengirim pesan kemarin.” Usul Rendy.
“Aku takut.”
“Berikan ponselmu.” Aku menyerahkan ponselku padanya. Dan dia menghubungi nomor misterius itu. Tak terdaftar. Huh? Nomor itu tak terdaftar. Artinya sudah tidak bisa digunakan lagi. Lalu, bagaimana bisa orang itu mengirim pesan padaku? Rendy hanya mengangkat bahu dan menggeleng. Mengembalikan ponselku. Namun tiba-tiba ada panggilan masuk. Dari nomor tersembunyi. Aku menyerahkan ponselku pada Rendy. Dia mengangkat panggilan itu. Dengan diLoudspeaker, aku bisa mendengar suara si penelpon.

“Halo?” Rendy memulai pembicaraan. Lengang. Tak ada jawaban.
“Halo? Dengan siapa saya berbicara?” Rendy berkata kembali. Namun masih tak ada jawaban. Rendy menatapku bingung.
Aku mencoba berbicara.
“Halo? Dengan siapa di sana?” Tanyaku.
“Aaaaarrrrgghhh…” Terdengar suara seorang wanita menjerit. Aku langsung melemparkan ponselku. Aku ketakutan. Kini terdengar suara tangisan. Rendy pun segera mengambil kembali ponselku. Terdengar suara seseorang. Berbicara pelan. Seperti berbisik. Menangis tertahan.

“Halo? Maaf. Saya tidak bisa mendengar anda.” Kataku.
“Tolongg… Temui aku… Ada sesuatu… Hiks hiks… Aku tak ingin kau bernasib sama sepertiku… Tolong… Aarrghhh.” Telepon terputus. Diakhiri dengan suara jeritan wanita itu. Aku takut. Benar-benar takut. Apa yang terjadi? Rendy memelukku. Dan aku menumpahkan air mataku di pelukannya. Menghabiskan perasaan sesak yang mengendap di dadaku. Saat aku sudah mulai tenang. Rendy mengantarku pulang.

Sherly? Sedang apa dia? Aku mendekat. Ahh. Aku terperanjat melihat Sherly sedang beradu mulut dengan seorang wanita yang tak kukenal. Dan, tunggu. Di mana aku? Aku tak mengenal tempat ini.
Saat aku kembali tersadar pada Sherly dan gadis itu. Betapa terkejutnya aku. Sherly, yang kukenal periang dan supel, menjambak rambut gadis itu dan menggemnggam gunting di tangan kanannya. Tak peduli pada gadis yang menangis di hadapannya. Dan dengan sadis, Sherly memotong baju gadis itu. Dan menusukkan guntingnya tepat pada dada gadis itu. Mataku membulat sempurna. Nafasku tercekat. Aku tak bisa bergerak. Seperti membeku. Dan Sherly, menatap tajam ke arahku. Aku takut. Apa yang akan ia lakukan padaku? Aku mencoba berlari. Namun tak bisa. Aku menutup mataku. Dan saat kubuka mata, aku telah berada di kamarku. Hfft. Syukurlah. Hanya mimpi.

Aku mengambil ponselku. Pukul 03.55. Sepertinya Rendy sudah bangun. Aku mencoba menghubunginya.
“Halo?” Terdengar suara seseorang yang selalu membuatku merasa aman dan tenang.
“Halo? Ren? Sudah bangun?” Tanyaku.
“Sudah dong, sayang. Ada apa?”
“Aku mimpi buruk. Aku takut…” Aku menjelaskan semua yang kulihat dalam mimpi.
“Gapapa. Itu kan cuma mimpi. Mimpi itu bunga tidur. Mungkin gara-gara kamu kecapekan dan stress mikirin telpon misterius kemaren. Makanya jangan terlalu dipikirin. Sekarang kamu bangun, terus ambil wudhu, sholat. Bentar lagi adzan subuh.” Jelasnya.
“Iya, sayang. Makasih ya udah mau dengerin keluhanku sepagi ini?”
“Pasti dong aku dengerin semua keluh kesah kamu. Kapanpun dan di manapun, aku selalu siap buat kamu. Hehe.”
“Ya udah kalau gitu. Sampai ketemu di sekolah, sayang. Love you.”
“Love you, too.”

Aku berangkat terlalu pagi lagi. Kali ini tanpa Rendy. Sama seperti biasa. Baru Sherly yang telah berada di kelas. Entah kenapa, kali ini aku merasa ingin menjaga jarak dengannya.
“Selamat pagi, Sher.” Sapaku.
Sherly mendongak. Tatapannya tajam. Kemudian tersenyum sinis.
“Pagi juga, Vania. Sendirian?” Tanyanya.
“Iya nih.” Jawabku. Meletakkan tas kemudian berniat ke luar kelas.
“Mau ke mana?” Tanya Sherly.
“Ke gerbang. Kenapa?”
“Ikutt.” Aduh. Aku keluar kan karena ingin menghindar dari Sherly. Kenapa dia malah ikut? Huft.

“Lewat koridor laboratorium biologi, yuk? Aku belum pernah lewat sana.” Ajak Sherly.
“Huh? Gak mau. Aku takut. Serem taukk, Sher.”
“Ayolahh.” Dia tersenyum dan menarik lenganku. Kami berjalan menuju koridor. Perasaanku semakin tidak enak. Samar-samar terlihat seorang gadis berdiri di tengah koridor.

“Sher. Balik yuk? Aku gak berani lewat sini.” Ajakku.
“Gak mau. Aku pengen lewat sini, Vania. Pleasee.” Pintanya.
Aku merasa ada semilir angin yang lewat. Seperti seseorang baru saja melintas. Tiba-tiba ada seseorang berbisik tepat di telingaku. “Pergilah,”

“Sher, ayo balikk. Aku takuuttt…” Pintaku.
“Takut? Takut apa? Takut nyawamu melayang di sini?” Sherly mengeluarkan gunting. Suaranya berubah jahat. Menyeringai. Aku terdesak.
“Apa yang akan kamu lakukan dengan gunting itu, Sher?” Tanyaku ketakutan.
“Hahaha. Aku hanya ingin kamu merasakan, betapa sakitnya hatiku.” Jawabnya.
“Apa maksudmu?” Tanyaku. Suaraku bergetar. Tolong. Seseorang tolong aku…
“Apa maksudku? Rendy! Pacarmu! Apa kamu gak sadar?”
“Rendy?”
“Sejak SMP, aku sudah menyukainya. Dia kakak kelasku. Aku berjuang, bolos pelajaran hanya untuk memberinya semangat saat dia latihan basket. Hingga aku mendapat skorsing hanya untuk memberinya kejutan. Tapi apa? Dia sama sekali tak melihatku. Dulu, sahabatku, Erin, dia tahu bahwa aku menyukai Kak Rendy. Tapi apa? Kak Rendy menyatakan perasaannya pada Erin! Dan Erin menerimanya. Mereka berpacaran! Mereka tak punya perasaan!!” Sherly menangis tersedu-sedu.
“Lalu aku melenyapkan Erin. Dan aku bahagia. Aku memiliki peluang untuk bersama dengan Kak Rendy. Namun kini, malah kamu yang bersama dengan Kak Rendy! Apa maumu?? Kenapa Tuhan tak bisa adil?” Lanjutnya.
“Tapi, Sher…” Aku mencoba bersuara.
“Tapi apa?!” Potongnya cepat.
“Harusnya kamu bilang sejak awal kalau kamu suka sama Rendy! Harusnya kamu ngomong, Sher…” Tangisku pecah. Aku jatuh terduduk.
“Tak ada gunanya membicarakan masa lalu, Van!! Sekarang, aku ingin kamu merasakan betapa sakitnya hatiku. Rasakan ini!” Sherly mengacungkan guntingnya. Mengarahkannya padaku. Aku tak kuasa menyaksikannya. Aku tak tahu bagaimana Rendy saat menemukanku tewas di tempat ini. Aku menutup mata.

Tiba-tiba…
“Arrgh. Kenapa ini? Kenapa tanganku tak bisa bergerak?” Teriak Sherly.
Aku membuka mata. Mata Sherly membulat. Mulutnya menganga. Tak percaya. Aku juga tak percaya. Seorang gadis berambut panjang memegang tangan Sherly.
“Sher, sudah. Hentikan. Tak ada gunanya.” Ucap gadis itu.
“Er.. Erin… Kk-kaa-kamu? Mau apa kamu di sini? Kamu itu sudah mati, Er! Mati! Bukan di sini tempatmu, Er! Bukan di sini!!” Sherly menangis.
“Begitu juga denganmu. Kamu tak harusnya menjadi orang jahat seperti ini, Sher. Aku belum tenang di surga. Karena aku tahu, kamu tak akan bisa menerima kenyataan bahwa kamu tak bisa bersama dengan Kak Rendy. Sher, masih banyak laki-laki yang mencintaimu. Kamu tak bisa memaksakan Kak Rendy untuk mencintaimu. Sadarlah, Sher.” Gadis itu membelai lembut rambut Sherly yang terduduk lemas.
Aku tak bisa mengerti situasi ini. Sherly meringkuk. Menangis tersedu-sedu. Aku yang melihat ikut menangis.

“Sher, sakit di hatiku, berkat tikamanmu, sudah cukup untuk melampiaskan perasaanmu. Cukup aku saja, Sher. Jangan Vania. Jangan yang lain. Lihatlah Kak Dody. Dia menyukaimu. Dia selalu memperhatikanmu. Aku tahu itu. Dia tak kalah tampan dari Kak Rendy. Justru Kak Dody lah yang terbaik untukmu, bukan Kak Rendy. Lihat, Kak Rendy sudah bahagia dengan Vania. Sekarang waktunya kamu turut bahagia. Kak Dody menunggumu. Bahkan dia selalu memeluk boneka bola yang kamu berikan untuk Kak Rendy, namun oleh Kak Rendy diberikan kepada Kak Dody. Sore ini, Kak Dody akan bertanding futsal di GOR Bestie. Temuilah. Temukan kebahagiaanmu, Sherly.” Ucap gadis itu.
Sherly mengangkat wajahnya. Menatapku. Aku yang masih tersedu tak tahu harus berbuat apa. Sherly membuang guntingnya, tersenyum, kemudian menghambur ke pelukanku. Kita berdua saling berpelukan. Saling menghabiskan tangis yang menyesakkan.

“Erin, maaf… Maafkan aku… Aku sangat bodoh..” Ucap Sherly.
“Tidak. Justru kamu pandai. Kamu bisa memperbaiki keadaan. Aku bangga padamu. Aku menyayangimu, Sherly.” Gadis itu berbalik menatapku, “Hai, Van. Aku sudah berusaha menghubungimu. Tapi kamu tak peka padaku.” Tertawa. Kita bertiga tertawa. “Maafkan aku, Erin. Terima kasih telah mengubah segalanya.” Kataku.
“Tidak. Berterimakasihlah pada dirimu sendiri, juga Sherly. Semoga kamu selalu berbahagia dengan Kak Rendy, kamu juga Sherly, semoga bahagia dengan Kak Dody. Aku sudah tenang. Dan terlalu bahagia. Aku akan kembali menuju surga. Selamat tinggal,” Erin memudar. Kemudian lenyap menjadi udara. Aku dan Sherly berpelukan dan kembali ke kelas. Ada Rendy di sana. Dia bertanya kenapa kita berdua terlihat berantakan dan sendu? Aku dan Sherly hanya tersenyum.

Sore harinya, aku meminta Rendy untuk mengantarkanku ke GOR Bestie yang dikatakan Erin tadi. Benar saja. Sherly ada di sana. Berdiri dengan seorang pria. Saat kami tiba, Sherly langsung memelukku dan memperkenalkan pacar barunya, Dody.

Cerpen Karangan: Vety Indriyani
Facebook: Vety Indriyani
Hai. Terima kasih sudah membaca:) Maaf bila ada banyak kesalahan. Mohon kritik dan sarannya yaa… Melalui LINE: Vindriyani_ , Instagram: VIndriyan13, Twitter: Vindriyani3
Makasih

Cerpen Misterious merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mobil Pemberian Ayah

Oleh:
Aku bernama Donny. Aku adalah salah satu mahasiswa jurusan Pertambangan di ITB. Bagiku, hidup di Bandung itu adalah sesuatu yang mengasyikan. Disini, aku bisa mendapatkan segala fasilitas dengan mudah,

My Horror Story

Oleh:
2 february, tahun 2011. Dimulainya liburan musim panas, saat itu, aurell, olivia, athalla, randi, hima, syara dan reyhana akan liburan musim panas, kami akan menentukan tempat berlibur yang paling

Jangan Pernah Menyentuh Bonekaku

Oleh:
Masuk sekolah di pertengahan semester ganjil, kami kedatangan murid baru pindahan dari Sulawesi selatan, venisa namanya. Gadis manis itu satu kelas denganku kelas 7.4 entah mengapa aku bisa menaruh

Misteri Rumah Angker

Oleh:
Namaku Anggi Alya Putri biasanya teman-temanku memanggilku Anggi. Aku mempunyai seorang tante yang sudah 13 tahun menikah, dan mempunyai 3 orang anak yang lumayan berbakat. Mereka begitu harmonis. Sampai

Malam itu

Oleh:
Kujatuhkan diriku di atas kasur empuk seraya memejamkan mata beberapa saat. Rasanya lelah sekali karena harus menempuh perjalanan selama berjam-jam dan hanya duduk di dalam gerbong kereta. Yap, sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Misterious”

  1. Nasyastory says:

    bikin baper, deg-degan. untung Vania-nya nggak meninggal.

    • RedVelvet says:

      Haha masa sih? Agak absurd sih ceritanya.. Gaje jugakk. Hehe. Thanks ya udah baca^^
      *add Line ya,, ID: redvelv
      Thank you:)

  2. Malika Sekar R. says:

    Hiiiiii serem aku suka slceritanya makasih kak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *