Mrs. Aditya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

15 April 2017
06.00 WIB
Pagi yang cerah, tetapi sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak? Lihatlah, pagi-pagi buta seperti ini, ketika aku masih kusut, kucel, dan ditambah rambut mengembang seperti balon, ada pelanggan! Yah, walaupun ku tahu pelanggan itu membawa berkah.

“Ya, ada apa bu?” Tanyaku ramah. Bagaimanapun juga, pembeli adalah raja. Jadi, harus kulayani dengan baik, bukan?
Wanita muda cantik di depanku tersenyum. “Eh, ini, mbak. Saya minta tolong diberi renda baju anak saya. Warnanya merah, ya.” Pintanya. Aku tersenyum, mengambil kotak kayu berukir dari meja. Di dalam situ, ada renda-renda yang bagus.
“Mau yang mana, bu?” Tawarku. Wanita muda tersebut memilih sehelai renda.
“Saya pilih yang ini, oh ya, saya tinggu di sini saja, ya”
Aku mengeluh dalam hati. Kalau begitu, aku tidak bisa mengerjakannya nanti-nanti. Tapi tak apa, setidaknya ada yang menemani.

Sambil menjahit, aku mengajak wanita itu mengobrol.
“Namanya siapa, bu?”
“Eh? Saya? Saya Aditya.” Ia tersenyum. Aku berbasa-basi.
“Gaun anak ibu bagus, ya!” Mrs. Aditya tersenyum tipis.
“Tapi, di sedang marah dengan saya, mbak.” Ucapnya lesu. Aku terkejut.
“Kenapa, bu?” Tanyaku heran.
“Kemarin ia ulang tahun, mbak. Dia marah kerena saya tidak memberinya hadiah. Saya memang sedang krisis uang, mbak. Dia marah sekali.” Ia terisak pelan. Aku jadi teringat adikku, Ochi, pada ulang tahunnya yang ke sepuluh, mama dan papa tidak menberinya hadiah karena rencananya ulang tahun Ochi dirayakan bersama dengan ulang tahunku, 2 minggu, Ochi marah. Tapi setelah tahu rencana papa dan mama, ia malah senang. Mungkin karena baru pertama kali ini, ulang tahun kita berdua dirayakan bersama.

“Adik saya juga pernah, bu, seperti itu. Tapi marahnya tidak lama. Hanya dua jam.” Sahutku tersenyum. Wanita itu tertawa kecil.
“Apakah mbak sudah punya anak?” Tanya mrs. Aditya.
“Eh… belum bu. Umur saya masih 20 tahun. Menikah saja belum.” Jawabku kikuk.
“Kalau begitu, mbak belum pernah merasakan apa tang dirasakan saya.” Ujarnya datar.
Aku terdiam.
“Maaf bu.” Ucapku pelan.
“Tidak apa-apa, nak. Hanya intermezo.” Ucapnya lembut kembali.

“Omong-omong, siapa nama anak ibu?” Tanyaku.
“Veni. Dia gadis yang pandai.” Jawabnya pendek.
“Kalu nama adikmu, nak?” Tanya mrs. Aditya.
“Ochi, bu. Sekarang dia umur 15 tahun.” Jawabku. Terlintas bayangan wajah Ochi dengan pipi tembam dan lesung pipit. Wanita itu tersenyum tipis. Tiba-tiba ia berdiri.
“Nak, aku baru ingat, aku ada urusan sebentar di kantorku. Sepertinya lama. Bisakah kau mengantarnya ke rumahku?” Tanya wanita itu.
“Oh iya. Bisa, bu. Di mana alamatnya?”
Wanita itu menyerahkan lipatan kertas padaku. Aku menerimanya. Hei, kenapa tangan wanita ini dingin sekali? Seperti es batu.

“Saya pamit dulu, ya, nak.” Wanita ini tersenyum.
“Oh iya, bilang pada Veni, maafkan ibu.”
Aku tersenyum. Punggung wanita itu menghilang di pintu rumahku.

Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu rumah mewah di depanku ini.
Kreek.
Pintu terbuka. Seorang gadis sepantaran Ochi, tapi lebih muda, membuka pintu.
“Ya? Ada apa?” Tanya gadis itu.
Aku menyerahkan baju gaun tersebut padanya.
“Kau Veni, kan?” Tanyaku. Gadis itu mengangguk.
“Kau siapa? Kok tahu namaku?” Tanya gadis itu, Veni.
“Aku mengantarkan ini dari ibumu.” Jelasku. Veni menutup mulutnya. Ia jatuh terduduk. Ia menangis terisak. Aku tersenyum menenangkan. Veni memelukku. “Terimakasih.”
Veni menerima gaun tersebut, dan terisak.
“Masuk dulu.” Ajaknya.
“Baiklah.” Aku pun masuk ke dalam rumah Veni.

Di dalam rumah mewah ini, terdapat banyak lukisan, dan terdapat beberapa foto mrs. Aditya ketika masih muda.
“Silahkan duduk.” Ujar Veni dengan sopan. Aku pun langsung duduk di samping Veni. Lalu, kami bercakap-cakap.
“Dari mana kau mendapatkan gaun ini?” Tanya Veni.
“Aku mendapatkannya dari ibumu tadi.” Jelasku.
“Apakah itu benar?” Veni terlihat ragu.
“Ya, tadi ibumu memintaku untuk menjahitkan renda ini di gaunmu. Tadi ibumu cerita, katanya kau marah padanya.” Veni tercengang.
“Apakah ia sudah membayarnya?”
“Belum. Tadi, ibumu langsung pergi. Dan ia menitipkan pesan kepadaku bahwa ia mengatakan maafkan ibu, nak.” Jelasku. Veni sedikit kaget, dan ia hampir menangis lagi.
“Oke, akan kubayar, aku ambil uangnya dulu.” Suara Veni terdengar sedikit terisak. Lalu, Veni beranjak pergi meninggalkanku di ruangan itu sendirian.

Tiba-tiba, aku melihat mrs. Aditya sedang memperhatikanku dan Veni, yang sudah pergi dari ruangan.
“Hey, ada apa?” Teguran Veni menyadarkanku.
“Tadi aku melihat ibumu!” Seruku sambil menunjuk pintu depan.
Veni kaget mendengarnya.
“Sepertinya kau berhalusinasi, deh.”
Aku pun bingung, memang tadi aku melihatnya kok.
“Ya sudah, aku pulang dulu, masih banyak pekerjaan yang menanti.” Ujarku sambil berdiri, hendak pergi. Aku sempat melihat mrs. Aditya sudah pergi tanpa meninggalkan jejak.
“Baiklah, Tapi, siapa namamu?” Tanya Veni.
“Itu tidak penting. Aku hanya penjahit biasa. Bukan orang terhormat.”
Setelah berpamitan, aku pun langsung pergi, meninggalkan rumah mewah itu.

Setelah 100 meter dari rumah Veni, aku melihat ada TPU di pinggir jalan. Aku melihat sosok tak asing di TPU itu. Mrs. Aditya! Kenapa dia di sini? Aku menghampirinya.
“Bu! Bu Aditya!” Panggilku. Ia menoleh. Mukanya pucat! Mungkin, kurang tidur.
“Bu, aku sudah memberikannya pada Veni. Kembalilah padanya. Ia sepertinya sudah memaafkanmu.” Ucapku. Mrs. Aditya tersenyum, menggeleng. “Aku tak mungkin kembali, nak.”
Aku memasang wajah bingung. “Kenapa?”

Sebelum mrs. Aditya menjawab, angin kencang datang. Pasir-pasir beterbangan. Aku menutup mata. Ketika aku membuka mata, mrs. Aditya tidak ada! Aku melihat sekeliling. Hanya nisan-nisan yang ada! Tapi, hey! Ada nisan yang dipenuhi bunga-bunga seperti baru ditaburi. Aku lihat nisan itu. Hah?! Apa aku tidak salah baca? Aku menghampiri batu nisan tersebut yang bertuliskan:

ADITYA
BIN
WAHYUDI
Lahir: 14 Juni 1972
Wafat: 14 April 2017

Aku menutup muluku. Mrs. Aditya!!!

-The End-

Cerpen Karangan: Alma Chairani
Facebook: Qonita Tsania

Cerpen Mrs. Aditya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Negeri Balita

Oleh:
Aku terlempar ke sebuah tempat, entah di mana. Semua yang kutemui anak-anak, termasuk orang yang kukenal selama ini berubah menjadi anak-anak semua. Aku tertegun. Aku mengusap-usap mata. Aku tak

Bulan Gundah

Oleh:
“Mengapa aku harus memilih, sedang semuanya bukanlah pilihan bagiku.” “Tapi kamu harus cepat-cepat menentukannya.” “Aku tidak bisa.” “Ini bukanlah tentang bisa atau tidak bisa, tapi ini tentang mau atau

Kenangan Terindah

Oleh:
“Bunda!!” teriakku mencari bunda. Uhh… kok gak ada ya? Keluhku. “Bunda!!!” teriakku sekali lagi. “Dhuarrr…” Aku meloncat kaget. Bunda dan Ayah tertawa lebar. “Hahaha.” Kami bertiga tertawa bersama. Aku

Kisah Boneka Beruang

Oleh:
Ada sebuah boneka beruang yang bernama Teddy lebih lengkapnya Teddy Bear. Teddy memiliki majikan yang bernama Citra. Citra sangat sayang dengan Teddy. Ke mana-mana mereka selalu bersama. Dari bayi

Belajar Untuk Lebih Bersyukur

Oleh:
Alkisah!! Di suatu kota tepatnya di Gorontalo, ada seorang anak yang hidupnya selalu mengeluh kepada kedua orang tuanya. “Ma, kenapa kita harus hidup seperti ini?” kata si anak sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mrs. Aditya”

  1. swimer says:

    Bagus cerpen nya menerik utk di baca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *