Museum Madame Tussauds

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 4 November 2016

Liburan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Biasanya, aku menghabiskan waktu liburan di depan tv dengan penuh harap agar orangtuaku pulang dari luar kota lebih cepat, sehingga dapat menikmati waktu liburan dengan mereka. Tapi kali ini mereka sudah berjanji tidak akan bekerja selama aku libur. Mereka akan mengajakku ke London. Hal pertama yang terpikir olehku bukanlah si jam raksasa Big Ben, tetapi Museum Madame Tussauds yang selalu kuimpikan untuk pergi kesana, karena di sana terdapat figur-figur tokoh dunia yang diabadikan dalam bentuk lilin termasuk tokoh idolaku, Johny Depp! Meskipun bertemu dengannya dalam wujud lilin, tapi tak apalah, daripada hanya sekedar melihat ketampanannya di tv atau hanya dikunjunginya dalam mimpiku.

“Emma, jangan lupa besok kita bangun pagi sekali untuk pergi ke bandara.” ujar mamaku yang sedang memasak. Baru kali ini dia memasak untuk kami, rasanya sudah lama sekali dia tidak memasak. Aaah… mungkin sebaiknya aku harus bersiap-siap dari sekarang karena besok aku akan berangkat ke London.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku tiba di London. Sesuai rencana, nanti malam aku pergi ke Museum Madame Tussauds bersama kedua orangtuaku.

Aku tiba di Madame Tussauds pukul 6 malam. Ini memang hari keberuntunganku, karena museum ini tidak begitu ramai sehingga bisa leluasa melihat seisi museum ini. Saking senangnya karena melihat patung-patung yang luar biasa dan sangat mirip dengan figur aslinya, membuatku terpisah dengan orangtuaku.

Aku baru menyadari bahwa tujuanku datang ke sini adalah untuk menemui idolaku Johnny Depp. Saat aku berjalan menuju kesana, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. “Aku harap itu orangtuaku” kataku dalam hati. Tapi ternyata yang kulihat bukanlah orangtuaku, melainkan seorang wanita tua berkacamata mengenakan baju hitam dengan wajah terlihat pucat. Namun yang jelas aku tak kenal siapa dia.

Tanpa persetujuanku dia langsung menarik tanganku dengan tangannya yang sangat lembut, tapi lebih tepatnya sangat lunak seperti… seperti plastisin! Bulu kudukku seketika merinding tanpa diperintah. Aku mulai berpikir yang tidak tidak karena museum ini berisi patung lilin, dan tekstur tangan wanita itu seperti plastisin. Tapi apalah daya. Aku hanya bisa mengikutinya yang sejak tadi mengajakku berkeliling museum sambil memegang tanganku. Aku ingin melepaskan pegangan itu, tapi badanku terasa kaku tak berdaya, ingin berteriak tapi mulutku terkunci rapat.

Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul setengah delapan. Tak terasa aku dan wanita ini cukup lama berkeliling. Lalu dia mengajakku ke sebuah tempat yang aku pikir tidak pernah ada di Museum Madame Tussauds, atau mungkin di museum manapun. Ruangan itu berada di balik tirai merah yang aku pikir hanya menutup tembok, tapi ternyata menyembunyikan sebuah pintu ruangan ini. Ruangan yang cukup luas ini berisi beberapa patung yang belum jadi. Ada yang belum diberi warna, baju, hanya separuh badan, dan lainnya. Aku juga melihat beberapa pekerja yang sedang sibuk menyelesaikan patung lilin.

Aku mulai memberanikan diri untuk bertanya dengan wanita tua misterius yang mengajakku kesini.
“Kenapa kau mengajakku kesini? Sebaiknya aku mencari orangtuaku, mungkin mereka sudah kembali ke hotel. Maaf, aku harus segera pergi.” Namun tangannya kembali menarikku dan aku sangat terkejut saat dia berkata, “Kau sudah melihat tempat ini, Aku tak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Kau harus mengabdikan dirimu di sini sampai mati, atau kau harus mengorbankan milikmu yang paling berharga!”
“Apa maksudmu? Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau katakan wanita tua! Kau yang mengajakku, lebih tepatnya memaksaku ke tempat ini! Aku juga tidak memintamu untuk menunjukkan tempat ini!!” jawabku dengan gugup.
“Kau lihat patung yang belum selesai ini? Aku membutuhkanmu untuk menyelesaikannya! Kalau tidak mau, kau bisa memberikan milikmu yang paling berharga! Aku membutuhkan sepasang telapak tangan karena pianis yang sedang kubuat patungnya ini mati secara misterius tanpa telapak tangan! Dilihat dari telapak tanganmu, sepertinya kau bisa bermain piano. Apa tebakanku benar? Kau mungkin bisa memberikan telapak tanganmu!” kata wanita tua itu sembari memegang telapak tanganku.
“Kenapa harus aku? Kau cari saja telapak tangan pianis itu! Kau juga bisa merelakan tanganmu yang seperti plastisin itu! Akan cocok sekali dengan patung pianis ini! Sama-sama bertekstur seperti plastisin! Mungkin kau terlalu banyak membuat patung lilin sampai-sampai tanganmu menjadi seperti lilin!” kataku dengan lantang padanya.

Mendengar jawabanku wanita itu seketika menatapku dengan tatapan yang mengerikan. Lalu dia mendekat ke arahku. Seketika aku langsung berlari berusaha ke luar dari tempat itu. Tiba-tiba aku menginjak sesuatu yang aneh. Bertekstur cair dan lengket seperti… seperti lilin yang mencair! Betapa terkejutnya aku saat melihat apa yang kuinjak. Itu, itu patung Johnny Depp yang mencair!!! Oh Tidak! Ya Tuhan! Patung itu tersenyum padaku, lalu berkata,
“Aku belum memiliki tumbal. Kau adalah tumbal yang selama ini kucari. Kau mengidolakanku kan? Aku yang selama ini memimpikanmu setiap malam. Tetaplah disini bersamaku sayang? Kau mau kan?” Kalau dengan Johnny Depp yang asli aku mau saja. Tapi kalau dengan patung kesurupan itu jelas saja aku tak mau. Tanpa pikir panjang aku mengambil langkah seribu untuk segera pergi dari sini. Sungguh! Aku benar-benar tak mengharapkan hal ini terjadi! Awalnya kukira ini akan menjadi liburan yang paling menyenangkan. Tapi ternyata petaka yang kudapat. Lalu kemana ayah dan ibuku? Yang terpenting saat ini aku harus ke luar dari museum ini untuk mencari pertolongan kalau-kalau orangtuaku masih di dalam.

Saat aku sudah ke luar dari museum, tangan plastisin itu menarik tanganku lagi secara paksa sehingga aku masuk lagi ke museum. Dia langsung mengeluarkan pisau dan berusaha memotong telapak tanganku. “Oh tidak! Kau sudah gila wanita plastisin!!!” teriakku sambil melepaskan pegangannya dari tanganku. Dia menggeggam tanganku sangat keras. Saat pisau itu mulai menyentuh pergelangan tanganku, aku mulai merasa pusing dan melayang. ”Ayah ibu, aku benar-benar tak mengharapkan hal ini ter… jadi.. dii…” kataku terbata-bata. Lalu semua menjadi gelap…

Aku terbangun. Lalu kulihat sekelilingku, ternyata saat ini aku berada di sofa dan tv yang berada beberapa langkah di depanku masih menyala. Syukurlah semua itu hanyalah mimpi. Aku merasakan pergelangan tangankku sakit. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 00.45 dan aku mengalihkan pandanganku ke arah tv dan melihat tayangan yang sedang berlangsung. Tenyata yang sedang ditayangkan adalah berita mengenai Museum Madame Tussauds di London yang sedang membuat beberapa patung baru, salah satunya patung seorang pianis terkenal yang belum lama ini tewas secara misterius tanpa sepasang telapak tangan. Tayangan itu dilengkapi pula dengan patung-patung yang ada di Museum Madame Tussauds termasuk patung Johnny Depp yang sedang disorot kamera. Kau tau? Patung itu melihat ke arahku sambil tersenyum sinis. Yang lebih membuatku terkejut adalah saat kamera itu menyorot wanita tua yang ada di mimpiku! Ternyata itu patung Madame Tussauds pemilik museum itu yang sudah meninggal. Pantas saja di dalam mimpiku saat di museum itu tidak ada patung Madame Tussauds, karena wanita tua itu adalah Madame Tussauds si pemilik museum.

Aku mulai berpikir apakah yang kualami di museum itu mimpi atau kenyataan. Tapi kenapa pergelangan tangankku sangat sakit sekarang? Lalu tayangan itu? Patung pianis, Johnny Depp, Madame Tussauds? Ayah Ibu, dimana kalian? Aku sendirian dan membutuhkan kalian. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku dan kuharap itu orangtuaku. Saat kubuka pintu dan yang ada di hadapanku saat ini Madame Tussauds yang menggenggam pisau mendekat ke arahku…

Cerpen Karangan: Nessa Rfl

Cerpen Museum Madame Tussauds merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The White Doll

Oleh:
Siang itu tak lagi menyenangkan bagi mila, pasalnya keluarga mila akan pindah ke daerah desa di pinggir kota. Karena perusahaan papanya bangkrut dan mengharuskan mereka menjual rumah. Walau jarak

Buku Berdarah

Oleh:
18 oktober 2007 Di ruang kelas pulang sekolah… Semua siswa-siswi sudah pulang, kecuali Dita dan Shilla. Sebelum pulang mereka diminta menempelkan hasil karya para siswa-siswi di mading. Kemudian turun

Hanya Dunia Lain

Oleh:
Di sore hari, saat gue sedang berjalan ke pelosok desa terpencil di sebuah hutan jauh dari keramaian, gue lihat ada sebuah rumah tua yang menurut gue sudah gak layak

Paranoid

Oleh:
Aku duduk terdiam di kursi taman. Lalu lalang penghuni jalan menatapku sinis. Aku menahan seribu gejolak di hati. Angin sore melambaikan rambutku. Beberapa saat lalu aku bertengkar hebat dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *