My Melody (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

Ayumi memegang dadanya, menahan detakan jantungnya yang terus berdetak. “Kenapa… rasanya perasaanku terus deg-degan seperti ini? Apa ini artinya?” kata Ayumi. Ia berjalan membawa dirinya ke arah yang tidak ia ketahui, perasaannyalah yang membawanya pergi. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan seorang lelaki yang sedang memetik gitarnya. Ayumi duduk di samping laki-laki itu dan memperhatikan tangannya yang memetik senar-senar gitar.

“Teruslah memetik gitarmu, kau adalah hidupku maka jangan pernah lepaskan gitarmu, ya? Berjanjilah Ishida-san.” kata Ayumi, setelah itu Ayumi memejamkan matanya dan memegang dadanya merasakan detak jantungnya seperti alunan nada dalam dirinya. Saat Ishida masih memainkan gitarnya, tiba-tiba Ishida berhenti memainkan gitarnya karena ada jari-jari seseorang yang menahan senar gitarnya. Ayumi yang masih memejamkan matanya merasa bingung karena ia tidak bisa merasakan detak jantungnya lagi, lalu ia membuka matanya. Ishida melihat ke arah seseorang yang sedang menahan senar gitarnya itu.

“Nana?” kata Ayumi ke arah orang itu saat ia membuka matanya.
“Ishida-san? Kenapa kau tidak datang?” tanya Nana.
“Nana-chan, kau ada di sini.” kata Ishida.
“Hei, Nana, kenapa kau datang? Ini adalah waktu yang paling berharga untukku dan sekarang kau merampasnya, kau benar-benar pengganggu.” kata Ayumi.
“Aku bertanya, kenapa kau tidak datang ke pentas seni? Penonton benar-benar menunggu kehadiranmu, tidakkah kau melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk menyalurkan bakatmu dalam memainkan gitar?” kata Nana.

“Entahlah, aku rasa untuk saat ini aku tidak bisa melakukannya, ada hal lain yang masih harus aku lakukan, gomen Nana-chan.” kata Ishida.
“Bermain gitar sendirian di halaman sekolah? Saat senja sampai malam seperti ini? Aku tidak mengerti, untuk apa kau melakukannya?” kata Nana.
“Untukku, apa itu masalah untukmu?” kata Ayumi.
“Kau menyia-nyiakan bakat luar biasamu, di sini tidak ada yang mendengar kau sedang memainkan gitar, sedangkan di panggung ada ribuan orang yang ingin menyaksikanmu.” kata Nana.

“Aku tidak bisa Nana-chan, gomen nasai, ne?” kata Ishida sambil meninggalkan Nana yang masih duduk, begitu pun hal yang dilakukan Ayumi.
“Aku mohon jangan bertemu dengannya lagi, kau tahu bukan betapa penting dan berartinya bagiku setiap petikan yang kau mainkan? Berapa lama lagi aku harus menunggu sampai kau mengerti apa yang aku inginkan? Jangan sia-siakan waktuku, sisa kebersamaan kita semakin hari semakin tipis, buatlah sisa waktuku menjadi sangat berarti.” kata Ayumi yang dari tadi mengikuti Ishida berjalan. Ishida membuka pintu depan rumah dan hendak masuk, saat itu Ayumi pamit dengan Ishida.
“Sampai jumpa besok, Ishida-san. Aku pergi, konbawa.” kata Ayumi. Ishida menutup pintu rumahnya segera dan Ayumi pun pergi.

Besok sore, Ayumi sedang berjalan menuju taman di halaman sekolah, ia duduk di sana menunggu Ishida yang biasanya memainkan gitar di taman. Tapi, sampai waktu senja tiba, Ishida tak kunjung datang dan Ayumi dengan sabar masih tetap menunggu. “Ishida-san, gomen nasai, aku tidak bermaksud untuk mencegahmu pergi ke sini.” kata Nana sambil mengikuti Ishida dan memohon maaf padanya.
“Nana? Apa yang dia lakukan?” kata Ayumi penasaran.
“Lalu apa? Aku sudah katakan padamu berkali-kali jangan campuri urusan pribadiku, aku… tidak butuh belas kasihanmu, aku mengambil jalan yang aku inginkan, kau tidak punya hak untuk mengaturku, pergilah, aku tidak mau melihatmu hari ini.” kata Ishida.

“Ishida-san.” kata Nana dengan nyaring, Ishida tidak mempedulikannya dan ia langsung mengeluarkan gitarnya, “Baiklah, aku pergi.” kata Nana yang meninggalkan Ishida.
“Gomen, aku datang terlambat.” kata Ishida sambil memainkan gitarnya.
“Tidak apa-apa, Ishida-san. Aku senang akhirnya kau datang juga dan memainkan lagu kesukaanku, rasanya sekarang hatiku menjadi tenang, yokatta.” kata Ayumi.
Setelah Ishida selesai memainkan lagu kesukaan Ayumi dengan gitarnya, ia kembali memasukkan gitarnya ke dalam tasnya. “Arigatou Ishida-san, sugoiyo, itu benar-benar indah.” kata Ayumi.

Tiba-tiba Ayumi melihat Ishida terdiam sejenak saat memasukkan gitarnya, “Kenapa Ishida-san terdiam seperti itu? Apa ada yang salah?” kata Ayumi bingung. Ishida meletakkan telapak tangan kanannya di dada, lalu memukul dadanya dengan pelan, “Kenapa… rasanya sesak sekali? Sungguh menyakitkan, kenapa kau harus memberikan rasa bersalah kepadaku? Rasa bersalah yang selalu menyiksaku setiap harinya.” kata Ishida. Perlahan Ishida memeluk gitarnya dan meneteskan air matanya.
“Kenapa kau lakukan itu padaku? Jika aku tahu hal itu lebih baik aku… aku mati saja waktu itu.” kata Ishida.
“Ishida-san, apa yang kau katakan? Kau sama sekali tidak melakukan hal yang salah, jangan seperti itu.” kata Ayumi sambil memandang Ishida. Ishida pun akhirnya pergi untuk pulang ke rumahnya.

Besok sore, Ayumi tidak lagi menunggu di taman halaman sekolah, ia menunggu Ishida di depan kelasnya. “Ah, yokatta, akhirnya Ishida-san ke luar dari kelas, bisakah kita ke halaman sekolah sekarang?” kata Ayumi. Ishida melirik ke arah taman di halaman sekolah melalui kaca jendela di lantai 2.
“Gomen, hari ini aku tidak bisa datang untukmu.” kata Ishida menatap ke arah taman.
“Tidak bisa datang ke mana?” kata Ayumi, yang tadinya Ayumi menatap ke arah Ishida, ia jadi ikut melirik ke arah taman, “Tidak, tidak Ishida-san, kenapa kau tidak bisa datang? Ishida-san.” kata Ayumi sambil mengikuti langkah Ishida.

Selama di jalan, Ayumi terus berteriak memanggil nama Ishida, tapi Ishida tidak mendengarnya, “Ishida-san, Ishida-san.” kata Ayumi sambil berlari mengejar Ishida. Saat Ayumi mencoba menepuk bahu Ishida, ia malah terjatuh karena tidak memperhatikan langkahnya, saat Ayumi berdiri ia malah menabrak seorang laki-laki, “Hei, perhatikan jalanmu, jangan menabrak pejalan kaki lainnya.” kata laki-laki itu, Ayumi menunduk minta maaf pada laki-laki itu.

“Maaf, aku tidak sengaja, aku harus pergi.” kata Ayumi yang langsung meneruskan langkahnya setelah minta maaf. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti dengan sendirinya, lalu ia menoleh ke arah belakang melihat laki-laki itu dengan bingung, “Bagaimana bisa dia…” kata Ayumi yang bingung. Akhirnya Ayumi tidak dapat mengejar langkah Ishida yang sudah jauh, maka ia duduk di halte bus. Saat Ayumi duduk, tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya.

“Hei, kau yang tadi menabrakku, bukan?” kata laki-laki itu.
“Oh, maaf tadi aku benar-benar tidak sengaja, aku sangat terburu-buru.” kata Ayumi.
“Iya iya aku tahu itu, tenang saja aku tidak menuntut balasan apa pun.” kata laki-laki itu.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang hendak duduk di kursi halte, tapi dari ujung ke ujung tempat duduk itu sudah penuh. “Bibi, kursinya sudah penuh.” kata laki-laki itu.

“Hei, jelas-jelas tempat di sampingmu itu kosong, apa kau tidak ingin aku duduk di sebelahmu?” kata wanita itu.
“Bukan seperti itu, bibi, tapi di sampingku ada orang yang duduk, apa kau memaksa kami semua untuk duduk berdesakkan?” kata laki-laki itu.
“Heh, sudahlah, aku mau langsung duduk saja.” kata wanita itu yang langsung duduk di samping laki-laki itu. Laki-laki itu terkejut saat ia melihat Ayumi menembus wanita itu.
“Biar saja wanita itu duduk di sini, aku tidak akan memakan tempat di kursi ini.” kata Ayumi.
“Kau… kau… kenapa kau bisa menembus?” kata laki-laki itu melihat Ayumi.

“Hei, apa maksudmu aku bisa menembus? Dasar anak tidak sopan.” kata wanita yang duduk di samping laki-laki itu.
“Gomen bibi, aku tidak mengatakan hal itu kepadamu, tapi untuk… astaga, jangan-jangan kau ini… bukan manusia.” kata laki-laki itu.
“Apa yang kau katakan? Dasar anak kurang ajar, kau menginginkan aku mati karena diriku ini sudah tua.” kata wanita itu sambil memukul laki-laki itu dengan tasnya.
“Aaaa, bibi bibi, cukup jangan pukul aku lagi, astaga, hari apa ini?” kata laki-laki itu yang langsung lari terbirit-birit.
“Awas saja jika aku melihatmu lagi, akan aku pukul kau lebih keras lagi, dasar anak tidak sopan, merasa hidupnya di dunia ini akan abadi.” kata wanita itu.

Laki-laki itu berhenti lari di bawah pohon untuk meneduhkan dirinya yang lelah setelah berlari di bawah terik matahari. “Gomen, kau mendapat masalah karena aku.” kata Ayumi.
“Kau lagi, dasar hantu sialan, heuh bagaimana bisa hantu berkeliaran di siang hari?” kata laki-laki itu.
“Yaa, aku hantu yang hebat, mau siang ataupun malam, aku tetap bisa menghantui kalian.” kata Ayumi sambil mendekati laki-laki itu.
“Sana, jangan dekat-dekat denganku, seharusnya kau katakan padaku dari awal kalau kau ini hantu, aku jadi seperti orang bodoh di depan bibi itu.” kata laki-laki itu.
“Hyoku Michiko, hmm, nama yang cukup lucu untuk anak sekolah sepertimu.” kata Ayumi.

“Hei, kalau kau bisa menembus bibi itu, kenapa kau tidak bisa menembus diriku? Makanya aku berpikir kalau kau ini manusia.” kata Hyoku.
“Itu benar, mengapa, ya? aku sendiri tidak tahu alasannya.” kata Ayumi.
“Aishh, kau ini sudah mati tapi masih menyusahkan orang lain, kau tidak tenang di duniamu karena apa?” kata Hyoku.
“Karena ada seseorang yang harus aku temui setiap harinya, walaupun… tubuhku sudah mati, tapi jiwaku hidup dalam diri seseorang, aku tidak bisa melepaskannya, makanya aku tidak mau pergi.” kata Ayumi.
“Oh, akhirnya ada bus, baiklah hantu, aku harus pulang, sebaiknya kau juga pulang menghadap Sang Pencipta.” kata Hyoku.

“Sampai aku mati pun, manusia tidak pernah mengerti arti dari kehilangan.” kata Ayumi yang menatap bus itu semakin jauh. Besoknya, Ayumi menunggu lagi di taman halaman sekolah dengan penuh harap akan kehadiran Ishida. Namun sampai matahari berganti dengan bulan di langit malam, tidak ada tanda-tanda dari kehadiran Ishida. Akhirnya Ayumi pergi dari taman itu. Ishida yang sudah bersiap memainkan senar-senar gitarnya di hadapan banyak orang menjadi berubah pikiran.

“Ishida-san? Ada apa denganmu? Kenapa hanya diam? Banyak orang menunggumu.” kata Nana.
Ishida membungkukkan badannya di hadapan penontonnya, “Sumimasen, aku tidak bisa melakukannya, aku harus pergi.” kata Ishida. Penonton kecewa dengan perilaku Ishida, Nana pun langsung mengejar Ishida yang beranjak pergi meninggalkan cafe itu.
“Ishida-san, ada apa? Apa maksudmu?” kata Nana.
“Nana-chan, aku mohon jangan paksa aku untuk tidak melakukan suatu hal, aku… punya alasan sendiri, gomen sudah mengacaukan acaranya, ittekimasu.” kata Ishida.
“Ishida-san…” kata Nana yang tidak bisa memaksa Ishida untuk berhenti.
Ishida terus berlari menyusuri jalan di bawah langit malam, ia berlari menuju taman di halaman sekolah. Saat ia sampai, Ishida melihat jam di tangannya.

“Sudah pukul 9 malam, aku benar-benar sudah terlambat.” kata Ishida, ia menghela napasnya dari mulutnya yang mengeluarkan asap karena udara dingin. Ia menyandarkan tubuh dan gitarnya di kursi sambil menyesali dirinya sendiri. “Apa yang harus aku lakukan?” kata Ishida. Ayumi sedang duduk di pinggir jembatan dengan suasana tenang dan hanya beberapa orang yang lewat di jalan itu, “Satu hari lagi, kenapa waktu berjalan begitu cepat?” kata Ayumi.

Besok pagi, Nana pergi ke kelas Ishida untuk meminta maaf padanya, tetapi ia tidak menemukan Ishida di kelas. Karena bel sudah berbunyi, Nana akhirnya kembali ke kelasnya sendiri. Hyoku yang hendak pergi ke kelasnya melewati depan ruang kelas Ishida dan ia melihat Ayumi berdiri di depan pintu yang tertutup rapat.
“Hei hantu, kau ingin menakuti siapa lagi pagi ini?” kata Hyoku dari belakang Ayumi.
“Hyoku, kau sekolah di sini, di sekolah yang sama dengan Ishida-san.” kata Ayumi menoleh ke belakang ke arah Hyoku.
“Yah begitulah, dia kakak kelas dan seniorku di kelas seni musik.” kata Hyoku.

“Bisakah kau menolongku? Aku mohon, ya.” kata Ayumi.
“Kau memintaku untuk melakukan apa?” tanya Hyoku.
“Tolong bukakan pintu ini, pintunya keras sekali, aku tidak bisa membukanya.” kata Ayumi.
“Bodoh, pintu kelas kami tidak pernah dikunci, tidak mungkin tidak bisa dibuka.” kata Hyoku.
“Apakah sulit membantuku untuk membuka pintu? Lakukan segera.” kata Ayumi.

“Mengemislah jika ingin bantuanku, lagi pula kau ini hantu, tembus saja pintunya langsung.” kata Hyoku.
“Aku ini bukan hantu palsu seperti yang kau lihat di TV, yang bisa menembus benda-benda keras dan tebal, hal itu bisa terjadi di TV karena editan, setelah aku merasakan kehidupan sebagai roh aku baru mengerti… dulu saat aku hidup aku dibodohi oleh TV-ku sendiri.” kata Ayumi yang berceloteh saat Ishida membukakan pintu untuknya.
“Oh begitu, hal itu benar-benar bagus untukmu. Ini sudah aku bukakan pintunya, masuklah ke dalam setelah itu kau tidak bisa ke luar karena tidak ada yang membukakan pintu untukmu.” kata Hyoku.

“Aku tidak ingin masuk aku hanya ingin melihat Ishida-san ada di kelas atau tidak.” kata Ayumi.
“Sepertinya ia tidak ada, memangnya ada urusan apa kau dengan Ishida-san?” kata Hyoku.
Di belakang Hyoku ada dua orang kakak kelasnya yang hendak masuk ke dalam kelas itu, tetapi mereka terhalang tubuh Hyoku dan mereka berdua melihat Hyoku berbicara sendiri.

Bersambung

Cerpen Karangan: Salsabila Nurwahida
Blog: wahida01.blogspot.com

Cerpen My Melody (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepi Dalam Gelap

Oleh:
Hari ini seperti biasanya dira habis pulang dari kegiatan kerja kelompok di rumah temannya, dira adalah gadis sma yang manis, dan mempunyai keperibadian yang baik. Hari ini dira melewati

Malam Jumat ke 13

Oleh:
“Aku gak butuh kamu, aku bisa mengurusnya sendiri” ucap lelaki paruh baya itu “ck, jangankan mengurusnya menyempatkan waktu untuk dia saja kau tak pernah” jawab seorang wanita dengan wajah

Hantunya Beneran

Oleh:
Pernah gak kalian ke rumah hantu di suatu lokasi bermain? Pernah gak kalian sadar di antara hantu yang bohongan ada hantu yang beneran? Gue pernah. Jadi waktu gue masih

Cermin Masa Depan

Oleh:
Damian masih berdiri di depan sebuah cermin. Sebuah cermin bergaya klasik dari kayu berukir yang tak sengaja ia temukan di sebuah kamar kosong di rumah barunya itu. Entah kenapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *