My Melody (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

“Hei, apa yang kau lakukan di depan kelas kami?” kata salah satu dari mereka.
“Oh.” kata Hyoku yang secara refleks menoleh ke arah belakangnya. Hyoku langsung melepaskan tangan kirinya yang menahan pintu untuk Ayumi, seketika pintu itu langsung menghantam dahi Ayumi yang masih memperhatikan seluruh isi kelas dan membuatnya terjatuh ke lantai.
“Ahh. Astaga, itu sakit sekali.” kata Ayumi.
“Kami ingin masuk ke dalam kelas, bel sudah berbunyi dari tadi, kembalilah ke kelasmu.” kata mereka berdua, kakak kelas Hyoku. Hyoku menunduk badannya kepada kakak kelasnya, saat ia mulai ke posisi berdiri, Ayumi memukul kaki Hyoku yang membuatnya berekspresi aneh di depan kakak kelasnya.

“Sebentar lagi para guru akan masuk ke setiap kelas dan aku beri saran sebaiknya kau periksa kejiwaanmu.” kata kakak kelasnya yang berjalan masuk ke kelas sambil menatap aneh ke arah Hyoku. Ayumi memukul kaki Hyoku lagi, “Hei, dari tadi aku berteriak padamu tapi kau tidak mendengar aku.” kata Ayumi.
“Tidak mungkin aku berbicara padamu apalagi membantumu berdiri saat ada orang lain, aku akan dianggap gila, aku mendapatkan masalah lagi hari ini.” kata Hyoku.
Akhirnya Ayumi berdiri dengan usahanya sendiri, “Baiklah kalau begitu terima kasih.” kata Ayumi dengan wajah cemberut dan tiba-tiba menghilang entah ke mana.
“Hantu itu membuatku kaget lagi dengan menghilang tiba-tiba seperti hantu palsu di TV.” kata Hyoku.

Ishida masih berada di dalam kamarnya, ia duduk di belakang pintu kamarnya dengan berseragam rapi untuk menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ishida menutup kedua daun telinganya sambil mengalirkan air mata yang membasahi pipinya agar ia tidak mendengar kegaduhan yang dibuat oleh ayah dan ibu tirinya, tapi apa daya ia tetap bisa mendengar suara mereka.

“Aku sudah tidak tahan hidup denganmu, kau tahu kenapa hubunganmu selalu gagal? Itu karena kau tidak memiliki perasaan dan selalu meremehkan setiap hal.” kata Hyorin, ibu tirinya Ishida. “Tidak punya perasaan? Apakah… selama ini aku memperlakukanmu dengan buruk? Aku bekerja siang hingga larut malam, apa aku pernah menuntutmu untuk melakukan hal yang sulit?” kata ayah Ishida.
“Ishida, dialah hal tersulit dalam hidupku, kau menuntutku untuk selalu menjaga, mengurusnya, dan menyayanginya, aku… aku… setiap hari membujuknya untuk makan, untuk tidur tidak larut malam, memberikan kasih sayang, memperlakukannya seperti anakku sendiri, tapi apa yang ia lakukan padaku?” kata Hyorin.

“Ishida? Apa maksudmu?” kata ayah Ishida yang tidak mengerti perkataan istrinya.
“Kau tidak mengerti, bukan? Karena setiap hari kau selalu meninggalkanku dengan Ishida, ia tidak hanya mengabaikanku bahkan ia mengeluarkan kata-kata yang menyakiti perasaanku. Jika saja kau membiarkan Ishida tinggal dengan ibunya, hidupku tidak akan sehancur ini karena dirinya.” kata Hyorin.
“Itu karena Ishida belum bisa beradaptasi denganmu, aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu, seharusnya kita tidak perlu mengungkit kedatangan ibunya Ishida yang sudah lewat berhari-hari.” sahut ayah Ishida.

“Kau mengatakannya seolah hal ini tidak sulit bagiku, kau mengatakan hal itu seakan kau tahu perasaanku, renungkanlah semua perkataanku dan setelah itu seharusnya kau mengerti kalau kau tidak memiliki perasaan.” kata Hyorin yang langsung meninggalkan suaminya. Air mata Ishida semakin sulit untuk dihentikan, tidak hanya pipinya yang basah, baju seragam miliknya pun juga ikut basah untuk mengusap setiap tetesan air matanya yang jatuh. Tak lama kemudian, ayah Ishida mengetuk pintu kamar Ishida.
“Ishida, apa kau tidak pergi sekolah? Bolehkah Ayah masuk?” kata ayah Ishida.

Saat ayah Ishida membuka pintu kamarnya, Ishida langsung lari melewati ayahnya dan pergi dari rumahnya. “Ishida, tunggu.” kata ayahnya yang berusaha mencegah Ishida pergi. Ishida pergi dari rumahnya dan tidak kembali hingga larut malam, ia duduk berdiam diri di pinggir jalan. Ia terus-terusan hanya melamun, entah apa yang ia perhatikan karena ia tidak punya tempat untuk menceritakan penderitaan yang dialaminya. Ayumi berjalan tanpa arah hanya untuk menyusuri jalan dan menghabiskan waktu yang tersisa, ia merasa sedih karena di hari terakhirnya ia tidak dapat melihat Ishida.

“Hanya tersisa 3 jam lagi, apa yang harus aku lakukan? Seandainya aku masih punya kesempatan melihat Ishida untuk yang terakhir kalinya walaupun hanya sebentar.” kata Ayumi. Saat ia terus berjalan, tiba-tiba pandangannya menemukan keberadaan Ishida yang sedang berdiri di pinggir trotoar jalan raya.
“Ishida-san?” kata Ayumi saat melihat Ishida. Hyoku yang baru saja selesai les matematika dan hendak pulang, ia melihat Ayumi diam dan berdiri, lalu Hyoku mendatanginya.
“Hei hantu, sedang apa kau di sini?” kata Hyoku, tetapi Ayumi sama sekali tidak menyahutnya. “Ada apa dengannya?” kata Hyoku, lalu ia memalingkan pandangannya ke arah lain dan ia melihat Ishida.

“Ishida-san? Apa ia akan menyebrang jalan? Di sini kan tidak ada zebra cross.” kata Hyoku.
Ayumi membiarkan setiap detik waktunya terbuang hanya untuk melihat Ishida untuk yang terakhir kalinya.
“Seharusnya aku akhiri saja segalanya waktu itu, dan sekarang…” kata Ishida yang mulai berjalan ke jalan raya yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
“Ishida-san.” kata Ayumi berteriak pada Ishida karena ada mobil yang melaju ke arahnya.
Ayumi lari untuk menghentikan Ishida, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak bisa menyentuh manusia.
“Ishida-san, ada mobil yang melaju di depanmu, kenapa kau hanya berdiri dan diam? Ishida-san… pergi… apa kau ingin mati?” kata Ayumi sambil menangis di samping Ishida.

“Apa ia ingin bunuh diri?” kata Hyoku yang langsung lari ke arah Ishida untuk menariknya dari jalan raya.
Ayumi mulai putus asa dan terus memanggil nama Ishida berharap ia akan mendengarnya, Hyoku langsung menarik Ishida dari jalan, Ishida hampir saja ditabrak oleh mobil.
“Hyoku…” kata Ayumi saat melihat Hyoku menyelamatkan Ishida.
“Jangan lakukan itu, kau bisa saja mati tadi.” kata Hyoku pada Ishida.
“Justru aku ingin hal itu terjadi, kenapa kau mencegahku? Aku seharusnya sudah mati setahun yang lalu, apa aku salah jika aku mendatangi kematianku sendiri?” kata Ishida.
“Itu karena kau ditakdirkan untuk tetap bertahan, bukan keadaan atau dirimu sendiri yang menentukan hidup dan matimu.” kata Hyoku.

“Untuk apa aku hidup jika aku bertahan karena keinginan seseorang yang mengorbankan nyawanya untuk membuatku tetap hidup dalam rasa bersalah yang membayangi hidupku, itu juga menyalahi takdir, kau tahu?” kata Ishida.
“Hyoku bantu aku untuk berbicara dengan Ishida, aku mohon untuk terakhir kali ini saja, bantu aku.” kata Ayumi.
“Baiklah, aku akan membantumu.” kata Hyoku. Hyoku memegang tangan Ayumi agar Ishida dapat melihat Ayumi.
“Ayumi…” kata Ishida saat melihat Ayumi di depannya.
“Ishida-san…. Ishida-san… kita bertemu lagi.” kata Ayumi.

“Kenapa kau biarkan aku hidup dalam kesunyian dan kesedihan?” kata Ishida sambil menitikkan air matanya.
“Jika kau merasa kesunyian, mainkanlah gitarmu, musik yang kau sukai, jika kau merasa sedih, berceritalah kepada orang lain agar kau tidak menyimpan rasa sakitmu sendiri.” kata Ayumi. Ishida meletakkan telapak tangan kanannya di dadanya, “Ini adalah milikmu yang kau berikan padaku, seharusnya aku yang mati tapi kenapa harus dirimu? Kenapa aku harus menggantikan hidupmu? Seharusnya kau juga membawaku pergi, di sini kau tinggalkan semua rasa bersalah yang membuatku merasa serakah akan kehidupan, jantung ini seharusnya tidak kau berikan padaku.” kata Ishida.

“Aku tidak bisa hidup jika kehilangan dirimu, kaulah yang membuatku menjadi semangat untuk menjalani hidupku, jika kau yang pergi entah sehancur apa hatiku. Aku tahu aku bodoh, mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkanmu, tapi setidaknya aku masih bisa merasakan kehidupan walaupun aku sudah mati, jiwaku tetap bersamamu sampai kapan pun selama kau terus bernyanyi, detak jantungku masih bisa aku rasakan karena aku masih bisa mendengar nyanyianmu walaupun sekarang itu ada di tubuhmu.” kata Ayumi.

“Dulu aku tertawa denganmu, selalu bersama denganmu karena aku memiliki tempat untuk menumpahkan rasa sakit karena kau masih ada di sampingku, karena ada seseorang yang masih bisa aku cintai, tapi sekarang aku tidak bisa merasakan kebahagiaan lagi, setelah kepergianmu aku terus saja dihantam berbagai penderitaan, tidak ada yang bisa membuatku kuat dan tegar menjalani hidup, kau egois meninggalkanku di sini, kau mati agar kau bisa tetap hidup, tapi aku? Aku seperti orang mati dan seakan tubuhku dikendalikan oleh rasa bersalahku padamu, jika saja kau membawaku pergi tidak akan ada yang tersakiti.” kata Ishida.

“Aku juga seperti itu, aku bisa hidup karena ada dirimu yang memberikanku cinta walaupun kau sedang sekarat waktu itu. Aku tidak bisa menahan rasa sakit saat aku mengetahui kau tidak mendapatkan donor jantung, aku benar-benar takut kehilangan dirimu, hidupmu hanya sisa sebentar waktu itu, tapi kau tidak bisa bertahan lama jika terus menunggu pendonor, maka aku lakukan hal itu, walaupun dokter juga tidak setuju dengan tindakanku. Aku mencoba untuk mengakhiri hidupku tapi selalu gagal, kalau bukan karena detak jantungmu yang tiba-tiba berhenti waktu itu, tidak akan ada yang menyetujuiku untuk memberikan jantungku padamu. Jadi, aku mohon hiduplah dengan baik, kau bisa saja melupakanku tapi jangan pernah kau melupakan dirimu sendiri.” kata Ayumi. Tiba-tiba saja sosok Ayumi samar-samar mulai menghilang dari pandangan Ishida, hanya Hyoku yang masih bisa melihat Ayumi.

“Di mana Ayumi?” kata Ishida.
“Kau tidak bisa melihatnya lagi?” tanya Hyoku.
“Hyoku, bisakah kau membantuku lagi? Aku janji ini yang terakhir.” kata Ayumi.
“Iya, aku akan membantumu.” kata Hyoku.
“Sampaikan padanya untuk meminta maaf kepada Ibunya, ia selalu menyalahkan Ibu tirinya atas kematianku dan perceraian orangtuanya, itu memang keputusan yang aku buat, bukan keinginan Ibunya, aku ingin dia tidak lagi memikirkan hal yang berat.” kata Ayumi, Hyoku mengatakan apa yang dikatakan Ayumi kepada Ishida sebagai kata-kata terakhir.

“Apa sekarang kau akan pergi Ayumi?” kata Ishida kepada Ayumi walaupun ia tidak bisa melihat Ayumi.
“Iya, aku harus pergi. Hyoku… tolong gantikan aku setelah kepergianku, jaga Ishida-san.” kata Ayumi.
“Menggantikanmu? Maksudmu apa?” tanya Hyoku.
“Menggantikanku sebagai tempat curahan hati untuk Ishida, aku pergi, sayonara, domo arigatou.” kata Ayumi. Ayumi berjalan meninggalkan Ishida dan Hyoku sampai akhirnya ia benar-benar pergi dari pandangan Hyoku. Hyoku meminta Ishida untuk segera pulang dan mengantarkannya hingga sampai di rumah Ishida.

“Ishida, dari mana saja kau ini? Hingga larut malam seperti ini baru pulang.” kata Hyorin.
“Eemm, gomen bibi, sudah membuat anda khawatir.” kata Hyoku.
“Tidak, aku sungguh berterima kasih padamu sudah mengantarkannya pulang, jika Ayahnya tahu hal ini, Ayahnya akan bingung mencarinya.” kata Hyorin.
“Iya, kalau begitu aku pulang dulu, konbanwa.” kata Hyoku.

Seminggu kemudian.
“Ishida-san, ayo pergi, kita harus mempersiapkan pertunjukan musik kita kali ini.” kata Hyoku dari depan rumah Ishida. “Ishida, cepatlah, Hyoku sudah menunggumu.” kata Hyorin.
“Iya, Bu. Ittekimasu.” kata Ishida.
“Mana gitarmu?” tanya Hyoku saat Ishida ke luar dari rumahnya.
“Apa kau lupa? Gitarku sedang rusak, kita pakai gitar sekolah saja.” sahut Ishida.
“Ah iya, aku menjatuhkannya saat di taman sekolah.” kata Hyoku.

Ishida merangkul bahu Hyoku dan berjalan bersama, “Hei, apa kau mau jika Ayahku mengangkatmu menjadi anaknya? Aku tidak ada teman di rumah.” kata Ishida.
“Apa kau bercanda? Bagaimana dengan Ibuku dan Ayahku?” kata Hyoku.
“Kalau begitu pindah rumah di samping rumahku.” kata Ishida.
“Pindah rumah? Hoh, hanya untuk dirimu?” kata Hyoku.
“Ah, kau ini…” kata Ishida sambil menyenggol Hyoku.
Mereka pergi sekolah sambil bercanda dan tertawa bersama, akhirnya Hyoku bisa menggantikan keberadaan Ayumi untuk Ishida.

The End

Cerpen Karangan: Salsabila Nurwahida
Blog: wahida01.blogspot.com

Cerpen My Melody (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Angker

Oleh:
Hening malam itu begitu mencengang nama saya Natan yang sering pulang malam lewat di depat rumah itu, suasana begitu misterius keadaan bagai malam tiada habisnya dengan waktu yang terus

Siksa Anak Sholeh

Oleh:
Ini adalah kisah lama yang menjadi legenda di desaku, cerita ini bermula dari seorang penyamun kejam haus akan darah serta mengilai harta. Suatu malam di tenggah sepinya malam Sabtu

Teman Ghaib Ku

Oleh:
Hari ini aku pulang dengan santai, karena hari ini di cafe sangat rame, akhirnya cafe tutup lebih cepat. Nama aku Lasno, tapi lebih sering dipanggil Hery. Aku kerja di

Boneka Theschyi

Oleh:
“Din, sudah larut waktunya tidur!” Suruh ibunya kepada Dinda. “Iya, mah,” Ucap Dinda. Sejak tadi pagi Dinda selalu menjaga dan memainkan boneka barunya yang dibelikan oleh ayahnya langsung dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “My Melody (Part 2)”

  1. FItra says:

    Hyoku cowok dan ishida itu cowok juga kan ? akhirnya Hyoku bisa menggantikan keberadaan Ayumi untuk Ishida >.< kok agak janggal ya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *