MyCerpen 6: Mayat Selera Rakyat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 June 2013

Gak indah banget rasanya… Liburan selama dua bulan, tapi tak banyak berkesan selama minggu pertama ini. Walaupun kenyataannya belum ada kepastian Aku bakal Lulus atau tidak, tapi masa sih waktu yang panjang ini hanya terbuang, dan terpakai oleh Hal-hal gila selama ini…

“Sekali-kali aku pengen liburan,” batinku.

Akhirnya temen-temen sekelas pada ngerancanain buat liburan ke pantai.

“Pantai mana nih? Kalau bisa yang sesuai dengan Destiny kita semua, yang bisa memicu andrenalin kita.” Sandi bersuara dengan gaya so coolnya. saat itu kelas sedang berdiskusi untuk rencana liburan.

“Gimana kalau Pangandaran aja?” usul Fajar, suara Bass cemprengnya terdengar dari belakang.

Semua orang sekelas melihat ke belakang, menatap Fajar. Fajar nyengir…

“Kau tau Jar, Pangandaran baru saja terkena Tsunami belakangan ini dan di anggap berbahaya. Mana bisa kita kesana,” Mpur menyergap usulan Fajar.

“Ya bagus lah! Berarti sesuai dengan destiny kita, tsunami bisa memicu andrenalin bukan?” Fajar berdiri saat mengatakan itu, semua orang mencibir. Beberapa diantaranya bertepuk tangan atas pendapat fajar, dengan sangat konyol.

Sementara itu, aku sendiri hanya diam menggigit pensil. Aji yang duduk disebelahku malahan sedang asyik membaca Novel, saat semua perang pendapat untuk liburan ini. Bahkan ada yang sedang sibuk main Angry Bird… Hmm, efektif sekali!

Sekarang kelas menjadi sangat gaduh. Begitu berisik, usulan pantai saling dilemparkan. Ada yang mengusulkan ke Cirebon, Ancol, Kutai Bali, dan banyak sampai tak tertampung. Tak ada kesepakatan yang pasti, sementara waktu terus berlalu. Aku sudah tidak tahan dengan ini, ini sudah tidak seperti diskusi, tapi lomba debat. Gila, semua gilaaa!

Kelas semakin kacau dengan suara-suara itu. Beberapa oknum sengaja membuatnya semakin berisik. Pemimpin rapat Mpur juga tidak bisa menenangkan ini. Sampai tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja di sebelahku, begitu keras. Semua orang sekarang diam dan bingung.

“Kenapa harus pantai? Memangnya semua orang di kelas ini, mampu untuk pergi. Pikirkan juga dong, butuh ratusan ribu untuk itu. Kenapa tidak cari tempat yang murah tapi berkesan, seperti camping ke gunung gitu. Jalan kaki juga bisa, gak perlu ongkos. Yang terpenting itu kebersamaan…” Aji langsung duduk dan kembali membaca novel, setelah mengatakan itu.

Waoww… Semua orang masih pada bengong, kemudian bertepuk tangan kagum. Aku sendiri kaget. Bagaimana bisa dia mengatakan seperti itu? Apalagi kita semua tau kalau Aji itu pendiam di kelas. Tapi baguslah, dengan begitu semua sepakat untuk Camping ke gunung. Kecuali yang cewek… kita berangkat 35 orang, dan destiny kita adalah Gunung terdekat, Tampomas Mountain We Are Coming…

Cerpen Mayat Selera Rakyat

Semuanya berkumpul di Rumah Lukis, kebetulan dia yang paling dekat dengan lokasi. Beberapa orang tengah mempersiapkan segalanya, sebagian lainnya malah ada yang asik foto-foto Narsis. Lho?

Sayangnya 15 orang dari kita mengundurkan diri, tidak bisa ikut. Jadi sekarang yang tersisa hanya 20 orang yang siap berangkat. Walalupun Gunung Tampomas termasuk gunung yang dekat dan dinyatakan jinak, tapi beberapa orang masih ada yang ketakutan. Apalagi kalau mendengar cerita seram masyarakat di kaki gunung. Akupun tengah sibuk mendengarkan celoteh Fajar mengenai kejadian-kejadian seram yang pernah ia alami. Beberapa orang mulai ketakutan juga, beberapa lainnya justru merasa tertantang.

“Kau melihatnya sendiri jar?” tanya Sandi.

“Iyalah! Kepalanya itu mirip-mirip singa, dan tangannya berbulu. Untung aku melihatnya dari jauh. Kalau ketemu langsung, udah dimakan aku.”

“Waaaa,” sandi melompat kaget, mendengar cerita terakhir dari Fajar.

“Ah itu cuman tahayul. Lagian kitakan berangkatnya 20 orang. Jadi aman. Yang gak aman itu kalau kita jumlahnya ganjil, nanti bisa jadi 1 orang hilang. Atau nambah 1 lagi,” Mpur menimpali cerita fajar.

“Selama kalian debat soal begituan. Hari akan terus kemelut menjadi lebih siang lagi,” Tiba-tiba saja Aji berkata dari belakang.

Mobil gerobak yang ditunggupun telah tiba. Akhirnya kita semua berangkat. Kami berhenti pas di penggalian batu. Disana kami melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki ria. Untuk lebih mudah, kami di bagi empat kelompok. Aku sendiri berada di kelompok Aji, Fajar, Sandi, dan Engkos. Kelompok yang paling gak beres, cuman aku dan Aji yang diam saat perjalanan. Yang lainya malah masih sibuk bergosip soal hantu. Padahal tadi Mpur udah memperingati, untuk tidak berkata atau cerita yang enggak-enggak.

Kami berhenti di depan pos 1. Dan meminta izin kepada petugas disana. Mereka pun menyarankan kami untuk lebih berhati-hati selama perjalanan.

“Memangnya kenapa pak? Bapak pernah melihat kejadian aneh?” dengan polos Fajar bertanya.

“Tidak ada apapun kok, cuman kalian harus hati-hati dan jaga lingkungannya,” jawab petugas itu tanpa menyisakan kata lagi.

Tapi petugas yang satunya lagi, malah berkata, “Kami sempat menemukan tulang-tulang dan tengkorak manusia, kemarin. Di sungai sebelah sana.”

“Apa? Yang benar pak?” Sandi terkejut.

“Enggak itu bohong. Ya sudah kalian cepat pergi sana, nanti keburu kemalaman,” ujar petugas yang satu. Petugas satunya lagi cekikikan.

Dan kamipun kembali berjalan. Sekarang kami menyusuri sungai. Fajar dan Sandi begitu mengamati sungai selama perjalanan. Mereka masih penasaran dengan cerita petugas pos tadi. Aku juga sebenarnya merasa penasaran, namun melihat aji yang cuek bebek, ya ikutan cuek aja.

Suasana disini begitu asri, sungai mengalir dengan lembut. Airnya begitu jernih. Suara burung saling bersautan, ikut menghangatkan alam. Pohon-pohon menjulang tinggi, sesekali kami numpang berteduh di antara pohon, berehat sejenak…

“Apa kita akan sampai ke Puncak?” dalam santai Engkos bertanya.

“Tak tau. Kalau banyak diam begini, kupikir besok pagi barulah sampai kita,” jawabku.

“Memangnya mau berapa lama kita?” tanyanya lagi.

“Mpur bilang tiga hari,” jawabku lagi.

“Atau… Selamanya kalau kita tak bisa pulang lagi,” tiba-tiba saja Fajar berkicau, mengagetkan kami.

“Yang benar saja” kataku meledek.

“Hush!!! Kalian jangan bicara sembarangan!” ujar Mpur. “Cepat bawa tuh bawaannya, kita akan lanjut lagi.”

Perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini medan lebih ekstreme, kami menaiki bukit yang cukup curam. Saking curamnya, Lukis anggota kelompok Mpur. Merosot ke bawah dengan indahnya. Tak ada yang bisa membantu, hingga ia terhenti ketika menubruk kelompokku. Sialan!

Beberapa kali kami juga sering kehabisan jalan setapak. Dengan terpaksa kami membuat jalan baru, dengan memangkas semak-semak tinggi di depan. Di saat seperti itu, beberapa orang ada yang sibuk mencabuti lintah yang menyelinap di kaki, atau bagian tubuh lain. Ihhh Geliii! Aku yang paling was-was soal ini, ketika ku lihat ada satu lintah yang mencoba menyelinap. Langsung saja ku mutilasi di tempat, dan langsung kutaburi garam, hingga kupastikan lintahnya tewas…

Matahari mulai menyipitkan cahayanya. Sementara itu kami masih sibuk mencari tempat pemberhentian. Karena gelap malam, membuat tidak mungkin perjalanan bisa dilanjutkan. Sampai dimana bukit terjal itu takluk, kami berhenti disana.Tepatnya di Zona X. Mpur langsung menginstrusikan semua kelompok mendirikan tendanya. Begitu juga dengan kami yang tengah sibuk, tapi Fajar dan Sandi masih suka bersenda gurau seperti biasanya.

“Huii Jar, Kamu memang gak kena serangan Lintah tadi,” tanya sandi. Tangannya masih sibuk membeberkan tenda.

“Enggak! Cuman punggungku aja agak gatal dari tadi,” jawab Fajar. Semua orang dikelompokku langsung menatap Fajar. Fajar keheranan.

“Jangan-jangan?” Engkos berpikir.

“Cepat buka bajumu Jar,” ujarku.

“Ah, gak mungkinlah. Aku kan gak bau kaya kalian,” Fajar mencoba mengelak.

“Eh… Udah cepetan buka dulu,” desakku.

Kemudian dibukalah baju itu olehnya. Aku membantu melepasnya dari belakang, dengan penasaran cemas. Dan “klek” terbukalah baju itu… “HuuuWaaaaa” Aku kaget dan langsung loncat ke belakang. Geliiii!!! Ada lebih dari 10 lintah sedang asyik menyedot darah di punggung Fajar.

“Wah yang bener! Bantu cabutin dong!” pinta Fajar.

Aku jelas bukan orang ahli di bidang ini. Apalagi lintahnya sampe puluhan gitu. So, Ajilah yang lebih bijaksana untuk menyelamatkan fajar dari para Cacing keturunan Vampire itu.

Aji mengambil pinset, dan mulai mencabuti lintah itu. “Aduh! Pelan-pelan dong ji,” desah Fajar. Begitu menikmati penderitaannya.

Lintah-lintah itu dimasukan ke dalam botol minuman. Selanjutnya, langsung ditaburi garam. Mereka menggeliat kesakitan. Dan aku melihat puas, sambil mengocoknya. Mampus lo semua!

“Sekarang jam berapa sih?” Tanya Engkos.

“Jam 16 lebih,” jawab Aji. “Eh kita kan punya tugas Kos.”

“Oh, ayo pergi sekarang aja,” mereka berdua meninggalkan tenda.

“Mau kemana sih kalian,” tanyaku penasaran.

“Ada tugas dari Mpur,” jawab Engkos. Dan mereka langsung lenyap tak terlihat lagi.

“Ah. Anak itu kerjanya cuma tugasin orang aja,” keluhku.

Tiba-tiba saja orang yang diomongin muncul. “Keluar kalian cepat!”

“Kenapa sih Lo, teriak-teriak mulu,” keluh Sandi. “Iya nih,” Fajar menimpali.

“Ada apaan sih Pur?” tanyaku.

“Kalian lagi nyantai kan,” tebaknya. “Mumpung gitu. Tolong cariin air dong ke lembah sana.”

“Ah yang bener aja Pur. Sebentar lagi kan malem,” protesku.

“Bentar aja lagi Jang… Kasian tuh kalau anak-anak keselek pas makan,” jawab Mpur. Wajahnya dibuat-buat menjadi memperihatinkan.

“Hu’uh lah, oke,” aku setuju. “Ayo berangkat.”

Kami bertigapun berangkat. Fajar awalnya ogah-ogahan, apalagi sandi. Tapi berhubung ini cukup penting jadi terpaksalah kami lakukan. Walau sebenarnya kami sendiri kurang begitu tau dimana letak air itu.

“Letaknya di sungai lah. Di sekitar sini kan banyak sungai,” terang Fajar.

“Berarti kita harus mendengarkan suara air dong!” tambah Sandi.

“Air itu letaknya di dataran rendah. Artinya kita harus menuruni gunung,” tukasku.

Sekali lagi kami menuruni gunung. Membawa 5 botol minum ukuran jumbo. Terus menerobos semak-semak, berseluncur ke bawah dengan riangnya. Dan selama itu hanya satu pesan yang kami tau. Jangan ngomong sembarangan!

“Gimana kalau kita tersesat. Gak tau jalan ke kelompok lain,” kata Fajar tiba-tiba.

Langsung saja mulut Fajar ku sambit dengan botol. “Diemm, Keterlaluan lo jar.”

Dan memang benar. Kata-kata yang terucap dari mulut Fajar, begitu berefek. Tidak sadar selama mengikuti suara air. Kita lupa berapa kali kita belok, berapa kali kita menuruni lembah, dan menaiki bukit. Tapi kedua mahluk sialan itu cuek aja, aku yang merasa sedikit sadar mulai khawatir dengan keadaan ini.

“Kalian bawa Handphone? Aku lupa gak dibawa,” tanyaku.

“Enggak,” mereka menjawab serentak. “Lagian jangan khawatir Jang. Kita pasti balik lagi ko. Santai aja.”

Di tengah siuk riuk. Suara airpun semakin jelas, seolah di depan kami ada sungai. Dan ternyata benar, setelah keluar dari rimpunan pohon. Bertepilah kami, dan langsung memasukan air ke dalam 5 botol itu. Sementara aku mencuci muka, Fajar yang tengil kembali memancing kesialan.

“Kalian dengar itu,” tanya Fajar.

“Ya. Suara air, kenceng banget,” tukasku, sebelum dia berkata yang tidak-tidak.

“Bukan! Aku seperti mendengar suara orang,” sanggahnya.

“Kau mulai lagi deh Jar,” ledekku.

“Eh, tapi bener jang. Suaranya terdengar dari sebelah timur. Siapa tau itu pedesaan,” timpal Sandi.

“Mana ada pedesaan di perut Gunung,” tukasku.

Tapi rasa penasaran, menuntut kami untuk jalan ke sebelah timur. Dan terkejut begitu melihat ada pemukiman disana. Sebuah desa dengan rakyat yang sederhana, sedang melakukan aktivitas di sore hari. Reflek kaki-kaki kami berjalan memasuki pemukiman itu.

Aku masih penasaran desa apa ini. Tapi penduduknya begitu ramah, dan hangat menyambut kami. Bapak yang sedang mengasah golok tersenyum, ketika kita berjalan melewatinya. Tak kusangka, padahal saat ku cek di Google Earth tak ada penampakan desa ini. Mungkin belum terdata, pikirku.

“Kalian bawa uang?” tanya Fajar.

“Tentu,” jawab Sandi.

“Kau mau ke warung itu jar?” tanyaku. “Tapi sebaiknya kita kembali, mereka pasti membutuhkan air ini.”

“Santailah… Mereka pasti udah makan, perut kalian keroncongan kan?” tukasnya. “Lagian kalau kita kesanapun, belum tentu kebagian makanan.”

Dan kami bertigapun duduk di warung itu. Memesan paket penyembuh kelaparan. Semuanya setuju memesan nasi dengan satu potong daging, dan sambel plus kerupuk. Dengan lahap aku dan kedua mahluk kelaparan itu, langsung menyerang musuh yang ada di depan. Hap, hap, hap!

“Ini daging apaan sih? Kok rasanya begini ya,” bisikku.

“Dari alotnya sih, ini pasti daging sapi. Tentu saja!” jawab Fajar.

“Ini pasti sapi gunung, soalnya rasanya beda,” Sandi menambahkan.

“Oh, teori yang bagus…” kataku sambil kembali mengunyah. Namun tak urung, aku masih penasaran dengan daging yang ku makan ini. Teksturnya begitu asing, rasanya juga agak aneh. Tapi tak munafik sih, kalau rasa dagingnya begitu enak. Jadi peduli amat. Lanjutin makan aja…

“Ade-ade silahkan lanjutin aja makannya ya. Ibu mau pergi dulu. Kalau mau nambah ambil aja, minumnya ada di dapur,” kata Ibu pemilik warung itu. Dengan ramahnya, dia meninggalkan keberadaan kami diwarungnya.

“Eeeu,” suara Jijik itu keluar dari mulut Fajar. Sepertinya dia sudah kenyang, dan dia berjalan hendak mengambil minum ke dapur.

“Ambilin buat kita juga Jar,” teriak Sandi. “Woke,” sahut Fajar dari dalam.

Namun tak selang beberapa detik Fajar keluar dengan wajah mengerikan. Aku dan Sandi menatap heran pada dia. Kenapa lagi nih anak?

“Kalian semua harus lihat ini,” katanya, dan langsung menggiring kami ke dapur.

“Ada apaan sih?” tanyaku bingung. “Ayo ikut aja dulu,” balasnya.

Pintu dapur terbuka. Tapi aku tak melihat apapun disini. Mataku masih melirik-lirik, dan masih tak menemukan hal yang aneh.

“Bukan disini, tapi di balik pintu itu,” sanggah Fajar. Telunjuknya mengarah tepat ke pintu dapur, yang sepertinya menuju ke halaman belakang warung ini.

Pintu itupun langsung di buka. Kami bertiga keluar, dan langsung melihat penampakan itu. Sekejap, tiba-tiba saja tubuhku merinding, kakiku kesemutan. Tanganku menekan perut, pipiku kukembungkan. Menahan, aku merasa benar-benar ingin muntah. Oueeekhhh…

“Gila jadi yang kita makan ini,” jerit Sandi histeris. Matanya menatap jijik kearah potongan daging manusia didepannya.

Aku masih bengong, tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Potongan tubuh, kepala, kakidan tangan berceceran di tempat itu, bahkan ada yang masih berlumuran darah. Sepertinya itu adalah mayat yang paling baru. Pikiranku langsung berkesimpulan horor, ”Ternyata mereka masyarakat Kanibal.” Dan jika di lihat dari wajah mayat disini, sepertinya mereka masih terbilang remaja. Sontak aku berpikir, “Jangan-jangan kita korban selanjutnya lagi.”

“Sebaiknya kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini,” ajakku.

“Ouekhhh,” tiba saja Fajar muntah di tempat itu. Di susul sandi, akupun sebenarnya sudah tidak tahan dengan perut ini. Tapi seketika aku langsung menggiring mereka keluar…

Di luar kami terkejut melihat wajah pemilik warung tadi. Sekarang ekspresi mukanya sudah tidak ramah lagi. Tanpa pikir panjang aku memberi kode pada Fajar dan Sandi untuk segera cabut. “Bu ini uangnya,” aku meletakan uang di antara meja tempat kami makan tadi.

Ibu itu sepertinya sadar, bahwa kami telah mengetahui rahasia di balik mereka. Aku tak merasa, cuman dia terlihat seperti memberi kode kepada penduduk lainnya.

“Seharusnya kita lari aja,” saran sandi.

“Nanti mereka curiga bego,” balas Fajar.

“Mereka memang sudah curiga. Kau lihat bapa yang tadi tersenyum manis itu. Sekarang tatapannya berubah. Kupikir golok itu telah tajam, dan jangan-jangan…” bisikku.

“Oke, hitungan ketiga,” Fajar memberi intruksi. “1, 2,”

“Hiyaaaaa….” Sandi langsung lari duluan tanpa menunggu hitungan ketiga. Fajarpun menyusul tanpa mengakhiri hitungannya. Sedangkan aku sudah lari dari tadi sebelum mereka mengambil ancang-ancang…

“Jangan liat kebelakang! Lari terus…” teriak Fajar 2 langkah dibelakangku.

Aku yang penasaran mendengar riuk siuh, langsung melihat ke belakang. Dan begitu kaget melihat banyak masa. Ratusan lebih penghuni kampung kanibal itu, mengejar kami dengan berbagai macam benda tajam. Dan saat ku lihat ke depan lagi, kedua mahluk bernama Fajar dan Sandi, sudah jauh dihadapanku.

“Waaaaa,” dalam panik aku mempercepat langkah kakiku. Dan aku percaya pada satu teori. Jika dalam kedaan takut, seseorang akan dapat berlari lebih kencang dari biasanya. Yang ternyata berhasil, sekarang aku sudah hampir menyusul kembali 2 mahluk didepanku.

“Mereka bawa senjata apa?” jerit Fajar tanpa memperlambat kakinya.

“Golok, tongkat, dan perkakas membunuh lainnya,” teriakku berusaha menyusul Fajar.

“Apa ada yang membawa busur?” Fajar kembali menjerit.

Mulutku diam, tapi kakiku terus melaju dengan cepat. Hingga terdengar suara dari belakang. “Ada…” Itu suara sandi kan! Gila saat ku menoleh ke belakang, tampak sandi terjatuh dengan anak panah tertanam di pundaknya.

“Jarrrr… Sandi kena, sandi kena…” teriaku. Aku langsung memutar balik kemudi kaki, menuju tempat Sandi terdampar. Di susul dengan Fajar yang juga ikut berbalik.

“Santai San, Benda sialan ini, akan ku cabut sekarang,” kataku berusaha mencabut anak panah dari pundaknya. “Adawwww,” Sandi berteriak histeris…

“Cepetan mereka kesini,” dalam panik Fajar berkata. Tapi aku punya rencana lain. Kedua tangan temanku itu, langsung kegenggam. Dan menariknya terjun ke jurang. BLUSSSSH!!!

“GILAAA, LO MAU NGAJAK KITA MATI,” teriak Fajar sesaat sebelum kami masuk kesungai. “Jeburrr.” Badanku begitu sakit pas kena air, tentu saja karena ketinggian jurang itu. Dan aku langsung berusaha menepi, tapi ku sadar Fajar tidak ahli berenang. Dalam kedinginan itu, aku menyeret Fajar ke tepi…

“Kau aja yang ngasih napas,” usulku.

“Enak aja, lo aja aku gak mau,” tolak Sandi.

“Tega kau, masa temen sendiri dibiarkan begini,” kataku emosi.

“Ya sudah ” akhirnya Sandi mengalah. Tapi ternyata yang dia lakukan bukan memindahkan oksigen dari mulutnya ke mulut fajar. Dia malah membully perut fajar dengan tangannya. Hingga seketika, keluarlah beberapa liter air dari mulutnya. “Oekh, Uhuk, Uhuk…”

Fajar pun tersadar dari pingsan. Dan saat itu tidak terasa matahari sudah di telan gelap. Nampaklah bulan yang menghandle tugasnya. Aku cemas, bagaimana bisa kembali? tapi, setidaknya para kanibal itu sudah tidak mengejar kami lagi. Aku masih bisa merasa sedikit lega…

“Kalian masih mau lanjut,” tanya Fajar yang mulai pulih.

“Tentu saja! Kalau kita disini terus para kanibal itu pasti ngejar kita lagi, “ jawabku.

“Ya sudah! Ayo dong mumpung bulan lagi terang,” Fajar sudah bersiap untuk pergi.

Dalam keadaan semu gelap, ditemani sepercik cahaya bulan, kami lanjutkan perjalanan. Walau sebenarnya, kami masih bingung bagaimana caranya kembali? Karena kami sendiri tidak tahu sedang berada di posisi mana. Cuman Fajar dengan ilmu Pramukanya, menyimpulkan kalau kita harus mengikuti arah bulan. Karena di daerah situlah kita berasal, katanya.

Hentakan kaki kami bertiga begitu nyaring. Bersahutan dengan suara alam di tengah malam. Suara hewan yang teriak, terdengar berduet dengan suara angin berhembus. Cahaya bulan membayangi langkah kami, dan seketika berhenti. Terdengar suara asing, yang mengejutkan.

“Kalian mendengar sesuatu?” Hening sekali Fajar bertanya.

“Jangan lagi, aku gak denger apa?” Elak sandi menutup kupingnya.

“Aku dengar, itu seperti suara cewek menangis,” Jawabku merinding.

Fajar memegang tanganku dengan erat, sandi bersembunyi dibelakangku. Aku memperhatikan jalan ke depan, sesaat kudengar suara itu semakin jelas. Dan sekarang sudah terlihat wujud sumber suaranya, “Waaaaa…” kami langsung melompat 3 langkah ke belakang. Begitu terkejut dengan yang terpampang di depan…

“Apaan tuh kuntilanak?” Tanya Fajar histeris.

“Itu pasti wanita penunggu gunung ini,” jawab sandi asal.

Badanku bergetar keras, melihat penampakan di depan. Tunggu! Itu kayaknya manusia deh. Ku lihat sosok perempuan setengah baya, kira-kira seumuran denganku. Tengah terikat di pohon, dengan setengah tel*njang.

“Itu cewek, kayaknya dia tertangkap disini,” bisikku.

“Wah yang bener. Jangan deh, kita cabut aja langsung,” getaran mulut sandi begitu jelas terasa.

Aku berusaha menghampiri cewek tuh. Sementara kedua orang disampingku menahan dengan kuat.

“Udah percaya,. Itu bukan hantu,” kataku.

Sekarang ku lihat jelas cewek itu. Wajahnya lesu, tersisa air mata yang kering di matanya. Wajahnya terlihat stress, di terpa sinar bulan. Kedua orang disebalahku masih menundukan kepala, dengan bibir kumat-kamit membaca ayat kursi.

“Udah wuyy, dia bukan hantu atau apapun jenisnya,” tegasku.

Sandi berusaha menegakan kepalanya, dan sedikit demi sedikit memberanikan diri melihatnya.

“Beneran kau bukan mahluk halus?” tanya fajar ke cewek itu.

Cewek itu hanya diam dalam isakan tangisnya.

“Kamu siapa, kenapa terikat disini?” Tanyaku, saat berusaha melapaskan ikatannya.

Dia masih diam tak bersuara. Kemudian terjatuh. Aku berusaha membantunya berdiri, dan menanyakan kembali yang kutanyakan.

“Aku tahu jalan keluar dari sini,” kata cewek itu tiba-tiba.

“Apa?” tanyaku.

“Jangan percaya, dia mungkin membawa kita ke kanibal kampret itu,” elak fajar dengan keras.

“Bukan! Justru aku orang yang seharusnya di makan mereka. Buruan ikuti aja aku,” Setelah itu dia langsung berlari.

Aku bingung! Apa harus ikuti cewek yang agak aneh itu, atau masih pada teori fajar mengikuti bulan? Sandi dan fajar masih tetep kekeh dengan pendiriannya.

“Ayo buruan kenapa diam? Kalian mau selamat?” teriak cewek itu sebelum meneruskan larinya.

Mendengar itu. Langsung kulepaskan pegangan tangan kedua mahluk disisiku. Dan langsung lari mengikuti arah cewek itu. Aku yakin mereka berdua juga pasti mengambil arah yang sama. dan “Walaaa” begitu cepat menyusulku.

“Kau yakin dia akan menunjukan jalan yang lurus?” tanya Fajar.

“Tentu saja! Kita kan udah tolong dia,” jawabku, mempercepat langkah kaki.

Sandi menyusul dengan cepat dari belakang,”Wuyy tunggu!!!”.

Kami bertiga terus mengikuti arah lari cewek itu. Membelakangi bulan. Menerobos semak-semak. Melompat, dan terus semakin cepat saja. Hingga ku lihat cewek itu memasuki semak yang cukup tinggi, dan masuk kedalamnya. Aku, fajar, dan sandi dengan penuh tenaga juga menerobos semak itu. Dan… Kita terjatuh ke bawah, terguling ke lembah. Dan… Adawww…

Ku lihat cahaya senter menyoroti wajahku… Terdengar suara-suara memanggil nama kami bertiga. Haaa, wajahku lega begitu melihat kelompok lainnya menemukan aku dan dua orang yang bersamaku ini. Mereka menghampiri kami, dan langsung membopong keperkemahan… Huft…

Kami sampai diperkemahan. Ku dengar suara kicauan Mpur dan yang lainnya tengah mengunjingkan masalah aku, sandi, dan fajar.

“Gak perlu dilanjutkan kalau gini. Lebih baik besok kita turun aja,” Mpur dengan keputusannya.

Aji menghampiriku, “Eh jang beneran Lo, masuk ke kampung Kanibal?”

“Udah besok aja ji ceritanya, aku mau tidur.” jawabku dan menutupkan mata.

“Eh cewek yang tadi mana, ada yang liat?” Tanya fajar. Aku juga sebenarnya ingin menyakan itu.

“Gak ada cewek hanya kalian bertiga,” mereka bersuara.

“Wah, Berarti…?”

Pagipun tiba. Aku pikir kejadian kemarin adalah mimpi burukku. Ternyata aku masih terbangun di tengah hutan.

Akhirnya, kamipun menuruni gunung. Begitu cepat tak terasa, tak seperti saat mendaki kemarin. Beberapa orang tengah membicarakan kejadian kemarin. Aji dengan wajah penasaran tengah mewawancaraiku. Sampai tidak terasa sudah berada di Pos. Fajar menceritakan kejadian itu ke penjaga disana. Barang kali ada titik terang dalam hal ini…

“Memang benar sih di dalam gunung sana, ada sebuah pemukiman. Dan betul tengah dihuni oleh para penduduk kanibal,” kata petugas itu.

“Tuh kan bener, Masa kita bertiga bohong,” kata fajar kekeh.

“Mmm, tapi 80 tahun yang lalu. kalau sekarang sudah gak ada lagi, sekarang udah tinggal…” sebelum petugas itu meneruskan. Mpur memotong dan mengambil kesimpulan. “Pasti itu cuman imajinasi kalian, mana ada kanibal zaman sekarang.”

“Sebenernya sih. Saya sempat ambil foto kampung itu kemarin,” sandi bersuara dan berusaha mengambil kamera dari tas gunungnya.

Wah, sialan juga tuh anak.

“Mana liat,” Mpur mengambil kamera fajar.

“Apaan? Ini cuman foto-foto pemandangan makam,” kata Mpur.

“Makam?” aku kaget…

Wah berarti? Gak tau lah itu terasa dan terlihat nyata aja… Huft… Selesai…

Cerpen Karangan: Ajang Rahmat
Blog: www.ajangrahmat.com

Cerpen Karangan: Ajang Rahmat
Facebook: http://facebook.com/ajangrahmat
Blog: http://boytrik.blogspot.com/
Web: www.ajangrahmat.com
Twitter: @ajangrahmat
Motto Hidup: Sukses adalah spirit saya untuk tidak gagal, dan gagal spirit saya untuk bisa sukses

Cerpen MyCerpen 6: Mayat Selera Rakyat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 sekawan (Part 1)

Oleh:
TAK KENAL BOSAN Ini adalah sebuah kisah dimana masa-masa kecilku yang begitu ceria yang ditemani oleh sahabat-sahabatku penuh dengan history dan adventure. Aku yang baru saja ingin membaca diary

Dendam

Oleh:
Malam yang sepi untuk Rika, tak ada yang menemaninya di rumah. Ia hanya bisa sendiri sambil membaca buku yang baru ia beli tadi siang. Angin malam menusuk tulang-tulang Rika

The Dark Fire 2 (Nightmare Part 2)

Oleh:
“Kyaaa!” Sebuah tengkorak keluar dari sana. Tengkorak itu terjatuh seketika ke tanah. Aku hanya bergidik ngeri. Perlahan, aku mulai masuk ke dalam peti kuno itu. Setelah masuk, ku tutup

Seperti Bumi Kehilangan Gravitasi

Oleh:
Semilir angin yang berhembus menebarkan pesona yang membuat tubuhku semakin nyaman bersandar di bawah pohon beringin yang tepatnya berada di kejauhan 10 meter dari depan pintu kelasku. Entah apa

Berpegang Teguh Pada Prinsip

Oleh:
Diera sekarang itu remaja sepertiku sangat identik dengan pacaran. Menurut sebagian besar dari remaja sekarang kalau nggak punya pacar itu nggak gaul lah, nggak lakulah apalah. Tapi menurutku buat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “MyCerpen 6: Mayat Selera Rakyat”

  1. Cut says:

    Cerpen nya bener2 rameeee…

  2. lany angellina says:

    menegangkan tapi aku suka *^_^*

  3. rina musliani says:

    cerpennya..sereeeEEEEMMM!!

  4. Rismha imha says:

    sangat menegangkan. tapi rasanya aku juga kepengen ngerasain petualangan seru itu..

  5. setavano says:

    Cerpen Luar Biasa Menegangkan Dan Ada Sedikit Humornya
    Terus Berkarya ya 🙂

  6. Eva Rista says:

    Wow….amazing zeeerrreemmm banget cerpennya(menegangkan)

  7. mutia zahra says:

    cerpen nya bagus dan menegangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *