Natania

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 January 2017

Malam ini sungguh sunyi, suara derit pintu membuatku semakin takut, lampu yang berkedip-kedip menambah kesan horor kamarku, tak tahan dengan suasana ini, aku berlari keluar kamar. Dan yang kudapati hanyalah gelap, kuberjalan perlahan dan tanpa sengaja kakiku menginjak sesuatu, dengan keberanian sebisaku, kutatap apa yang kupijak, dan ternyata itu hanyalah secari kertas, kuangkat kertas itu.

Tanganku meraba mencari senter di atas nakas, kuhidupkan senter itu untuk melihat apa isi kertas tadi, bulu kudukku merinding saat membaca tulisan bertinta merah di atas kertas tadi “Kamu sendirian? Mama kamu pergi ya? Mau aku temenin? Aku gak bakal jahat sama kamu kok!” Itulah tulisan yang membuat buluku merinding tadi. Mengingat aku sendirian di rumah, mama dan papaku pergi ke Amsterdam untuk pekerjaan. Di pojok kiri bawah juga tertulis tanda sang pengirim, Natan namanya.

Sudah cukup keberanianku, ini kali pertamanya aku mendapat teror seperti ini, apalagi disaat mati lampu begini, tangisku pecah, aku hanya duduk memeluk lutut menyandar pada lemari kaca di belakangku, berharap lampu akan segera hidup. Tak lama kemudian lampu hidup kembali, suara jantungku yang masih berdetak dengan cepat menandakan bahwa aku masih takut.

Kucoba lirik ke kiri dan ke kanan, tak ada siapapun di sini, aku masuk kembali ke kamarku. Perhatianku tertuju pada kolong ranjangku, perlahan tapi pasti aku mengintip tempat itu, namun nihil aku tak menemukan siapapun di sana. Aku naik ke atas ranjang dan kutarik selimut bulu di sana, kututup semua tubuhku dengan selimut itu, tanpa sadar aku akhirnya tertidur pulas.

Ada yang salah dengan tubuhku atau ada seseorang yang menimpaku? Kukerjapkan mata dan perlahan penglihatanku mulai jelas. Wajah putih, rambut hitam, dan dia lelaki?
“Huwaaaa!” teriakku refleks.
“Huwaaaa!” teriaknya juga.
Selama 12 tahun aku hidup, ini pertama kalinya ada lelaki yang bukan keluargaku datang tanpa izin ke kamarku, bahkan dia orang yang tidak kukenal. Ia tersenyum menatapku, darimana dia bisa masuk?

“Kamu siapa? Kok bisa masuk kamarku? Kamu lewat mana? Sejak kapan kamu di sini?” Tanyaku bertubi-tubi padanya.
“Aku Natan loh Nia, aku sejak semalem di sini nemenin kamu, yang jelas aku masuk sini gak ada niat buruk!” Jawab Natan dengan biasa saja.
Natan? Sepertinya tidak asing, tunggu! Natan kan nama anak yang ngasih aku surat semalem, apa beneran dia? Kutatap matanya was-was, tapi tidak kutemukan tanda kejahatan di sana.
“Kamu kok tau namaku? Kamu yang ngasi aku surat tinta merah semalem?” Tanyaku serius.
“Iya, kamu temen satu sekolahku, kita juga satu angkatan. Aku juga yang ngasih kamu surat itu, kamu sendirian kan? Aku udah izin sama mamaku kok nginep sini beberapa hari!” Jawabnya tanpa ragu.
“Kan aku belum izinin kamu. Kamu masuk lewat mana?” Tanyaku lagi.
“Karena semalem mati lampu, rumah kamu juga gak kekunci, aku masuk aja, ninggalin pesen terus liat liat rumah kamu,” jawabnya pasti.

Ma, cepetan datangnya, cowok ini aneh ma! Liburan yang kukira menyenangkan malah menjadi hal paling mengerikan untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengeluarkan senyum paksaku sekarang. Kami berdua terdiam sampai akhirnya aku memutuskan beranjak untuk mandi.

“Kamu mau kemana?” Tanya Natan padaku.
“Mau mandi, kalo kamu mau mandi gantian aja, baju kamu juga gak ada, masak mau pake baju cewek?” Tanyaku.
“aku bawa baju kok, nanti kalo udah mandi masakin aku ya! Kalo bisa ramen cup” pesannya padaku.
Aku hanya diam tanpa menyahuti celotehnya tadi, masih sedikit canggung dengan keberadaannya di sini.

Setelah mandi aku merebus air untuk membuat ramen jepag, dan mie cup biasa.
“Nih!”
Kusuguhkan mie ramen cup padanya, matanya berbinar seperti melihat ratusan emas di hadapannya, sepertinya dia memang pecinta ramen. Dimakannya mie itu dengan lahap.

“Kamu memang suka banget ya sama mie jepang itu?” Tanyaku mengisi kesunyian.
“Hooh, ahu huka hanget hama hamen!” Ucapnya dengan mulut penuh.

Aku segera menghabiskan makananku, karena setelah ini aku harus ke supermarket. Bahan masakan di rumah sudah habis, mau tidak mau yah… begitulah.
“Natan, aku mau ke mall seberang rumah, kamu ikut gak?” tanyaku pada sosok yang baru kukenal itu, dan hanya dijawabnya dengan anggukan.

Tak butuh kendaraan untuk datang ke mall, seperti yang kukatakan tadi, mallnya ada di seberang rumah. Di sana banyak sekali bahan makanan, ada beras, mie, sayur dan berbagai bahan masakan lainnya, aku mengambil troli dan ditarik Natan menuju tempatnya raja mie.

“Nia, belikan aku ramen!” Rengeknya.
“Nggak usah, besok-besok aja, aku mau beli sayuran, emang kamu doyannya cuman ramen doang?” Marahku padanya.
“Ayolah Nia,” ucapnya menarik tanganku.
Kulihat sekeliling, ada beberapa orang yang berlalu-lalang melihatku dengan tatapan takut ataupun sinis, aku tak mengerti sebabnya, bahkan sampai ada yang berlari melihatku, sungguh aneh. Oh mungkin saja karena pertengkaran kecilku dengan Natan. Agar tidak dicurigai lebih lanjut, aku langsung mengambil 3 cup ramen dan pergi menuju tempatnya sayur.

Kupilih-pilih sayur yang akan kumasak, jangan kira anak kelas dua SMP tidak bisa masak ya! Aku lumayan jago dalam hal masak memasak tahu! Kuambil terong, wortel, timun, kentang, dan sesuatu yang kurang kusuka tomat. Sama halnya dengan ramen, Natan merengek bak anak kecil, memohon dan berceloteh bahkan hampir mengeluakan sumpah serapah dari mulutnya.
Aku menuju kasir untuk membayar barang yang sudah kupilih tadi.

“Adik kemari dengan siapa?” Tanya kakak penjaga kasir itu.
“Sama temen kak!” Jawabku.
“Mana temennya?” Tanya kakak tadi.
“Ini!” Ucapku menunjuk pada Natan.
Kakak itu terlihat bingung dan heran, entah apa sebabnya.
“Totalnya Rp.100.000,- ya dik,” Ucap kakak tadi.
“Ini kak, makasih kak!” Ucapku pada kakak tadi dengan senyum mengembang, dan dibalasnya dengan senyum juga.

Sudah dua hari Natan menginap di rumahku, besok Papa dan Mamaku sudah datang dari Amsterdam, katanya juga Natan cuma menginap tiga hari, yang berarti hari ini Natan sudah harus pulang.
“Nia belikan aku es krim dong!” Pintanya dengan manja.
Aku hanya memutar bola mataku menanggapi permintaannya, kemudian pergi ke depan rumah meneliti dimana ada penjual es krim, ternyata dewi fortuna berpihak padaku, tukang es krim lewat depan rumah.
“Pak beli!” Teriakku cukup keras.
Bapak itu menepi ke teras rumahku.
“Coklat satu, stroberi satu ya pak!” Ujarku memberikan uang Rp.10.000,- selembar, kemudian mengatakan terimakasih setelah mendapatkan kedua es krim itu.

“Nih!” Ucapku memberikan es krim stroberi padanya.
“Loh. Kok stroberi?” Tanyanya padaku.
“gara-gara kamu anak manja, jadi gak mungkin kan suka rasa lain, yang cocok sama kamu cuman stroberi!” Jawabku mengeluarkan pendapat.
“Tapi mauku kan yang rasa coklat!” Ujarnya.
Tanpa menunggu celoteh darinya, aku memutar bola mata lagi dan menukar es krim kami, mungkin pada dasarnya Natan anak yang manja.

Hari sudah menjelang sore, kami sudah mulai akrab, apalagi dengan celoteh Natan saat keinginannya tidak dituruti, kami sempat tidur bersama, foto dan makan.
“Nia, aku balik dulu ya, nih! Kemaren aku ke taman beli gelang, Natan untuk aku, Nia untuk kamu, dan yang ini, Natania nama kita berdua, kamu aja yang nyimpen ya!” ucapnya memberikanku dua gelang dari ketiga gelang tersebut yang mana jika dihubungkan akan membentuk hati yang indah.
“Kamu gak pulang besok aja?” Tanyaku padanya.
“Nggak lah, kalo kamu mau main ke rumahku ini alamatkan, liburan juga kan masih panjang!” ucanya memberikanku secarik kertas bertinta merah dengan alamat rumah, jalan labiru no. 03. saat kulihat ke arahnya lagi, ia sudah menghilang tanpa jejak, mungkin saja dia lari karena takut kemalaman.
Yah sendiri lagi di rumah, besok mama sama papa udah pulang, aku main ke rumah natan boleh kali ya?

Pagi sudah menjelang, suara klakson mobil membangunkanku, di tanganku masih tergenggam secarik kertas dan dua gelang dari natan kemarin.
“mama, papa!” teriakku memeluk mereka yang baru saja sampai di gerbang dean rumah.
“gimana liburannya? Seneng?” Tanya mamaku mengangkatku yang sudah berat ini.
“seneng banget ma, kemarin ada temenku ke sini, namanya natan, nanti mama anterin ya ke rumahnya, aku mau main lagi sama dia!” ucapku merayu mamaku, tanpa meminta dua kali mamaku langsung mengangguk tanda terima.

Setelah mandi dan bersiap menggunakan baju rapi, mama memberiku hadiah, gantungan kunci juga kaos. Karena gantungan kunci yang mama berikan ada dua, maka yang satunya lagi akan kuberikan kepada natan. Ternyata mamaku juga sudah siap. Kami berangkat menggunakan mobil sedan mamaku.

Setelah sampai di alamat yang kubawa, aku turun dengan gembira menggenggam gantungan kunci.
“permisi tante!” ucapku.
“kamu… Kamu nia ya? Masuk dulu, ayo bu!” ucap tante tadi, mungkin saja mama natan. aku masuk ke rumah itu meninggalkan mama yang masih di dalam mobil.
“hmm, tante natannya mana ya?” tanyaku pada mama natan. Tampak raut sedih di wajahnya, perlahan tapi pasti titik ttitik air mata turun dari matanya, aku bingung jadi serba salah.
“kenapa ya tante? Maaf sebelumnya!” tanyaku.
“natan sudah meninggal seminggu lalu nia, dia kecelakaan!” ucap tante itu membuatku marah.
“nggak mungkin lo tante, natan datang ke rumah saya tiga hari yang lalu, dan dia pulang ke sini baru kemarin, kalau tante gak percaya ini ada foto saya sama natan, ini juga gelang dari natan!” ucapku emosi menunjukkan smartphone yang kugunakan untuk foto beberapa hari silam, juga dua gelang yang kugunakan.
“natan udah gak ada nia, tante gak bohong!” ucap tante itu dengan tangisnya yang tersedu sedu.

Aku masih belum bisa menerima hal yang tante jelaskan padaku, mataku perih, ada sesuatu yang keluar dari sana, caian bening tana terasa sudah menetes dengan derasnya dari mataku. Tante tadi mengeluarkan secarik surat dan gelang dari sebuah tas kecil berwarna maron.
“ini gelang natan dan surat yang terakhir kali dia buat, hiks- dulu sebelum kecelakaan seminggu yang lalu-hiks- natan selalu memotret kamu tanpa kamu sadari, ia ingin berteman denganmu -hiks- berbeda denganmu yang terkenal karena masuk kelas unggulan, natan lelaki pendiam -hiks- dia selalu saja ingin berteman denganmu, mengumpulkan keberanian untuk membeli gelang ini, namun, minggu kemarin saat natan ke rumahmu, terjadi kecelakaan yang menewaskannya -hiks,” jelas mama natan.
Masih saja aku tak bisa menerima hal ini, mataku sudah sembab dan basah, kubuka kertas yang ditunjukkan tante tadi.

‘hei nia, aku natan! Aku penggemar rahasiamu lho, aku suka kamu! Yah walaupun ini Cuma cinta monyet tapi aku berharap kalau kita bisa bersahabat. Aku beli gelang ini untuk tanda persahabatan kita simpan ya!’

Setelah membaca surat tadi aku berlari keluar kamar menuju makam terdekat yang kutahu, tanpa peduli jeritan mama yang memintaku kembali. Dengan ketajaman mataku, aku melihat sekeliling batu nisan, dan ketemu. Kakiku yang tadinya ingin terus bergerak kini lemas seketika, pusara tempat terakhir natan sudah kutemukan. Kudekati nisan itu lalu kupeluk erat.
“padahal kita baru ketemu sebentar, kenapa kita udah pisah? Natan!” ucapku lirih teredam tangisku.

Angin mulai semilir dan menerbangkan dedaunan, kutemukan secarik kertas bertinta merah betuliskan.
‘Jangan menangis, aku selalu didekatmu, jaga selalu kesehatanmu ya! Jangan pernah takut. Aku janji setiap tahun di tanggal dan bulan yang sama aku akan menemuimu kembali, entah dalam wujud kecilku atau wujudku yang terus berkembang, aku janji!’

Perlahan kutatap nisan itu erat erat, dan di belakangnya tampak cahaya putih tersenyum padaku, dia mirip dengan natan, aku hanya mengangguk menanggapi tulisan tadi, kemudian cahaya itu menghilang.

Mama menjemputku dan menenangkanku, foto dalam smartphonku masih utuh tak berubah sedikitpun, meski waktu itu aku berfoto dengan ‘arwah’ namun, ‘arwah’ itu sahabat baikku. Kusiapan segalanya untuk kedatangannya tahun depan.
Diari yang selalu kuisi dengan pengalaman keseharianku, juga resep makanan baru yang kucoba. Kini aku tahu kenapa saat di mall waktu itu, aku mendapat tatapan ketakutan atau tatapan sinis, sebabnya karena hanya aku yang bisa melihat ‘arwah’ natan.

Natania, nama yang bagus ya untuk seorang wanita, nata raka putra dan aku nia rika putri bersahabat dengan baik meski berbeda dunia.

Sahabat bukan berarti harus sama dunia, sama keunggulan, sama keluarga, atau hal lainnya, sahabat adalah dimana kita menerima seseorang sepenuh hati dengan keikhlasan kita

‘Akan kusimpan selalu gelang nia, dan natania selama hidupku, terimakasih ats semua natan, aku akan menunggumu hingga tahun depan, pasti!’

Cerpen Karangan: Dewi Mahmudah
Facebook: dewi anjarwati mahmudah
siswi SMA yang ingin menjadi penulis terkenal

Cerpen Natania merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Asrama Lily 3

Oleh:
Namaku Veila Laisha. Saat ini, aku tengah menjalankan pendidikanku ke tingkat perguruan tinggi. Aku bersyukur dengan apa yang telah ku capai hingga aku dapat masuk ke perguruan tinggi favoritku

Hati Kecil yang Tertinggal

Oleh:
Ahsan menarik nafas sejenak, membuangnya seketika. Hatinya masih tampak labil meski ia sudah berusia kepala dua. Serta-merta ia masih teringat peristiwa tak terlupakan 5 tahun lalu saat ia diseret

Khitbahlah Aku!

Oleh:
Brukk…!!! Tubuhku terpental jauh kepinggiran jalan dan serasa tubuhku kesakitan karena tubrukan tubuhnya. namun lelaki di depanku ini hanya mengulum senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kamu siapa sih?” tanyaku padanya

Scorned Love

Oleh:
Aku melihat berita di televisi pagi ini. Tentang kejadian yang ‘katanya’ sudah sering terjadi pada sekolah-sekolah umum. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini dianggap biasa. “Gadis yang berinisial

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Natania”

  1. Darty says:

    Huwaa~ jadi baper bacanya.. huks, seriusan deh, kak dewi jago banget nulisnya.. ceritanya menyentuh abis, dan sedikit masukan buat kakak agar lebih diteliti lagi di setiap katanya, soalnya tadi aku ketemu typo.. ops, comentku kepanjangan ‘ya?! Hehhe, maafkeun lah.. yang penting tetap semangat dan terus berkarya! Aku yakin suatu saat nanti kak dewi bakalan bisa meraih cita-cita.. fighting!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *