Noir dan Taman Anggrek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 16 May 2018

Banyak siswa dari luar kota yang memutuskan untuk bersekolah di Jakarta, Ibu kota Indonesia. Edward termasuk salah satunya. Edward berpenampilan seperti mahasiswa biasa yang berkacamata tebal. Ia berasal dari Jogja, kota yang terletak di jawa tengah. Dia pindah ke kos barunya di Jakarta untuk belajar di universitas. Taman Anggrek, kos yang dia tempati, memiliki kamar yang besar dan nyaman serta teras yang langsung memandangi jalanan. Kamarnya, kamar nomer 129, telah dilengkapi dengan televisi, ranjang, lemari, meja, kursi, sebuah dapur kecil dan kamar mandi yang bersih. Meskipun besar dan lengkap, ada tercium bau yang aneh sejak hari pertama Edward pindah. Walau seminggu telah berlalu, bau aneh di kamarnya masih terasa. Bau amis itu tidak terlalu menyengat tetapi dapat dirasakan dengan tipis. Bu Marno, pemilik kos telah beberapa kali mengecek kamarnya dan tidak menemukan apapun. “Telah beberapa kali aku merasa para tetangga menunjuk dan membicarakan tentang kamarku”, pikir Edward, dia tidak pernah merasa nyaman sejak pindah ke kos tersebut.

Suatu pagi, ketika Edward sedang mau berangkat ke universitas, ia melihat seorang anak yang menatap ke pintu kosnya. “Aaaaaa!” teriak Edward kaget ketika melihat anak tersebut. Anak yang sekitar usia 7 tahun itu memiliki rambut putih, wajah pucat, dan tatapan mata yang sangat kosong. Edward langsung merinding dan langsung menutup pintu. Ia lari secepatnya menuju jalanan untuk mencari angkot.

Pagi sudah lewat dan Edward terus memikirkan anak berambut putih tersebut. Saat sore, ketika ia pulang dari universitas, anak tersebut sudah tidak ada di depan pintu. Edward merasa sangat lelah setelah seharian mengikuti pelajaran dan langsung tidur. Malam sekitar pukul 12, ia terbangun karena lapar. Ketika ia sedang memasak mie instant, ia mendengar suara.

“tep… tep… tepppp” ia mendengar suara orang berjalan. “Si-siapa di sana?” Edward bertanya sambal ketakutan. Ia bergerak menuju ke arah tempat bersuara namun tidak menemukan apapun. Edward merasa mungkin ia sedang berilusi karena kecapekan dan ia pun tertidur tanpa mematikan lampu.

Keesokan pagi, ketika ia bangun, lampu telah dimatikan. Edward merasa mungkin ia lupa telah mematikannya dan tidak memasukkannya ke dalam hati. Ketika ia akan berangkat, anak berambut putih yang kemarin mengunjunginya berdiri di depan pintu kamarnya lagi. Kali ini Edward berusaha memberi salam padanya. “Selamat pagi!” ucap Edward. Ucapan Edward tidak dihiraukan atau dijawab oleh anak tersebut. Anak tersebut tetap menatap kepada ruang kosnya Edward. Edward tidak berbicara apapun lagi dan pergi meninggalkannya.

Pada sore hari, ia bertemu dengan bu Marno, sang pemilik kos. “Ibu, apakah di sini ada tinggal seorang anak berumur sekitar 7 tahun dan berambut putih?” ia langsung bertanya. “hah? di sini tidak ada anak kecil sama sekali.” Jawab bu Marno. “apa mungkin anak di sekitar sini atau kenalan orang di kos?” tanya Edward karena kepikiran anak berambut putih yang ia bertemu. “Tidak mungkin rasanya. Saya tidak ingat ada anak kecil yang pernah masuk ke kos ini. Walaupun ada, tidak mungkin berambut putih. Kenapa kamu bertanya tentang ini?” “tidak apa-apa bu, saya cuma salah lihat.” Jawab Edward dengan tersenyum.

Edward tidak tahu siapa anak yang ia lihat setiap pagi. Ia kembali ke kamar sambil terbingung. Ketika ia sedang melepas sepatunya di kamar, ia melihat sosok anak tersebut berdiri di depannya. “wuahhhh!” Edward terkaget. Ia bernapas untuk beberapa detik dan bertanya padanya “kamu kok bisa masuk ke sini?”. Dengan pelan anak itu menjawab “Ini rumahku…”. “orangtuamu di mana? Mungkin kamu salah kamar?” tanya Edward dengan bingung. Anak tersebut terpaku diam dan berkata dengan suara yang kecil “ini rumahku kok… aku tinggal di sini…”. Edward masih bingung dan bertanya “hey, namaku Edward, namamu siapa?”. “Namaku Noir.” Jawabnya. “mamamu di mana? Atau papamu?” tanya Edward. “mama pergi…, papa tidak ada…” jawabnya.

Edward merasa panik dan kebingungan. Edward membawa Noir ke tempat bu Marno. Edward mengetok pintu Bu Marno dan berbicara padanya. “ini ada seorang anak di dalam kamarku bu. Namanya Noir. Dia bilang mamanya kerja dan ayahnya tidak ada. Saya harus apakan dia bu?” tanya Edward. “Hah? Anak apa, Edward?” tanya bu marno dengan bingung. Edward melihat sekitarnya dan tidak menemukan Noir. Noir menghilang entah ke mana. “Tadi dia di sini bu! Aku membawanya ke sini. Tapi kok sekarang tidak ada?” ucapnya dengan bingung. Wajah bu Marno menjadi pucat. “jangan mengageti saya! Tidak lucu ini!” balas bu Marno dengan marah. Bu Marno kembali ke kamarnya dengan wajah yang aneh.

Dengan perasaan tidak enak, Edward kembali ke kamarnya. Malamnya, ketika mengambil baju, ia menemukan Noir yang bersembunyi di dalam lemari. “kenapa kamu sembunyi tadi?” tanya Edward dengan pelan. “ibu sudah mau datang. Aku harus sembunyi.” Jawabnya dengan takut. Edward kebingungan. “Ibumu di mana? Gimana kalau aku membawamu ke kantor polisi?” tanya Edward dengan menunduk ke anak kecil itu. Noir menggelengkan kepalanya. Melihat langit yang sudah gelap, Edward pun mengizinkannya tinggal di kamar. “sudah gelap nih. Begini saja, kamu tinggal di sini semalam saja. Besok aku antar kamu pulang.” Ucap Edward. Noir mengangguk. Noir dan Edward bertidur sama-sama setelah makan malam.

Tingkah laku Noir sangat aneh. Ia pergi ke toilet dan membuka televisi semaunya seperti ini adalah rumahnya. Anehnya, ketika Noir ada di kamar, kamar terasa sangat dingin dan bau amis tersebut makin terasa. Bola lampu juga berkedip-kedip sendiri seakan-akan di film horror. Ketika Edward mengajaknya tidur, ia langsung berbaring di lantai dan tidur. Pada tengah malam, Edward terbangun dan melihat Noir menatapmya sangat lama. Edward merasa takut dan pura-pura tertidur.

Keesokan hari, Edward langsung membawa Noir pergi ke jalanan untuk membawanya pulang. “kamu kemarin datang dari mana? Kamu pernah lewat jalan ini?” tanya Edward. “Aku tidak pernah keluar dari rumah” jawab Noir sambil menatapi jalanan seakan-akan ia pertama kali melihat pemandangan selain kos tersebut.

Tidak lama setelah mereka berkeliling di sekitar kompleks, Noir minta pulang. “kak Edward, ayo pulang yuk. Nanti ketahuan sama ibu kalau aku keluar”, ucap Noir. “Nanti ibumu tidak akan bisa menemukan kamu kalau kamu di dalam rumah.”, jawab Edward. Noir tiba-tiba berhenti berjalan dan tidak mengatakan apapun. Edward terbingung dan memutuskan untuk membawanya kembali ke kos. Mereka mampir ke Indomart untuk berbelanja. Edward membeli sabun, shampoo dan juga makanan. Sekalian, ia membeli es krim buat Noir. Noir senang sekali ketika Edward memberinya es krim coklat yang biasa disukai anak-anak. Ia tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih, saat itulah pertama kali Edward melihat Noir tersenyum.

kembali ke kamar kos Edward, bau aneh itu tambah terasa. Baju Noir terkena noda es krim yang dia makan tadi. “Noir, bajumu tertetes es krim tuh! Sini aku bantu bersihkan.” Ucap Edward sambil memberikan tangannya. Noir membuka bajunya dan memberikannya kepada Edward. Edward terkejut melihat badan Noir yang penuh dengan luka darah dan memar. Badan Noir penuh dengan luka merah berdarah dan memar yang sangat banyak. Lukanya tidak terlihat karena ia selalu memakai baju hitam dengan lengan panjang. “Noir, lukamu itu dari mana saja?”, tanya Edward dengan kaget. “ibu…”, jawab Noir dengan suara yang kecil. Edward makin merasa curiga kepada ibunya Noir. Ia merasa Ibunya sering memukuli Noir. Edward merasa sangat marah kepada ibunya Noir setelah melihat luka-luka di tubuh anak malang itu. Ia segera mengambil kotak P3K yang di simpan dalam lemari.

Edward curiga bahwa ibunya tidak pernah membawa anaknya keluar dari rumah. “Noir, ibumu sering memukulimu?”, tanya Edward sambil mengobati lukanya. “iya, katanya ibu aku ribut.” Jawabnya. Tubuh Noir terasa sangat dingin ketika Edward menyentuhnya. Tubuh Noir terasa dingin seperti mayat. Edward merasa merinding saat melihat Noir.

Tidak lama kemudian, Noir menatap pada plat atap kamar Edward dan merenung. “ada apa?”, Tanya Edward. Noir menatap atap dan terkaget seketika. “Tolong….” Noir berkata. “lohh?? kenapa atapnya?” Edward bertanya. “Tolong… Tolong aku…” Noir berkata sambil menangis. Angin dingin langsung menghembus dari kaki Edward. “Tolong aku….” Noir menangis sambil menunjuk atap. “aku bisa mati di atas”, tangis Noir. Edward merasa ketakutan dan bingung. “kamu akan tidak apa-apa kok! Besok kakak bawa kamu ke kantor polisi. Kakak jamin ibumu tidak akan menyakiti kamu lagi kok!” jawab Edward dengan senyum yang meyakinkan. Edward memeluk Noir dan menenangkannya. Edward curiga bahwa Noir memiliki penyakit jiwa akibat penyiksaan ibunya.

Malamnya, Noir tidur di satu ranjang bersama Edward. dia memandangi Edward dan berkata “kakak, terima kasih sudah memberi aku es krim dan mengobati luka-lukaku”. “sama-sama.” Jawab Edward dengan senyuman. “besok Noir sudah harus pergi, kakak jaga diri ya.”. Edward tidak menjawab apapun.

Esok pagi, ketika Edward bangun, Noir telah menghilang entah ke mana. Edward lari ke luar rumah untuk mencari Noir. Akan tetapi, Noir tidak bisa ditemukan di mana-mana. Baju Noir yang dicucinya pun menghilang. Noir seperti tidak pernah datang ke rumah Edward. Anehnya atap di dalam kamar Edward ada lubang kecil. Lubang tersebut sesuai dengan tempat yang Noir tunjuk kemarin malam. Bau mayat makin terasa jika mendekati lubang tersebut.

Edward memberitahu kepada bu Marno bahwa bau yang ia rasakan selama ini berasal dari lubang di atap tersebut. Bu Marno menghubungi pak Supri sang tukang untuk memperbaiki atap. “wahhh! Apa ini bau sekal!”, kata pak Supri sambil membongkar atap. Bu Marno melihat pak tukang yang membongkar atas dengan khawatir. “ahhhhh!!!! Bu Marno, Ada mayat!!” teriak pak Supri dengan kaget. Semua kaget melihat mayat tersebut. Ada ditemukan satu MAYAT ANAK KECIL. Mayat tersebut terlihat seperti mayat anak berumur 7 tahun. Mayatnya telah membusuk dan habis tinggal tulang dan sedikit daging. Rambut mayat anak itu masih tersisa sedikit. Edward memiliki perasaan bahwa anak tersebut adalah Noir.

Para tetangga pun mengumpul di dalam kamarnya untuk melihat. “kasihan sekali anak itu!” “padahal masih kecil ya!” “mungkin ini anak PSK itu!”, gossip para tetangga tentang mayat anak yang ditemukan.

Tidak lama kemudian, polisi datang ke kamar Edward dan memeriksa mayat anak yang diduga Noir itu. Kepala polisi datang dan berbicara kepada bu Marno. “kamar 129 lagi?” tanya pak Nathan, sang kepala polisi. “iya pak” jawab bu Marno sambil menggeleng kepala. Edward merasa bu Marno menyembunyikan sesuatu kepadanya. “emangnya dulu ada apa di kamarku?” tanya Edward dengan ketakutan. Pak Nathan manjelaskan, “sekitar 3 bulan yang lalu, ada seorang wanita yang bunuh diri. Wanita tersebut tinggalnya di kamar ini. Ada orang yang bilang dia bekerja sebagai PSK. Oh iya, ada ditemukan tanda seorang anak di kamarnya tetapi tidak ditemukan orangnya. Ada buku gambar, baju anak laki-laki dan foto seorang anak. Mungkin mayat ini adalah anaknya.”. Edward langsung terdiam mendengar kata pak Nathan. Para polisi membawa mayat anak tersebut.

Pak Nathan mengeluarkan foto seorang wanita dan anak. “ini adalah foto yang ditemukan di kamar itu”, kata pak Nathan. Anak di dalam foto itu terlihat persis seperti Noir hanya rambutnya saja berbeda. Di dalam foto itu, Noir memiliki rambut yang hitam. Edward menangis setelah teringat luka yang berada di tubuh Noir.

Sebulan telah berlalu, Edward tidak pernah melihat Noir lagi sejak mayatnya ditemukan. kini Edward telah pindah ke kos yang lain karena takut tentang apa yang terjadi di kamar 129, kos taman Anggrek. Cerita mayat yang ditemukan di kamar Edward masuk ke koran. Para polisi menemukan bukti penyiksaan anak oleh ibunya Noir. Noir disiksa dan dibunuh oleh ibunya. Mayatnya disembunyikan di atap kamar. Tidak lama kemudian, ibunya pun bunuh diri. Edward tidak akan pernah melupakan Noir, anak malang yang bertemu dengannya.

Cerpen Karangan: Conjurer Indy

Cerpen Noir dan Taman Anggrek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Cantik Detektif Kuburan

Oleh:
Benar, itu memang benar. Apa yang digosipkan orang kampung tentang perempuan itu memang kenyataan. Perempuan misteri itu memang ada. Dia bahkan lebih buruk daripada yang mereka ceritakan. Dia bagaikan

Rumah Sebelah

Oleh:
Rossaly Channesta 17.15 “Jangan lupa, ya. Entar, jam 6, kita bertemu di depan rumahmu.” Aku membaca BBM dari Rossaly. “Dia pikir aku ini pelupa, ya?” kataku. Dengan cepat, aku

Penakut

Oleh:
Aku dan teman-teman seperjuanganku bermain kejar-kejaran di halaman sekolah. Walaupun aku ini sudah memakai seragam putih abu-abu, tapi bukan berarti permainan seperti ini dilarang ‘kan ? Yahh.. Kuakui juga

Hotel Apa Ini? (Part 1)

Oleh:
Tanganku kujulurkan untuk mengambil karcis parkir hotel. Setelah menarik karcis itu dari mesinnya, palang pun terangkat dan aku langsung menginjak pedal gas sedanku. Aku kesulitan menemukan tempat parkir yang

SMA Jaeguk

Oleh:
Namanya Minah dan duduk di kelas XI IPA 4 di Jaeguk High School. Ia punya teman, namanya Iren dan dia adalah siswi terpintar di kelas. Mereka bertemu sewaktu sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *