Norma Comaccos

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 6 August 2018

Aloha, bertemu lagi denganku, Comaccos. Memangnya, sebelumnya kita pernah bertemu? Hahaha tentu saja tidak!
Maukah kalian membaca kisahku? Hmm.. jika tak mau pun, akan kupaksa kalian agar tetap membacanya.

Aku biasa dikenal dengan nama, Norma Comaccos. Hei! Aku laki laki. Ya, mungkin agak rumit. Kisah hidupku, bahkan bisa dibilang sangatlah buruk. Aku hampir mati di tangan ibu kandungku sendiri. Kau tau? Aku kabur dari rumah saat itu. Entahlah, aku juga tak tau kabur ke mana. Yang jelas, kini aku hidup sendiri. Di rumah kost yang sepi, ditemani beberapa makhluk tak kasat mata. Yaa, mungkin saat kalian membaca ini, salah satu dari mereka ada bersama kalian.
Usiaku kini sudah menginjak 18 tahun. Aku juga sudah bekerja untuk menghidupi diriku. Ibu? Haha. Aku tak peduli lagi dengan wanita itu.

Oh ya, ketika usiaku masih 5 tahun, ibu pernah mengikatku dengan rantai. Menyiksaku tanpa ampun. Entahlah, kawan, aku saja tak ingat apa kesalahanku waktu itu. Padahal dia itu seorang ibu, bukannya yang seperti itu harusnya ayah? Sakit sekali bila aku mengingat semuanya.

Kau tau? Sejak usia 13 tahun, aku sudah mencari uang sendiri. Aku bisa dibilang memiliki otak cerdas. Jadi, untuk mencari pekerjaan di usia sekecil ini tak begitu sulit.

Andaikan adikku tak lahir, semua ini tak akan berubah. Kehadirannya membuatku sangat tersiksa. Dia sangat cengeng. Cengeng sekali! Aku lelah mendengar tangisannya. Dan aku sudah benar benar lelah, aku ke luar rumah. Meniggalkannya sendirian di rumah. Ketika aku kembali, kudapati badannya sudah terpotong potong. Kulihat, ibu duduk jongkok di sudut dapur. Entah apa yang dimakannya. Kurasa, itu bagian dari tubuh adikku.

“Apa ibu sudah kehilangan akal?!” Bentakku. Ibu tiba tiba menyerangku dengan pisaunya. Aku langsung saja lari ke luar, meminta bantuan. Ibu terus saja mengejarku dengan pakaiannya sudah robek sana sini. Rambutnya acak acakan. Benar benar seperti psikopat yang haus darah. Aku benar benar takut saat itu. Ayahku pun juga sama. Mati di tangannya.

“Haha, jujur saja. Ibuku sekarang sudah mati. Dia mati tertabrak truk ketika mengejarku. Badannya terlindas separuh. Aku tak menolongnya, hanya tertawa melihatnya. Mungkin! Aku sama gilanya dengan ibuku. Dan aku bukanlah manusia. Aku akan mendatangi kamar setiap anak yang menyebut namaku, Comaccos temani aku tidur. Maka aku akan menemaninya. Dan kupastikan, disaat hari sudah pagi, kalian tak bangun bersama mentari. Melainkan denganku. Aku memperhatikan setiap anak yang membaca kisahku ini.”

Dan terima kasih sudah mau membacanya. Kuharap kalian suka. Maukah kalian berteman denganku?
Yak salam kenal kalian semua. Oh ya, cerita di atas bukan hal yang nyata kok. Hanya saja, imajinasiku sedang bermain denganku. Jadi, aku hanya mengarang itu semua. Hantu Comaccos itu sebeneranya tak ada.
Tapi, kusarankan. Setelah kalian membaca ini, cek semua tempat gelap di rumah kalian. Termasuk bawah ranjang. Mungkin saja, Comaccos mau berteman dengan kalian.

Terima kasih dan sampai jumpa
Story by: Norma Comaccos

Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Blog / Facebook: Qoylila Azzahra Fitri

Cerpen Norma Comaccos merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesingkat Pertemuan

Oleh:
Hari ini aku melihat sosok itu lagi, sosok tinggi, tampan dengan kulitnya yang pucat. Wajahnya yang tampak sayu itu pun masih menyisakan sebuah senyum manis yang terlihat dipaksakan. Baju

Aku adalah Kamu

Oleh:
Derap langkah kaki terdengar begitu nyaring menemani sepinya malam ini. Entah kenapa, aku merasa malam ini begitu sangat berbeda dengan malam sebelumnya, detak jantungku tiba-tiba berdebar dengan ritme yang

Misteri Rumah Angker

Oleh:
Namaku Anggi Alya Putri biasanya teman-temanku memanggilku Anggi. Aku mempunyai seorang tante yang sudah 13 tahun menikah, dan mempunyai 3 orang anak yang lumayan berbakat. Mereka begitu harmonis. Sampai

Devil

Oleh:
“Anak manja” “Anak pungut” “Anak gak tau diri” “Anak gak tau terima kasih” — “Gimana Rin? Udah dikubur?” Ucap Rey dengan berbisik. “Beres Rey” Rinai adalah anak yang ramah.

Revenge

Oleh:
Hanya satu hal yang aku inginkan. Betapa aku menginginkannya. Aku berharap semua ini berlalu. Layaknya jarum jam yang terus berputar. Satu menit, dua menit. Satu jam, dua jam. Layaknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *