Oh Tuhan Siapa Dia?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 April 2018

Pagi itu wajahku terasa panas seolah terbakar, memaksa kedua mataku terbuka. Tampak kilauan cahaya kemuning menerobos masuk dari sela-sela gorden kamar kosku,

“Hmm aku bangun kesiangan lagi”, gumamku dalam hati.
Kukucek kedua mataku untuk mengusir rasa kantuk yang masih bersarang, lalu kuambil phonsel yang tergeletak di samping tubuhku. Dengan lincah jemariku membuka pola kunci dan terlihatlah tiga panggilan tak terjawab serta satu pesan baru. Ya Tuhan, aku baru ingat, jika semalam aku telah membuat janji dengan dosen pembimbingku pagi ini. Aku segera meloncat dari tempat tidur seraya menarik handuk yang tergantung di balik pintu.

Dengan tergesa aku membubuhi wajahku dengan bedak bubuk, lalu memberi sedikit pewarna pada bibir tipisku. Setelah kurasa sempurna, aku memasukkan kaca kecil ke dalam tas dan langsung beranjak keluar kamar. Sesampainya di kampus, suasana tampak langang, hanya terlihat beberapa mahasiswa yang berseliweran pada kolidor kampus, ya wajar saja sih karena memang saat ini sedang libur semester.

Aku berdiri terpaku di tengah halaman gedung fakultas Ekonomi. Dari tempatku berdiri, terlihat seorang petugas kebersihan sibuk menyapu dedaunan kering di ujung halaman dengan seutas kabel handset terpasang di kedua telingannya, tapi aku sama sekali tak tertarik memandangi petugas kebersihan itu. Pandanganku terus melesak jauh ke arah halaman parkiran dosen, dan membiarkan kedua mataku liar menelusuri setiap jengkal parkiran itu. Namun sayangnya kedua mataku tak juga menangkap mobil yang kucari.

Pandanganku yang mulai putus asa, kini tertarik memandangi petugas kebersihan itu. Lalu dengan sedikit malas aku melangkahkan kaki untuk mendekatinya,
“Pak…”, sapaku kepada petugas kebersihan itu,
“Hemm”, jawab singkat petugas kebersihan itu seraya menoleh ke arahku. Lalu dia kembali melanjutkan pekerjaannya, sepertinya dia merasa terganggu dengan kehadiranku. Aku menjadi semakin malas bertanya padanya, tapi sayangnya kali ini aku sangat membutuhkan informasi darinya,
“Pak, lihat pak Daniel gak?”, tanyaku lagi,
“Barusan uda pergi”, jawabnya lagi dengan cuek, membuat hatiku semakin dongkol.
Aku menghela nafas panjang, mencoba menahan amarah, lalu aku bergegas meninggalkan petugas kebersihan itu. Rasanya benar-benar menyebalkan, aku sudah bersusah payah berlarian untuk sampai di kampus, tapi aku masih saja terlambat bertemu pak Daniel yang super sibuk itu.

Sebelum kembali ke kos, aku mampir ke toilet yang terletak di ujung koridor gedung Ekonomi. Saat aku memasuki lorong toilet, serasa hawa dingin menyerebak menembus pori-pori tubuhku, membuat bulu kudukku berdiri. Dengan langkah ragu aku mulai memasuki salah satu bilik toilet yang tampak gelap dan menyeramkan, meskipun telah diterangi oleh lampu tetap saja bilik itu tampak suram. Kalau saja tidak kebelet, tentu aku tidak akan mau menyambangi toilet itu.

Setelah selesai buang air kecil, aku bergegas membuka kunci dan menarik gagang pintu,
Deggg…
Jantungku serasa berhenti berdegup, saat mataku melihat sesosok pria berdiri tepat di hadapanku. Sontak aku ingin menjerit, namun sayangnya bibirku seolah terkunci, bahkan untuk sekedar membukanya saja aku tak bisa. Kaki kiriku mundur selangkah saat kedua mataku melihat bercak darah menempel pada lengan dan bahu kemeja yang dikenakan pria itu.
Kini tubuhku benar-benar terasa kaku tak mampu bergerak, nafasku pun tak lagi beraturan. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, bersama sisa-sisa keberanian yang aku miliki.

Pelan-pelan aku mulai menengadahkan wajahku untuk melihat wajah pria di hadapanku ini, sontak kedua mataku pun melonglong lebar saat melihat raut wajahnya. Ya Tuhan… dia benar-benar sangat tampan, dengan tatapan sayu serta rambut yang hitam legam sangat kontras dengan kulit putihnya. Tubuhnya pun sangat proporsional membuat setiap gadis yang melihatnya pasti ingin bersandar pada dada bidangnya. Hanya saja pemandangan indah ini sedikit rusak dengan bercak darah kering di sebagian baju dan bibirnya.

Aku memberinya seutas senyum, berharap dia juga akan tertarik padaku. Namun sepertinya aku harus menelan kekecewaan, karena tatapanya tetap sayu dan kosong, membuat hatiku galau antara terpesona dan takut. Lalu aku melangkah ke samping untuk memberinya jalan masuk ke dalam bilik toilet, karena kebetulan saat itu bilik lainya sedang diperbaiki jadi hanya ada satu bilik yang bisa digunakan. Sebelum aku melangkah meningalkan toilet, sejenak aku kembali menoleh ke arahnya, namun dia telah hilang di balik pintu bilik.

Hmmm pria itu benar-benar membuat jantungku tidak bisa berhenti berdegup kencang. Aku sempat menunggunya keluar dari toilet, untuk sekedar mengajaknya berkenalan dan mengobrol. Namun setelah setengah jam aku menunggu tak juga pria itu keluar, mungkin di dalam sana dia cukup kesulitan menghapus bercak darah di bajunya itu, sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Sebelum aku beranjak dari tempat dudukku, aku sempat bertanya-tanya kenapa baju pria itu bisa berlumuran darah ya? Ahh bodoamatlah pikirku, aku masih bisa menanyakannya lain waktu jika kami bertemu lagi. Yang pasti saat itu aku langsung ingin balik ke kos saja, karena cacing-cacing diperut ini sudah tidak sabar untuk diberi makan.

Malam ini aku dibuat tak bisa tidur oleh pria itu, raut wajahnya selalu terbayang-bayang dalam pikiranku. Bahkan saat aku memejamkan mata, aku masih dapat melihatnya, Ya Tuhan… apa dia telah membuatku jatuh hati dalam hitungan detik?.

“Amelll…”
Lamunanku buyar saat tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku. Dapat aku pastikan dia adalah bu Eylul, salah satu dosen di kampusku yang kebetulan satu kos denganku. Sudah jadi kebiasaannya kalau pulang kerja selalu memanggil namaku dan menyuruhku ke kamarnya untuk diajak bergosip, ya sekedar hiburan setelah lelah seharian bekerja.
Aku bergegas bangkit dari tempat tidurku dan langsung berlari ke kamar bu Eylul,

“Masukk!!”
Terdengar suara itu dari dalam kamar bu Eylul saat aku mengetuk pintunya. Dengan sekali tarikan aku membuka pintu di hadapanku, dan melangkah memasukinya, tampak bu Aylul sedang sibuk membersihkan make-upnya,
“Bu, aku tadi baru ketemu cowok ihh ganteng bangetttt…”, ujarku sembari melompat di atas kasur,
“O ya siapa?”, tannyanya, sepertinya bu Eylul terlihat sangat penasaran. Sampai-sampai dia menghentikan aktivitas membersihan wajahnya hanya untuk menunggu jawaban dariku.
“Nah itu masalahnya”, jawabku singkat.
Tampak bu Eylul sedikit kecewa dengan jawabanku, lalu dia kembali membersihkan wajahnya.
“Aku belom sempet kenalan bu. Yang pasti dia tu ganteng banget, bahkan meski di wajahnya ada bercak darah, dia tetap terlihat memikat”, jelasku seraya memeluk bantal dan memejamkan mata, untuk sekian kalinya bayangan wajah pria itu kembali muncul.

“Apa? Darahh?”, tanya bu Eylul setengah berteriak.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu bu Eylul meraih tas di sebelahnya dan mengambil phonselnya. Setelah beberapa detik mengotak atik phonselnya, bu Eylul menyodorkan phonsel itu kepadaku.
“Mel, jangan bilang cowok yang kamu maksud ini lho ya?”, tananya seraya menunjukkan foto yang terpampang pada layar phonsel itu.
Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku seraya menjerit,
“Aaaaaaahh… Itu dia!”
“Ha ha ha ha”
Bu Eylul membalas teriakan histerisku dengan tertawa terpingkal, membuatku sedikit aneh melihatnya. Dengan penuh heran aku pun bertanya padanya,
“Ada yang lucu?”
“Eh Mel. Kamu tau! Cowok ini mahasiswaku namanya Egiy, dia tu uda meninggal dua minggu yang lalu gara-gara kecelakaan pas balapan liar So dapat dipastikan, yang kamu lihat tadi arwah gentayangannya”, jelas bu Eylul dengan serius.

Sontak raut wajahku pun langsung menjadi pucat pasi, aku hanya mampu terbengong seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bu Eylul. Namun kenyatanya memang pahit, aku membaca pesan-pesan di bawah foto Egiy yang mayoritas merupakan ucapan duka dan do’a. Oh Tuhan sekian lama aku merasa sepi tanpa gairah, dan kali ini saat ada seseorang yang telah berhasil menyentuh hatiku, mengapa dia telah Engkau panggil.

Tak sadar, aku terus mengucurkan air mata menangisi kepergian Egiy. Entahlah apa yang kurasa, padahal aku bertemu dengan sesosok arwah Egiy hanya dalam hitunan detik, namun rasa kehilangan ini begitu dalam. Lelah menangisi Egiy, mataku pun mulai terpejam hingga menghantarkanku ke alam bawah sadar. Di sana aku melihat Egiy berdiri di antara hamparan kegelapan, kulihat tatapannya begitu indah meski sayu. Aku mencoba mendekatinya tapi dia menjauh dan semakin jauh,

“Egiy..”, aku memanggilnya dengan nada lirih,
Dia hanya menoleh dan tersenyum, lalu dia kembali berjalan. Rasanya ingin sekali aku mengejarnya, namun kakiku serasa terpaku tak mampu ku gerakkan, meski aku telah berusaha keras. Hingga aku hanya mampu menangis tersedu melihatnya telah menghilang ditelan oleh hamparan kegelapan.

Aku terbangun dari tidurku dengan nafas tak beraturan, keringat pun mengucur daras dari tubuhku. Sejenak kulihat cermin, tampak wajahku basah oleh air mata, Ya Tuhan apa mimpi tadi adalah nyata? Entahlah, aku sendiri merasa bingung.

Cerpen Karangan: Kamaliya
Facebook: Kamal Liya
Instagram: @liakamal890

Cerpen Oh Tuhan Siapa Dia? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perhaps It’s Accident (Part 1)

Oleh:
Gadis itu beberapa kali terlihat menghela lalu menghembuskan napas panjang. Dipijit keningnya yang terasa pusing karena memikirkan sesuatu dan yang pasti hal tersebut sangatlah penting bagi dirinya. Kakinya dihentak-hentakkan

Mari, Masuklah

Oleh:
“Hufft, cape banget,” kataku sambil duduk di sebuah kursi kantin sekolah seperti biasanya. Biasanya, aku sudah sampai rumah pukul 3 sore. Tapi, karena tadi ada sebuah acara sekolah yang

Beauty And The Beast Horror Side

Oleh:
Aku akan menceritakan sebuah cerita yang mungkin akan mengubah pemikiranmu bahwa tidak semua cerita dongeng akan berakhir dengan bahagia.. Suatu hari hiduplah seorang pedagang dengan seorang anak yang berparas

Lari Dari Vila

Oleh:
Liburan tengah semester telah dimulai. Sma Esok cerah mengadakan rekreasi bersama menginap di sebuah villa di luar kota. Namun dari siswa yang ada hanya 50 orang yang mendaftarkan diri.

Hantu

Oleh:
“Aaaa jangan di cukur habis~!” teriak ku “Ahahaha lucuuu… Ahaha. Lah kan udah perjanjiannya yang kalah cukur alis sampai abis.” ujar Gisha, teman satu kost ku. “Ishhh… iya iya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *