Pam Atau Pamela?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 1 July 2017

Hari mulai senja. Sudah saatnya tugas matahari digantikan oleh bulan untuk menerangi bumi. Langkah-langkah kaki manusia bumi lalu-lalang pergi ke tempat tujuannya masing-masing. Terlihat seorang gadis duduk di bangku taman di pinggiran kota dengan tas besar di sampingnya.
“Udah seharian nyari kostan, tapi belum ketemu juga. Hufftt” keluh gadis itu sambil sesekali mengipaskan kertas ke lehernya.

Ditengah kebingungannya, tiba-tiba…
“Boleh aku duduk di sini?”
Gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang gadis lain yang sebaya dengannya.
“Oh silahkan” ucap gadis itu dengan senyum sambil sedikit menggeserkan duduknya.
“Aku Pam” gadis yang baru saja datang itu mulai memperkenalkan dirinya.
“Aku Sean” gadis itu menjawab.
“Kau bukan orang asli sini?” Tanya Pam sambil melirik ke arah tas besar di samping Sean.
“Ah, ya. Aku memang bukan orang sini. Aku merantau.”
“Sepertinya kau belum lama di kota ini?”
“Aku baru datang tadi pagi.”
“Kau tinggal di mana?”
Sean menghela nafas pelan.
“Aku tidak tau. Dari tadi pagi aku mencari kostan tapi tidak ketemu. Hampir semua tempat kost yang aku temui tidak ada yang kosong.” Gadis itu mulai menceritakan apa yang dialaminya hari ini.
“Lalu malam ini kau akan tidur di mana?”
“Entahlah”
Sean terdiam. Memikirkan nasibnya hari ini.

“Kalau kau mau, kau bisa tidur di rumahku.”
Tawaran Pam berhasil membuat wajah Sean sedikit ceria.
Diperhatikannya Pam beberapa saat. Gadis yang cantik, lugu, dan kelihatannya baik. Tapi, mengapa wajahnya sangat pucat. Dan seperti ada bekas sayatan di leher Pam.
“Kau sakit? Wajahmu pucat sekali. Dan di lehermu…”
“Ah tidak. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja, dan di leher ini hanya luka kecil.” Potong Pam tiba-tiba.
‘Aneh sekali’ pikir Sean.

Beberapa detik mereka terdiam. “Tenanglah, aku bukan vampir seperti yang ada di film-film.” ucap Pam membuyarkan lamunan Sean.
“Maaf, bukan itu maksudku.” Sean merasa tidak enak hati.
“Tak apa.” Pam tersenyum kecil.

“Ini rumahmu?” ucap Sean di depan sebuah rumah besar dan agak sedikit menyeramkan. Mungkin karena di sekitar rumah itu terdapat banyak pohon besar.
“Ya, masuklah.” Pam membuka pintu rumahnya. Gadis itu menyalakan saklar lampu dan terlihat suasana ruangan yang bersih dan terdapat banyak barang-barang antik.
“Rumah yang bagus.” Lirik Sean. Pam hanya tersenyum.
“Kau tinggal sendiri?”
Pam mengangguk.
“Orangtuamu?”
“Mereka sudah lama meninggal.” Raut wajah Pam berubah sedih.
“Maaf, aku tidak tau.” Sean merangkul bahu Pam, berusaha menenangkan gadis itu.
“Mari kutunjukkan kamarmu.” Pam mulai berjalan mendahului Sean menaiki tangga dan berhenti di sebuah ruangan.

“Ini kamarmu.” Pam membuka pintu.
Sean masuk dan terlihat kamar yang luas dan sangat rapi.
“Semoga kau betah.”
“Aku pasti betah di sini. Kamar yang luas, beda sekali dengan kamar di rumahku. Sempit.”
Pam tertawa kecil.
“Istirahatlah!”
“Ya, terimakasih untuk semuanya. Maaf merepotkan. Tapi besok aku janji akan mencari tempat tinggal baru.”
“Kau bisa tinggal di sini kalau kau mau.”
“Di rumah ini?”
“Ya, bersamaku.”
Sean terdiam sesaat, memikirkan tawaran Pam.
“Eumm, berapa sebulan?” tanya Sean ragu.
“Haha, hey aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh dirimu.” Pam menjawab sambil tertawa kecil.
“Diriku?” tanya Sean menunjuk dirinya sendiri.
“Ya. Aku butuh dirimu. Aku butuh teman. Aku kesepian. Kau mau menjadi temanku? Menemaniku di sini. Di rumah ini?” tanya Pam penuh harap.
Sean tersenyum. “Baiklah, aku akan menemanimu di sini.”
“Benarkah?”
“Ya. Tak perlu lagi merasa kesepian.”
“Terimakasih.”
“Ah tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih.”
Sean memeluk Pam, teman barunya. Tapi, mengapa badan Pam dingin sekali. Seperti memeluk es. Pam membalas pelukan Sean dengan erat. Seperti tidak ingin pisah. Dengan nafas yang agak mulai sesak, Sean berusaha melepaskan pelukan Pam. Tapi Pam malah memeluknya semakin erat.
“Aku harus istirahat untuk besok” ucap Sean terbata-bata.
“Ah ya, maaf.” Akhirnya Pam melepaskan pelukannya.
Sean mulai mengatur nafasnya yang agak sesak. Pam berbalik berjalan mendekati pintu.
“Kau bisa panggil aku jika kau butuh sesuatu.”
Sean hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya.

“Oh ya, satu lagi. Kau tak takut hantu, kan?” Pam bertanya dengan wajah serius.
“Hantu?” Pertanyaan yang membuat Sean terkejut.
Sedetik kemudian Pam tertawa melihat raut wajah Sean yang begitu tegang.
“Haha, aku hanya bercanda. Tidurlah, kau pasti lelah.” Pam mulai menutup pintu dan meninggalkan Sean yang masih bingung dengan pertanyaan Pam.

“Kau mau pergi ke mana?”
Tiba-tiba Pam datang saat Sean akan menuju pintu keluar.
“Kau mengejutkanku Pam! Aku akan mencari pekerjaan.”
“Pekerjaan?”
“Ya!”
“Bukankah kau sudah berjanji akan menemaniku di sini?”
“Memang! Dan bukankah aku sudah tinggal di sini bersamamu? Setidaknya untuk waktu yang sebentar.”
“Sebentar?”
“Tidak selamanya aku akan selalu bersamamu. Kita punya kehidupan masing-masing.”
“Tapi aku kesepian.” Pam memasang wajah melas.
“Ikutlah denganku, kau tidak akan merasa kesepian lagi. Aku tidak mau terus bergantung padamu, Pam. Kau sudah terlalu baik dengan menawarkanku tinggal di rumahmu. Aku tidak ingin terus merepotkanmu.” Sean menjelaskan.
“Aku mengerti!” Pam mengalah.
Sean tersenyum. “Jadi kau ingin ikut bersamaku?” tawar Sean.
“Tidak. Aku di rumah saja. Pergilah, tapi jangan pulang malam-malam. Bahaya!”
“Bahaya?”
“Ya. Di sekitar sini banyak hantu ramah.”
“Hantu? Kau pasti bercanda lagi.”
“Tidak, aku serius.”
“Hm, baiklah. Mungkin saat senja aku sudah sampai di rumah.”
“Aku pergi!” Pamit Sean menutup pintu.
“Hati-hati.”

“Apa maksudnya? Hantu ramah? Bahaya?”
Sean masih memikirkan ucapan Pam saat dia sudah sampai di luar gerbang.
“Ojek, neng?”
Sean yang saat itu melamun dikejutkan dengan suara abang ojek.
“I..iiya bang. Ke halte depan ya.”
“Siap neng. Ngomong-ngomong kenapa neng ada di tempat sepi kayak gini? Sendirian lagi.”
“Saya tinggal di sini, bang!”
“Tinggal di sini? Sendirian?”
Abang ojek itu heran.
“Nggak, bang, Saya tinggal sama teman saya. Ini juga rumah teman saya. Saya cuma numpang disuruh nemenin”
“Rumah? Itu mah cuma bangunan tua yang lama udah nggak ditempatin, neng.”
“Bangunan tua?” Sean menoleh ke belakang melihat ke arah rumah itu.
“Itu rumah, bang!” Sean yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Dulu emang rumah, neng. Dihuni 1 keluarga. Tapi semenjak terjadi perampokan, rumah itu jadi nggak ada yang huni. Semuanya meninggal, neng. Suami istri dan 2 anak perempuannya tewas dibunuh. Mayatnya dibuang terpisah, neng. Cuman 3 orang yang baru ditemuin, dan 1 orang lagi anak perempuannya sampe sekarang mayatnya belum ditemuin. Makanya sekarang rumah itu jadi angker.” Jelas abang ojek panjang lebar.
“Usia anak perempuannya berapa, bang?”
“Sebaya lah sama neng!”

Sean makin penasaran sama penjelasan abang tukang ojek itu.
“Em, abang tau nggak nama anaknya siapa?”
“Abang lupa-lupa ingat, neng. Kalau nggak salah, namanya itu Pa…pa.. Aduh siapa ya? Pa… Oh iya, Pamela. Namanya Pamela, neng”
Entah kenapa tiba-tiba Sean ingat dengan Pam.
“Dan katanya lagi nih yah neng, arwah perempuan itu nggak tenang. Dia sering gentayangan dan cari korban buat nemenin dia di rumah itu. Mayatnya belum ditemuin, neng. Dan karena itu dia kesepian. Orang-orang yang lewat sini pasti kebanyakan pernah ngelihat penampakannya, neng. Setannya ramah banget, jadinya orang-orang jarang lewat sini, takut disapa katanya. Makanya daerah sini sepi. Ya karena itu, mereka takut lewat sini.” Jelas abang ojek itu lagi.

Sean terdiam memikirkan semua penjelasan abang ojek ini. Semua yang dilihatnya saat ini berbanding terbalik dengan penjelasan abang ojek ini. Dia bilang bangunan tua? Tapi nyatanya yang dilihatnya adalah sebuah rumah besar yang mewah. Dia bilang penunggunya setan perempuan? Tapi setahu dia, nyatanya penghuni rumah itu Pam, teman barunya.
Pembunuhan? Perampokan? Selama dia tinggal di rumah itu tidak ada tanda-tanda atau bekas pembunuhan dan perampokan. Seperti yang diceritakan abang ojek itu.
Dan satu lagi pertanyaan Sean yang butuh jawaban secepatnya. Apakah Pam itu Pamela? Arwah gentayangan yang kesepian? Memang, jika dilihat Pam seperti mayat hidup, dengan wajah pucat pasi, badan yang selalu dingin, dan… sayatan di lehernya.
Tapi mungkinkah? ‘Ah tidak, tidak’ Sean segera menepis prasangka buruknya pada Pam.
Pam terlalu baik jika jadi hantu. Jika Pam hantu, mungkin sekarang Sean sudah dibawa ke alam lain, atau mungkin Sean sudah dibunuh untuk menemaninya di sana. Di rumah yang katanya angker tersebut.

Saat Sean tengah berdiskusi dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang menerbangkan daun-daun jatuh di sekitarnya. Tersadar, ternyata dia sendirian.
“Ke mana abang ojek itu?”
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.
Saat Sean menoleh, seseorang dengan rambut menutupi wajahnya mengangakat sebilah pisau dan menusukkannya tepat ke arah jantung Sean. “AAAHHH~”
“Kau harus menemaniku.” Ucapnya dengan sinis.

Cerpen Karangan: Umitriyan
Facebook: Umi Triyani (Umitriyan)
Follow twitter: @umitriyan

Cerpen Pam Atau Pamela? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Balas Dendam

Oleh:
Namaku Silvi. Aku bersekolah di SMA unggulan Surabaya, sekarang aku sudah kelas XII. Aku mempunyai teman yang bernama Rey. Rey suka padaku. Dia pernah menebakku tapi aku menolaknya. Aku

Kalung Pembawa Petaka

Oleh:
Pagi itu seperti biasa aku lari keliling komplek untuk menghangatkan badan, tanpa disengaju aku menginjak sebuah benda yang ternyata itu adalah kalung, aku melihat sekeliling tetapi keadaan masih sepi

Ghost of Shania (Part 2)

Oleh:
“Kita harus cepet-cepet pergi dari rumah ini! Rumah ini berhantu!” “Ly..” potong Reyna yang nggak pernah percaya sama omonganku. “TURUTIN GUE KENAPA SIEEHHH!” Akhirnya mereka mau nurutin perkataanku dan

Hampir Diculik Hantu

Oleh:
Malam yang dingin, aku keluar rumah dan berlari, perasaanku gundah bercampur sedih membuatku menangis tak menentu, kakiku terus berlari namun tiba-tiba kakiku kesakitan, kakiku tertancap paku, membuatku tak bisa

Malam Berdarah

Oleh:
“duh Bete malem minggu malah ngejaga rumah, Maen hp aja ah” kata aku dalam hati Dresss tiba-tiba hujan turun, ayahku sedang keluar kota sedangkan ibuku sedang ke rumah saudaraku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Pam Atau Pamela?”

  1. r.athallah says:

    novelmu bagus..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *