Penantian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 May 2013

Aku memperhatikan pohon natal itu beberapa kali. hiasan dan ornamen pada setiap helainya menambah keindahannya. Dari balik kaca ini. aku bisa melihat pohon natal indah ini. pohon yang wajib ada ketika natal tiba.

Seorang wanita muda sekitar 18 tahun keluar dan memperhatikanku dengan seksama. pandangan kami beradu untuk sejenak. wanita itu tersenyum dan menunjuk pohon natal di hadapannya.
“kenapa? apa kamu berniat ingin membeli pohon natal ini?”. katanya sambil tertawa kecil. mungkin karena penampilanku yang tak karuan dengan sebotol minuman keras di tangan. Atau baju ku yang kumuh oleh debu jalanan.
Aku menggeleng, tersenyum dan berlalu dalam diam.

Sunyi sekali di rumah ini. suara detik jam beradu, aku merebahkan diriku di sofa. Hari ini di setiap rumah orang dengan gembira menghias pohon natal, bercanda dan bergurau dengan keluarga tercinta. Dan terkadang sang ayah berlaku sebagai santa claus, dengan jenggot putih panjang dan baju kebesaran khas warna merah, yang sengaja di beli untuk menghibur anak-anaknya.

“sedangkan aku?”

Aku tak lebih seperti gelandangan jalan yang tak bisa mengurus diriku sendiri, minuman, wanita, judi, berulang-ulang aku melakukannya hanya untuk memuaskan dahaga hatiku. kesepian yang datang tak bisa terobati. Aku hanya berpikir, minuman dan wanita suatu saat akan membunuhku. perlahan namun pasti.
“Ya… sudahlah?” Aku pernah melakukannya, tapi itu dulu, dulu sekali, saat semua disini.
Aku tahu, tuhan lebih sayang pada mereka. kecelakaan itu merengut Istriku, anakku dan semua kebahagiaanku seutuhnya. Tak ada yang tersisa lagi untuk ku, selain kenangan ruang kosong, yang sepenuhnya tak bisa ku lupa saat semua disini seperti hari-hari lalu

Ketika malam natal seperti ini datang aku memegang erat kepalaku, terdiam dalam kesepian, memilih sendiri, berjalan menikmati keindahan pohon natal berias kesunyian di taman kota.

Aku berjalan lemah ke dapur seluruh foto di ruangan ini rasanya menatapku, seakan ingin membunuhku. Foto kenangan 6 tahun yang lalu yang menyisahkan perih. sungguh ini menyiksaku perlahan menusuk setiap nadiku, aku menggigil ketakutan seluruh hatiku saat melihat gambar mereka dalam bingkai

Segelas air putih di tangan. pikiranku tak menentu, dari balik jendela lantai 2 ini. aku dapat melihat orang-orang berjalan dengan jaket tebal dan bercanda gurau dengan hangatnya. tanpa peduli pada pria tua yang masih setia terjaga dengan minuman di tangan, berharap pada kematian datang menjemput. Sementara di setiap rumah-rumah mereka sedang bercanda sambil menghias pohon natal dengan ceria tanpa beban. bermain dengan kapas dan bercanda bersama. membiarkan suara burung bernyanyi, berdansa dengan keindahan malam.

Pandanganku tertujuh pada sosok wanita di bangku taman. Wanita cantik bergaun putih dan payung pink menemani, hujan yang mulai menitikan kehadirannya di bumi tak serta merta mengusiknya. Ia termenung sendiri di taman dengan sebuah headseat merah menutup telinganya. wajahnya tertutup payung, tapi sepertinya ia binggung dan sesekali melihat orang-orang yang lewat. sambil membolak balik sesuatu di tangan, seperti Diary, Seakan ingin mengatakan sesuatu pada setiap orang yang lewat.
Aku masih memperhatikan tingkah anehnya sambil sesekali menghisap cerutu di tanganku dalam-dalam, Beberapa jam ia berlalu pergi begitu saja, sambil memegang buku tebal yang di tempelkan ke dadanya, berlalu di gelap malam.

Ku raih Diary biru di atas meja. Tulisannya mulai pudar, debu menjadi teman, setelah tak pernah ku jamah setelah sekian lama.

Jika kau tinggalkan duniaku pagi ini.
jika kau berlari meninggalkanku di tengah hujan pagi ini.
jika duniaku meninggalkanmu pagi dingin ini.

Jangan menangis..
tetap tersenyum hadapi duniamu
aku disini menunggu
jika kau menoleh dan membiarkan mata
kita sekali lagi untuk menatap
akan ku jemput kau dengan kuda putih. jika duniaku tak bersinar lagi dihatimu suatu saat nanti
ketika pagi indahmu kini mulai hilang oleh sang waktu…
tetaplah bernyanyi dengan gitar tua
Usik hari sepi jangan ragu
Jangan katakan lagi untuk pergi
karena cinta yang dengannya duniaku bermain.
tempatku berlari di bawah sinarnya.
kini ku temukan dalam dirimu
aku menunggumu pagi dingin ini
saat sayap-sayapmu akan menerbangkanku dan dirimu di langit ke tujuh.

Surat cinta yang pernah ku tulis pada istriku, saat aku melamar dirinya dalam peraduan, hangat membara sampai padam dalam gerimis hujan malam itu. saat dimana aku dan Tiara anakku pulang dari mall Taman anggrek. kami kecopetan oleh berandalan tak bertanggung jawab, kami terdiam di jalan trotoar, malam semakin larut dan hujan semakin deras menghantam bumi, kami kelaparan, Aku berlari ke sebuah warung membeli makanan ringan seadanya, sementara Tiara dan istriku Menunggu di jalan trotoar. ketika aku sampai hanya dua mayat tak bernyawa tergeletak di pinggiran jalan, setelah di terjang sebuah mini bus. aku menjatuhkan makanan ringan di tangan. seperti dunia runtuh di atasku, dan aku dapat melihat kegelapan sejak itu meliputiku hingga kini.

Pantai masih tertutup embun, di ikuti suara burung malam bernyanyi riang.
Debur ombak menghantam karam
Sama Seperti waktu itu,
tak ada bedanya. Entah sudah berapa kali aku tak bisa berhenti menangis,
entah berapa lagi waktuku terbuang sia-sia karenamu. menunggu dan berharap disini, sendiri, dan kesepian.
Tanpa kehadiranmu, sejenak mengusik sepiku. aku tahu kamu tak akan pulang untuk ku, sejenak menghapus air mata yang jatuh berderai merindukan datangnya dirimu.

Adakah disana dirimu bernyanyi untuk ku lagi dengan gitar tua, seperti waktu dulu?. bernyanyi pada jiwa-jiwa sepi kala hatinya dingin oleh hujan malam ini.

Tatap mata itu, bak bidadari dari kayangan, menari indah di atasku
Sungguh elok tuhan ciptakan
bidadari tak bersayap sepertimu.

Aku masih berdiri menatap senja, melempar batu kecil ke pantai, menghisap dalam-dalam rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.
Enam tahun berlalu, sampai detik ini aku masih mengingatnya.
akankah dia datang untuk ku di pagi ini, hanya untuk ku seorang?
Entah berapa kali lagi aku menunggu dirinya, hanya tawa sang malam dan canda hewan yang masih sudi bernyanyi untuk ku.
Dan sampai akhirnya aku tahu saat ia telah pergi jauh tak mungkin kembali.

Aku memerhatikan gadis itu lagi, ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya? Siapa dia? Dan kenapa ia selalu menunggu di taman itu?
Namun harus ku akui, sejak dirinya menunggu disana, hampir setiap sore menjelang malam, aku mulai merasakan sesuatu pada diriku? Seperti sebuah kebiasaan yang kini tak bisa ku hindari, aku selalu ingin melihatnya. seandainya di izinkan dirinya. aku rela menemani dirinya.

Aku meraih kertas lusuh terbingkai oleh kaca, aku tahu ini surat maaf ku setelah aku menghianatinya dulu.

Aku sayang padamu Adinda
cintamu telah mendewasakan aku
Membuat aku sadar pentingnya peranmu dalam hidupku.
jika kau pergi dalam gerimis hujan
aku akan berlari dengan payung
hanya untuk mu, aku mencintaimu. kini dan nanti selamanya.

Wanita itu. kehadirannya membuatku bertanya-tanya? Kenapa ia selalu disana? Dan apa yang ia tunggu?
Aku berjalan turun berlari menemui sosok dirinya di taman.

Aku berlari dan mendapati bangku taman yang kosong melompong seperti sapi ompong. “maaf tuan? Apa anda melihat seorang wanita disini, payung pink!. Kataku pada seorang pria tua di dekat taman” “wanita!, aku rasa tak ada, aku disini sejak tadi dan tak ada tanda-tanda wanita di taman ini, kalau pun ada, pasti aku tak tahu, begitu banyak wanita yang melewati taman ini. Pak tua menjelaskan sambil berlalu”.

Ini tak mungkin, setiap hari ia duduk disini, sekarang tak ada yang tahu, pasti ada yang kenal?

Setiap hari ia duduk dan terdiam di bangku taman, memandang sekeliling, wajahnya yang tertutup payung, kadang malam, kadang siang, setiap aku berlari turun, ia menghilang entah kemana. bahkan setiap orang yang ku tanya mulai mengiraku gila karena menanyakan hal yang sama, “apa kamu kenal dan melihat seorang wanita dngan payung pink di sini tadi? Mereka hanya menggeleng tak paham dengan maksudku.”

Siang semakin terik, lagu oh holly night-manson, bergema di salah satu ruko. 25-12-12 tepat malam natal.
Wanita itu disana, sambil menatap beberapa orang yang lewat dengan gaun terbaik menyambut natal, sungguh aku menatapnya, aku yakin aku melihatnya. sekarang aku punya kesempatan memotretnya dengn kamera jadulku ini, “clik… clik.. clik. beberapa kali ku foto berulang-ulang. akan ku cuci di tempat terdekat” pikirku
Aku berhenti memotretnya, sepertinya ia menatapku, dan sepertinya gambar terakhir aku dapat wajahnya.

Aku berlari turun dan melihat bangku taman yang kosong, hanya hilir mudik orang-orang yang bersiap ibadah menyambut natal. Aku berlari dengan motor bututku, aku melihat “kodak fujifilm” dan masuk tergesa-gesa sambil menyerahkan kameraku, seorang bapak berjenggot sedada memperhatikanku sejenak dan meraih kamera dan mengeluarkan isinya untuk di cuci,

Aku menunggu di kursi, “mau di ambil sore atau skarang? Semakin cepat smakin mahal? Katanya tanpa senyum sedikitpun” “sekarang saja Tuan? Kataku singkat, sambil menyerahkan beberap lembar uang yang di tentukan”
“sepertinya foto ini sangat penting! 10 menit? Katanya sambil berlalu”

10 menit kemudian bapak berjenggot datang dengan keringat di seluruh tubuhnya, menampakan beberapa pertanyaan di benak ku.
“kenapa tuan, ada yang salah? Kataku ingin tahu”
Ia masih mondar mandir dan sesekeli memperhatikan kembali foto di hadapannya. “memangnya objek apa yang di foto pak? Katanya sedikit gugup” “wanita! Seorang wanita berbaju pink, tepat di taman kota, aku selalu melihatnya dari apartemenku. Aku menjelaskan”
Bapak berjenggot itu menarik napas panjang dan menyerahkan foto di tangannya.
Aku kaget setengah mati, hanya gambar buram, bahkan beberapa tampak bayangan menyeramkan, dan terakhir gambarnya tepat wajah seorang wanita rusak, di tangannya sebuah Album diary.
“setahu saya, wanita dalam foto ini hendak menunggu seseorang yang sangat penting dalam hidupnya, walau ia telah mati! Kata bapak berjenggot itu” “apakah tuan yakin? Menunggu!, kenapa ia menunggu? Kataku penuh selidik” “entahlah, tapi kebetulan ayahku dulu seorang dukun, arwah yang tak damai karena dirindukan, ia pun akan merindukan kekasihnya, walau di dua alam yang berbeda. Foto ini bisa kita scan dengan pendeteksi wajah di komputer. Aku dulu mantan polisi, di gunakan untuk mengenali penjahat bertopeng, kamu mengerti maksudku?” “aku menggangguk tanda setuju”

Setelah di scan ternyata benar, sosok dalam gambar adalah istriku, dan Albun biru di tangannya adalah foto-foto kami. Aku, Istriku dan Tiara, saat kami berpiknik, bersenda gurau bermain kapas, Album yang hilang di loker, kutemukan lagi di kursi taman, tanpa bekas dan cacat, hanya beberapa foto terlihat mulai lusuh karena waktu.

Aku menarik napas panjang, sambil sesekali minum kopi di tangan, sudah tiga hari sejak foto itu, wanita tak muncul lagi. malam semakin larut dan hujan mulai turun, kilat menyambar di ikuti cahaya mengkilap. aku membuka kaca jendela dan berdiri menatap taman sambil duduk di beranda. entah kenapa tiba-tiba aku menaruh kopi ku dan berjalan menaiiki pagar pembatas. Aku menjatuhkan diri menghantam aspal. hal terakhir yang ku ingat adalah sosok istriku di taman dengan tangan terbuka sambil tersenyum puas, dengan air mata berlinang di pipinya, sementara Tiara di sampingnya tertawa sambil menangis, dan semua menjadi gelap.

Tamat

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie[-at-]yahoo.com

Cerpen Penantian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tumbal

Oleh:
Aku seorang pelajar SMA, aku mengambil jurusan IPS karena aku memang suka ilmu sosial aku juga suka ilmu psikologi. Aku adalah anak dari keluarga yang berbahagia. Sore itu aku

Jendral Ketumpahan Kopi

Oleh:
Tahun 2017 adalah tahun dengan banyak tren aneh di dalamnya. Mari ambil contoh, fidget spinner misalnya. Mainan yang cara mainnya cuma diputer-puter dan gak menghasilkan kesenangan apapun untuk layak

Pilihan Terbaik

Oleh:
Aku masih tak percaya dengan keputusan ayah dan bundaku untuk menjodohkanku dengan seorang pria, seorang pria yang sama sekali tak ku kenali. “Ayah, apakah harus aku menikahi pria pilihanmu

Penyesalan

Oleh:
Banyak yang mengatakan bahwa Aulia adalah seorang perempuan yang berbeda dari yang lain. Hidup miskin bukan alasan untuk tak bisa bersekolah. Hidup di kampung sangat digemarinya walau ia hidup

Sahabat Cappucino

Oleh:
Aku duduk bersama dengan capucino buatan ibu di teras rumah sambil memperhatikan keluarga yang baru pindah tepat di depan rumahku. Aku melihat anak perempuan yang air mukanya begitu pucat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *