Penyesalan Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 15 November 2021

Pada suatu malam yang sunyi, di sebuah rumah sederhana yang dekat dengan sawah. Ada seorang anak kecil dan seorang ayah. Ayahnya bernama Pak Darjo sedangkan anaknya bernama Reyhan. Mereka sedang berjaga di depan rumah menunggu ibunya pulang belanja. Namun, ibunya tak kunjung pulang. Jam telah menunjukkan pukul 09.00 malam. Sekeliling rumah itu sangat gelap. Mereka khawatir akan keadaan ibunya. Apalagi terdengar suara petir yang menandakan bahwa akan segera turun hujan.

Selang beberapa menit, lampu di rumah itu padam. Rumah itu semakin gelap gulita.
“Nak kamu pergi ke kamar saja, ayah biar menunggu ibumu disini,” kata Pak Darjo.
“Iya Yah siap,” jawab Reyhan anaknya.
Reyhan pun segera pergi ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Sedangkan ayahnya menjaga di depan rumah sambil melihat sekeliling rumahnya yang sangat gelap dan sepi sekali.

Tak lama kemudian datang seorang bapak-bapak yang memberitahukan bahwa ada seorang perampok berkeliaran disekitar rumahnya. Lantas Pak Darjo panik akan hal itu. Apalagi istrinya tak berada di rumah.

Tak lama kemudian hujan turun. Pak Darjo hanya duduk di kursi depan sambil berjaga-jaga. Hujan semakin deras diikuti angin berhembus kencang. Dari kejauhan terlihat seseorang yang memakai jas hujan berwarna hitam sambil membawa sesuatu. Pak Darjo menyangka bahwa itu adalah perampoknya. Ia pun segera mengambil sebuah pisau dan bersembunyi dibalik pintu. Orang itu semakin mendekat. Pak Darjo bersiap-siap menyerangnya. Ketika orang itu tepat berada didepan pintu, Pak Darjo langsung menusuk perut orang itu tanpa memastikannya terlebih dahulu. Orang itu langsung terjatuh tepat dihadapan Pak Darjo. Darah mengalir deras di perut orang itu. Ketika Pak Darjo melihat wajah orang itu, Pak Darjo terkejut bahwa yang ia tusuk adalah istrinya sendiri. Ia tak menyangka bahwa telah membunuh istrinya.

Pak Darjo menangis histeris. Istrinya langsung meninggal tepat dihadapannya. Pak Darjo bingung tak tahu apa yang harus dilakukan, ia tak mau anaknya tahu bahwa ibunya telah meninggal. Pak Darjo pun mempunyai ide untuk membuang jasad istrinya di tengah-tengah sawah. Pak Darjo pun segera membawa jasad istrinya menuju tengah sawah sambil menangis seakan menyesalinya.
Ditengah hujan yang lebat, Pak Darjo meletakkan jasad istrinya ditengah sawah begitu saja. Lantas ia kemudian segera pergi dari tempat itu dan segera pulang ke rumahnya.

Ketika Pak Darjo sedang di kamarnya, ia menyesal telah menusuk sembarangan tanpa memastikannya. Pak Darjo menangisi kepergian istrinya sambil melihat foto mereka berdua. Tak lama kemudian Pak Darjo ketiduran sambil memeluk foto itu. Seketika foto yang Pak Darjo lihat tadi, foto istrinya menghilang sehingga hanya tinggal foto Pak Darjo sendirian.

Keesokan harinya, Pak Darjo ketika bangun dari tidur, ia tak menyadari bahwa foto istrinya telah menghilang. Ia langsung pergi melihat anaknya sedang duduk merenung menunggu ibunya yang tak kunjung pulang. Pak Darjo ingin menjelaskan kejadian semalam, tapi ia takut anaknya marah kepadanya.

“Nak, ibumu menginap di rumah nenek,” kata Pak Darjo berbohong sambil mendekati anaknya.
“Serius ayah?”
“Iya nak.”
“Baiklah ayah, kalau gitu aku siap siap berangkat sekolah dulu ya.”
“Iya nak.”

Tak lama kemudian Reyhan berangkat ke sekolah. Pak Darjo yang kini sendirian di rumah, ia kembali teringat akan kejadian semalam, ia kembali menangisi kepergian istrinya. Ketika Pak Darjo hendak pergi ke kamarnya, punggung Pak Darjo terasa sakit. Ia merasa lelah sekali.
“Aduh kenapa ya punggungku, biasanya gak begini,” kata Pak Darjo sambil menuju kamarnya.

Ketika di kamar menunggu anaknya pulang, Pak Darjo hanya menangis sambil menyesali perbuatannya. Ketika Pak Darjo melihat fotonya bersama istrinya, ia baru sadar bahwa foto istrinya tidak ada. Pak Darjo merasa bingung. Jam telah menunjukkan pukul 11 tepat. Reyhan telah pulang dari sekolah. Namun, Reyhan merasa senang ketika pulang. Pak Darjo berpikir bahwa Reyhan mendapatkan nilai yang bagus. Pak Darjo pun ikut senang.

Seminggu kemudian, ada kabar dari seorang petani bahwa ada jasad ibu-ibu yang tergeletak di tengah sawah. Petani itu menyebarkan beritanya kepada seluruh warga dengan cepat. Di sawah ramai sekali warga desa berkumpul. Pak Darjo yang baru saja pulang dari kerja, ia segera menuju ke para warga yang berkumpul.

“Ada apa pak kok ramai sekali,” tanya Pak Darjo kepada salah satu warga disitu.
“Wah Pak Darjo, saya turut berduka cita atas kematian istri bapak,” kata warga itu.
“Iya pak, yang sabar ya,” sambung warga lainnya.
Pak Darjo yang sudah mengerti maksud mereka, segera menemui jasad istrinya dan memeluknya sambil menangis seakan menyesalinya.

Tak lama kemudian datang para polisi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pak Darjo pun segera pulang ke rumahnya dan hendak memberi tahu kepada anaknya tentang hal sebenarnya.

Ketika di rumah, Pak Darjo melihat anaknya sedang bermain mobil-mobilan sambil tertawa senang. Pak Darjo tak tega ingin menyampaikan berita itu, tapi tak ada pilihan lain. Pak Darjo pun mendekati Reyhan, anaknya.

“Nak sebenarnya ibumu sudah tiada,” kata Pak Darjo.
“Ha… Mana mungkin yah, ibu kan disini,” kata Reyhan.
“Tidak nak, ibumu telah meninggal seminggu yang lalu.”
“Tidak mungkin yah, barusan aku main sama ibu.”
“Tidak nak, tidak mungkin, ibu sudah meninggal seminggu yang lalu.”
“lohh… yahh… terus siapa barusan yang main sama aku,” kata Reyhan ketakutan.
“Loh mana ayah tahu Reyhan.”
“Lohh…”

Pak Darjo memeluk Reyhan sambil menangis. Tak lama kemudian Pak Darjo ingin menunjukkan suatu foto yang ada di kamarnya kepada Reyhan. Ketika pergi ke kamarnya, punggung Pak Darjo terasa sakit. Sudah seminggu punggungnya terasa sakit. Tapi Pak Darjo membiarkannya saja.

Ketika Pak Darjo kembali ke Reyhan. Reyhan melihat ayahnya sedang menggendong ibunya. Nampak ibunya tersenyum ke arah Reyhan.
“Loh bu katanya ayah ibu sudah meninggal,” kata Reyhan.
“Kamu ngomong sama siapa nak?” ujar Pak Darjo kebingungan.
“Itu yang ayah gendong kan ibuu…”
“Lohh Reyhan jangan ngomong aneh aneh.” Kata Pak Darjo ketakutan.
“Iya Yah ini ibu,” bisik arwah ibu Reyhan kepada Pak Darjo.

Cerpen Karangan: Affriza Maulana

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 15 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Penyesalan Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Si Tokoh Utama

Oleh:
Tinggal di hiruk piruknya ibukota memang sangat tak enak. Aku harus terbatuk beberapa kali karena menghirup kepulan asap yang masuk ke rongga paru-paruku. Dan, asap itu sangat mengganggu kecantikan

The Sad Flower

Oleh:
Setelah selesai aku berziarah di pemakaman orangtuaku, aku melihat 2 orang terus berdiri di depan satu makam yang masih terlihat subur. Satu orang, pria parubaya dan satu lagi adik

Hanya Dua Tanda Baca

Oleh:
Hampir jam dua pagi. Mataku masih terjaga. Aku hanya berbaring di atas ranjang di bawah langit-langit. Masih berusaha melelapkan diri, tapi lelap tetap tak menyapa. Aku insomnia. Sudah hampir

Butterfly of Night

Oleh:
Tok tok tok… “Devy… devy…” teriak cowokku di depan pintu sementara aku sedang dikurung di kamar oleh orangtuaku, “ada apa nyari nyari devy?” tanya ayah dengan suara tingginya. “itu

MyCerpen 6: Mayat Selera Rakyat

Oleh:
Gak indah banget rasanya… Liburan selama dua bulan, tapi tak banyak berkesan selama minggu pertama ini. Walaupun kenyataannya belum ada kepastian Aku bakal Lulus atau tidak, tapi masa sih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *