Perantara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

27 Desember 2016
“Ga mau ah. Kenapa sih kita harus pindah-pindah rumaaaaah terus?” Hahhhhh, aku menghembuskan nafas keras. Memang sudah menjadi kewajiban ayahku memenuhi tugas dari atasannya, jadi ini bukan hanya salah papaku juga. Saat aku mulai kerasan di tempat tinggalku yang baru, kenapa aku harus ikut pindah dengan papaku lagi? Ya, lagi, karena kejadian ini sudah terulang sebanyak tiga kali dalam tujuh tahun ini, papa papa, kenapa papaku itu tidak mengundurkan diri saja ya?
“Ga bisa Lea, sebenernya sih papa juga gak mau harus pindah rumah lagi, tapi gimana lagi dong papa gak bisa nolak.”
“Iya Lea, pasti kamu dapet temen baru kok nanti di Bandung. Ok.” Lagi dan lagi mama mendukung papa. Kalau mama yang meminta aku tidak bisa menolak, nanti mama marah lagi dan marah mama itu nyeremin tahu.
“Ya udah deh terserah papa sama mama aja.” Aku terpaksa menyetujui keputusan orangtuaku.

9 Januari 2017
Hari pertama bersekolah di sekolah baruku terasa biasa-biasa saja. Hanya saja sekolah baruku ini cukup mengesankan, wilayahnya lebih luas dari sekolahku sebelumnya dan fasilitasnya pun lebih lengkap, maklum namanya juga sekolah swasta.
Saat aku berjalan berkeliling melihat-lihat, kudengar suara tangisan. Aku mengikuti arah datangnya suara itu dan aku mendapati seorang siswa yang sedang jongkok sambil menundukkan kepalanya. Bila dilihat dari seragamnya sepertinya dia adik kelasku, tepatnya kelas XI. Sekolah baruku ini memang berbeda dari sekolah lainnya yang semua angkatan memakai seragam yang sama, di sekolah ini seragam tiap angkatan berbeda.

“Hey kenapa kamu nangis?” Siswa itu sepertinya tidak mendengar suaraku karena dia terus menunduk. Aku lebih mengeraskan suaraku dan bertanya lagi, “Kamu gak kenapa-kenapa? Kok nangis?”
Siswa itu mengangkat kepalanya dan wajahnya seketika terlihat kaget saat melihatku. Dia terus menatap mataku tanpa berbicara. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik.
“Emm kamu gak kenapa-kenapa?” Aku mengulang lagi pertanyaanku tadi, tapi dia tidak juga menjawab. Karena bingung, aku mencoba memperkenalkan diriku. Mungkin dia tidak mau menjawab karena baru pertama kali melihat wajahku? Karena tidak mengenalku? “Hai aku Lea. Aku siswi baru di sini. Nama kamu siapa?” Bukannya menjawabku dia malah berdiri lalu pergi meninggalkanku.
Ya ampun, anak itu tidak punya sopan santun ya? Aku berusaha peduli padanya, walaupun aku tidak mengenalnya, tapi dia malah pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun padaku, huh sangat menyebalkan. Aku memutuskan tidak mempedulikan anak aneh itu.

Bila dipikir-pikir lagi, kenapa dia sampai nangis ya? Dia kan anak cowok, tapi kok cengeng? Kalau cewek sih wajar. Ah dia punya masalah berat mungkin, ah iya mungkin aja, biasanya kan kalau cowok itu gak gampang nangis, kalau sampai nangis pun pasti masalahnya berat sekali, aku kasian juga jadinya.
Angin dingin berhembus kencang ke arahku. Aku punya firasat buruk tentang itu, setiap aku mengalami kejadian seperti ini, pasti aku sedang diikuti oleh makhluk tak kasat mata itu, tapi kasat mata bagiku. Aku menengok ke belakang, aku tidak melihat makhluk apa pun di sana. Hahh, sekarang aku bisa bernafas dengan lega, ternyata kali ini hanya firasatku saja.

Makhluk tak kasat mata atau aku dan orang lain biasa menyebut makhluk itu hantu sudah menjadi bagian dari hidupku selama 17 tahun ini. Aku punya indra keenam, suatu hal yang patut dibanggakan, karena tidak setiap orang memilikinya, namun juga merepotkan. Aku tidak pernah biasa melihat makhluk tak kasat mata itu, karena sebagian dari mereka fisiknya sangat menakutkan dan juga menjijikan.

14 Januari 2017
“Lea boleh gak aku minjam buku tulis bio kamu?” Teman baruku itu bertanya kepadaku. Dia bernama Rima. Dia orang yang sangat supel, cantik dan punya banyak teman, sangat berbeda denganku. Baru enam hari mengenalku, dia sudah bercerita banyak hal tentangnya kepadaku, sedangkan aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik, hanya menanggapi satu dua kali karena aku masih belum merasa nyaman dengannya.
“Boleh aja Rim, sebentar ya.” Saat akan mengambil buku tulis biologiku di tasku, aku melihat siswa aneh itu dari jendela. Sepertinya dia sedang tersenyum padaku dan sekarang dia melambai padaku! Dari gerak mulutnya sepertinya dia memintaku agar menemuinya. Mau apa dia menemuiku, kenal saja tidak.

“Ini Rim bukunya.” Setelah memberikan bukuku kepada Rima aku segera beranjak untuk menemui siswa itu.
“Kamu mau ke mana Lea?”
“Aku mau ke temenku yang di sana. Yang lagi ngelihat ke arah kita.” Aku menunjuk ke arah siswa itu.
“Mana? Ga ada yang lagi ngelihat ke arah kita kok.”
“Itu yang rambutnya ikal, masa kamu gak lihat sih?”
“Mana? Gak ada kok.” Aneh… Kenapa Rima tidak bisa melihat orang itu? Padahal orang aneh itu berdiri gak jauh dari kelas kami. Ah bodo amat. Mungkin penglihatan Rima agak rabun.
“Terserah kamu deh Rim. Kasian dia kalau nunggu lama.” Saat aku sampai di ambang pintu kelas, siswa aneh itu sudah tidak ada di tempat berdirinya tadi. Hah ya ampun, jangan-jangan aku dikerjain lagi? Kenapa sih orang itu kerjaannya ngilang mulu?

“Hei Lea.” Sepertinya ada yang memanggilku. Aku menengok ke belakang. Wah ternyata orang aneh itu yang memanggilku, tapi kok dia tahu namaku ya? Dia berlari-lari kecil ke arahku.
“Hei juga.” Aku hanya menjawab pendek saja.
“Rumah kamu di perumahan anggrek juga? Wah kebetulan banget ya. Aku juga tinggal di perumahan itu.”
“Iya.” Aku selalu tidak nyaman bila diajak ngobrol oleh orang yang tidak aku kenal dekat, rasanya mulutku ini rapet seperti diberi lem sepatu saja, jadi aku hanya bisa menjawab pendek-pendek pertanyaan siswa aneh itu.
“Maaf ya waktu itu aku udah gak sopan sama kamu. Waktu itu aku cuma kaget aja, kok kamu bisa lihat aku.”
“Iya gak apa-apa kok…” Tunggu, apa maksud kata-katanya tadi? ‘Aku cuma kaget aja, kok kamu bisa lihat aku?’ Makin aneh aja nih orang ya, ya iyalah aku bisa lihat dia, emang mataku ini buta apa? Atau jangan-jangan, ya ampuuuun, kalau itu beneer aku sial banget. Pantesan dia suka ngilang gitu.
“Ya iyalah aku bisa lihat kamu, kan mataku masih normal.”
“Maksud aku, aku kan hantu, biasanya orang gak bisa lihat aku, sedangkan kamu bisa.” Hah ya ampuuun. Walaupun aku sudah menduga kalau dia hantu dari kata-katanya tadi, aku masih tetap kaget saat mendengar sendiri dari mulutnya, kalau dia itu hantuuu.

Aku melihat hantu itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, kulitnya pucat sekali! Kenapa aku bodo banget sih? Kenapa aku gak bisa ngebedain mana yang hantu mana yang bukan? Tapi penampilannya memang seperti manusia, yang membedakan hanya kulitnya yang pucat itu.
“Kalau gitu jangan pernah nyapa aku lagi, aku gak mau diganggu sama kamu atau hantu manapun!” Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan hantu itu. Namun usahaku sia-sia, aku tidak ingat kalau hantu bisa berpindah tempat. Saat aku masuk ke kamarku aku dibuat kaget karena hantu itu sudah duduk di sofa unguku.
“Mau ngapain kamu ke sini? Aku udah bilang jangan ganggu aku. Kamu dan aku itu sudah berbeda dunia, tempat kamu bukan di sini.”
“Lalu tempatku di mana Lea? Aku belum mati,” hantu itu sekarang berdiri menghampiriku, ”Tolong aku Lea, cuma kamu yang bisa tolong aku.”
“Basi tahu gak. Banyak hantu yang minta tolong padaku, cuma karena aku bisa lihat kalian. Maaf aku gak bisa nolong kamu. ”
“Tapi Lea, dengan nyelamatin aku kamu bisa nyegah aku buat mati. Aku udah sekarat, aku hampir mati.” Wah hantu ini ternyata sangat keras kepala ya.
“Maaf aku gak bisa.” Aku melemparkan tasku ke sembarang tempat, lalu turun ke lantai bawah. Aku tahu hantu itu masih mengikutiku, tapi aku tidak menghiraukannya.

“Mama masak apa? Harum banget. Wah ternyata ada rendang sapi. Asiiik.” Di meja makan sudah terhampar berbagai macam hidangan favoritku.
“Iya kan papa kamu lagi pengen makan rendang sapi, ya harus mama turutin lah.”
“Wah mama TOP banget deh,” aku jadi teringat kakakku yang sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Sama seperti papaku dia sangat suka rendang sapi juga, “Kalau aja kakak masih ada ya ma, dia pasti seneng banget dimasakkin rendang sapi sama mama. Aku jadi kangen kakak.”
“Mama juga kangen sama kakak kamu Rim, tapi gimana lagi, kita cuma bisa ngedoain dari sini semoga kakakmu bahagia di alam sana. Ya udah gak usah sedih lagi, ayo makan.”

‘Tapi Lea, dengan nyelamatin aku kamu bisa nyegah aku buat mati.’ Aku masih teringat kata-kata hantu itu. Saat ini aku mulai ragu-ragu dengan keputusanku untuk tidak menolong hantu itu. Tapi… Kalau aku nolong hantu lagi aku bisa celaka.

Angin malam berhembus kencang mengibarkan berhelai-helai rambut hitamku. Malam ini langit tidak banyak berhiaskan bintang-bintang yang cantik itu, hanya bulan yang bersinar di atas sana. Semenjak kakakku meninggal, sudah menjadi rutinitasku berdiri di balkon kamarku sambil memandang langit malam. Dengan begitu rasa rinduku pada kakakku sedikit terobati. Namun malam ini berbeda, entah kenapa aku merasa gelisah sekali. Aku merasa bersalah sekali kepada hantu itu karena tidak mengiyakan permintaannya.

Aku mulai kedinginan jadi aku masuk kembali ke kamarku, jam pun sudah menunjukkan pukul 23:12. Saat aku mencuci mukaku di kamar mandi, ada yang mengetuk pintu kamar mandiku.
“Mama?” Tidak ada yang menjawab. Kubuka pintu kamar mandiku, tidak ada siapa-siapa. Mungkin aku salah dengar ya?
Saat akan mematikan lampu kamar, tiba-tiba ada yang memegang tanganku. Aku langsung melepaskan secara paksa tanganku. Aku tahu siapa yang tadi memegang tanganku, pasti hantu itu, tapi hantu itu tidak menampakkan dirinya kepadaku.
“Aku tahu itu kamu. Kenapa kamu masih ganggu aku hah? Kenapa kamu gak cari orang lain buat nolongin kamu?”
“Aku gak bakal berhenti ganggu kamu sebelum kamu mau nolongin aku Lea.”
“Aku gak bisa nolongin kamu.”
“Kenapa?”
“Sebenernya…” Aku menghentikan kata-kataku saat hantu itu tiba-tiba menampakkan dirinya tepat di depanku.
“Kamu kenal Rima kan?” Tentu saja aku kenal Rima, dia kan temanku? Tapi kenapa dia harus sebut-sebut nama Rima, urusan aku dengan dia ini gak ada hubungannya dengan Rima kan. “Dia kakakku.” Dua kata itu sangat mengagetkanku.
“Kakak kamu? Maksud kamu, kamu adik Rima gitu? Kamu gak bohong kan?” Aku lihat muka hantu itu lekat-lekat, sama sekali tidak mirip Rima.
“Kamu pasti bohong, kamu gak mirip sama Rima.”
“Terserah kamu mau percaya atau enggak, yang pasti aku gak bohong sama kamu,” aku semakin tidak yakin dengan keputusanku untuk tidak menolong hantu itu. Aku tidak mau nasib Rima sama sepertiku, harus kehilangan saudaranya, “Kamu gak mau kan lihat temen kamu sedih? Dia bakal sedih kan kalau aku mati? Masa kamu tega sih.” Hantu itu benar, aku tidak mungkin tega kalau harus melihat Rima merasakan sedih yang sama denganku.
“Ok, aku bakal nolong kamu, temuin aku besok di rumah.”

15 Januari 2017
“Gimana caranya aku bisa nolong kamu?” Sekarang aku berada di depan pagar sebuah rumah mewah yang dominan berwarna ungu tua dan abu-abu muda. Aku tidak tahu milik siapa rumah ini, tapi aku sering melewatinya saat aku berangkat sekolah, rumah ini juga berada di perumahan yang sama denganku, perumahan anggrek. Sepertinya sekarang aku tahu rumah siapa ini, tapi belum tentu juga sih. “Ini rumah siapa? Rumah kamu?”
“Udah, jangan banyak tanya. Kalau kamu mau nolong aku, kamu cuma harus diem.”
“Diem? Maksud kam..” Belum selesai aku bicara, tiba-tiba rasa sakit menghantam tubuhku. Tubuhku tidak bisa digerakkan dan serasa remuk saja. Aku tidak bisa melihat warna lain selain warna hitam. Pendengaranku tiba-tiba tidak berfungsi. Aku tahu penyebab dari semua ini, hantu tidak tahu diri itu mencoba merasukiku tanpa persetujuanku!! Hantu tidak tahu diriiiii!!!

Saat sadar aku sudah berada di sebuah ruangan yang sepertinya kamar tidur. Aku tidak sendiri di ruangan ini, seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibuku berdiri sambil memandangi foto yang berada di tangannya. Wanita itu sepertinya sibuk melamun memandangi foto itu sehingga tidak menyadari bahwa aku sudah sadar.
“Maaf, tante?” Aku mencoba memanggil wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah saat menyadari bahwa aku sudah sadar. Sedangkan aku terkejut saat melihat mata wanita itu yang bengkak. Sepertinya wanita itu baru selesai menangis karena pipinya terlihat sedikit basah.
“Kamu sudah sadar?”
“Iya tante. Maaf tante siapa?” Apa ini ibu Rima dan hantu itu? Wanita itu cantik sekali, mamaku yang menurutku cantik saja kalah, sayang matanya bengkak.
“Sudah, kamu jangan banyak bergerak dulu. Tunggu ya, tante ambilin teh manis hangat buat kamu dulu.”

Saat wanita itu pergi, aku melihat foto yang sekarang tergeletak di kasur tempat aku duduk. Di foto itu ada anak laki-laki yang sedang memegang bola sambil menunjukkan giginya yang rapi dan putih. Wajah anak itu mirip sekali dengan hantu yang terus menggangguku itu.
“Itu anak tante waktu umur lima tahun, namanya Raka,” oh jadi hantu itu namanya Raka toh, “Kamu sudah kenal Raka kan? Tante berterima kasih sama kamu, karena kamu anak tante bisa diselamatkan.”
“Tapi tante… saya gak ngelakuin apa-apa.” Yang aku ingat terakhir kali sebelum aku kehilangan kesadaran adalah aku dirasuki oleh hantu yang bernama Raka itu. Aku tidak ingat pernah melakukan hal yang dimaksud oleh wanita itu.
“Karena kamu, tante bisa bicara sama anak tante, tentunya melalui kamu. Ini minum dulu tehnya.”
“Makasih tante,” aku teguk sedikit teh yang diberikan wanita itu kepadaku lalu melanjutkan bicaraku, “Tante percaya aja gitu? Bisa aja kan aku ngebohongin tante?”
“Tante percaya, buktinya kata-kata kamu itu benar. Sekarang anak tante ada di rumah sakit, dia masih bisa terselamatkan, dia sudah mulai pulih.” Hantu itu sudah pulih. Ternyata benar jasad hantu itu belum mati dan aku berhasil menyelamatkan satu nyawa. Tapi hantu itu pulih dari apa? Apa dia kecelakaan?

“Sebelumnya saya minta maaf tante. Kalau boleh saya tahu anak tante kenapa ya?” Wanita itu terlihat kaget saat mendengar kata-kataku tadi. Aduh aku jadi merasa bersalah. Apa aku salah ngomong ya?
“Jadi gini, anak tante itu sudah hilang selama beberapa hari. Tante cemas sekai, jadi tante melapor ke polisi. Tapi selama beberapa hari itu, polisi gak berhasil nemuin anak tante. Tante sekali lagi berterima kasih sama kamu, berkat kamu tante bisa nemuin anak tante. Ternyata anak tante kecelakaan dan jatuh ke jurang yang cukup dalam. Waktu suami tante dan polisi nemuin anak tante, anak tante sudah dalam keadaan gak sadar dan kehilangan banyak darah, kaki kirinya juga patah.” Wanita itu menceritakan musibah yang menimpa anaknya itu sambil bercucuran air mata. Aku jadi tidak tega melihatnya, aku jadi merasa bersalah pernah tidak mau menolong anaknya.
“Semoga Raka cepet sembuh ya tante.”

17 Januari 2017
Sekitar tiga tahun yang lalu untuk pertama kalinya aku menolong makhluk yang bernama hantu itu, setelahnya aku mengalami kecelakaan dan koma selama 18 hari. Aku sangat bersyukur aku masih selamat waktu itu, saat itu aku tahu bahwa menolong hantu dapat berakibat buruk bagi si penolong, bahkan dapat menghilangkan nyawa si penolong, entah apa penyebabnya, mungkin karena mencampuri takdir orang lain? Sejak saat itu aku tidak mau menolong hantu lagi sampai aku bertemu hantu yang kini kuketahui bernama Raka itu.

Tubuhku limbung, aku sudah tidak kuat lagi. Selama dua hari ini aku masih kuat untuk menahan rasa sakit yang aku alami, namun sekarang rasa sakit yang aku alami tidak mampu lagi aku tahan
“Mam…a.” Entah kenapa tenggorokanku pun terasa perih, sehingga aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Aku memaksakan kedua kakiku untuk berdiri. Aku berhasil melakukannya, namun setelah beberapa langkah aku berjalan menuju pintu kamar, tubuhku limbung kembali dan kepalaku terbentur sangat keras pada sudut lemari besiku. Aku merasakan cairan kental yang hangat mengaliri pelipisku. Darah, aku tahu itu darah. Kepalaku semakin berat dan aku kehilangan kesadaranku perlahan, sampai aku tidak merasakan apapun, kecuali rasa dingin yang merambatiku dengan cepat.

24 Januari 2017
Apa itu kak Mala? Gak mungkin, ini pasti mimpi, kak Mala udah gak ada.
Aku senang sekali bisa bertemu kembali dengan kak Mala walaupun di dalam mimpi yang jelas-jelas tidak nyata ini.
“Kak Mala?” Dia tidak menanggapi kata-kataku, dia hanya berjalan menghampiriku sambil menampakkan senyum manisnya. Dicubitnya pipiku yang menurutnya tembam itu. Di mimpi pun dia masih suka mencubit pipiku yang merupakan kebiasaannya semasa hidup.
“Iya ini kakak Lea. Kakak cuma mau bilang, kakak selalu bangga sama kamu. Kamu mau menolong orang lain walaupun resikonya kehilangan nyawa sekalipun. Kamu salah kalau sudah iri sama kakak dulu, seharusnya kakak yang iri sama kamu Lea, kamu memiliki hati yang baik, yang tidak bisa dikalahkan oleh kecantikan, yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Sekarang kakak sudah tidak ada di alam yang sama denganmu, tapi kenangan tidak bisa dihapus termasuk kenangan yang menurutmu menyakitkan. Kenangan menyakitkan itu bisa berubah menjadi bermakna bila kamu ikhlas menerimanya, tidak berusaha membuangn ya. Sekarang sudah waktunya kakak harus pergi dan sekarang sudah waktunya kamu untuk membuka hatimu pada orang yang datang atau akan datang kepadamu.” Kakakku itu menghilang secepat kedatangannya. Aku tidak melakukan apapun, aku tahu aku tidak bisa mencegahnya untuk pergi.

“Lea kamu sudah sadar? Alhamdulillah…” Bau khas rumah sakit yang menyengat masuk ke indra penciumanku saat aku sadar. Aku melihat hantu itu dalam balutan baju rumah sakit yang sama denganku.
“Lea sudah sadar Raka? Alhamdulillah ya Allah.” Wanita itu ada di sini? Berarti yang aku lihat tadi bukan hantu? Tapi Raka?
“Iya ma. Ini aku Lea, Raka, yang udah kamu selametin. Aku minta maaf, gara-gara aku kamu harus dirawat di rumah sakit, aku tahu kamu bisa sampai gini karena sudah nolong aku kan? Aku sudah dengar dari tante Raisa. Dan aku juga minta maaf karena udah bohong sama kamu, sebenernya Rima bukan kakak aku. Waktu itu aku terpaksa berbohong karena kamu gak mau nolong aku, aku tahu kamu sangat sayang sama kakakmu dari percakapan kamu sama tante Raisa, jadi aku manfaatin itu supaya kamu mau nolong aku.”
“Jadi kamu… bohong?” Aku tidak menyangka dia setega itu padaku, memanfaatkan rasa sayangku pada kakakku. Air mata menetes perlahan dari kedua mataku.
“Maafin aku Lea, aku tahu aku salah. Aku mohon jangan nangis, aku gak tahan lihat kamu nangis.” Dia mencoba menghapus air mataku, namun aku menepisnya dengan kasar.
“Lea, mama ngerti kemarahan kamu, tapi bukannya Raka sudah minta maaf sama kamu sayang? Mama tahu kamu pemaaf.” Mamaku mengelus-elus rambut panjangku.
“Tapi…” Aku teringat kata-kata kakakku, aku harus ikhlas dengan segala hal yang menimpaku. Hatiku secara ajaib menjadi sejuk. “Aku maafkan, Raka.”
“Makasih Lea. Kenalin aku Raka. Kamu tahu, ternyata ayah kita saling kenal.”
Aku memandang mamaku yang sedang senyum-senyum, “Ayah Riko ternyata atasan papa.”
“Jadi papa kamu yang mindah tugasin papaku terus? Bilang sama papamu, awas ya kalau sekali-kali lagi mindahin papaku lagi.” Aku pura-pura marah kepada Riko.
“Gak bakalan laaaah. Orang aku gak mau kehilangan kamu.”
“Idiiih, ingat kalau kita baru kenal Raka. Dasar genit.” Kakakku sangat benar ‘Sekarang sudah waktunya kamu untuk membuka hatimu pada orang yang datang atau akan datang kepadamu.’ Kata-kata yang memiliki banyak makna itu. Aku akan membuka hatiku untuk Raka dan Raka lainnya.

Cerpen Karangan: Hilda Risanthy Febriana
Facebook: Hilda Risanthy Febriana
Lahir pada 2 Februari 2000 dan bersekolah di SMAN 1 CISAAT kabupaten Sukabumi

Cerpen Perantara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Waktu Yang Tepat

Oleh:
Gelisah, senang, bingung, perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang. Kepalaku pusing banget, dan rasanya agak mual. Aku memikirkan semua kejadian di mimpiku semalam. Apa maksudnya?. “Ra, kamu kenapa?

Dua Alam

Oleh:
“Aku ingin kamu selalu ada dekat aku sayang, Oh iya, Jika suatu saat nanti Tuhan memanggilku duluan, kamu janji ya sayang jangan pernah lupain aku..” ujar sarah pada kekasihnya

Aku Hanya Tahu Namanya (Part 1)

Oleh:
Hujan baru saja reda. Genangan air hujan yang terdapat di beberapa titik jalanan kecil yang menghubungkan sekolah dengan halte itu terlihat semakin berkurang karena kecipak-kecipak dari langkah kaki murid-murid

Ayahku Yang Lain

Oleh:
Seorang pria terus memandang ke arah gerbang sekolah memandangi setiap orang berpakian putih abu yang ke luar dari gerbang itu. Mata pria itu bertemu dengan mataku, dia menatapku begitu

Mengagumimu

Oleh:
Pagi yang cerah, begitu indah. Matahari terbit dengan kehangatannya. Terlihat seorang gadis berjalan dengan santainya. Ia adalah Uffi. Uffi adalah seorang gadis SMP. Ia hendak berangkat sekolah dengan penuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *