Petualangan Mencari Kebun Wortel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 July 2013

Hujan sudah seharian mengguyur desaku hari ini. Padahal kemarin sudah seharian. Sampai-sampai aku rindu dengan kehadiran matahari. Hujan selalu berhenti selepas maghrib jadi matahari tak ada kesempatan untuk keluar dari persembunyiannya. Jalanan pada becek, maklumlah namanya juga desa jalannya tak beraspal. Tapi hujan-hujan gini nyaman sekali buat tidur, udaranya sejuk, pasti bakal nyenyak.

Di pagi yang indah. Matahari mulai menyambut jiwa-jiwa baru dari peristirahatan malamnya.
“Banjir… banjir,” suara dari sumber yang tak jelas.
Aku masih ingin berlama-lama di pantai kapuk. Dalam anganku itu hanya suara di mimpiku.
Sayangnya, Ibu membangunkanku karena air bah sudah setinggi lutut. “Jege! Mara jege! Bede banjir,” kata ibu.
“Ah… cumi,” jawabku tanpa membuka kelopak mataku.
Ibu terus membangunkanku dan akhirnya ibu menyiramku. Aku terkejut dan bangun. Weleh-weleh, lagi mimpi enak-enak dibangunin, basah pula, eh kena semprot juga.
“Banjir yah! Marah tolongi slametaghi reng-bhereng!” sentak Ibu.
Dengan berat mata aku membantu Ibu. Alhamdulillah semakin siang air bah surut namun celoteh ibuku masih saja belum selesai. Em, jadi sakit telingaku.
Tiba-tiba “kedebak kedebuk kedebak kedebuk” suara dari balik dapur. Aku segera keluar dan mencari sumber suara itu. Ternyata suara itu suara langkah orang-orang desa yang lagi terbirit birit.
“Bedeh napa, nom?”, tanyaku pada salah seorang dari yang lain.
“Sumi, Beng, potrana Mak Lopes labu ka songai tasellem ta’ e temmo,” jawab Pak Ma’on itu. Mendengar jawaban Pak Ma’on aku membelalak terkejut dan melangkah 1000 langkah memberi tahu Ibu.
“Bok… Bok… Ebok…,” kataku sambil mencari Ibu di setiap ruangan. Kamar depan, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, begasi, gudang, warung, tapi tak ketemu juga.
“Toeng weng weng!” ibu memukul kepalaku dengan sendok. “Aduh, sakit, bu!” kataku meringkit kesakitan sambil mengelus-ngelus kepala yang diatasnya banyak bintang-bintang.
“Engkok bede e depor. Bede apa? Ma’ griduh!!!” celoteh Ibuku yang manis.
“Sssuttt!” seruku menghentikan celoteh ibuku supaya tak semakin melebar. Nanti bisa sampai kemana-mana termasuk hal yang sudah-sudah pasti akan dibaca kembali. Huh!
“Sumi tasellem ta’ e temmo,” katakaku.
“Ca’en sapah?” tanya ibu terkejut.
“Ruah gi’ buru ca’en reng-oreng neng budien se mangkat ka songai,” jawabku.
“Ye wes majuh!” ajak ibu.
“Majuh tolongi!” jawabku.
“Terro tasellemma keya be’en? Be’en beih ta’ taoh alangngoy,” kata ibu.
“Oh… iye… ye…,” jawabku nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.

Sudah 3 hari Sumi belum ketemu juga. Mak Lopespun hanya meratapi atas kehilangan anak semata wayangnya itu, satu-satunya yang amat beliau sayangi. Warga desa terus berusaha mencari Sumi, sembari mengadakan do’a bersama untuk keselamatan Sumi. Orang-orang desa sudah beranggapan bahwa Sumi sudah hilang dan tak akan ketemu lagi, namun Mak Lopes percaya kalau Sumi pasti hidup dan akan ketemu.

Malam ini aku kepikiran Sumi. Aku selalu menanyakan kabarnya. Aku rindu kepadanya. Aku rindu saat-saat bersamanya. Saat kita main bersama, saat kita berebut daun pisang, saat kita berangkat sekolah bersama, dan semua kenangan bersama Sumi. Aku ingat semua itu. Semua kenangan itu tersibak jelas dalam ingatanku. Mungkin karena tadi siang aku kerumahnya dan mendengar curhatan Mak Lopes tentangnya.

Di tengah malam sunyi tanpa bintang aku menyusuri suatu jalanan yang gelap, hanya satu warna yang dapat aku lihat, yaitu hitam. Aku terus berjalan seperti ada yang sedang aku cari. Hingga akhirnya aku sampai disuatu kebun sepertinya kebun wortel.
Tiba-tiba perutku kriuk kriuk, minta diisi. Seketika itu pula dari arah atas jatuh sesuatu. Aku ambil dan aku raba dari bentuknya sesuatu itu wortel. Belum sempat aku memakannya tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku mencari sumber suara itu dan terus mencari.
Dalam pencarianku, dilangit dan keadaan sekitar yang legam itu tiba-tiba suatu suara membuatku tersentak terkejut dan lari terbirit-birit, “Fin, aku disini.”.
Wuuuaahhhahaa, aku berlari ketakutan bermaksud menjauh dari makhluk itu, tiba-tiba mahluk itu ada di depanku, “Gak usah takut, Fin!”.
“Gimana ceritanya aku gak boleh takut sama cewek yang pake jubah panjang, rambutnya terurai, wajahnya pucat. Sarap bin stres nih mahluk,” gerutuku dalam hati.
“Ga.. ga mungkin”, jawabku mengalak.
“Fin, ini Sumi,” jawabnya.
“Benarkah?” tanyaku dengan memalingkan muka.
“Iya benar, percayalah padaku!” pintanya.
“Terus kenapa kamu berpakaian seperti ini?” tanyaku.
“Kenapa? Keren ya?” tanyanya balik.
“Keren dari hongkong?! Wah sarap bin stres kamu! Kenapa kamu gak pulang ke rumah sih?” tanyaku.
“Kata siapa aku gak pulang?” tanya Sumi balik.
Dia terdiam sejenak kemudian menghela nafas dalam-dalam. “Fin, setiap hari aku pulang tapi ibu tak pernah menghiraukanku, Ibu tak lagi peduli padaku, Ibu tak pernah menjawab panggilanku lagi, Ibu juga tak menghapus air mataku saat aku menangis, ucap Sumi sambil merintihkan air mata,” tandas Sumi.
“Sumi, Ibumu selalu menyayangimu, Ibumu sangat kehilanganmu,” jawabku sembari menghapus air mata Sumi.
“Benarkah?”, tanya Sumi.
“Iya”, Jawabku.
“Jika ibu benar menyayangiku dia akan mencariku.”, kata Sumi.
“Beliau sudah mencarimu kemana-mana, hingga mengutus banyak orang untuk menyusuri setiap sungai, Sum,” kataku.
“Katakan pada Ibu kalau aku akan menunggunya disini, hingga esok sebelum matahari kembali meredup. Jika tidak maka aku akan lenyap,” jawabnya.
“Disini? Tempat apa ini?” tanyaku.
“Ini kebun, tepatnya kebun wortel,” jawabnya,
“Wortel? Tapi Sum, setahuku wortel itu umbi-umbian dan buahnya ada di dalam tanah, tapi ini kok kaya’ pohon mangga? Buahnya bergelantung daunnya kaya’ daun mangga juga. Aneh!” Kataku panjang lebar.
“Iya, cari saja kebun pohon wortel,” jawab Sumi.
Tiba-tiba Sumi hilang bersama dengan suara tawa terkekeh yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku kebingungan, aku panggil-panggil namanya, “Sum… Sumi. Gak lucu deh, Sum! Sum… Sumi, aku takut loh! Sumi… Sum, kamu dimana?”

“Suarrrrr…!!!” lagi-lagi Ibu menyiramku. Aku tersentak bangun dan, “Banjir… banjir…”.
“Jege!” pinta Ibu.
Mendengar suara Ibu yang menggelegar aku terkejut mebelalak. Saat itu pula aku baru menyadari ternyata tadi hanya mimpi. Tapi sepertinya ini petunjuk, tidak ada salahnya kalau diikuti. Aku bergegas ke luar rumah menuju rumah Sumi. “Bu, aku ke rumah Sumi,” kataku.
Ibu mengejarku sampai rumah Sumi. Ibu menarikku supaya pulang. Untung saja Mak Lopes mendengar panggilanku dan segera keluar rumah menemuiku. Aku segera menceritakan mimpiku tentang Sumi berikut pesan Sumi kepada Mak Lopes. Sayangnya, hihil, sia-sia, tak ada gunanya. Tak ada yang mempercayaiku, baik Ibu maupun Mak Lopes. Huh!

Sebenarnya, secara logika kebun pohon wortel itu tidak mungkin ada. Apa benar wortel dalam mimpiku itu hanyalah sebuah imajinasiku saja? Apalagi di daerah Pamekasan seperti ini tak ada satupun petani yang menanam wortel, karena dipastikan tidak akan tumbuh. Mana mungkin ada kebun wortel di tanah bergaram ini?
Berbekal do’a kepada Allah sekedar mengharap ridho-Nya dan bersama kata-kata Sumi dalam mimpi semalam aku berangkat mencari kebun pohon wortel itu, seorang diri. Karena tak satupun orang di desaku ini yang mempercayai kata-kataku, tak terkecuali Ibuku sendiri. Tak lupa aku membawa sebotol air mineral 2 liter dan sekijang pisang untuk bekal.

Sejujurnya aku bingung kemana aku harus melangkahkan kakiku ini. Aku masih berdiam diri di perempatan. Aku benar-benar tak ingat jalan yang semalam aku lewati. Aku terus mencoba mengingatnya, menggali dalam-dalam ingatanku dan menguras habis tenagaku untuk mengingat jalan semalam yang aku lewati. Nyatanya, aku tak mampu, nihil.
Ya Allah beri hamba petunjuk. Kemana hamba dapat melangkahkan kaki ini. Entah kenapa sepertinya kakiku ingin melangkah ke suatu arah yang aku tak tahu arah mana. Apa itu barat, timur, utara, atau selatan? Aku terus mengikuti kemana kaki ini ingin melangkah.

Akhirnya aku sampai di pendopo Ronggosukowati. Daerah di sekitar pendopo memang rindang, udara sepoi-sepoi mengelus lembut tubuh ini, mememanjakanku dengan kibasan anginnya. Disini banyak ditanam pohon-pohon. Di kanan kiri jalan masuk ke pendopo ditanami pohon asem yang besar-besar. Sekali pohonnya goyang, anginnya dapat menghipnotis untuk tidur nyaman, apalagi buahnya yang berjatuhan kalau dipilih bisa langsung dapat sekarung, rasanya juga enak. Asem asem gimana gitu.

Aku membaringkan tubuh di bawah salah satu pohon asem bermaksud untuk melepas lelah dari perjalanan 10 kilo meterku.
Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku dan membangunkanku. Kemudian aku mengikuti kemana anak itu melangkahkan kaki kecilnya. Kita berjalan menuju Arek Lancor, alun-alun kota di Pamekasan. Aku kira anak itu akan mengajakku ke Masjid Agung Asy Syuhada’ karena adzhan dzhur sebentar lagi akan berkumandang.

Belum sempat aku mengatakan kepada anak itu kalau sekarang aku sedang tidak diperkenankan sholat (haid). Eh, ternyata dia tidak menuju masjid. Namun seketika itu jalanan yang aku dan anak laki-laki itu lewati semakin rumit dan aneh, jalanan sepi, hanya kita berdua. Jalannya berkelok-kelok susah untuk diingat. Ke kanan, ke kiri, kiri lagi, terus ke kiri, ada pertigaan, ada perempatan, ada jembatan, ada pemakaman, ada sungai, ada sawah, jalanan becek, jalanan beraspal, pokoknya komplit. Aku masih terus mengikutinya walaupun terlintas tanda tanya besar dalam benakku, “Ini mau kemana sih ceritanya?”.

Sampai akhirnya aku dan anak laki-laki itu tiba di sebuah bangunan kuno yang tak terawat, berdebu, dindingnya kumal, dan banyak sarang laba-laba. Aku diajaknya masuk ke dalam bangunan itu. Dia mempersilahkan aku masuk duluan lalu dia menghilang. Aku kebingungan, tapi aku tak terlalu menggubris atas ketidakadaan anak itu, biasalah namanya juga anak-anak, paling juga pergi main.

Aku membuka pintu itu dan “aaarkhhghhk!!!” aku menginjak sesuatu. Aku meraba benda di bawah kakiku, kenyal seperti daging. Keringatkupun mulai bercucuran, panas dingin suhu tubuhku, dag dig dug degup jantungku, membangunkan bulu kudukku.
Walaupun aku masih ketakutan tapi aku terus mencoba untuk kuat dan tetap meneruskan pencarianku. Berusaha melupakan atas apa yang aku injak, tapi aku lupa bahwa daging yang aku injak itu berbulu. Wkwkwk, ternyata seekor tikus. Wuahahahaaa, aku geli dengan tikus. Akupun berlari mencoba keluar dari ruangan itu namun sepertinya ruangan itu sengaja membuatku untuk tetap ada di dalamnya, seolah mempersempit jalan keluarku, menutup semua celah sampai-sampai nafasku tersengal-sengal. Mulut, tangan, dan kakikupun kaku, aku tak bisa menggerakkan, kecuali hatiku. Dengan segala keterbatasan itu aku berdo’a kepada Allah, berkali-kali aku menyebut asma-Nya serta memohon perlindungan-Nya. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari bangunan itu.

Cepat-cepat aku menjauh dari bangunan itu, berlari sekencang mungkin hingga rem blong. “Jeduk! Gak gik guk gukhkhkh gukhkh,” aku menabrak sebuah pohon. Respon imun di dahiku langsung benjol merah yang kalo ditekan sakiiit. Belum selesai rasa sakit didahiku buah dari pohon itu yang sebesar kelapa jatuh menibruk kepalaku, “Toeng toeng weng weng weng”. Aduh sakitnya, benjol lagi deh.

Aku ambil buah itu dan ternyata itu wortel. Aku amati pohon itu berikut buah-buahnya. Nah, ini dia yang aku cari. Wortel yang buahnya bergantungan. Hore, hore, hore, aku meloncat bahagia. Segera aku mencari Sumi sembari memanggilnya, “Sum, Sumi, aku datang. Ayo pulang! Sumi, kamu dimana? Sumi, cepat keluar! Aku Fina, Sum.”. Aku terus mencarinya hingga aku dapati sebuh sungai.

Sumi terbawa arus sungai itu. Aku ingin menolongnya dengan menyebur tapi aku tak bisa berenang. Hasilnya, aku masih berlari mengikuti arus sungai itu membawa Sumi. Sesekali aku mencoba menolongnya dengan ranting-ranting tapi gagal dan gagal, begitupun seterusnya. Cahaya matahari mulai meredup awan-awan legam mulai mengintip.
Arus sungai itu membawa Sumi pulang kerumahnya. Di belakang rumah Sumi memang ada sungai dan disitulah tempat Sumi tenggelam. Sesampainya di belakang rumah Sumi aku berteriak minta tolong sambil menahan Sumi dengan ranting dari atas jembatan. Aku terus berteriak sekencang mungkin sampai habis sudah suaraku. Masih saja tak ada seorangpun yang mendengar teriakanku. Akhirnya aku ambil batu dan ku lemparkan ke genteng rumah Sumi dan warga yang lain.
“Woy, sapa nyampad?” teriak marah seorang warga. “Nom Sama’, ka’dinto! Nyo’on tolong!” pintaku kepada Paman Sama’. Paman Sama’ langsung kesungai sembari meminta tolong. Akhirnya para warga berdatangan dan mengangkat Sumi dari sungai.

Keterangan Arti Kata:
Alangngoy: Berenang
Anom: Paman
Be’en: Kamu
Bede: Ada
Ca’en: Kata
Ebok: Ibu
Embeng: Nak (panggilan umum untuk anak perempuan)
Engkok: Aku
Griduh: Ramai
Jege: Bangun
Ka’dinto: Kesini
Labu: Jatuh
Majuh: Ayo (Ajakan)
Mara: Ayo (Permintaan)
Nyampad: Lempar
Nyo’on: Minta
Potra: Anak
Sapa: Siapa
Tasellem: Tenggelam
Temmo: Ketemu
Terro: Mau

Cerpen Karangan: Fani Desy Lestary
Blog: fandesyla.blogspot.com
add my fb, twitter, and paseban.com dg id yg sama “fandesyla” iya!!!

Cerpen Petualangan Mencari Kebun Wortel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ramalan

Oleh:
Pada malam hari ada seorang gadis yang keluar dari tempat malam untuk pulang menuju ke rumanhnya. Di tengah perjalanan dia dihadang oleh seorang pria yang memakai jas dan dasi.

The Flower Cold

Oleh:
Aku tidak percaya dia melakukan ini. yang benar saja.. dia mati karena seorang laki-laki ya. memangnya di dunia ini hanya dia satu-satunya laki-laki! Dasar.. Dibutakan cinta! Aku merebahkan tubuhku

Rumah Deja Vu

Oleh:
Siang itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju rumah baru di kota Bandung. Sepanjang perjalanan, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kakak laki-lakiku fokus menyetir, Ibu tertidur di jok

Zombie Metromini

Oleh:
Langit masih terlihat gelap, matahari belum memancarkan sinarnya di pagi ini. Sudah 2 bulan aku liburan semester dan sudah waktunya untuk kembali melanjutkan kuliah. Tepatnya pukul 5 pagi aku

Satria, Jones

Oleh:
Bu Fellin berdiri di depan kelas, “Selamat pagi Anak-anak!” Murid-murid menjawab, “Selamat pagi Bu!” Seisi ruangan kelas X-A duduk manis menantikan pelajaran pertama hari ini. “Satria, maju ke depan!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *