Pisau Berkarat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

Darah bercerceran di mana-mana, barang-barang, buku, baju, celana, meja, kursi, semuanya berantakan, berhamburan. Di luar hujan deras, angin menerbangkan segala benda, sesekali semburat petir meludahi wajah langit, bias cahayanya bahkan terlihat di balik kaca jendela. “A-apa yang-yang kau i-inginkan?” suara Radit tersengal-sengal, napasnya tak beraturan, ia duduk bersandar di sudut ruangan dapur di dekat alat-alat memasak, darah sudah membanjiri bajunya. Lelaki yang mengenakan topeng itu mendekat lagi mengarahkan pisau berkarat yang ia pegang tepat di punggung hidung Radit.

Napas lelaki itu bahkan semakin menggebu, ia seperti harimau kelaparan yang sedang mengepung kijang patah kaki. Radit tak berdaya, hanya diam menanti malaikat maut datang di ujung pisau berkarat itu, napasnya tersengal bahkan untuk mengelap keringat bercampur darah yang mengucur di pelipisnya pun ia tak sempat. “A-apa salah saya, jika-jika kau ingin mengambil hartaku, ambil saja, tapi jangan ambil nyawaku..” Radit menghembuskan napas, mendengus sepelan mungkin. Lelaki itu mendekat, jongkok lalu mengarahkan bibirnya yang tertutup topeng ke arah telinga Radit, “aku bukan butuh harta, aku butuh nyawa. Nyawa pecundang..” Radit bergidik, menelan ludah yang kini terasa pahit. Nyawaku sudah di ujung tanduk, batinnya.

Hujan di luar semakin deras, berkali-kali petir menerangi kolong langit seper sekian detik. Jalanan di dekat rumah Radit lengang, siapa pula yang akan ke luar saat tengah malam, hujan deras. Lebih baik menarik selimut bermain di dalam mimpi. Tak akan ada yang tahu kalau ada keributan di dalam rumah di dekat persimpangan itu. 30 menit sebelum kedatangan lelaki bertopeng itu, Radit baru pulang dari kerja ke dapur untuk menyiapkan mie, memasak nasi dan membuat secangkir teh hangat. ketika ia sedang menuangkan air panas ke dalam cangkirnya, lelaki itu langsung memukul kepala Radit dari belakang, menghantam tubuh Radit dengan tendangan dan melukai punggung Radit dengan pisau berkarat. Darah berceceran, bahkan banjir. Melihat Radit yang tak lagi berdaya lelaki itu kembali ke ruangan tengah, memecahkan kaca lemari, tv, pas bunga, menghambur-hamburkan berkas penting, merusak segala benda, yang akhirnya membuat seisi rumah seperti kapal pecah.

“Apa yang-yang kau cari, ji-jika bukan mencari uangku?” Radit bertanya pelan, volume suaranya ia rendahkan supaya lelaki itu tidak tersinggung. Lelaki itu mendekat, mengenggam erat dagu Radit, membuat bibir pria malang itu monyong, “apa kau tuli pecundang! Aku tak butuh uang, emas, baju, bahkan celana dalammu yang bekas kurap itu, aku tak butuh! aku hanya ingin mengambil nyawamu..” Radit semakin terdesak, dadanya menyempit. Lelaki itu melepaskan tanganya dengan kasar.

“la-lu-lalu siapa kau? A-apa.. apa salahku?”
“salahmu?” lelaki itu menjambak rambut Radit yang sudah dilumuri darah, mendengus kuat. Lalu lelaki itu membuka topengnya. “Kak Damar!” Radit kaget, matanya membulat, ludah ditelan berkali-kali. Lelaki yang membantainya, yang ingin membunuhnya itu ternyata Kak Damar. “Kak ampun Kak, maaf Kak!” Radit meminta iba, Menatap damar lamat lamat. “sudah terlambat Radit, kau tak bisa mengembalikkan keperawanan adikku, nyawa adikku. Kau menjadikannya pacar hanya ingin menikmati tubuhnya, kau pikir dia anak ayam, hah!” jambakan Damar semakin kuat, seperti hendak melepaskan rambut Radit dari batok kepalanya.

“Maaf kak, Radit minta maaf, Radit khilaf.” Radit tersungkur menangis kencang separuh bersujud, “kau harus menanggung perbuatanmu, adikku meninggal karena depresi dan bunuh diri karena kau! Mulut dibalas mulut, gigi dibalas gigi dan nyawa dibalas nyawa pecundang, cuih..!!” Ludah itu sampai ke wajah Radit yang semakin pucat. Jam dinding di ruang tengah berdentang-dentang menopang pukul 12 malam, Suasana yang mencekam hening sesaat bersamaan dengan redanya hujan di luar rumah.

“CASS.. AKKKK…”

Malaikat maut sudah datang, genderang langit sudah ditabuh, darah tumpah ruah, membanjiri dapur, suara berde–akkkk itu memecah hening, lampu dapur berkedap-kedip, remang seketika. Seper sekian detik sebelumnya Radit mengambil pisau berkarat yang jatuh dari tangan Damar, ia menghujamkan pisau itu ke perut Damar yang sedang lengah karena membayangkan nasib pilu adiknya. Damar tersungkur, tidur di atas darah, tidur menyusul adiknya. Suasana kembali hening seketika, seisi rumah bahkan mungkin sejagad. Hanya ada suara burung gagak yang datang saat hujan telah redah tadi.

Cerpen Karangan: Yogi Anggara
Facebook: Yogi Anggara
Nama Yogi Anggara, Lahir di kota Baturaja, Sumsel, pada tanggal 09-09-96
(“Penulis amatir” yang masih terus dan terus ingin belajar).

Cerpen Pisau Berkarat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Yang Terjadi?

Oleh:
Aku carlynda, orang-orang memanggilku linda. Aku sedang duduk di bangku SMA kelas 12. Ketika aku berlibur aku ingin mengajak teman SDku dan sahabatku berlibur. Pada saat itu aku mengajak

Kutukan Masa Orientasi

Oleh:
Rani adalah gadis lugu dan pendiam, dia baru saja lulus smp dan akan memasuki SMA, karena sifatnya yang pendiam dan tak suka bergaul jadi dia dianggap aneh oleh temannya

The Story of Two Daughters (Part 2)

Oleh:
Lily masih bingung. Begitu juga dengan Anggrek. Tapi berbeda dengan Lily, jika Lily bingung karena munculnya Arwah Melati dalam mimpinya, namun Anggrek jauh berbeda kebingungannya dengan Kakaknya. Dia malah

Spooky Mountain

Oleh:
Tahun lalu aku bersama teman-temanku merencanakan untuk mendaki gunung untuk merayakan hari kelulusan kami. Kami menentukan mana gunung yang akan kami tuju dan siapa saja yang akan ikut. Baiklah,

Anabel (Part 2)

Oleh:
Kami berjelan tergesa menuju kamarku dan melihat Anabel yang menjerit-jerit ketakutan. Aku menarik Anabel ke pelukanku dan menepuk-nepuk pundaknya agar tenang. Anabel masih terisak di pelukanku sedangkan Andra melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *