Pisau Saudari Tiri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 June 2013

Malam sudah semakin larut, meski begitu mata ku sama sekali tak mau terpejam. Bayang-bayang kejadian waktu itu selalu berputar di kepalaku. Seperti meminta agar aku segera menyelesaikannya. Ku matikan lampu kamar dan ku pejamkan mataku kembali. Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang bernafas tepat di depan wajahku. Aku mulai merinding. Tanganku merambat untuk menghidupkan lampu tidur di sebelah ku. Aku tersentak kaget, ketika melihat sesosok wanita berambut panjang berbaju putih yang berada tepat di depanku.
“Dia ada di dekatmu Luna” Ucap wanita itu dengan suaranya yang cukup membuat bulu kuduk berdiri lalu segera menghilang.

“Masih pagi bukannya sarapan malah bengong” Ucap sofia sambil menuruni tangga. Aku memandang Sofia yang berjalan menuju meja makan dengan gusar.
“Fi, aku mau cerita sesuatu sama kamu”
“Cerita apa?” Tanya sofia duduk di sebelahku lalu mengambil roti dan mengoleskan selai coklat di atasnya. Aku terdiam sejenak. Terlihat Sofia menungguku membuka suara.
“Semalam ibu mendatangiku”
“Ah kamu ini, itu pasti cuma mimpi”
“Ini nyata Fi, semalam ibu datang ke kamarku. Ibu seperti menyampaikan sesuatu tapi aku nggak ngerti apa maksudnya”
“Aku tahu kamu belum bisa sepenuhnya merelakan kematian ibu” Sofia menatapku iba.
Sofia adalah saudari tiri ku. Ibunnya meninggal karena bunuh diri dua tahun lalu sampai akhirnya ibu ku menikah dengan ayahnya. Meski begitu Sofia sangat baik padaku. Ia menganggapku seperti saudari kandungnya sendiri dan Sofia juga sayang dengan ibuku. Namun, beberapa bulan setelah pernikahan ibuku dan ayahnya Sofia. Ibu ku meninggal. Ia di temukan di gudang yang terletak di belakang rumah dalam keadaan sebuah pisau dapur yang menancap di perutnya. Sampai saat ini siapa yang membunuh ibu belum terungkap. Mungkin itu yang ingin di sampaikan ibu semalam.

Sore ini aku duduk di belakang rumah sambil memandangi ilalang dan beberapa tanaman bunga yang bergoyang mengikuti irama angin. Ayah belum pulang bekerja sedangkan Sofia pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Sesekali aku tersenyum mengingat saat aku, ibu, Sofia, dan ayah berkebun dan kadang ibu dan ayah duduk di bangku yang sedang aku tempati sekarang sambil melihat aku dan sofia bernyanyi bak penyanyi profesional. Ibu dan ayah hanya tertawa dan terkadang bertepuk tangan melihat kekonyolan kami berdua. Tapi, semua itu sekarang hanya menjadi sebuah kenangan manis. Di tengah kesunyian aku mendengar suara dua orang yang sedang berdebat dari dapur. Aku segera menuju kesana untuk melihat. Aku mengintip dari belakang jendela. Ternyata itu pak Wahyu penjaga kebun dan istrinya yang juga pembantu di rumah ini sedang berbicara sesuatu.
“ssst.. bu, jangan keras keras ngomongnya nanti ada yang mendengar kita”
“Pak, bapak harus secepatnya mengaku pada tuan Rudy” Desak bi Lilis
“Tapi bu, bapak takut”
Tiinn.. tiinnn, suara mobil ayah menghentikan percakapan mereka. Aku pun segera beranjak dari belakang jendela untuk menemui ayah.

Aku masih memikirkan percakapan antara pak Wahyu dan bi Lilis tadi. Apa maksud mereka dengan harus secepatnya mengaku. Memang akhir akhir ini tepatnya setelah ibu meninggal tingkah pak Wahyu dan bi Lilis agak aneh. Terutama pak Wahyu. Setiap bertemu dengan ku, ayah atau Sofia, pak Wahyu mendadak gugup seperti orang ketakutan. Hal ini pun aku bicarakan dengan Sofia di kamarnya.
“Iya juga ya lun, Waktu itu juga aku pernah lihat sehari sebelum ibu meninggal. Ibu marah besar sama pak Wahyu, karena ibu mengira pak Wahyu mengambil uang yang ada di laci kamar ibu”
“Apa jangan jangan Pak Wahyu dendam sama ibu dan terus membunuh ibu, gitu maksud kamu?”
“Mungkin” Sofia keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan maskernya. Sedangkan aku masih diam sambil berfikir. Tiba tiba aku merasakan ada seseorang yang bernafas di belakangku. Hembusan nafasnya begitu terasa di leherku. Perlahan aku menoleh kebelakang berharap supaya itu cuma halusinasiku atau itu Sofia.
“Dia ada di dekatmu Luna” Aku terkejut bukan main dan hampir berteriak. Meski aku tau itu ibu tepatnya arwah ibu atau yang lainnya. Tetap saja aku takut dengan perwujudannya yang seperti itu.
“Kamu kenapa Lun?” tanya Sofia yang masuk ke kamar dan melihatku ketakutan.
“Ibu… tadi ada ibu. Ia menyampaikan pesan yang sama seperti malam itu Fi” Sofia memelukku.
“Kamu pasti begitu kehilangan ibu Lun, aku juga sama. Aku sudah menganggap ibu sebagai ibu kandungku sendiri” Aku segera melepaskan pelukan Sofia.
“Aku nggak gila Fi, itu nyata” ucapku setengah berteriak lalu keluar kamar meninggalkan Sofia. Sofia menyusul ke kamar ku.
“Maksud aku bukan seperti itu Lun. Aku juga pernah merasakan kehilangan ibu secara tragis. Aku malah mengalami hal itu dua kali. Saat itu aku juga mengalami hal yang sama yaitu halusinasi” Aku hanya diam karena bagaimanapun aku menjelaskan kepada Sofia, pasti ia tak akan percaya.
“Luna, besok kamu harus ikut aku” ucap Sofia sesaat sebelum ia keluar dari kamarku.

“Memang kita mau kemana sih Fi?”
“Kita mau jalan jalan sekalian shoping” Jawabnya sambil terus menata rambutnya di depan cermin
“Aku nggak ikut ya Fi”
“Kamu harus ikut Luna, Kamu butuh hiburan. Kalau di rumah kamu akan sedih terus”
Mataku tertuju pada sebuah anting di meja rias Sofia. Aku segera beranjak untuk melihatnya. Seperti pernah aku lihat sebelumnya.
“Sofia, apa ini punya mu?” Sofia mengangguk. Lalu ia kembali sibuk berdandan di depan cermin
“Kenapa cuma sebelah? Sebelahnya lagi mana?”
“Nggak tahu, mungkin jatuh. Kamu bener nggak mau ikut aku?”
“Lain kali aja ya Fi” .

Setelah Sofia pergi, aku kembali ke kamarnya. Untung kamarnya tidak terkunci. Aku segera mengambil anting itu dan kembali ke kamarku. Ternyata benar, anting itu adalah pasangan anting yang kutemukan di genggaman tangan ibu sewaktu aku pertama kali menemukan mayat ibu. Tiba-tiba aku teringat kata-kata itu “Dia ada di dekatmu” apa maksud dari kata “dia” itu adalah Sofia?. Sepertinya aku harus bertanya kepada pak Wahyu. Ku lihat ia sedang membersihkan gudang.
“A.. ada apa neng kesini?” tanya pak Wahyu yang melihat aku berjalan menuju ke arahnya
“Ini pak saya mau bertanya sesuatu sama bapak”
“Mau nannya apa memangnya neng?” Tanya pak Wahyu. Terlihat sekali kalau ia begitu gugup saat ini.
“Apa bapak tahu sesuatu tentang pembunuhan ibu seminggu lalu?”
“Ke.. kenapa neng Luna menanyakan itu sama saya. Saya tidak tahu apa apa. Maaf neng saya lagi banyak kerjaan” Pak Wahyu segera berjalan keluar gudang. Namun, aku segera menarik lengannya.
“Pak, saya yakin bapak tahu sesuatu tentang pembunuhan itu. Saya mohon pak kasih tahu saya”
“Se.. sebenernya malam itu bapak melihat siapa yang membunuh ibu neng Luna”
“Siapa pak?” tanyaku semakin penasaran.
“Di.. dia itu… dia itu… neng Sofia”
“Sofia…?!” Aku tak percaya kalau Sofia yang membunuh ibu. Bagaimana bisa?. Di tengah keterkejutanku, Tiba-tiba Sofia masuk sambil bertepuk tangan dan tertawa.
“Bagus, akhirnya kau tahu juga Luna”
“Sofia, apa yang di bilang pak Wahyu itu nggak benar kan?”
“Sayangnya semua itu benar Luna”
“Ta.. tapi kenapa kamu bisa melakukan itu semua?”
“Kau mau tahu kenapa Luna? Karena aku amat sangat membenci ibumu dan tentunya kamu” Sofia berjalan mendekatiku.
“Kamu pasti bingung kan Luna ku sayang, oke akan aku ceritakan. Ibu mu yang murahan itu telah merebut ayahku…”
“Ibuku tidak merebut ayahmu Sofia, ibu menikah dengan ayahmu setelah ibumu meninggal dunia” potong ku.
“Diam!!!. Apa kamu nggak tahu apa penyebab ibuku bunuh diri?. Itu semua karena ibuku tahu kalau ayah berniat menikahi ibumu. Sedangkan ibuku tak mau di madu. Dan kamu tahu Luna seperti apa sakitnya hati ibu dan hati aku?” Sofia menarik keras lenganku. Ia mengambil sebuah silet dari tasnya dan menggoreskan silet tersebut di tanganku. Aku meringis kesakitan. Darah segar keluar dari luka itu.
“Sakitnya melebihi luka yang aku goreskan di tanganmu!” Sofia mendorongku keras. Sampai aku terjatuh.
“..dan kini aku akan membuat mu menyusul ibumu yang malang itu. Aku tahu cepat atau lambat polisi akan menangkapku. Tapi apa bedanya membunuh satu atau dua orang” Sofia mengeluar kan sebuah pisau dari tasnya hendak menikam ku. Aku mencoba melawan dengan melemparnya dengan beberapa barang yang ada di gudang. Tetapi Sofia semakin buas ia mencoba beberapa kali menikamku dan akhirnya pisau tajamnya itu berhasil mengenai perutku. Aku ambruk tak berdaya. Pandanganku kabur. Saat itu samar samar aku melihat Sofia tertawa dan akhirnya gelap.

Setelah sadar aku melihat diriku sudah terbaring di rumah sakit. Disebelahku ada ayah, pak Wahyu dan bi Lilis.
“Kau sudah sadar nak?” Tanya ayah. Raut wajahnya terlihat bahwa ia begitu khawatir dengan keadaan ku.
“So..fi..a” kataku terbata
“Tenang neng, Sofia sudah di amankan oleh pihak yang berwajib” ucap pak Wahyu. Aku tersenyum.
Malam ini ayah pulang dan besok akan kembali menjengukku sedangkan pak Wahyu yang bertugas menemaniku malam ini sedang keluar membeli makanan. Aku di ruangan sendiri sambil membaca novel. Seorang suster masuk dan memeriksaku. Selama pemeriksaan suster tersebut selalu menunduk sehingga aku tak bisa melihat wajahnya. Setelah selesai ia keluar, lalu ia berhenti di depan pintu dan menoleh ke arah ku sambil tersenyum sinis.
“Sofia!!!”

Cerpen Karangan: Intan Hanana
Blog: hananazahra.blogspot.com
Facebook: Intan Hanana

Cerpen Pisau Saudari Tiri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Lamaku

Oleh:
Dulu, aku memiliki sahabat yang sangat baik. Kami sering berkomunikasi dan saling membantu, tapi akhir-akhir ini Nicholas tidak pernah menjawab SMS dariku. “Hai, Nicholas!” sapa Odie temanku. “Ya? Ada

Rumah Berhantu

Oleh:
Sebuah rumah besar yang sudah tak berpenghuni kurang lebih 150 tahun itu menjadi buah bibir masyarakat desa Enggak Makmur -nama yang aneh. Ada yang mengatakan kalau di dalam rumah

Sisca oh Sisca…

Oleh:
Aryo tampak lemas. Barusan ditelepon sama pacar gelapnya Sisca. Siapa yang tak mau menyimpan Sisca? Tubuh aduhai dengan majah manis adalah salah satu alasan Aryo berhubungan dengan Sisca. Tapi

Rumah No. 31

Oleh: ,
Udara tengah malam yang dingin menusuk tulang bagaikan pedang. Bintang, Dony dan Riska berjalan menyusuri lorong kelas. Entah perasaan apa yang ada di benak mereka sekarang ini. Seperti tak

Rumah Nenek

Oleh:
Aku melihat temanku Rito yang sedang kegirangan, sehingga aku tanya dia. “Hey Suzuro, aku dengar ada anak baru loh.” kata Rito dengan nada gembira. Dari ekspresi dan nada bicaranya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

10 responses to “Pisau Saudari Tiri”

  1. Nami Chan says:

    cerpen yg sangat bagus ,bruntung skali saya menemukan blog cerpen misteri ini 🙂

  2. nise says:

    bagus seh critanya, tp kebaca bgt akhir critanya n agak mirip2 crita sinetron.

  3. Imania hafni says:

    Crpen yg bagus..
    Ttp brkrya

  4. janeth collin says:

    Bagus banget cerpennya

  5. layra2013 says:

    Good,perfect,and seru

  6. Shandez Darlene says:

    Seru bngt ceritanya

  7. Sinta Wulandari says:

    Keren bangeet.. Tapi kurang seremm dikit ajah see

    🙂

  8. Febrinda Galuh Kirana says:

    Bagus ceritanya 🙂 Terus berkarya

  9. ira anggraini andriana says:

    bagus, lain kali yang panjang ea.. soalnya aku kan suka ngebaca cerpen horor…

  10. Aliifah Tazkya says:

    Serrem….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *