Psychotime

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Masih gelap. Sunyi dan dingin seakan menjerat kulitku. Tak ada suara kecuali suara jam dinding bergambar Naruto yang tak pernah berhenti melantunkan nada langkah sang detik. Pukul empat tiga puluh. Barangkali tiga puluh menit lagi adzan akan berkumandang. Kantuk masih memelukku erat. Bukan, ini pasti ulah Iblis dan komplotannya. Sebaiknya aku segera bergegas menuju kamar mandi.

Langkahku masih berat. Hampir saja aku menabrak dispenser. Kakak pasti masih terlelap.
“Srrookkh… ssrrrookkh…” Ya. Kakak mendengkur lagi. Tapi, bukan seperti itu dengkuran kakak. Aneh.
“Kak? Kakak? Ayo salat berjamaah!” Dengkurannya terhenti. Namun tak ada jawaban. Sepertinya ia mendengarkanku.
“Kakak masih ngantuk…” Syukurlah. Ternyata memang kakak. Ku kira sejenis monster. Ya siapa tahu kalau itu monster. Monster sekarang agak licik. Mereka bisa menyamar seperti manusia juga. Contohnya ada di film Parasyte.

Fuuiih, dinginnya air subuh membuat mataku enggan menutup lagi. Segar sekali rasanya. Entah kenapa orang-orang pada malas untuk bangun pagi. Apalagi bila hari minggu, kakak pasti molor berkepanjangan. “Yan?” Kakak memanggilku. Pasti ia ingin menyuruhku membuatkannya kopi.
“Iya, ada apa, Kak?”
“Jangan pernah membuka pintu kamarku!”
“Hah? Maksudnya?”

Lagi-lagi kakak mengigau. Tapi sepertinya suara kakak berbeda. Perasaanku semakin tak enak. Dengan tangan yang gemetar dan hati yang was-was, ku coba membuka pintu kamar kakak, dengan harapan pintunya tak dikunci. Benar, tak dikunci. “Kak? Kak Man?” Kamar kakak gelap. Hanya sedikit pancaran cahaya lampu yang masuk dari ruang keluarga. Bulu kudukku mulai menjingkrak.
“Siapa yang menyuruh kamu masuk?” Suara kakak benar-benar beda. Begitu berat dan serak ku dengar. Aku semakin melangkah ke depan karena termakan rasa penasaran.

Tap!

Tangan kakak menggenggam betisku. Aku sangat terkejut. Dan risih, tentu saja. Aku kan sudah kelas 12. Tapi dingin kulit tangannya seakan membekukan keberanianku. Keringat dingin mulai merembes di telapak tanganku.

“Ka…kak?”
“Kau ingin mati?”

Mataku membelalak kaget. Wajah kakak lebih menyeramkan dari biasanya. Ia sangat beringas, seperti ingin membunuh. Tatapannya kosong dan kulitnya seakan membiru. Aku sangat takut dan gemetar. “Kakak kenapa?” Kakak membisu. Tangan kirinya menggenggam sebuah pensil. Aku tak mengerti. Apa ia mau menggambar? “Aw!” Kakak sudah gila. Ia menancapkan pensil itu ke betisku. Rasanya sangat menyakitkan. Kakak sepertinya ingin membunuhku. Apa yang terjadi dengan kakak? Sebaiknya aku lari dari dia dan melaporkan ini ke tetangga.

Sial! Pintunya tidak bisa dibuka. Aneh. Ku coba menggedor-gedor pintu ini dan berteriak minta tolong dengan harapan ada yang mendengarkanku. “Kau mau ke mana, Yani?” Gawat. Kakak sudah ke luar kamarnya. Dia berlari menuruni tangga dengan menggenggam pensil yang berlumuran darah. Aku histeris. Tak tahu harus berbuat apa. Aku tak menyangka di minggu pagi ini mengalami mimpi buruk. “Kau terlalu cantik untuk mati cepat! Bagaimana kalau kita bermain sebentar?”

Dengan langkah seperti Leatherface, membuat kakak semakin menakutkan saja. Aku harus menjauh darinya. Bisa-bisa ini akan menjadi pagi terakhirku.
“Ke dapur, eh? Sepertinya kau ingin bermain petak umpet…” Kakak tak mau kalah. Dia terus berjalan mengejarku. Untuk membuatku berhenti, ia lemparkan vas bunga tepat mengenai punggungku. Aku tersungkur di depan kompor.
“Bagaimana kalau mulusnya kulitmu ku ukir dengan pensil ini?”
“Aaaaaaaa!!”

Dia menerkamku. Ditancapkannya pensil itu ke tanganku dan ia pun mencoba menyoret-nyoretnya. Gila. Ini sakit sekali. Aku serasa ingin mati. Begitu banyak darah ke luar dari tanganku. Tuhan, tolong Yani! Kenapa Yani harus masuk ke dunia seperti Texas Chainsaw Messacre?
“Kau sudah menyusahkan kami selama sepuluh tahun! Kenapa kau tak ikut bersama orangtuamu di alam baka sana?! Ha?!”
“Tolooooong!!”

Terang. Ini cahaya lampu. Benar, cahaya lampu kamarku. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh di wajah Naruto. Akh! Tanganku sakit sekali. Perban? Berarti tadi bukan mimpi buruk?

“Kamu nggak mimpi, nduk…”
“Bi…bi? Bibi su…dah pu…lang?”

Sudah seminggu kami ditinggal berdua oleh bibi. Ada panggilan ke Jambi, katanya. Maklum, ia seorang PNS dengan gelar dokter. Ia adalah orangtua asuhku semenjak kejadian kelam sepuluh tahun lalu. Orangtuaku tewas dengan kedua mata tertancap sikat gigi. Sungguh, itu pemandangan tersadis yang pernah ku rekam dalam memori otakku. Bahkan aku sangat menyesal karena telah melihatnya. Sebab, itu membuatku trauma berkepanjangan. Gara-gara kejadian itu, aku jadi mogok makan, mogok sekolah selama sebulan. Entah kenapa aku tetap sehat setelah semua itu. Aneh betul diriku ini.

“Maafkan bibi pulang telat. Dan maaf bibi nggak menceritakan semuanya tentang Kakakmu itu…”
“Kak Marman?”
“Ia mempunyai penyakit, kalau bisa kita sebut ini penyakit, yang bila kita membangunkannya di saat pagi, jiwanya menjadi sangat terganggu dan membuatnya seperti seorang psikopat…”
“Psikopat?” Pikiranku betul melayang ke film-film thriller Hollywood. Psikopat itu lebih menakutkan, mendebarkan, dan mengerikan. Lebih dari hantu.
“Jadi bagaimana bibi menyadarkannya tadi?”
“Ia hanya perlu dibius dari belakang. Syukurlah ia tadi tak menyadari kedatangan bibi. Mustahil membiusnya dari arah depan!”

Aku menghela napas panjang. Tapi detak jantungku masih tak beraturan. Ku lihat wajah bibi dengan penuh rasa syukur. Tak terbayang jika ia tadi tak datang tepat waktu. Namun jika memikirkan kakak, aneh saja ia memiliki jiwa seperti itu. Tidak, bukan psikopat alami. Ini hanya masalah waktu dan situasi, tentunya. “Lain kali jangan pernah membangunkan kakakmu itu di saat pagi. Biar ia bangun sendiri. Bibi dulu pernah hampir dibunuhnya dengan penggaris besi. Perut bibi disobeknya. Untung ada teman bibi yang datang menyelamatkan bibi. Di situlah bibi tahu kalau ia memiliki jiwa psikopat di waktu tertentu…”

Aku termangu. Tak ku sangka harus tinggal serumah dengan seorang psikopat. Tapi aku harus tetap bertahan. Siapa lagi tempatku bernaung kalau bukan bibi? Aku tak punya siapa-siapa di Medan ini. Sanak saudara dari orangtuaku beralamat di Pekanbaru. Mereka semua masa bodoh kepadaku, tak ada yang peduli. Dasar para saudara bangs*t! Astagfirullah. Maafkan Yani, Ya Allah. Pikiran Yani jadi kacau. “Ya sudah. Kamu istirahat saja. Jangan banyak bergerak. Bibi mau mengurus Kakakmu yang dalam keadaan nggak sadar di kamarnya…” Aku tersenyum. Lega rasanya aku tidak mati pagi ini. Aku masih punya kesempatan untuk mengejar cita-citaku.

“Yan?”
Kakak? Ada apa ini? Kenapa mulutku tak bisa bersuara? Apa yang sedang terjadi? Kenapa kakak berlumuran darah?
“Cepat pergi dari sini…” Aku tak mengerti. Kakak begitu sekarat. Tangan kirinya putus, kakinya ditancap sebuah sikat gigi. Aku gemetar hebat. Panik yang akut, itu yang ku rasakan.

Bruk!

Kakak tersungkur di depanku dan darahnya mengalir menggenangi lantai kamarku. Aku ingin menjerit tapi tak bisa. Ku coba lari ke luar kamar. Yang ku temukan lagi-lagi sebuah sketsa mimpi pedih. “Yani…” Itu bibi. Ia tergeletak di lantai. Aku harus segera turun. Astagfirullah! Kedua kakinya terpisah jauh dari tubuhnya. Sebelah matanya juga berlumur darah. Sikat gigi lagi? Ya ampun! Sikat gigi ini bekas ditancapkan di mata bibi. Tidaaaaaak! Kenapa dunia psikopat ini terjadi lagi? Ya Allah, keluarkan Yani dari mimpi buruk ini!

“Sabarlah, Yani…” Suara itu. Itu suara…
“Kau akan keluar dari mimpi buruk ini. Emm, maksudku, kita!”
Itu aku. Aku melihat diriku sendiri dengan mimik menyeramkan. Menggenggam sikat gigi dengan tangan berlumuran darah. Jalannya sempoyongan. Seburuk itukah aku?
“Kita juga memiliki jiwa psikopat, Yani! Kitalah yang membunuh Ayah dan Bunda! Siapa sih yang suka diganggu tidur siangnya!? Ha!? Jawab aku!”
Ia mendekatiku. Menyudutkanku. Aku dicekiknya. Tidaaaaaak!!

Sudah gelap. Suara jangkrik telah bersahutan. Jam dinding ruang tamu memberi kabar ini pukul tujuh malam. Ternyata tadi hanya mimpi. Kecuali tewasnya kakak dan bibi, itu nyata. Rumah berantakan dan penuh darah. Bagian tubuh kakak dan bibi yang terpotong juga ku lihat. Aku hanya termenung dengan tangan menggenggam sikat gigi penuh darah.

Cerpen Karangan: Nanda Insadani
Facebook: Nanda Insadani
Psychotime adalah istilah yang saya karang sendiri untuk menyebut “Waktu dan situasi tertentu seseorang untuk menjadi seorang psikopat.”

Cerpen Psychotime merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rintihan Di WC Sekolah

Oleh:
Kala itu hari dimana libur akan tiba, aku selaku anggota OSIS di Suatu sekolah Menengah Pertama Negeri di Bandung, sedang melakukan persiapan Ospek untuk Siswa/siswi baru yang akan datang.

Pembantaian 3

Oleh:
Aku merangkak dalam gelap! Ketakutan semakin mencekam di lantai 3 itu, Dimana ruang kosong penuh misteri terhampar disana. Tak ada yang tahu, Mengapa hanya lantai itu yang dikosongkan! “Serius

Di sanalah Semuanya Berakhir

Oleh:
Ku susuri lorong belakang sekolahku, seusai jam kegiatan tambahan. Gelap menyelimutiku sore ini, membuat jantungku berdetak kencang. Bulu kudukku berdiri, mengingat betapa seramnya kisah masa lampau dari bangunan tua

Karena Mimpi

Oleh:
Menyeramkan. Malam ini mimpiku menyeramkan. Memang sekarang aku sedang berada di rumah sakit, papaku opname. Papa, cepat sembuh Pa. Aku bermimpi indah tapi setelahnya mengerikan. Aku takut. Karena terasa

Kereta Hantu Dari Blackwood

Oleh:
Jika bukan karena pekerjaannya, maka Rachel tidak perlu menghabiskan waktu tujuh hari untuk berdiam di sebuah kota kecil di tengah antah berantah itu. Blackwood. Ya. Siapapun yang mendengar nama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *