Pulang Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 10 August 2018

Malam semakin sunyi dan udara dingin terasa semakin menusuk. Sejak tadi juga tidak ada satu orang pun yang melewati jalan ini. Namun aku tetap melangkahkan kedua kakiku di tengah-tengah keheningan yang semakin mencekam. Seharusnya malam ini menjadi malam yang baik bagiku. Karena malam ini adalah ulang tahunku yang ketujuh belas tahun. Tapi bukannya menghabiskan malam merayakan ulang tahunku bersama dengan teman ataupun keluargaku, saat ini aku malah harus pulang berjalan kaki di malam yang sangat menyebalkan ini.

Karena besok libur sekolah, malam ini ketiga temanku mengajakku menonton film. Kebetulan sekali malam ini kedua orangtuaku sedang tidak ada di rumah, karena sejak kemarin mereka berdua menginap di rumah nenekku. Kupikir aku juga akan bosan jika berdiam di rumah saja, jadi aku putuskan untuk menonton bersama mereka. Yah, mungkin saja mereka akan merencanakan pesta kejutan untukku. Bodohnya aku tidak menanyakan film apa yang akan kami tonton. Pada akhirnya aku terpaksa harus menonton genre film yang sangat kubenci, horor-thriller.

Sepanjang film dipenuhi dengan adegan pembunuhan sadis yang membuatku mual. Aku memang tidak bisa melihat darah dan organ tubuh berceceran. Film itu bercerita tentang sosok pembunuh keji yang menghabisi orang-orang dengan sebilah celurit. Filmnya diputar pukul 10.30 malam dan berakhir pukul 12.00 malam. Selama itu aku terus menahan diriku agar tidak muntah.

Setelah filmnya selesai, aku langsung menuju ke toilet. Aku beralasan kalau aku ingin buang air, padahal di dalam toilet aku memuntahkan semua yang sudah kutahan selama satu setengah jam. Setelah aku keluar dari toilet, ketiga temanku langsung bersiap untuk pulang. Saat itulah aku tahu kalau mereka bahkan tidak mengingat hari ulang tahunku. Mau bagaimana lagi, begitulah mereka.

Aku mengendarai motorku kembali ke rumah. Ini aneh, padahal masih tengah malam, tapi jalanan sudah sangat sepi. Tiba-tiba saja laju motorku jadi melambat dan perlahan-lahan mesinnya mati. Sial, mesinnya bermasalah di saat yang tidak tepat. Aku terpaksa mendorong motorku dan berharap kalau bengkel langgananku yang ada di depan sana masih belum ditutup.

Setelah beberapa meter aku mendorong, akhirnya aku sampai juga di bengkel itu. Si montir memeriksa motorku sebentar dan dia bilang kalau harus ada barang yang diganti. Akan tetapi stok barangnya sedang tidak ada. Harus menunggu hingga besok pagi. Dia juga bilang kalau dia sedang ada urusan, jadi harus segera menutup bengkel. Setelah memasukkan motorku ke bengkelnya, dia langsung pergi begitu saja. Sial, kenapa aku tidak memintanya untuk mengantarku pulang.

Cukup lama aku menunggu di depan bengkel itu. Berharap ada seseorang yang lewat dan aku bisa menumpang sampai ke rumahku. Tapi tidak ada seorangpun yang lewat. Selain itu, aku juga merasakan kalau sejak tadi ada yang mengawasiku. Padahal tidak ada siapapun di sekitar bengkel, yang ada hanyalah kios-kios yang sudah ditutup. Lama-kelamaan aku menjadi tidak nyaman dan kuputuskan untuk berjalan kaki ke rumahku yang jaraknya sekitar 1 km dari bengkel.

Malam semakin sunyi dan udara dingin terasa semakin menusuk. Sejak tadi juga tidak ada satu orangpun yang melewati jalan ini. Namun aku tetap melangkahkan kedua kakiku di tengah-tengah keheningan yang semakin mencekam.

Sudah hampir setengah jalan, tapi kini kakiku terhenti. Di hadapanku terhampar begitu banyak pohon sawit yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan yang kulalui. Keadaan yang gelap dan suasana yang hening ini membuat pohon-pohon itu menjadi terlihat lebih menyeramkan. Entah kenapa aku menjadi setakut ini, mungkin ini efek karena aku baru saja menonton film yang juga menyeramkan.

Setelah menarik nafas, mulai kulangkahkan kakiku kembali. Namun baru beberapa langkah, aku mendengar suara yang sepertinya berasal sebelah kanan. Kuteruskan langkahku, mungkin itu hanya suara serangga atau hewan kecil lainnya yang ada di semak-semak. Tapi sedetik kemudian suara lainnya terdengar, kali ini dari sebelah kiri. Kupercepat langkahku, agar aku bisa segera melewati tempat ini. Namun lagi-lagi suara-suara itu terdengar, kali ini asalnya seperti dari segala penjuru. Lama-kelamaan suara-suara itu terdengar lebih jelas dan lebih menyeramkan. Seperti suara-suara teriakan. Bulu kudukku mulai merinding. Kalau sudah begini tidak ada cara lain lagi, lari…

Aku berhasil melewati tempat itu dengan selamat. Lagipula, apa-apaan itu tadi. Hah.. Masa bodoh, lanjut saja. Sedikit lagi juga sampai ke rumah. Namun ada sesuatu yang mengganggu pandanganku. Dari kejauhan aku melihat seperti ada seseorang yang berdiri di bawah tiang lampu jalan yang terletak di depan sekolah dasar. Semakin dekat, semakin jelas terlihat kalau memang ada seseorang di bawah lampu itu. Namun, aku tidak tahu siapa orang itu. Karena cahaya dari lampu itu yang terus-menerus mati dan menyala. Siapa orang itu dan sedang apa dia di sana.

Saat lampu mati, orang itu kemudian berjalan ke tengah, tepat di bawah sorot lampu. Saat lampu menyala kembali, aku bisa melihat jelas pakaian yang dipakainya. Orang itu memakai celana hitam dan juga jaket hitam dengan tudung. Kepalanya sedikit tertunduk, jadi aku tidak bisa mengenali siapa orang itu. Saat lampu mati lagi, samar-samar aku melihat orang itu mengangkat tangannya. Dia memegang sesuatu di tangannya. Saat lampunya kembali menyala barulah aku bisa melihatnya dengan jelas. Celurit, benda yang ia pegang adalah celurit. Tepat saat lampu itu kembali mati, orang itu langsung berlari ke arahku dengan mengangkat celuritnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari. Aku terus berlari secepat yang aku bisa.

Aku mengatur nafasku. Saat ini aku berada di bangunan tua yang sudah tak terpakai. Karena panik aku langsung berlari saja tanpa melihat ke belakang dan karena sudah kelelahan aku bersembunyi di tempat ini. Di sekitar sini ada banyak rumah dan bangunan tua yang sudah tak terpakai. Siapa sebenarnya orang itu? Aku tidak bisa kembali melewati jalan yang tadi. Mungkin saja orang itu akan mencegatku lagi. Sial, sepertinya aku harus mengambil jalan memutar. Baru saja aku berpikir kalau aku sudah berhasil lolos dari orang aneh itu, kini dia sudah berada di pintu masuk bangunan tua ini. Meskipun dia berdiri dalam kegelapan, aku masih bisa melihatnya. Dengan cepat aku berlari menuju pintu belakang. Tapi sial bagiku, pintunya tidak bisa terbuka. Aku mencoba untuk mendobraknya, namun percuma saja. Aku masuk ke salah satu ruangan dan bersembunyi di balik lemari yang ada di dalamnya.

Trakkkk…
Suara gesekan celurit dengan dinding bangunan itu bisa kudengar dengan jelas. Semakin lama semakin jelas, menandakan kalau orang itu semakin mendekat.
Siapa orang itu? Kenapa dia ingin membunuhku?
Pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Tapi tunggu dulu, penampilan orang itu sepertinya tidak asing. Ya, aku mengingatnya. Penampilannya sama dengan pembunuh yang ada di film yang baru aku lihat dengan teman-temanku. Kebetulan, tidak mungkin. Mungkinkah itu teman-temanku yang sedang mengerjaiku? Mungkinkah mereka melakukan ini sebagai pesta kejutan ulang tahun untukku? Aku sangat yakin kalau ini semua ulah mereka. Aku keluar dari persembunyianku dan kulihat orang itu berdiri sejarak beberapa langkah dariku.

“Aku tahu itu kalian!” teriakku. “Sudahlah teman-teman. Aku menghargai usaha kalian, tapi ini terlalu berlebihan.”
Orang itu tetap diam dan tidak berkata apa-apa. Ini semakin membuatku yakin. Tapi, sejenak kemudian orang itu mulai menggerakkan tubuhnya. Dengan cepat ia menerjang ke arahku dan mencoba menebasku dengan celuritnya. Untung saja aku berhasil menghindarinya. Satu hal yang aku sadari, orang ini bukanlah temanku, dan ia benar-benar berniat membunuhku.

Aku berlari ke pintu depan. Begitu aku keluar, hujan tiba-tiba turun begitu derasnya disertai dengan gemuruh petir. Aku terus berlari menjauh, namun belum terlalu jauh kakiku sudah terpeleset. Kurasakan sedikit nyeri di kaki kananku. Saat terjatuh aku sempat melihat ke belakang dan kulihat siluet orang itu berjalan ke arahku.

Hujan semakin deras dan suara gemuruh petir terus berdentum. Aku mencoba untuk bangkit, memaksakan kakiku yang terkilir. Setelah berhasil, aku langsung menggerakkan kedua kakiku. Aku berjalan dengan tertatih-tatih. Kulihat ke belakang, orang itu masih mengejarku. Aku terus memaksakan tubuhku bergerak di tengah guyuran hujan. Aku tidak ingin mati di sini.

“Tolong! Tolong Aku!” aku berharap ada seseorang yang mendengarku. Tapi percuma saja, di sekitar sini hanya ada bangunan-bangunan kosong. Derasnya suara hujan juga meredam suaraku. Orang itu berada tidak jauh di belakangku.

“Aaaahhhhh!!!” aku berteriak sekuat yang kubisa. Kupaksakan tubuhku untuk bergerak lebih cepat. Kuabaikan rasa sakit di kakiku. Aku mulai berlari. Saat kulihat ke belakang, tiba-tiba saja… aku melihat ada truk yang menabrak orang itu. Orang itu terguling-guling di aspal dan truk itu pergi begitu saja. Kulihat tubuh orang itu tergeletak di tengah aspal jalan. Sepertinya orang itu sudah mati. Aku menarik nafasku. Aku terkejut dengan kejadian itu. Namun di sisi lain, aku merasa bahagia. Aku masih hidup.

Hujan masih begitu deras dan suara gemuruh petir masih terdengar. Saat ini aku sudah berada di depan rumah tetanggaku. Karena kejadian yang barusan membuatku takut di rumah sendirian. Kulihat rumahnya sudah gelap, begitu juga rumah lainnya. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu tidur mereka, tapi aku tidak punya pilihan lain lagi.

Kuketuk pintunya beberapa kali, tapi tidak ada reaksi dari dalam rumah. Saat aku ingin mengetuk lagi, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri. Aku masuk ke dalam. Lampunya masih padam. Namun beberapa saat kemudian lampunya menyala. Pemandangan yang kulihat benar-benar membuatku terkejut. Di lantai rumah ini tergeletak tiga jasad dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Darah berceceran di setiap sudut. Sekejap kemudian kudengar suara pintu tertutup. Saat kulihat ke belakang, ada sesosok misterius memegang celurit berdiri di hadapanku.

MATI!

Cerpen Karangan: Dany Danger
Facebook: facebook.com/rama.dany.10690

Cerpen Pulang Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Soul of The Games (Part 1)

Oleh:
Lolongan binatang malam mulai terdengar sayup suara angin senja pun mulai terasa, terlihat beberapa anak-anak remaja yang sedang asik bermain beberapa video game online “lama kamu aku udah mau

Tikus Mutan dan Gadis Hantu

Oleh:
Sebuah got yang dipenuhi tikus mutan yang sangat ganas. Yang akan keluar mencari mangsa pada malam hari. Namun bila merasa terganggu mereka tidak akan segan-segan untuk menyerang walaupun itu

Suara Aneh di Rumah Kosong

Oleh:
Cerita ini aku dapet dari tetangga-tetangga yang biasa ngegosip. Gini ceritanya. Aku punya tetangga, dia itu tukang bakso keliling. Saat itu bulan puasa, jadi dia pergi jualan kelilingnya jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *