Pusaka Membawa Petaka (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 May 2016

Asap tebal pun mulai mengepul diiringi semerbak wangi harum dari dupa yang tertancap di bawah pohon beringin itu. Tak berapa lama..

Dessssshhhh!!

Sebuah letupan kecil terjadi dari bawah sekitar akar pohon beringin itu. Terlihat sebuah sinar berwarna merah ke luar dari dalam letusan itu, melesat terlempar ke atas dengan sangat cepat. Dengan sigap aku dan Farid langsung berlari mengejar ke mana benda bersinar itu terlempar. Dengan membawa sebuah lampu senter di tangan, aku dan Farid mulai mencari-cari dan menyibakkan semak belukar tempat di mana benda bersinar itu jatuh.

“Yups.. dapat Van..” ujar Farid padaku. Aku pun segera mendatanginya dengan tergopoh-gopoh, dan coba melihat benda apa yang sedang dipegangnya itu.
“Wah! batu akik lagi ternyata ya Rid?” kataku, seraya ku ambil dari genggamannya. Batu akik itu berwarna merah dan bening. Ukurannya tidak terlalu besar, cuma seukuran kelereng kecil, tapi bentuknya gepeng dan agak menggembung di satu sisinya, khas batu akik pada umumnya.

“Gimana? ketemu gak guys?” Alif berteriak memanggil kami berdua dari kejauhan. Lalu spontan kuacungkan Ibu jari tanganku pada Alif. Aku dan Farid pun segera berjalan mendatanginya kembali. Lalu tak seberapa lama, kami bertiga beranjak pergi dari tempat itu untuk pulang. Malam itu kami mendapatkan tiga buah batu akik dan satu buah keris kecil tiga luk dari hasil menarik pusaka di sekitar pohon beringin tersebut.

Sesampainya di rumah menjelang subuh, aku langsung memfoto benda-benda pusaka hasil ‘tarikan’ tadi dengan kamera DSLR di kamarku, untuk selanjutnya ku upload di katalog website kami. Setelah selesai aku pun segera merebahkan tubuhku di kasur untuk tidur. Ku lihat Farid dan Alif sudah terlelap dari pertama kami datang, terdengar dengkurannya. Ya.. Perkenalkan, namaku Irvan Kami satu grup. Aku, Farid dan Alif. Kami bertiga saat ini punya sebuah usaha sampingan, yaitu mengelola sebuah website yang bergerak di bidang jual beli benda pusaka-pusaka serta menerima jasa penarikan pusaka.

Tadinya, cuma aku dan Farid yang mengelola, dan hanya sebatas pada jual beli pusaka saja. Tapi semenjak kami berdua berkenalan dengan Alif sekitar tiga tahun yang lalu di sebuah forum supranatural di internet, Alif akhirnya bergabung dengan grup kami. Maka website kami pun jadi menerima order jasa tarik pusaka juga, karena Alif mempunyai kemampuan tersebut, yang memang turunan dari kakeknya yang berprofesi sebagai paranormal kawakan di Bogor. Lima tahun sudah usaha website kami berjalan. Alhamdulillah, sampai hari ini usaha kami berjalan dengan lancar. Minimal tiap dua hari sekali ada saja transaksi jual beli, dan tiap minggu sekali ada saja orderan tarik pusaka. Hingga setahun yang lalu kami sudah bisa membeli sebuah mobil walaupun second, untuk keperluan operasional kami.

Berbagai kejadian mistis atau penampakan-penampakan sudah sering kami alami, baik yang sifatnya biasa saja atau kadang yang ekstrim. Aku sudah mulai beradaptasi dan sudah terbiasa dengan semua itu, karena prinsipku, kami sedang bekerja untuk mendapatkan uang, bukan hanya sekedar uka-uka yang cuma membuang-buang waktu saja. Jadi orientasinya sudah beda. Dan sampai saat ini pun kami bersyukur masih aman–aman saja, karena Alif cukup punya mempunyai bekal ilmu yang mumpuni pemberian kakeknya itu. Walaupun begitu, kami tetap berusaha untuk selalu ‘bermain’ aman. Sebagai contoh, Alif selalu menggunakan ‘madat’ dalam setiap proses penarikan pusaka, walaupun harganya relatif mahal.

Karena menurutnya ‘madat’ sangat disukai oleh Jin, khodam atau mahluk-mahluk halus lainnya, dan juga sebagai media barter yang pas tanpa harus bertarung dahulu dengan ‘mereka’ untuk mendapatkan pusaka yang kita inginkan tersebut. Segala keperluan tektek bengek untuk ritual, bahan, transport, dan biaya tak terduga lainnya, biasanya kami bebankan kepada sang pengorder. Jadi, kami hanya menerima upah bersih jasa penarikannya saja. Mulai dari dua juta sampai sepuluh juta rupiah, tergantung dari tingkat kesulitan dan kesepakatan kita sebelumnya. Proses tarik pusaka bisa langsung dilakukan di lokasi atau cukup dengan mengambil dan membawah media ‘tanah’nya saja, sedangkan proses penarikannya bisa dilakukan di tempat lain.

Dan kebanyakan pengorder minta kami menarik pusaka di tempat lain. Karena terkadang tanah atau lokasi yang disinyalir mengandung energi pusakanya berada tepat di pemukiman padat penduduk, sehingga untuk menghindari pandangan-pandangan negatif dari penduduk sekitar lokasi, maka sang pengorder memlilih proses penarikan di tempat lain saja kepada kami, hanya cukup dengan membawa segenggam tanahnya dari lokasi tersebut. Paling sering kami menyewa tempat rekreasi yang masih banyak hutan dan pohon-pohonnya, seperti lokasi outbound atau tempat kemah-kemah para pramuka. Yang penting jauh dari pemukiman penduduk.

Prosedur sebelum penarikan pusaka tentu saja yang paling pertama adalah pendeteksian. Mendeteksi ada atau tidaknya energi pusaka dari lokasi yang dipilih pengorder. Bagi yang punya ilmu batin mungkin itu perkara mudah, tapi bagaimana halnya dengan orang awam? tentu saja itu perkara susah. Tapi bersyukurlah kita sekarang hidup di zaman teknologi yang sudah maju dan modern. Cukup hanya dengan sebuah kamera digital atau kamera handphone, pengorder bisa memfoto lokasi ‘dicurigai’ mengandung energi pusaka tersebut.

Lalu, foto tersebut bisa dikirim melalui email kepada kami, yang nantinya akan diterawang fotonya satu persatu oleh Alif. Tentu saja pengorder dikenakan biaya untuk pendeteksian, karena proses penerawangan pun membutuhkan energi dan waktu. Biasanya, untuk setiap sepuluh foto yang dikirimkan dengan lokasi yang berbeda, pengorder kami kenakan charge sebesar seratus ribu rupiah. Lalu bagaimana jika si pengorder sudah mengirimkan berpuluh-puluh foto, tapi hasilnya nihil alias tidak ada satu lokasi pun yang mengandung energi pusaka pada foto-foto yang dikirimkannya itu?

Tenang saja… Kami hanya membatasi sekitar tiga puluh foto yang masuk dari satu pengorder. Jika memang hasilnya nihil. Pengorder bisa menjemput kami di basechamp untuk melakukan survei langsung ke lokasi yang pengorder inginkan, setelah sebelumnya melakukan perjanjian terlebih dahulu dengan kami, dan tanpa dikenakan biaya pendeteksian lagi. Biasanya, jika kami yang survei langsung, sembilan puluh sembilan persen akan berhasil didapatkan lokasi pusaka tersebut, dan lucunya lagi terkadang lokasi yang mengandung energi pusaka itu cuma berjarak beberapa meter saja dari lokasi yang pernah difoto dan dikirimkan kepada kami. Hanya dikarenakan berada di luar frame foto tersebut. Untuk kegiatan jual beli, kami open setiap hari setelah aku pulang kerja. Sedangkan untuk order tarik pusaka, itu hanya pada hari sabtu dan minggu malam saja.

Oh.. ya.. basechamp kami adalah di rumahku, tepatnya di kamarku, yang sudah ku tata sedemikian rupa sehingga mirip dengan sebuah kantor mini. Ada meja kerja lengkap dengan sebuah komputer desktop sebagai server dan sebuah printer di atasnya. Belum lagi rak–rak lemari arsip berisi file-file kegiatan grup kami, dan tentu saja ada sebuah ruangan khusus tempat menyimpan berbagai jenis benda pusaka untuk dijual dan beberapa sekedar untuk koleksi. Ruangan itu sudah dinetralisir oleh Alif, dan sudah ditempeli sebuah rajah dari kulit kijang pada pintunya.

Hari itu hari minggu, hari libur kami kerja. Sedari pagi, Alif dan Farid sudah datang ke rumahku dan sudah berjam-jam lamanya mereka tengah asyik main game Playstation berdua. Sedangkan aku sibuk sendiri di depan komputerku merapikan beberapa file di drive komputerku dan mengupdate katalog pusaka di website kami, kebetulan beberapa hari yang lalu kami membeli sejumlah benda pusaka dan belum sempat ku upload ke katalog web, sedangkan pusaka yang sudah terjual aku remove dari katalog.

Ketika kami sedang tenggelam dalam kesibukan kami masing-masing. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Segera saja ku lihat ke layar handphone-ku siapa gerangan yang menelepon. Ku lihat tidak ada namanya, berarti belum ada dalam kontak simcard-ku. Tapi nomor ponsel yang menghubungiku itu sangat cantik, Ya! sangat cantik dan berurutan sempurna!! aku berpikir mungkin ini bukan orang biasa. Tak lama ku angkat teleponku, terdengarlah suara khas bapak-bapak di ujung telepon sana.

“Halo, selamat siang.. betul ini dengan Mas Irvan pemilik website pusakaoxxx.com?’ tanya suara itu.
“Ya.. betul Pak. Ada yang bisa saya bantu Pak?” jawabku menimpali.
“Perkenalkan, nama saya Pak Purwo Sasongko, pemilik Galeri Kerxxxx,’ ucapnya mengenalkan diri.

Deg!! Aku tersentak sedikit kaget setelah mendengar namanya di telingaku. Siapa yang tak kenal dengan dia!? Beliau adalah seorang pengusaha konglomerat sekaligus seorang kolektor dan pemerhati seni terkenal di negeri ini. Pemilik Galery Kerxxx yang terkemuka itu. Beliau kerap sering muncul di televisi sebagai narasumber atau konsultan tentang kebudayaan ataupun sejarah tentang benda-benda seni, termasuk benda-benda pusaka.

Aku kaget bercampur was-was, ada apa gerangan ini!? sampai-sampai ada seorang tokoh terkenal dan berpengaruh di negeri ini yang tiba-tiba saja menelepon kami. Setenar itukah nama website kami sekarang!? Aku memberikan isyarat kepada Alif dan Farid supaya mereka menghentikan main gamenya terlebih dulu. Mereka berdua pun segera mendekatiku dan duduk di sampingku, lalu handphone-ku loudspeaker agar meraka berdua juga bisa mendengarnya juga. Pak Purwo Sasongku pun melanjutkan bicaranya.

“Baru-baru ini saya mendengar tentang Grup kalian sedang ramai dibicarakan di internet dan website kalian juga banyak yang mengunjungi,”
“Awalnya saya tidak tertarik sedikit pun dengan rumor tentang grup kalian, tapi setelah kolega saya menceritakan bahwa grup kalian bergerak di bidang pusaka maka saya pun langsung tertarik, dan meminta anak buah saya untuk mencarikan informasi dan kontak tentang kalian, hingga saya bisa menelepon kalian sekarang,” ujarnya.
“Saya juga merasa bangga dengan kalian, pasalnya walaupun kalian masih muda-muda tapi kalian sudah mengenal, mempelajari bahwa sampai bisa berbisnis di dunia kepusakaan. Persis dengan apa yang saya lakukan dulu waktu masih muda,” terangnya memuji.

“Ehm. terima kasih Pak atas pujiannya pada kami. tapi, jujur.. kami merasa tersanjung saat ini sekaligus was-was karena seorang tokoh seperti bapak bisa sampai menghubungi kami. Ada hal apa yah Pak?” ungkapku terus terang kepadanya. “Hohoho!! kalian gak usah takut pada saya. Saya tidak akan menculik kalian kok,” candanya yang membuat kami makin penasaran dan bimbang.
“Saya menelepon kalian bukan tanpa sebab, tapi saya ada perlu dengan kalian. Ada bisnis! ada kerjaan untuk kalian!”
“Ehmm.. pekerjaan seperti apa yah Pak?” tanyaku lagi. Alif dan Farid pun saling memandang dan makin mendekatkan telinganya ke dekat handphone-ku.
“Betul kalian bisa menarik pusaka?” tanyanya serius.
“Betul Pak!”

“Kalau begitu, saya ada tawaran menggiurkan untuk kalian. Saya minta kalian untuk menarikkan sebuah pusaka buat saya. Saya sudah mempunyai media tanah dan lokasi untuk nanti waktu penarikannya, tinggal kalian yang atur kapan waktu untuk melaksanakannya. Urusan keperluan untuk ritual dan lain-lain sebagainya, saya yang tanggung. Tinggal hitung saja berapa? nanti saya email kalian. Saya akan kirim foto tanahnya dan kalian segera balas pada saya berapa biaya yang diperlukan untuk keperluan ritual. Jangan sungkan-sungkan! karena saya sangat menginginkan keberhasilannya, uang tidak masalah. Kirim juga nomor rekening kalian untuk nanti saya transfer uangnya,”

“Nanti saya akan transfer uang untuk biaya operasional plus uang bonus cuma-cuma untuk kalian sebagai perkenalan dari saya sebesar dua puluh lima juta rupiah. Dan nanti jika kalian sampai berhasil menarik pusaka tersebut, saya akan berikan uang satu milyar rupiah kepada kalian!! Bagaimana? Mau?” pungkasnya, yang membuat kami seakan mau langsung pingsan saja dibuatnya setelah mendengar kata-katanya tersebut. Aku tak bisa jawab apa-apa dulu, aku masih terbayang-bayang perkataannya barusan. Ini nyata atau sedang mimpi? batinku. Begitu pun dengan Alif dan Farid, mereka juga hanya diam membisu sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Seakan sedang membayangkan menghitung uang satu miliar rupiah di pikirannya.

“Halo? Halo? Mas Ivan, apakah masih di sana?” suaranya kembali terdengar di speaker handphone-ku memecah lamunan kami. “Oh iya Pak! masih. Maaf Pak!?” jawabku cepat.
“Jadi, bagaimana Mas? mau!?’ tanyanya lagi.
“Tenang saja Mas Ivan, saya gak mungkin bohong. Uang segitu buat saya gak seberapa. Hahaha..” ucapnya menyombongkan diri.

Ya.. memang aku juga percaya beliau tak mungkin bohong. Uang segitu tidak ada apa-apanya buat dia. Karena aku pernah mendengar rumor di infotainment kekayaannya ditaksir hampir lima triliun rupiah. GILA!!! Aku berpaling ke arah Alif dan Farid, memberikan isyarat untuk menunggu keputusan dari mereka, terutama kepada Alif. Setuju atau tidak!? itu saja. Lalu tanpa ragu-ragu Alif dan Farid pun menunjukkan ibu jarinya padaku secara bersamaan, itu tanda yang memang ku harapkan.

“Oke, baik Pak.. kami terima.”
“Tim kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk Bapak!” jawabku mantap.
“Baik, terima kasih kalau begitu. Nanti saya email kalian satu jam dari sekarang. Semoga sukses!!” dia pun mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya.
Tut..tut..tut..

Kami bertiga segera berdiskusi lagi mengenai job kakap ini. Rencana demi rencana kami tuliskan di secarik kertas sambil menunggu email dai Pak Purwo. Tak lama aku dan Farid beranjak menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang kami, sedangkan Alif beranjak menuju ke ruang khusus tempat penyimpanan pusaka, mungkin untuk bermeditasi sebentar sebelum waktu makan siang tiba. Selesai makan siang kami pun segera kembali beranjak ke meja kerja kami. Alif tiba-tiba menuturkan padaku dan Farid, bahwa firasatnya mengatakan kalau job kali ini akan jauh lebih berat dan lebih bahaya dari biasanya. Lalu ku tanyakan kembali kepadanya, apakah dia merasa sanggup atau tidak? karena dialah ujung tombak dan eksekutornya di grup ini, sedangkan aku dan Farid hanya mengerti masalah umum dan marketing saja. Tapi Alif bilang, dia sanggup walaupun tampak raut keraguan di wajahnya.

Tak berapa lama email dari Pak Purwo datang juga, lalu Alif memintaku untuk segera mencetak foto kiriman Pak Purwo itu di printer. Setelah diprint out tanpa basa-basi lalu dibawanya ke ruang tempat pusaka untuk segera di deteksi dan diterawang. Sedangkan aku langsung mengirimkan balasan kepada Pak Purwo mengenai rincian biaya operasional yang tadi kami buat dan sudah ku ketik sekaligus memberi nomor rekening grup kami. Karena job ini menurut Alif tergolong lebih berat dan berbahaya dari biasanya, maka perincian pada pembelajaan bahan-bahan untuk ritual kami besarkan budget-nya, terutama pada pembelian madat, kali ini kami akan menggunakan madat super kualitas nomor satu, ditambah beberapa bahan lain yang biasanya tak pernah kami gunakan dalam proses penarikan.

Seperti beberapa minyak khusus ritual berbagai jenis dan sepasang ayam cemani, yang tentunya mahal harganya. Hingga total budget mencapai dua puluh juta rupiah! tapi sesuai pesan Pak Purwo agar kami tidak sungkan-sungkan dan juga sebagai langkah antisipasi dan juga untuk keamanan kami bersama. Sehingga bahan untuk ritual kami kali ini tergolong lengkap. Mudah-mudahan aman. Satu jam kemudian ku lihat Alif membuka pintu dan ke luar dari ruang pusaka itu. Dia pun kembali duduk di meja kami berada, dengan raut muka yang lesu dan keheranan. Tak seperti biasanya.. kalau biasanya bila ia selesai menerawang dia akan segera berkata-kata dan menunjukkan raut muka gembira. Tapi kali ini sungguh beda sekali adanya. Segera saja aku pun bertanya pada Alif.

“Kenapa Lif, kok muka lo jadi lesu begitu? tumben-tumbenan, gak seperti biasanya..” tanyaku.
“Iya nih guys.. tadi waktu gue meditasi dan coba menerawang foto ini, kok gak seperti biasanya yah?” jawabnya masih dengan raut muka keheranan.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nanay Dorman
Facebook: nanaymalmsteen13[-at-]gmail.com
Nama Lengkap: Nana Suryana
Nama Panggilan/Pena: Nanay Dorman

Cerpen Pusaka Membawa Petaka (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lantai 66

Oleh:
Namaku Hendra. Aku bekerja sebagai karyawan di PT Indah Sari. Aku bertugas di lantai 65 sebagai karyawan management. Saat gedung selesai direnovasi, aku dan temanku, Reza yang bekerja di

Ireumi Mwoyeyo (Part 1)

Oleh:
“Anyyeong haseyo (Selamat pagi)?” katanya menyapaku. Aku hanya tersenyum dan duduk di sampingnya. “Anyyeong haseyo,” balasku hangat. “Jung-Sin, kau masih suka latihan menyanyi?” tanyanya – Min-Ah – sambil menggenggam

Jogjakarta

Oleh:
Aku masih menyusuri jalan ini, jalan yang tak akan pernah membuatku merasa bosan untuk melewatinya. Pedagang-pedagang kaki lima, tukang becak, mbok-mbok penjual gudeg, dan kusir delman yang semuanya seperti

Biola Kematian

Oleh:
Slrepp… angin berdesir kencang menerbangkan dedaunan kering. Hawa yang mulai terasa berdebu, mendung nan menggelarkan aura gelapnya, kian menambah aura kosong. Sepasang kekasih yang sedang menjalin cinta dengan sandaran

Ketenangan Yang Mematikan

Oleh:
Namanya Ryan Toxic seorang pecandu nark*ba dan sangat tergila-gila dengan barang yang satu itu. Temannya bernama Gebi Long berencana untuk membeli barang haram tersebut kepada seorang bandar yang mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Pusaka Membawa Petaka (Part 1)”

  1. Renata says:

    WOwh…. ini cerita paling keren beken ke 2.. cerita yang sangat berbobot spt nyata!! Bikin lagi dongggggg,, jadi pengen baca terus…

  2. niluh says:

    Ceritanya keren kayak beneran tapi terlalu panjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *