Queer (Coquettish Girls)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

Suara jeritan murid-murid perempuan terdengar bergemuruh memecah keheningan ruang laboratorium. Mereka begitu hebohnya saat melihat seorang murid baru pindahan dari SMA di Kota Bandung. Namanya Riki. Perawakannya bisa dibilang atletis untuk ukuran anak kelas XI. Ditambah lagi, wajah orientalnya yang menjadi daya tarik dan warna kulitnya yang putih dan bersih.

“Siapa sih yang nggak silau sama dia? Duhh… Ganteng banget,” ujar Delina si gadis cerewet yang kerap mencuri perhatian banyak orang.
“Hmm… Dia kayak Engkoh-Engkoh Cina ya? Manis banget. Aku jadi pengen cepet-cepet kenalan,” sahut Alya sembari membetulkan kaca mata dengan frame pink-nya itu. Desas-desus terdengar di sana-sini di kubu murid perempuan. Membuat kubu murid laki-laki gerah dan kesal dengan tingkah yang mereka anggap lebay itu.

“Woy! Berisik. Kerjain tugasnya jangan pake mulut dong!” kritik Vino si wakil ketua OSIS sekolah.
“Tahu nih. Kayak nenek-nenek aja doyan ngomong. Mentang-mentang ada yang bening,” sambung Rozak siswa penggemar matematika yang mengenakan kacamata minus.
“Heh! Terserah kita kita dong mau gini atau gitu. Bukan urusan kalian,” protes Delina sambil melipatkan tangan di depan perutnya. “Dasar kepo. Bilang aja sirik,” sambungnya kemudian ia dan teman-temannya kembali ke aksi hebohnya.

Tiba-tiba, Pak Ruli guru biologi pun masuk ke dalam lab dan memarahi kerumunan murid-murid perempuan dengan aksen Manadonya yang khas. Kubu murid laki-laki pun berdesus, saling tertawa kecil meledek mereka yang kena semprot amarah Pak Ruli. Hari pertama Riki belajar di sekolah barunya. Ia merasa kurang nyaman karena banyak gadis di kelas memperhatikannya. Ia duduk sebangku dengan Billy si siswa pencinta alam yang supple dan ramah. Sehingga ia cukup diuntungkan dengan hal itu, karena Billy adalah orang yang enak diajak bicara. Jadi ketidaknyamanannya itu dapat sedikit terusir.

“Hai, Riki! Mau makan ya?” tanya Delina bersama Yeni, Alya, dan Meli mengagetkan Riki yang hendak memasukkan sesendok kuah bakso yang ia pesan. Kelakuan empat cewek yang dianggap ‘norak’ oleh Riki itu memang kerap mengganggu kenyamanan dirinya. Saat belajar di kelas. Saat jam olahraga. Saat latihan basket. Mereka bagai hama pengganggu yang merugikan bagi Riki. Di lapangan basket. Empat sekawan itu terlihat penuh semangat menggerak-gerakkan badannya. Dengan mengenakan kostum mini dan pom pom yang masing-masing mereka pegang di kedua tangannya. Mereka sedang menari cheerleaders guna bermaksud menyemangati Riki yang sedang bertanding basket.

“Centil banget Rik, fans-fans lo!” sahut Aji di jeda istirahat.
“Tahu gue. Enek lihatnya,” ujar Riki sambil meminum isotonik. Tiba-tiba keempat cewek centil milenium itu mendekati Riki dengan rona rona penuh kehebohan. Beruntung, wasit menyuruh semua pemain untuk kembali bertanding. Raut kekecewaan pun terpancar dari wajah-wajah gadis itu.

“Yeee!!!!”
“Iye…iye..iye!”
“Aaaaa…”
Teriakan keempat gadis itu semakin menjadi mana kala tim basket Riki berhasil memenangi laga.
“Rik, genitin mereka dikit napa! Kasihan tuh… Hahahaha,” gurau Arfhan dengan senyum gelinya. Karena tertantang. Riki pun mengedipkan mata kanannya ke arah empat gadis centil itu.

“Wuaaa… Haduhh…. Dia ngedip,”
“Iiii… Ke gue deh dia,”
“Aaaaa,” Jeritan jeritan heboh kian menjadi gara-gara kedipan mata Riki. Lalu Riki dan rekan timnya pergi ke ruang ganti baju sambil tertawa geli. Sementara empat gadis itu saling berlarian dengan genitnya ke lorong lantai dua.

“Dia ngedipin matanya… O em ji,” sahut Delina.
“Iya… Aduhh manis banget. Ke gue deh kayaknya,” ujar Yeni.
“Enak aja. Ke gue tahuu!!” gerutu Meli.
“Nggak. Orang dia ke gue kok,” timpal Alya.

Adu cek-cok mulut pun tak terelakkan dari mulut-mulut penuh ego itu. Tiba-tiba, tanpa mereka sadari. Belokan menuju lorong selanjutnya sudah tepat di depan mata. Namun karena keasyikan berdebat kaki-kaki mereka saling bersenggolan dengan tembok penghalang lalu Delina dan Alya pun jatuh tersungkur. Jerit-jerit heboh kecentilan kini berubah menjadi jerit-jerit kengerian. Lengan Alya dengan spontan menarik kaki Meli sehingga Meli ikut tersungkur. Sementara Yeni tak dapat menjaga keseimbangan dan menyebabkan ia juga ikut tersungkur.

BRUK!
BRUK!
BRUK!

Satu per satu dari keempat gadis centil itu jatuh menimpa lantai halaman sekolah. Seluruh murid dan guru guru pun panik dan buru-buru menuju lokasi kejadian. Jerit kepanikan pun mulai bergemuruh menyelimuti tragedi beruntun itu. Darah merembes dari tubuh keempat siswi itu. Beberapa siswi lainnya bahkan sampai jatuh pingsan tak sadarkan diri. Riki beserta rekan-rekannya datang ke lokasi kecelakaan itu. Betapa terkejutnya ia kala memandangi sosok-sosok gadis yang selama ini setia menggemarinya terbujur kaku bersimbah darah akibat terjatuh.

“Coba aja gue gak berkedip ke arah mereka,” ucap Riki menyesal.
“Itu bukan salah Loe Rik, udah takdirnya gini juga kali.” sahut Vino selepas dari pemakaman gadis-gadis malang itu.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Queer (Coquettish Girls) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pilih Yang Mana

Oleh:
“Hari ini gue baper banget sih!! Cuma gara-gara kuliah sama organisasi doang! karena gue bingung harus gimana, kuliah sama organisasi itu bentrok, jadinya kalau kuliah yang ditinggalin, nanti organisasi

Saat Terakhir di Stasiun

Oleh:
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya

Jones

Oleh:
Namaku Deon, tubuhku tinggi, memiliki gigi gingsul yang membuat saya lebih menarik dari siapapun. (yaelah PD amat). Aku ganteng, yaap setidaknya aku lebih ganteng dari pemain sepak bola asal

Angan Tak Sampai

Oleh:
Koridor sekolah nampak ramai. Bagaimana tidak, hari ini adalah pengumuman penerimaan siswa baru. Yup! Papan pengumuman sudah penuh dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Hampir saja ia ditabrak-tabrak puluhan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Queer (Coquettish Girls)”

  1. Nanda Insadani says:

    Loh kok kayaknya berlebihan banget ya… cuma jatuh doang gara2 ngeributin cowok, malah mati bersimbah darah? Terasa dipaksain gitu.

  2. Inayahonly says:

    gua tau maksud amanat nya itu , bukan berlebihan memang makna amanatnya itu tersirat

  3. vany says:

    kurang dapet klimaksnya deh, ceritanya singkat bgt

  4. Nabila Rosalina P.C says:

    Ini yg nulis Novel Black Reminsence Fantasteen Scary kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *