Rara and Ray

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 11 August 2016

25 Mei 2000
Bertepatan dengan hari ulang tahunnya Rara bersama sang ayah pindah rumah di bandung, berat rasanya meninggalkan kota cirebon, kota dimana ia dilahirkan.
Di sebuah rumah dekorasi belanda dengan perabot eksterior serta dinding yang memberikan ciri-ciri klasik di zaman kolonial belanda, terkesan unik.
Saat ayah pergi bekerja di sebuah kantor, Rara masuk ke sebuah ruangan piano, tempatnya sangat usang dipenuhi debu dan sawang.
Sepertinya tempat ini tempat rahasia fikirnya gadis kecil yang kini berusia 6 tahun.

“I Hate you” teriak Luc hantu yang seumuran dengannya menangis histeris karena ia tak suka rumahnya ditempati oleh penduduk pribumi.
Rara tampak ketakutan melihat Luc dipenuhi dengan darah, Rara mundur langkah demi langkah sampai mentok ke tembok.
“Jangan makan aku!” Jawab polos Rara, Luc yang tadinya ingin mencakar Rara dihalangi oleh sang kakak, Ray.
Stop!” Bentak Ray, kepada Luc.
“Why” Tanya Luc.
“She is verry kind” Ray berusaha meyakinkan Luc.
“Really?” Tanya Luc, tersenyum lega.
“Yes” jawab Ray, sembari memandangi wajah lugu Rara gadis kecil nan mungil.
“Hy what is your name?” Tanya Luc.
“Aku tidak mengerti bahasa hantu” Ucap Rara gadis polos itu.
“Oke aku ingin berteman dengan kamu, siapa nama kamu?” Tanya Luc sambil menunjukkan gigi taring.

Rara terkejut ia baru menyadari Luc semakin dekat.
Rara tampak ketakutan dan pergi menuju kamarnya, ada sejuta pertanyaan di benaknya, siapa? Kenapa dia menakutiku, kenapa mereka tiba-tiba muncul, apakah dia hantu?… Blablabla.

“Ka kenapa manusia tidak ingin berteman dengan kita?”
“Kita berbeda Luc, sebaiknya kita pergi dari sini” kata Ray.
“No, I missing my mother, my father, my home” Luc menangis.

Ray memeluk adiknya sambil berfikir sekarang ia sebagai apa? Ia terus mencari jati dirinya, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka adalah Vampire pengisap darah manusia dan hewan.
Kejadian itu dibuktikan, pada sore hari Ray dan Luc bermain di taman lalu lintas ia mendapati seorang anak kecil yang jatuh dari sepeda, dan lututnya berdarah, mereka mengisap darah anak itu hingga anak itu tewas.

“Sluurrrp” Suara hisapan darah.
“Aaaarrrrgh” desah nafasnya sangat terdengar jelas layaknya Vampire pada umumnya.

Keesokan harinya saat Rara ingin meminum susu tiba-tiba gelasnya pecah dan Rara segera membereskan pecahan gelas itu, pecahan gelas melukai tangan mungil Rara.
Luc yang mencium aroma darah segera melewati koridor dan mencari asal bau anyir itu, ia mendapati Rara yang jarinya dilumuri darah.
Luc begitu semangat secepat kilat berada di belakang Rara, Ray menutup hidungnya dengan masker dan menahan aroma darah segar itu menggeret paksa tubuh Luc dan menghilang pergi ke tengah hutan dan pertikaian terjadi.

“Munafik!” Maki Luc.
“Kamu sadar? Siapa pemilik darah yang ingin kamu hisap?” Tanya Ray.
“Eeeeum… Tapi kak?” Jawab Luc ngeyel.
“Manusia yang kamu anggap temanmu, apakah kamu tega melukainya?”
“Ya mengerti kakak pasti jatuh cinta kepada manusia itu kan?” Tanya Luc senyum kecil.
“Entahlah, yang pasti rasa sayang itu tumbuh seperti kakak yang menyayangimu” Jelasnya kepada Luc.
“Baiklah” Ucapnya.

Pagi hari pukul 09:00
“Ayah jangan pergi Ra takut” kata Rara.
“Anak ayah takut kenapa?” Tanya Ayahnya.
“aaaaah itu disitu ada hantu yah” jawab Rara.
“Hantu itu tidak ada Ra” Ucap sang ayah.
Sambil membuka ruangan piano itu.

Rara tak mengerti kekuatan apa yang ada di rumah ini? Ia melihat ruangan itu bersih dan rapi. Angin sepoy-sepoy membuat Rara mengantuk.

“Ayah akan mengajarimu bermain piano supaya kamu tidak kesepian” Kata ayah sambil memangku Putri kecilnya.
“Benarkah ayah?” Tanyanya.
“Iya sayang”

Lalu apa yang terjadi…
Rara mengikuti nada yang ayahnya lantunkan persis tanpa ada nada yang salah. Sang ayah heran secepat itukah anaknya dengan lihai bermain piano dengan menggerakkan bahu seolah terhipnotis dalam alunan tersebut.

Di sebuah taman rumahnya, Rara bermain ayunan ditemani oleh ayahnya, tiba-tiba suara ponsel berbunyi, ia langsung mengangkat telepon dan melangkahkan kaki ke taman belakang. Ia hampir menginjak 2 makam yang bersebelahan, setelah telepon mati, ia mengamati makam dengan batu nisan yang bertuliskan Ray dan Luc, ayahnya terkejut dan segera menghampiri putri kecilnya.

“Ra kamu jangan bermain di taman belakang ya disitu sepi” Perintah ayah lalu menggendong Rara membawanya masuk ke dalam kamarnya, lalu sang Ayah pergi bekerja.

Kamar Rara…
“Hay namaku Luc dan ini kakaku Ray” ucap Luc
“Aku Rara” Ucap Rara.
“Aku janji tidak akan menakutimu lagi” ucap Rara.

Mereka bermain di ruang piano sampai pada malam hari pukul 12 Ayah baru pulang dan menemui anaknya yang tertidur di ruang piano, sang ayah lalu menggendong Rara dan membawanya ke kamar.

Pagi hari pukul 09:00
Ayah lebih awal berangkat kerja,
“Sayang ma’afin ayah ya yang gak bisa nemenin Rara setiap waktu, ayah janji gak akan lupa sama Rara” Jelasnya.
“gak apa-apa ko ayah, Rara sayang ayah” ucap Rara.
“Jangan nakal ya sayang, ayah pergi bekerja dulu” perintah sang ayah.
Sambil memberi kejutan sepasang kelinci.
Rara tersenyum bahagia.

“Ray, Luc dimana kalian? Main yuk!” Ucap Rara.

Tak lama kemudian mereka datang, matanya tertuju pada sepasang kelinciku.
“hey, nitip ya, aku segera kembali” ucapku masuk kedalam rumah untuk mengambil sayuran makanan kelinciku.

Saat Rara kembali…
Oh tidak… Kelinciku…
Ya pelakunya Ray dan Luc ia sengaja memangsa hewan peliharaanku, Ray dan Luc pipinya dipenuhi darah kelinci, dan aku melihat hanya tinggal tulang belulang dan kepala sepasang kelinciku.

“Kalian kejam!” Ucapku marah dan kecewa
“Ampuni kita Ra” Ucap Ray.
“Kita tidak sengaja” Ucap Luc.

Masa kecilnya berlalu, Rara sekarang berumur 20 tahun, ia bekerja di toko bunga dan ia memiliki sahabat baru ia bekerja di kedai ice cream yang berseberangan dengan tempat kerjanya.

Kedai ice cream jam istirahat,
“Ra entar pulang bareng ya, pokoknya aku gak mau kamu pulang duluan” ucap Bio
“Sudah kuduga, kamu gak akan ngebiarin aku pulang sendiri” Ucapku.
“Iya hehe” kata Bio.

Rara dan Bio pulang kerja dan dibonceng oleh Bio dengan motor Vespa jadulnya, Rara sama sekali tidak gengsi atau lalu karena hanya kenyamanan yang ia butuhkan.
Rinai hujan membasahi Rara dan Bio, Bio berteduh di dalam rumah Rara.
Rara membuatkan teh hangat untuk Bio di dapur. Hanya ada Bio seorang diri di ruang tengah, ia melihat sesosok gadis yang berwajah pucat mengedipkan mata lalu pergi menghilang.
Bio yang sedang asyik bermain COC ia melihat sesosok lelaki dengan wajah yang tak kalah pucat. Bio merinding dan ketakutan semakin menjadi.

Rara mendekati Bio sembari menyerahkan segelas teh hangat. “Bi, muka kamu pucet kenapa?”
“enggak Ra, Eng…gak” Ucapnya.

Rara mulai menyadari jika Bio ketakutan karena ulah Ray dan Luc, mereka bersembunyi di balik lemari sembari tersenyum kecil kepada Rara.Tak lama kemudian Bio pamit pulang.
Dengan langkah tertatih Rara menaiki anak tangga dan rebahan melepas rutinitas yang melelahkan.

“Ra, boleh aku masuk?” Tanya Ray dibalik pintu.
“Silahkan!” Ucapku.
“I love you Ra” ucap Ray sembari menyentuh lembut Leher Rara.
Sentuhan itu mebuat Rara merinding merasakan dingin seperti berada di kutub utara.
“I love you to” Balas Rara. (first kiss)
“Gerubrak!” Suara Luc yang seolah marah dan iri melihat kedekatan Ray sang kakak dengan Rara.

Keesokan harinya, aku dan Bio Off day, aku berada di ruang piano menemani Ray dan terus terpaku memandangi wajah Ray.

“Aku sayang kamu Ra, jangan lupain aku ya” ucapnya lirih.
“Aku juga sayang kamu, hidup sehari tanpa kamu itu… Aneh” jelas Rara.

Bio yang penasaran terhadap Ray dan Luc pergi ke taman belakang karena ia melihat sesosok Luc menabur kembang ke sebuah makam.
Bio terkejut melihat makam yang bertuliskan nama Ray dan Luc. Bio mengirim pesan singkat kepada Rara untuk segera menemuinya di taman balaikota.

Sesampainya…
“Kamu kenapa Bi?” Tanya Rara.
“Aku gila lama-lama” kata Bio.
“Ya kenapa atuh?” Tanya Rara kebingungan.
“sekarang kamu jawab jujur, kamu kenal Ray dan Luc dimana?” Tanya Bio.
“Aku mengenal mereka saat pertama kali aku berada di ruang piano” jawabnya.
“Lalu kamu tau dimana mereka tinggal?” Tanya Bio penasaran.
“Tidak tau, tapi selama 15 tahun ini mereka berkeliaran ke luar masuk rumahku, tapi anehnya ayah tidak tau keberadaannya lalu mereka meminta untuk merahasiakan hal ini kepada siapapun?” Jelas Rara.
“Janggal emang Ra” ucap Bio sembari membawa Rara pergi menuju taman belakang.

Rara terkejut melihat kedua makam yang bersebelahan bertuliskan nama Ray dan Luc. “Enggak, enggak mungkin ini bohong kan Bi” Ucap Rara yang tampak depresi.
“tenang Ra, aku ada disini” Ucap Bio yang berusaha menenangkan Rara yang berontak.

Rara mematung di teras dengan berderaian airmata, Ray datang menemuinya.

“Kenapa Ra? Apakah ada yang menyakitimu?” Tanyanya.
“Lihat aku, bukti kekecewaanku atas dramamu selama 15 tahun”
“Drama apa Ra?” Tanyanya.
“Kamu sudah mati kan? Kenapa kamu rahasiain ini?” Tanya Rara kecewa.
“Karena aku sayang sama kamu Ra” Ucapnya
“Sayang? Lihat mata aku! Rasa sayang itu udah kosong, udah mati” Ucap Rara lalu menampar lelakinya itu.
“Stop Ra! Oke ini salah aku, harusnya aku gak ganggu kamu, bangsa Vampire seperti kita memang tak seharuanya bergaul dengan manusia” Ucap Luc menangis.
“Vampire?” Rara semakin takut dan langkahnya semakin mundur ke belakang.
“jaga diri kamu Ra, semoga kamu bahagia, ma’afin kita ya, kita senang mengenalmu dan kita janji akan selalu mengenangmu” Ucap Ray. Lalu Ray dan Luc menghilang. Cahaya putih menyilaukan itu datang sekejap seolah membawa pergi mereka

Rara yang terus memanggil mereka tetapi mereka tak kunjung datang. Hari-hari Rara tampak kelam dan sunyi karena ia harus menghadapi sendiri hantu-hantu yang selalu menjailinya.
“Aku merindukanmu Ray” ucapnya dalam hati.

Cerpen Karangan: Dita Annisa Wijaya
Facebook: Dita Annisa Wijaya
hay nama saya Dita Annisa wijaya, umur saya 20 tahun, saya bekerja di mall cirebon sebagai SPG di toko baju. Hobi saya adalah menulis cerpen dan novel yabg berbau horor.

Cerpen Rara and Ray merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Not a Monster

Oleh:
Satu tetes air mata pria itu terjatuh. Rasanya menatap orang yang sangat kita cintai dari jauh adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi menatapnya sedang sendirian. Itu adalah hal yang

Nasehat Om Siwi

Oleh:
Satu jam empat puluh enam menit dan lima puluh tiga detik. Selama itu, hampir dua jam lamanya, keringatku mengucur deras. Tampak olehku, tatapan ratusan pasang mata mengawasiku, memata-matai seluruh

Dunia Terbalik

Oleh:
“Kia, Ayo cepat bangun. Sudah jam berapa ini?” Omel Mama. “Iya, ma..” Sahutku. Aku pun melihat jam weker doraemonku, ternyata sudah pukul 06.12 tak salah Mama mengomeliku, biasanya masih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rara and Ray”

  1. aliifah tazkya says:

    Si Rara gk punya ibu ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *