Rebecca

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 29 July 2017

Malam hari yang menyeramkan. Semua temanku sudah tidur, dan.. Aku di sini masih mengerjakan tugas ini. Rasanya badanku sangat pegal. Tapi, apalah daya ini perintah. Hufftt, terima sajalah.

Tok.. Tok.. Tok…
“Hah?, siapa yang ketuk pintu semalam ini?, bukankah semuanya sudah tidur?, apakah…”. Kuhilangkan pikiran negatif itu. Kukumpulkan semua keberanianku. Perlahan-lahan, kuputar knop pintu.
Ceklekk…
“Rebecca?” ucapku terkaget-kaget. “Ada apa Chloe?, eh?, kamu belum tidur?” Rebecca membombardirku dengan banyak pertanyaan. “Tugasku masih banyak Rebecca, kau sendiri kenapa belum tidur?” Aku bertanya balik. “Aku hanya mencari angin segar saja, O ya, nih aku bawakan minuman” ucap Rebecca sembari menyodorkan segelas cokelat panas. “Terima kasih” ucapku. “mau kubantu?” tawar Rebecca. “ya, tentu saja” balasku.

“Chloe!, Chloe!, bangun!” teriak Seseorang. Aku mengucek-ucek mataku. “Hey, bangunlah!, nanti kau terlambat sarapan!” bentak Irene. “Ya, ya, aku akan mandi dulu. Eh, ke mana Rebecca?” tanyaku. “Heh?, kamu ngelindur ya?, Rebecca dari kemarin kan pulang” jawab Irene. “T.. tidak mungkin, kemarin dia yang memberiku cokelat panas dan membantuku menyelesaikan tugas ini” jelasku gugup. “Ah.., sudahlah, cepat!” marah Irene.
Aku masih bertanya-tanya. Apakah itu hantu?, berbagai pertanyaan mulai menggelayuti pikiranku.

Selesai mandi dan berpakaian, Aku segera menuju ruang sarapan. “Hey?, kamu kesiangan lagi ya?” tebak Vierre, teman dekatku (bukan pacar loh). “Iya, gara-gara banyak tugas kemaren” jawabku santai. “Gak malu?” tanya Vierre. “Gak” jawabku cuek. Vierre menggeleng-gelengkan kepalanya.

Malam ini, Aku mengerjakan tugas lagi. Tapi, Aku suruh si Vierre menemaniku. Aku takut sendirian.
“Chloe” panggil Vierre dengan mata tertutup. “Apa?” tanyaku. “Kapan sih, selesainya?” tanya Vierre. “Masih banyak sih, tungguin aja” balasku tenang. “Aku ke kamar dulu ya” pinta Vierre. “Eee…, jangan!, Aku takut!” jeritku sembari mencengkeram seragam Vierre. Vierre tiba-tiba menunduk lemas. Oh tidak!, Vierre sudah tidur. Aku cepat-cepat menyelesaikan tugas ini.

“Chloe…” Ada suara lembut memanggilku. Hii.., bulu kudukku berdiri. “Chloe…” suara itu lagi memanggilku. “Vierre!, bangun dong” bisikku pada Vierre yang tengah terlelap. “Chloe…” Suara itu lagi.

Tap… Tap…. Tap…
Suara langkah kaki seseorang. Kuberanikan diriku. Aku berjalan mendekati pintu. Aku melihat dari bawah pintu.”Hah?!, ada seseorang!” ucapku dalam hati. Ya, Seorang wanita yang memakai seragam yang sama sepertiku dengan rambut dibiarkan tergerai sedang mondar-mandir di depan kamarku. “Vierre!!, bangun!!” secara refleks, Aku berteriak. “Eh?, Apaan?” tanya Vierre heran. “Coba kamu buka pintunya deh” ujarku ketakutan. Dengan pelan-pelan, Vierre membuka pintu kamarku.

Ceklekkk…
“Apa?, nggak ada apa-apa kok” ucap Vierre. “Tadi ada cewek mondar-mandir di sini” jelasku. “mungkin halusinasi kamu aja, atau gara-gara kamu kecapekan. Sekarang kamu tidur sana gih” nasihat Vierre. “Tungguin Aku” pintaku ketakutan. “Ok, cepat sana tidur!” perintah Vierre. Aku cepat-cepat berbaring di atas kasur empukku. Vierre tidur di Sofa putih milikku.

Aku terbangun dari tidurku. Aku melirik jam weker yang ada di meja samping tempat tidurku. Pukul satu dini hari. Vierre tak ada di tempatnya. Pasti, Ia sudah kembali ke kamarnya.

Tap.. Tap.. Tap..
Suara itu lagi!. Oh tidak!, bagaimana ini?. Aku mulai panik. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Nafasku tak terkontrol. “Ya tuhan, bagaimana ini?” lirihku dengan nada ketakutan.

Tap… Tap.. Tap…
Suara itu masih ada. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Ku berjalan dengan pelan. Kuputar knop pintu. Kulihat sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Tapi, ketika kulihat ke bawah. Jantungku serasa mau copot. Ya, Vierre tergeletak kaku. Aku terduduk lemas. “Vierre!, bangunlah!, ada apa denganmu?”. Tubuhnya dingin dan kaku. Vierre sudah tak bernyawa. “Vierre!, Vierre!” Aku berteriak-teriak seperti orang gila.

Beberapa saat kemudian, murid lain berdatangan. Begitupula dengan para guru. “Ada apa Chloe?!, bagaimana ini bisa terjadi?!” tanya Miss Levy panik. Aku menangis terisak-isak. Beberapa anak terlihat ngeri dan yang lainnya berusaha menenangkanku.

Beberapa hari setelah kematian Vierre, Aku mulai bangkit dari keterpurukan. Ditambah lagi dengan sahabat baruku, Fiona yang selalu men-support diriku.

Tunggu, sepertinya ada yang kurang. Ya, sekarang Aku ingat. Rebecca. Ke mana dia?, Aku tak pernah melihatnya?. Kutanyakan pada Fiona. “Fiona?, Rebecca ke mana?, Aku tak pernah melihatnya?” tanyaku.”Ng.., kamu nggak tau Chloe?” tanya Fiona balik. Aku menggelengkan kepalaku. “Rebecca meninggal seminggu yang lalu. Tepat saat ulang tahunmu. Dan kami tak ingin membuat dirimu sedih” jelas Fiona. “Apa?!” ucapku tak percaya.

Tunggu tunggu, ada yang aneh. Jadi, siapa yang memberiku cokelat panas?, dan membantuku menyelesaikan tugas?. Sungguh aneh. Mungkinkah asrama ini berhantu?.

“Chloe, Aku tidur dulu ya” ucap Fiona. “Iya Fio” balasku datar. Sekarang pukul 22.30. Mungkinkah Rebecca datang lagi?.

Tap.. Tap.. Tap..
Suara itu lagi. Pasti itu Rebecca, dan Aku yakin sekali.

Tok.. Tok.. Tok..
Yap, Rebecca mengetuk pintu kamarku. Kuharap, Fiona tak mendengarnya. Pelan-pelan kubuka pintunya. “Rebecca?” ucapku dengan senyum kecut. “Chloe, kini giliranmu” ucap Rebecca dengan senyum menyeringai. Dia mengeluarkan pisau belati. Secara spontan, Rebecca menghunusnya tepat di ubun-ubunku. Darah mengucur deras.
“Aahhh!!!…” Aku menjerit sekeras-kerasnya. Beban yang selama ini kupikul serasa keluar. Ringan rasanya. Dan Aku di sini sudah tenang bersama Vierre.

Tiba-tiba, ada Rebecca datang menemuiku dan Vierre yang sedang bercanda.
“Rebecca?”

Cerpen Karangan: Arifah Kaifah Yasak
Facebook: Arifahyasak Arifahyasak
Hai, mohon sarannya ya semua….
*^_^*

Cerpen Rebecca merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


KA-32 Gajayana

Oleh:
“Horee, anak saya sukses. Sekarang saya jadi orang kaya.” Begitulah suara teriakan laki-laki paruh baya yang melewati jalan gang di rumahku itu, tanpa sedikit pun menghiraukan sekeliling orang yang

Sarinah (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya setelah sarapan Audy, July dan Andre pergi menuju yayasan panti jompo dimana Mbah Sarinah pernah tinggal disana. Dengan perasaan penasaran bercampur dengan kecemasan mereka bertiga turun dari

Pulang Malam

Oleh:
Malam semakin sunyi dan udara dingin terasa semakin menusuk. Sejak tadi juga tidak ada satu orang pun yang melewati jalan ini. Namun aku tetap melangkahkan kedua kakiku di tengah-tengah

Berwajah Topeng

Oleh:
Di pesisir pantai yang sepi, mereka bertemu. “Aku hamil!” cetus Emily tajam, menuntut pertanggung jawaban. Tapi Reza malah tertawa sambil bertolak pinggang. “Apa aku harus tahu? Itu urusanmu kan?”

Hampir Diculik Hantu

Oleh:
Malam yang dingin, aku keluar rumah dan berlari, perasaanku gundah bercampur sedih membuatku menangis tak menentu, kakiku terus berlari namun tiba-tiba kakiku kesakitan, kakiku tertancap paku, membuatku tak bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *