Red Chandelier (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 14 July 2017

Kenalin, aku Olla. Sekarang sudah menginjak hari ke-lima aku bersekolah di SMA. Dan ini sudah ke-lima kalinya aku menjadi korban pembullyan. Aku murid baru di sini dan hari-hariku terasa seperti di Neraka.

Mereka —geng senior kelas sebelas, selalu membullyku kapan saja. Mereka merupakan sekumpulan cowok-cowok yang sangat ditakuti sekaligus digandrungi cewek-cewek. Apalagi ketua geng itu. Logan. Ketua geng juga kakak kelasku yang paling tampan seantero sekolah.
Dia selalu mengenakan jaket baseball warna merah. Rambutnya dicat blonde dan tubuhnya sangat ideal. Sekilas mirip seperti Keenan Tracey. Sedangkan menurutku, teman geng yang lainnya juga tak kalah tampan. Tetapi yang paling tampan tetap di tangan Kak Logan.

Hampir di setiap saat Kak Logan selalu menemuiku. Tetapi bukan seperti itu. Dia hanya menemuiku untuk mengacaukan hidupku. Sebenarnya aku tidak dibully sendirian. Ada Benji —cowok cupu yang selalu ingusan itu. Tetapi berkat kehadiranku di SMA ini, Benji bisa merasakan kebebasannya. Aku menjadi sosok malaikat bagi Benji, alias geng itu beralih padaku, bukan lagi Benji. Sialan.

“Hei Olaf!”
Aku tersentak kaget. Kertas-kertas yang baru saja kuambil dari loker terjatuh berceceran di lantai. Semua anak di lorong loker ini memandang kami. Aku hanya mampu menunduk tanpa berani menatap Kak Logan di depanku.
“Ah, kasian banget ya kertasnya berantakan. Duh, jangan nangis ya.”
Kak Logan berjalan semakin dekat ke arahku. Menginjak semua kertas-kertas putihku yang beterbaran. Aku meremas jari-jariku takut. Keringat dingin perlahan mengucur di pelipisku.
“Lo! Lari sepuluh putaran di lapangan! Pulang sekolah! Awas sampe lo ketahuan kabur. Habis lo!”
Dengan cepat aku mengangguk. Aku dapat melihat Kak Logan berjalan melewatiku begitu saja. Aku masih menunduk sambil memunguti kertas-kertas puisiku yang berceceran. Cowok itu benar-benar berengsek! Lihat saja nanti! Seseorang akan membalas semua perbuatannya.
Aku sangat berharap ada kedatangan murid baru lagi di sini, sehingga Kak Logan dan gengnya beralih dariku.

“Lo nggak pa-pa? Mereka siapa? Lo punya kesalahan sama mereka?”
Aku tersentak kaget begitu kertas-kertas itu dipungutnya. Seorang cowok dengan rambut yang ditata menjulang ke atas seperti band rock itu menatapku dengan mata sipit. Baju seragamnya berantakan, tidak dimasukkan ke dalam celana. Tidak ada dasi dan name tag di seragamnya. Seragamnya bersih dari berbagai atribut.
Sepertinya dia murid baru. Aku tidak pernah melihatnya.
“Gue Frankie. Anak baru di sini. Lo?”
Aku tidak berani menjabat tangannya. Aku takut. Penampilannya seperti anak berandalan. Jangan-jangan dia merupakan anak buah Kak Logan untuk membullyku.
“Gue nggak kayak mereka. Walaupun penampilan gue ini berandalan keren tapi sebenernya gue baik, kok. Yaudah deh, lo tau kelas X-5 nggak?”
Aku terperanjat. Cowok-berandalan-yang-katanya-tadi-keren-itu sekelas denganku. Aku mengangguk. Jariku menunjuk kepada kelas di lantai dua dekat toilet. Cowok yang tadi bernama Frankie itu tersenyum.
“Ya udah gue cabut, dah!”
Cowok itu melangkah cepat ke lantai dua. Sepertinya dia memang baik. Terlebih saat matanya memandangku tadi. Tapi aku tidak mau secepat ini percaya pada orang yang baru kukenal. Siapa tau ada maksud tersembunyi.

Aku memasuki kelas yang sudah seperti kapal pecah. Meja berantakan dan beberapa kursi yang raib entah ke mana. Tempat dudukku berada di paling pojok belakang. Sampai sekarang tidak ada yang berani menggeser mejaku sesenti pun. Mereka tidak ingin berhubungan denganku yang menjadi bahan pembullyan senior.
Aku seperti dianggap parasit di sini. Tidak ada yang menginginkan keberadaanku.

Pak Davi —guru yang paling tampan dan muda itu memasuki kelas dengan cowok -berandalan-yang-katanya-tadi-keren-itu. Wajahnya tersenyum sinis dan gayanya sok-sokan sekali. Mungkin harus kuakui, jika cowok itu dipandang lama-lama memang tak kalah tampan dari Kak Logan.
Pada akhirnya, ada seseorang yang dapat mengalahkan ketampanan Kak Logan. Dan aku yakin, Kak Logan pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Mungkin sebentar lagi aku tidak akan dibully. Mereka akan beralih pada cowok-berandalan-yang-katanya-tadi-keren-itu.

“Yo! Nama gue Frankie. Terserah lo mau manggil apa. Tapi gue saranin panggil gue pangeran keren atau pangeran kece. Gue pindahan dari Jakarta,” jelasnya masih dengan gaya sok-kerennya itu, “gue membuka antrean bagi lo yang mau minta nomer hape gue. Jam istirahat aja ya,”
Pak Davi menggeleng-gelengkan kepala, “Ke mana atribut kamu? Bukannya kemarin sudah saya berikan?”
Dia menyeringai pada Pak Davi, “Maaf, Pak, gue kira eh- aku kira- maksudnya saya eh halah terserahlah, atributnya nggak sengaja kebuang ke got, Pak.”

Kami semua tercengang mendengar tuturannya. Dari gayanya sudah keliatan dia tidak memiliki sopan santun kepada yang lebih tua. Yang pasti dia bukan cowok baik-baik.
“Bagaimana bisa?”
Cowok-berandalan-yang-tidak-memiliki-sopan-santun-itu hanya cengengesan. “Biasalah, Pak. Kemarin saya habis berantem sama senior di sekolah ini. Jadinya atribut saya nggak sengaja jatuh ke got.”
Cowok itu menjawab dengan enteng tanpa dosa. Luka lebam-lebam banyak di sekitar tubuhnya. Di tangan, di pipi, dan di bibir. Kukira cowok itu habis mengalami kecelakaan. Ternyata berantem toh.
Tapi apa katanya tadi? Berantem dengan senior di sekolah ini? Jangan-jangan?

“Berhubung kamu anak baru di sini, saya akan memberikan kamu toleransi. Selanjutnya kamu akan saya kenakan hukuman. Sana duduk di samping Olla.”
Cowok-sok-ganteng-itu menatapku sekilas. Lalu ia menyeringai lagi pada Pak Davi. “Ah, Bapak baik banget sih. Tau aja kalo gue- eh saya lagi pengen duduk di samping cewek.”
Pak Davi menatap cowok-pongah-itu dengan tajam. Aku mendengus saat cowok itu menduduki bangku di sebelahku. Tanganku terus saja menggambar di atas kertas, berusaha tidak berhubungan dengan cowok-jelek di sampingku.

“O-ol-a, Olla,” kata cowok itu mengeja nama di buku tulisku, “gue tau lo pasti bersyukur banget bisa duduk sama cowok seganteng gue.”
Kedua kakinya ia letakkan di atas meja. Kurang ajar sekali cowok ini. Sudah begitu, tingkat kepercayaan dirinya tinggi pula. Kesialan apa lagi aku harus bertemu dengannya tadi pagi? Meja eksklusif yang hanya kutempati sendiri kini dipakai sama cowok pongah ini. Tidak ada lagi zona privasiku.

“Lo tuna wicara apa emang lagi males ngomong sama gue? Sayang lo kalo cowok seganteng gue disia-siain.”
Argh! Tolong! Aku tidak bisa terus-terusan mendengar perkataannya yang kelewat pede. Ingin rasanya aku membenturkan kepalaku di sebuah kaca jendela dan tidak lagi mendengar perkatannya.

“Lo gambar apaan sih?”
“Hei!”
Tiba-tiba dia mengambil kertas gambarku. Spontan aku berteriak. Enak saja semabarangan mengambil barang orang lain. Dasar lancang! Aku tidak percaya kenapa kelas ini mau saja menerima murid kurang ajar sepertinya.
“Akhirnya lo ngomong juga.” Dia tertawa kencang membuat beberapa pasang mata kelas memandang kami.

“Frankie!” tegur Pak Davi marah, “turunkan kakimu dan perhatikan papan tulis!”
Frankie mendengus sebal. Dengan malas dia menurunkan kedua kakinya. Namun saat Pak Davi kembali menatap papan tulis, Frankie mengangkat lagi kakinya ke atas meja. Mau sampai kapan dia berlagak tolol seperti ini?

Jam istirahat berdering.
Ini surga bagiku! Sedari tadi Frankie terus mengajakku berbicara. Mulutnya itu seakan tak pernah berhenti bergerak hingga berbusa. Telingaku sampai panas mendengarnya.

Aku menaikkan kacamataku dan berjalan pelan di kantin. Aku tahu di pojok sana ada segerombolan geng Kak Logan. Dan aku bisa merasakan mereka menatap tajam ke arahku. Semenjak aku menjadi bahan pembullyan, tidak ada satu pun yang mau berteman denganku. Mereka tidak ingin terseret hubungan dengan Kak Logan.
Itu sebabnya mereka lebih memilih mengagumi ketampanan Kak Logan dan gengnya dalam diam.

“Olla!”
Aku menoleh. Oh sial! Frankie mengikutiku. Aku segera mempercepat langkahku, namun langkah Frankie jauh lebih besar dariku. Dia tampak santai sambil memasang raut tololnya itu. Sedangkan aku terus melangkah dengan cepat meninggalkan Frankie di sampingku.
“Puteri Jutek jangan cepet-cepet dong jalannya. Ntar jatoh loh.”
Tepat Frankie berbicara seperti itu, kakiku terpeleset es batu. Aku menoleh ke samping kanan. Kak Logan menyeringai ke arahku. Buru-buru aku menunduk.

“Woah! Ternyata berandalan kemaren sekolah di sini toh.” sahut Kak Logan.
Aku yang bingung hanya menoleh ke Frankie. Raut wajahnya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam. Dan tangannya mengepal kuat.
“Inget! Urusan gue belom selesai sama lo!” ancam Kak Logan sambil berlalu.
Aku bergidik ngeri melihat ancaman Kak Logan barusan. Frankie merubah raut wajahnya seakan tak peduli. Frankie benar-benar gila! Bisa-bisanya dia membuat masalah dengan geng terkutuk itu. Sepertinya Frankie ingin mengoleksi lagi luka lebam di sebujur tubuhnya.

“Lo nggak usah takut sama Logan, Puteri Jutek. Selagi lo sama gue, dia nggak bakal berani macem-macem deh. Gue jamin!” Frankie memasang raut tololnya lagi kepadaku.
Demi Neptunus! Kapan aku bisa menghindar darinya. Muka tololnya seperti ingin kulindas dengan sepatuku. Hari ini benar-benar hari terburuk dari kumpulan hari terburuk lainnya.
“Lo nggak takut dibunuh Kak Logan?” tanyaku.
“Yah, gue sering banget berhadapan sama cowok yang jauh lebih biadab dari dia.” kata Frankie tidak tahu diri.
Barusan dia mengatai Logan cowok biadab, lantas dirinya apa?
“Tapi terimakasih lo mau care sama gue. Terharu.” katanya lagi sambil memasang raut sok memelas.
Aku menghiraukannya. Biarkan dia berenang dalam imajinasinya. Yang jelas aku ingin kembali ke kelas.

Sepulang sekolah, aku bersiap untuk lari sepuluh putaran di lapangan. Walaupun di sini sudah sangat sepi, tetap saja aku takut jika ketahuan kabur. Soal Frankie? Hm, aku tidak tahu. Dia langsung berjalan keluar kelas saat bel berbunyi. Tidak ada satu kata pun terucap dari cowok itu. Aku sih tidak peduli. Tidak ada dia jauh lebih baik.

Aku mengikat erat tali sepatuku. Sepuluh detik kemudian aku mendengar suara yang sangat kubenci dari belakang. Frankie?
“Nggak usah dilakuin, Puteri Jutek.” kata Frankie berjalan mendekat.
Aku tercengang. Sebujur tubuhnya dipenuhi luka lebam lagi. Sekitar matanya ada bekas tonjokan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Kerah baju yang terbuka lebar. Dan banyak jejak sepatu di seragam putihnya.
“Logan udah pulang.” katanya lagi seakan tidak membiarkanku untuk lari.
“Bibir lo berdarah.” Aku segera mengambil tisu dari saku rokku. Frankie tidak menolak saat kubersihkan lukanya. Tetapi rintihannya membuat telingaku panas.
“Aw! Pelan sedikit! Dasar kejam! Aw!”
“Diam! Dasar cengeng!” kataku masih fokus pada lukanya.
Aku membuang tisunya ke tong sampah. Lalu menghampiri Frankie yang sibuk membersihkan seragamnya dari jejak sepatu.

“Lo abis berantem?”
“Yup.” jawabnya singkat.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa?”
Frankie menatapku sekilas. “Gue ancem Logan supaya nggak gangguin lo lagi.”
Aku terkejut. Aku memang tidak menyukai Frankie, bahkan aku berharap dia musnah dari kehidupanku. Tetapi setelah mendengar penuturannya barusan, aku sedikit merasa iba.
“Lo nggak perlu kayak gitu.”
“Suka-suka gue dong.” sahut Frankie menyebalkan.

Aku terduduk di sampingnya. Kami berdua sama-sama memandang langit sekolah yang sudah berwarna jingga kemerah-merahan. Semilir angin menyejukkan tubuh. Aku melirik Frankie yang sedang menyentuh pipinya.
Aku yakin itu sakit. Kak Logan kan jago pencak silat. Sedangkan Frankie jago nekat. Aku tidak habis pikir mengapa cowok sangat suka sekali dengan hal yang berbau perkelahian? Mengapa tidak mencoba yang anti-mainstream?

Frankie menyeringai tajam tiba-tiba. Tatapannya kosong. Aku hendak berlari menjauhinya. Aku dapat melihat sosok menakutkan di tubuh Frankie, yang jelas aku tidak tahu apa itu.
Sepertinya, bertemu Frankie jauh lebih menakutkan daripada jurang Neraka.

Dengan pelan, pintu rumah terbuka. Langsung saja aku disambut oleh gelapnya keadaan rumah. Aku yakin ayah pasti belum pulang. Biasanya ayah pulang jam satu malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali. Dia adalah cowok berengsek. Setiap hari selalu berganti wanita. Semenjak ibu meninggal, ayah menjadi sosok yang asing bagiku.
Hampir setiap hari aku selalu mendapatkan jatah pukul hingga tubuhku lebam. Aku bahkan tidak tahu apa yang baru saja kulakukan. Tetapi tangan kasar ayahku selalu memukulku. Aku tidak lagi dapat merasakan kelembutan tangannya di puncak kepalaku setiap malam.
Tetapi aku tersadar mengapa ayah menjadi seperti ini. Dua tahun yang lalu, aku sempat dikeroyok oleh segerombolan preman. Aku tidak sengaja menabraknya, tetapi mereka menghajarku habis-habisan. Sayang, waktu itu ibu ikut melindungiku. Alhasil, ibuku mati secara mengenaskan dengan tubuh yang tak beraturan.
Rasa bersalahku yang besar membuatku menjadi sosok yang tertutup dan pendiam. Terlebih lagi ayah tidak terima ibuku mati seperti itu.

Aku berjalan pelan di tengah kegelapan rumah. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Aku selalu pulang di jam seperti ini.
“Olla!”
Aku tersentak kaget. Kukira ayah belum pulang. Aku mencari sosok ayah yang tidak tampak.
BUK!
Tubuhku menghantam tembok hingga terdengar bunyi retakan. Entah itu kepalaku yang retak atau temboknya yang retak. Punggungku serasa dihantam oleh barbel. Sekarang aku tidak bisa berdiri, hanya bisa mengerjapkan mata menahan rasa sakitnya.
“Kenapa baru pulang?” Suara ayah terdengar datar. Tetapi aku tahu di dalamnya terdapat ribuan iblis.
Aku tidak mampu menjawab. Rasa sakit di tubuhku mengambil alih semua hal yang bisa kulakukan. Hal ini pasti akan membuat ayahku semakin semangat menyakitiku.
Mengapa tidak sekalian saja aku dibunuh?

“Kamu punya mulut! Jawab!” Ayah menarik rambutku kasar. Rasa sakit yang meluap-luap membuatku ingin berteriak. Tetapi apa daya, sekadar menarik napas saja susah.
“A-aku…” Kataku berusaha sebisa mungkin menjawab pertanyaan ayah.
JEDUK!
Kepalaku dibanting lagi ke atas lantai. Bunyi retakan itu terdengar lagi. Sekarang aku sadar, ternyata kepalaku yang mengalami retak kronis. Bahkan darah segar sudah membanjiri lantai kayu ini.
Tenanglah, biasanya setiap malam aku selalu mendapatkan yang lebih sadis daripada ini. Bahkan aku selalu berpikir bahwa kematianku dipermainkan olehnya.
“Berani sekali kamu membantah?! Kamu pikir kamu siapa, hah?!” teriak ayah menggetarkan seisi rumah.
Tangisan sesenggukanku mengiringi kemarahan ayah. Mau sampai kapan aku merasakan sakitnya berada di Neraka? Mengapa Surga bagiku sudah lenyap sejak dua tahun yang lalu? Rasa bersalah ini semakin membuatku mati perlahan.

Kaki ayah menginjak punggungku hingga beberapa tulangku patah. Dia menjambak rambutku dan dipaksa untuk mendongak.
“Cepat masuk ke dalam kamar dan jangan keluar hingga waktu sekolah tiba!”
Ayah melepaskan tarikannya di rambutku. Kepalaku kembali membentur lantai. Kaki ayah juga sudah tidak terasa di punggungku. Mungkin karena beberapa tulangnya patah sehingga tidak dapat merasakan apa pun.
Aku menyeret tubuhku menaiki tangga. Aku pernah merasakan sakit yang lebih daripada ini. Kalau ini sih belum ada apa-apanya dengan beberapa hari sebelumnya. Lebih tepatnya semenjak ibu meninggal.

Di sekolah aku tidak menemukan tempatku, di rumah pula aku juga tidak menemukan tempatku. Apakah ini balasan untukku yang sudah membunuh ibuku secara tidak langsung? Mengapa balasannya diperlambat? Mengapa tidak langsung saja membunuhku?
Aku ingin bunuh diri, tetapi hasrat itu tidak pernah ada. Seolah takdirku memaksaku untuk menikmati semua rasa sakit ini.

Beberapa menit kemudian, aku berhasil menyeret tubuhku masuk ke dalam kamar. Kamarku ini sudah tidak layak untuk ditempat tinggali. Banyak kecoak dan serangga lainnya yang menyerangku. Aku takut.
Aku membawa diriku menuju jendela yang lapuk itu. Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu menatap langit. Tak henti aku meminta pertolongan untuk segera membawaku ke langit. Aku tidak ingin tinggal di dunia yang kejam ini. Bahkan kehadiranku di dunia ini tidak diharapkan. Jadi untuk apa aku hidup?

Di tengah-tengah meratapi takdir, perutku bergetar meminta jatah. Aku membuka kantung plastik hitam di sampingku. Bau harumnya langsung menyengat hidung. Lalat-lalat kecil sering sekali merubungi makananku ini.
Makananku ini adalah makanan yang paling lezat dari semua makanan. Warnanya merah muda, selalu tampak segar, dan terkadang kuahnya juga menggiurkan. Aku tidak pernah mendapatkan makanan dari ayahku, jadi aku memakan simpananku saja.

Cerpen Karangan: Aisy Permata
Blog: www.imaginecolourful.blogspot,com
Terimakasih sudah membaca karya saya atas nama Aisy Permata ataupun Aisy Nadira Permata.
Kalau berkenan, silakan mampir di:
Wattpad: Snowonfire_
Storial.co: Aisypermata
Instagram: Aisypermata

Cerpen Red Chandelier (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Iris (Part 1)

Oleh:
Apa yang akan kalian lakukan, jika seorang wanita berusaha mendekati kalian? Menjauh? Ya, itu mungkin pilihan sebagian besar laki-laki. Termasuk aku. Aku pun tak mengerti mengapa begitu pada awalnya.

Jangan Takut

Oleh:
Jam pelajaran sudah menunjukkan jam ke 6 hari itu cuacanya agak mendung dan kelihatannya sedikit lagi akan turun hujan. Aura dalam kelas terasa sejuk karena hembusan angin dari ventilasi

Misteri Rumah Belakang Sekolah

Oleh:
“Yeeahh senangnya hatiku hari ini free class di sekolah.” gumamku dalam hati. Teman-temanku juga ikut senang. Karena kami tidak belajar di kelas karena guru-guru sedang rapat di kantor guru.

AW 19

Oleh:
Malam itu, Jane dan Christoper berjalan perlahan melintasi lorong-lorong kecil di rumah sakit AW 19 tempat dimana kawan sekelasnya, Victor dirawat. “Kok gelap banget ya? Gue jadi serem nih!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *