Red Chandelier (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 14 July 2017

Aku mengenakan jaket ke sekolah untuk menutupi seragamnku yang kotor dan ada banyak bercak darah di sekitarnya. Frankie yang sudah lebih dulu berada di bangkunya hanya memandangku dengan heran.
“Lo kenapa, Ol?” tanya Frankie menyentuh dahiku yang terdapat bekas luka.
Aku hanya diam membiarkan Frankie menyentuh dahiku. Mulut ini masih terasa kaku untuk sekadar membuka. Nyeri di sebujur tubuhku masih sangat terasa. Sebenarnya hari ini aku ingin tidak masuk, tetapi aku takut ayah akan mengamuk lagi.
“Tenang, Ol, kan gue udah pernah bilang kalo gue nggak akan ngebiarin lo terluka lagi. Kemarin bakal jadi yang terakhir.”
Setelah kalimat itu terucap, aku menatap wajah Frankie. Di matanya tersirat sebuah makna yang tidak bisa kujelaskan. Hanya saja aku tidak menggubris perkataannya.
Frankie berjalan ke luar kelas dengan tasnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Mungkin tanpa dirinya, semua akan jadi lebih baik. Aku mendapatkan lagi bangku privasiku.

Hari ini pelajaran terasa berjalan sangat cepat. Bahkan hari ini aku merasa sangat senang sekali. Kak Logan dan gengnya tidak masuk sekolah. Jadi aku tidak perlu lagi merasakan sakit.
Kakiku melangkah ke luar sekolah. Keberadaan Frankie sedari tadi masih belum diketahui. Anehnya, para guru dan anak-anak tidak ada satu pun yang menanyakan ke mana Frankie pergi. Mereka seolah tidak peduli.

Pintu rumah itu berdecit lagi. Aku mencari keberadaan ayahku di tiap ruangan. Rumahku selalu gelap. Tidak peduli ada cahaya matahari atau tidak. Karena hanya kamarku saja yang memiliki jendela. Jadi jangan terkejut jika udara di dalam rumah ini tercium bau anyir ataupun apek.
Tapi kali ini berbeda. Ini bukan bau darahku semalam. Bau anyir ini jauh lebih pekat dan tidak pernah tercium sebelumnya. Aku melangkah dengan takut-takut. Semua perabotan rumah tampak kacau.
Aku terus melanjutkan melangkah menuju kamarku. Yang pasti aku tahu bahwa rumahku ini terdapat orang asing. Dan orang itu masih di sini. Aku berusaha mengusir semua ketakutanku dengan melangkah cepat menuju kamarku.

Drrt Drrt
Di tengah tangga, aku mengambil ponsel lawasku dari saku rok. Kemudian membuka sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.

“Cepat buka pintu kamarmu.”

Aku terpaku di tempat. Jangan-jangan orang asing itu sedang berada di kamarku? Aku menggeleng cepat dan langsung menuruni tangga hendak keluar dari rumahku.

Namun ponselku kembali bergetar.

“Kenapa lari? Cepat buka pintu kamarmu atau kubunuh ayahmu.”

Ayah. Satu kata yang membuatku berhenti melangkah keluar rumah. Ayah ada di kamarku sekarang. Dan orang asing itu akan membunuh ayahku jika saja aku tidak membuka pintu kamarku. Aku sayang ayah walaupun dia sudah bejat moralnya.

Dengan segenap keberanian, aku berjalan lagi ke kamarku. Sepanjang lorong hanya kegelapan yang menyelimuti. Aku tidak menemukan sesuatu yang ganjal. Semua tampak biasa saja. Kurasa ini bagian dari lelucon April Mop.

Krieeett
Pintu kamarku terbuka secara perlahan. Benar saja. Kamarku kosong. Aku berkecak pinggang dan geram sekali dengan lelucon ini.
“Sudah kuduga ini bagian dari April Mop. Ayah dan orang asing itu tidak ada di kamarku. Cih.” decakku masih berdiri di ambang pintu.

Ponselku bergetar lagi.

“Siapa bilang aku ada di kamarmu? Ayahmu memang tidak ada di rumah. Tetapi aku ada. Coba tengok ke belakang.”

Mulutku terbuka lebar. Mataku melotot dan nyaris keluar. Orang asing itu berada di belakangku sekarang. Tubuhku kaku dan tidak memberikan respon apa pun. Aku tidak berani menengok ke belakang.

Aku melirik ponselku yang lagi-lagi bergetar.

“Mengapa diam saja? Perlukah aku yang menengokmu? Tapi aku rasa itu akan lebih menakutkan daripada kamu yang menengokku ke belakang. Pilih mana?”

Baiklah. Ini semakin menakutkan saja. Dengan gemetar, aku memutar kepala secara perlahan ke belakang.
Lagi-lagi kosong. Lelucon macam apa ini? Siapa lagi yang mau mengerjaiku? Apa mereka belum puas membuatku menderita?

Aku menghela napas kesal dan memutar lagi kepalaku ke depan. Orang asing menakutkan itu menyeringai sangat menakutkan di depan mataku.

BUK!
Belum sempat aku menjerit, tubuhku langsung ditendang dan jatuh dari lantai atas.

Ponselku tetap bergetar tanpa ada yang membacanya.

“Ups. Sepertinya lebih baik aku yang menengokmu. Maaf aku menendangmu terlalu keras hingga dirimu terjatuh dari lantai dua.”

Mataku terasa berat untuk dibuka. Kepalaku pusing bukan main. Tubuhku tak bisa digerakkan semuanya. Aku lumpuh!
Bukan. Aku tidak lumpuh. Hanya saja mungkin patah tulang yang membuatku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dan ketika mataku berhasil terbuka, aku melihat banyak lilin-lilin yang tergantung di atasku.
Chandelier!

Ruangan ini gelap sekali. Semua tampak menakutkan jika gelap. Cahaya merah dari chandelier itu hanya mampu menerangi beberapa tempat saja. Sepertinya aku berada di sebuah gudang dengan banyak karung-karung tebal.

“Nah Olla, dia kah yang kamu cari?” Suara yang menakutkan itu membuatku menoleh ke belakang. Tampak orang asing itu menyeret tubuh Kak Logan yang sudah bersimbah darah.
Mulutku terkatup rapat. Kak Logan sangat mengenaskan di tangan orang asing ini. Dasar biadab!
“L-lo apain K-Kak Lo-Logan?” ucapku terbata-bata.
Orang asing itu menyeringai. “Bukankah kamu membenci orang ini?”
Benar. Aku memang membencinya. Tetapi bukan seperti ini caranya membalas semua perbuatan Kak Logan padaku. Justru sekarang kebencianku beralih pada orang asing itu.
“Aku sudah merontokkan semua giginya tadi sebelum kamu bangun.” kata orang asing itu sambil merebahkan tubuh Kak Logan di depanku.
Melihat bibir Kak Logan sobek dan hancur itu membuatku memejamkan mata. Keringat dingin sudah turun dari kepalaku. Mau membantu Kak Logan juga aku tidak bisa. Sekarang saja aku sudah diikat di sebuah kursi.

“Kamu tidak meresponku, Nona. Ya sudah kalau begitu, bagaimana jika aku mulai ********* saja kulitnya? Tanganku sudah gatal menunggu respon darimu, Nona.” Orang asing itu duduk di punggung Kak Logan. Pisau daging itu mulai ******** pelan punggung Kak Logan yang bersih dari pakaian.
“AARGH!!!” teriakan Kak Logan begitu menyayat telingaku. Teriakan dari sekadar rasa sakit. Teriakan itu memohon agar pisau itu berhenti menorehkan luka di tubuh Kak Logan. Sayangnya pisau itu adalah benda mati. Mau seberapa keras memohon pada pisau itu, tidak akan pernah terwujudkan.
Di tempatku ini, di bawah cahaya chandelier, orang asing itu menyiksa Kak Logan layaknya seekor babi yang siap dijadikan hidangan. Mata ini sudah tak mampu melihat dirinya tersiksa dimakan iblis jahat dari segala iblis yang paling jahat.

“ARGH! ARGGGHHH!!!”
Orang asing itu ******* kulit Kak Logan yang sudah ******** menjadi dua bagian. Dia menarik dengan tangannya sendiri, seperti ******** kulit sapi yang sudah mati. Dia menganggap Kak Logan sudah mati, padahal jelas-jelas teriakannya begitu pedih mengiringi tarikan kulitnya.

CETASSS!
********* kulit punggung Kak Logan di depan mataku. Kak Logan berada di tengah sekarat. Teriakannya tak lagi terdengar, namun mulutnya menggap-menggap seolah berusaha mengeluarkan suara.
“Cih, berisik!” kata orang asing itu. Dia berjalan mengambil barbel yang cukup besar, lalu meletakkannya tepat di atas kepala Kak Logan.
KRETAAK! Kepala itu remuk, tak mampu menahan beban yang berat dari barbel itu.
Kini sosok Logan tewas di depan mataku. Kepala dan mulut hancur dengan punggung kulit yang terkelupas di sisi satunya. Dia mati secara mengenaskan. Lebih mengenaskan dari kematian ibuku.

“Beres.” lanjut makhluk biadab itu.
Orang itu berlalu lagi dari hadapanku. Memaksaku untuk melihat tubuh Logan hancur berantakan. Ini lebih buruk daripada melihat Neraka secara langsung!

Sreet… sreeet…
Orang itu kembali menyeret seseorang. Ketika mulai memasuki kawasan cahaya chandelier, tubuhku terperanjat. Dia adalah ayahku. Orang itu menyeret ayahku dengan kasar. Tubuhnya yang sudah renta itu dipaksa diseret makhluk biadab itu.
Aku bergerak ke kanan dan kiri, berusaha melepaskan tali yang mengikatku.
“Tenang, Nona. Sini biar kulepaskan.” Orang itu berjalan mendekatiku. Aku memandangnya penuh kebencian. Dialah yang membuat mimpi burukku terus berlanjut. Tali yang melingkariku terputus begitu orang itu menyayat sekali melalui pisaunya. Aku berdiri sambil mengusap-usap lenganku yang sakit diikat tali.
Aku ingin berlari mendekati ayahku, dan…

“Ini pisaunya.” kata orang itu memberikan pisau lancip itu padaku.

… membunuhnya!

Aku menyeringai ke orang itu, lalu menerima pisau itu dengan tangan yang sudah kulumuri lem agar sidik jari tidak terlihat. “Thanks.”

Orang itu mengangguk dan membiarkanku untuk melakukan aksi yang kutunggu-tunggu itu. Ayahku tampak tak berdaya. Tubuhnya diikat, dan mulutnya tersumpal. Dia menggeleng-gelengkan kepala, memohon padaku untuk melepaskannya.
Enak saja. Setelah dua tahun ini menyiksaku, dengan mudahnya memohon padaku untuk melepaskannya? Yang benar saja. Hal ini sudah kurencanakan dari bulan-bulan sebelumnya.

Aku melepaskan kain yang menyumpal mulutnya.
“O-Olla… jangan seperti ini. Ayah minta maaf.” kata ayah sambil menangis.
“Huh. Selama dua tahun ini, Ayah ke mana saja? Ketika aku menangis dan merintih kesakitan, Ayah ke mana saja?” desisku sambil mengasah pisau, “AYAH MEMPERLAKUKANKU SEPERTI BINATANG! AKU DISIKSA!” teriakku di depan wajahnya.
Cowok di belakangku langsung berlari menenangkanku. Aku tersenyum miring. “Kita mulai saja. Pegang tubuhnya biar nggak gerak-gerak, Frankie.”
Yup. Benar. Orang asing itu adalah Frankie. Cowok-berandalan-yang-katanya-tadi-keren-itu. Dialah yang mendorongku jatuh dari lantai dua. Tapi tak masalah. Aku baik-baik saja. Hanya pingsan sebentar. Dan ini semua aku yang merencanakan. Frankie hanyalah partner dari rencanaku yang hebat ini. Kenapa? Ya karena dia pacarku!

“Hm…” Aku menempelkan ujung pisau yang dingin itu di pelipis ayahku. Sejenak aku menggerakkannya secar lembut mengitari wajah ayahku yang super ketakutan. Dan ini kesenangan bagiku, melihat seseorang yang selalu menyiksaku.
Kak Logan dan ayah, contohnya.

“Apa Ayah tau? Ketika ibu meninggal, bukan Ayah saja yang sakit hati. AKU JUGA!” sentakku. “Aku membutuhkan Ayah saat itu, aku lemah. Tapi apa yang Ayah lakukan? Ayah malah MENYIKSAKU dengan semua ini!” geramku sambil menekan kata ‘menyiksa’.
“A-A-yah minta maaf. A-ayo ki-kita mulai i-ni semua da-dari a-awal.”
suara seraknya berusaha membuatku iba.
“Baiklah.”
SLUP!
Pisauku menusuk lembut perutnya. Aku memutarnya membuat ayah berteriak histeris.

“Bukan memulai dari awal yang aku inginkan. Apa Ayah tau apa yang aku inginkan?” kataku di depan wajahnya sambil memutar pisau itu di perutnya.
Ayah menatapku nanar. Mulutnya menggeretak menahan sakit.
“Aku hanya ingin menjadi pemain utama dalam cerita ini.” bisikku lembut di telinganya.
SREET!
Aku ******** leher itu dengan cepat. Darah kental dan segar membasahi tubuhku. Tak lebih dari lima detik, ayah mati dalam keadaan yang tak kalah mengenaskan!

Pisau itu kuturunkan. Aku mengusap wajahku kasar dengan pundakku. Frankie berjalan mendekapku erat.
“Happy Anniversary, Sayang.” bisik Frankie lembut di telingaku.
Cowok itu melepaskan dekapannya. Dia menatap wajahku sangat dalam. Wajahnya perlahan maju untuk menciumku. Ketika bibir kami hampir bersentuhan, pisau yang ada di tanganku melayang indah ke perut Frankie.
SLEP!
Aku mendorong tubuh Frankie dengan perut tertancap pisau. Tawaku muncul di tengah gudang yang gelap ini. Misiku berhasil! Sekarang tidak ada lagi yang bisa menyakitiku!

“Ke-kenapa?” lirih Frankie sambil menyentuh perutnya.
“Kenapa?!” bentakku. “LO MASIH TANYA KENAPA?!?!”
Frankie terdiam sambil terus merintih. Aku berjalan mendekati kepala Frankie, lalu duduk dengan lututku.
“Lo kira gue nggak tau kalo selama ini lo SELINGKUH di belakang gue?!” sentakku membuatnya terkejut.
“Tapi nggak pa-pa, cewek lo itu udah ada di sini.” lanjutku tersenyum sambil menyentuh perutku. “Seperti yang gue kata. Gue pengen jadi pemeran utama. Itu berarti, yang lainnya harus musnah!”
Frankie menggeretakkan giginya, “Da-dasar i-iblis!” Kemudian Frankie pun mati.

Aku berdecak kesal. “Iblis kok bilang iblis.”

Dalam hatiku tertawa kencang. Pasokan makananku akan semakin banyak. Oh, aku belum cerita ya? Hmm, rencana ini sebenarnya bukan hanya tentang aku dan Frankie, ada Benji juga yang ikut membantuku menyingkirkan geng Logan. Sayang, setelah geng Logan mati dibunuh Benji, aku juga melayangkan pisauku ke perut Benji.
Makanan yang sempat aku bilang menggiurkan itu adalah daging geng Lohan dan Benji. Kuah yang sedap itu adalah campuran darah mereka semua. Aku selalu menyimpannya di dalam karung dengan garam. Agar awet.
Aku juga pernah bilang bahwa ayahku adalah pria yang biadab dan iblis. Ya memang benar, karena dia selalu memakan daging wanita-wanita yang sudah ditidurinya. Itu sebabnya dia pulang sangat malam.
Tapi sekarang tidak lagi. Ayah dan Frankie sudah mati. Logan, gengnya, dan Benji juga sudah lenyap. Semua akan tersimpan di perutku. Nyam! Lezat sekali!

Lima menit lagi polisi akan datang.
Aku segera menarik tubuhku di dekat tembok. Dalam hitungan ke tiga, aku membenturkan kepalaku dengan kasar ke tembok.
KRETAK!
Kepalaku retak dan mengucur darah yang segar. Aku berlari dan menabrakkan tubuhku di pintu kayu gudang.
GUBRAK!
Tulang di sekitar dadaku berhasil retak. Dengan menahan rasa sakit, aku berusaha mengambil serpihan kayu dan menancapkan pada kakiku.
“ARGH!” teriakku begitu kayu itu berhasil menancap di kakiku.
Aku berjalan mengambil pisau yang menancap perut Frankie. Pisau itu kuhadapkan ke perutku. Sedikit keraguan melanda hatiku, tetapi rasanya tidak akan sakit. Aku sudah berlatih selama di kamarku. Paling jauh juga aku akan pingsan.
SLEP!
“ARGH SH*T!” aku meletakkan pisau itu di tangan Frankie.

BRUK!
Tubuhku jatuh menghantam tanah dan berbaring di samping Frankie. Sepuluh detik kemudian polisi menggebrak pintu gudang ini.

Senyuman hangat tersungging di bibirku.
Dengan begini, polisi tidak akan menyangka bahwa aku pembunuhnya.
Aku adalah korban!
Kini akulah pemeran utamanya!

THE END

Cerpen Karangan: Aisy Permata
Blog: www.imaginecolourful.blogspot,com
Terimakasih sudah membaca karya saya atas nama Aisy Permata ataupun Aisy Nadira Permata.
Kalau berkenan, silakan mampir di:
Wattpad: Snowonfire_
Storial.co: Aisypermata
Instagram: Aisypermata

Cerpen Red Chandelier (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Annabelle

Oleh:
Yap! baru baru ini aku mendapatkan hadiah spesial dari bunda ketika ulang tahunku kemarin. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan yaitu sebuah boneka. Namun ku merasa ada kejanggalan dalam boneka

Ghost Hunter

Oleh:
Aku adalah Tania salah satu anggota di Ghost hunter. Ghost hunter adalah salah satu organisasi yang memiliki anggota dengan kekuatan supranatural untuk mengusir mahkluk astral yang menggangu. Suatu hari

Kau

Oleh:
Entah sampai kapan aku memikirkan dia. Sebenarnya aku tidak mau memikirkan dia, tapi dia selalu ada di pikiranku. Dia pun selalu ada di mana aku ada. Memang dia aneh.

Misteri Lukisan Wanita

Oleh:
Hai aku wawa, aku tinggal di kampung yang begitu sepi, di rumahku aku memiliki lukisan wanita, wanita itu sangatlah cantik. Saat pagi tiba aku pergi ke rumah reva, ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Red Chandelier (Part 2)”

  1. Rizu says:

    Ngilu pas baca adegan thriller nya. Cerita ini bener-bener bagus!

    Tapi ada satu hal yang agak mengganggu: gimana bisa frankie dan olla jadian selama satu tahun ketika frankie diceritakan sebagak murid baru beberapa hari yang lalu? 🙂

    *Anniversary kan artinya satu tahunan.

    • Aisy Permata says:

      Halo, Kak Rizu. Maaf baru bales ya hehe. Terima kasih banyak ya sudah mampir ke cerita ini 😀 Jadi, di sini tujuan utama Olla hanyalah menjadi pemeran utama, sehingga semua yang dia ceritakan dari awal hingga adegan pembunuhan hanyalah sandiwara. Frankie dan Olla bisa jadi sudah bertemu sebelum Frankie masuk ke sekolahnya Olla 🙂

      Kalo kata kids jaman now, anniversary could be in every week or every month. Emang ada-ada aja, hehe.

      Anyway, maaf kalo ada yang kurang memuaskan, tetapi semoga sempat menikmati yaa. See you and happy new year 2018! XD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *