Reverange

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 28 March 2016

Lima belas tahun yang lalu terjadilah peristiwa itu, peristiwa mengenaskan di sebuah desa terpecil yang bernama Dmeni. Desa ini terletak di pinggir hutan belantara. Ketika itu, seorang gadis yang bernama Sukma, pergi ke hutan bersama ibunya, ibu Rasmi untuk mencari kayu bakar. Saat mereka berada di tengah-tengah hutan, mereka terkejut dengan sosok mayat perempuan yang matanya sudah tidak ada, alias bermata bolong.

“Mayat siapa ini, Bu?” tanya Sukma.
“Ibu sendiri juga tidak tahu, sebaiknya kita pulang saja,” kata Ibu Rasmi khawatir.
“Tapi Bu, kita harus mengubur mayat perempuan ini, kasihan dia,”
“Sudahlah ayo kita pulang, ibu tidak mau mencari masalah,” kata Ibu Rasmi dengan suara agak keras. Akhirnya dengan berat hati, Sukma pun menurut.

Malam itu, entah kenapa langit tampak mendung, dan angin juga bertiup kencang. Tidak seperti biasanya. Dan malam itu juga Ibu Rasni tidak sedang berada di rumah, ia pergi menjual kayu bakar yang ia punya di desa sebelah dan sampai malam pun ia belum kembali. Sukma yang berada di rumah sendiri menjadi khawatir dengan keselamatan ibunya itu, terlebih malam ini akan turun hujan lebat disertai angin kencang. Sementara itu, di tempat yang berbeda, Ibu Rasmi tengah berjalan sendirian pulang menuju rumahnya. Dia merasakan angin yang sangat menusuk kulitnya, dan itu sedikit membuatnya merinding. Terlebih jalan yang ia lewati sangat gelap. Bahkan kini Ibu Rasmi merasa ada yang mengikuti dirinya. Dengan segera dia mempercepat langkahnya dan berlari. Namun seseorang yang mengikutinya terus mengejarnya hingga akhirnya Ibu Rasmi pun terjatuh. Kini seseorang itu berada tepat di hadapannya sambil membawa celurit. Seperti tanpa membuang-buang waktu lagi, orang itu dengan sadisnya membunuh Ibu Rasmi dengan celurit tersebut.

Pagi harinya, Sukma segera pergi ke perbatasan desa membuktikan ucapan dari tetangganya yang mengatakan bahwa ibunya telah dibunuh. Dia ingin membuktikan bahwa apa yang ia dengar semuanya salah. Namun ternyata, takdir tak berpihak padanya. Apa yang dikatakan orang-orang mengenai ibunya adalah benar, bahwa ibunya telah mati dibunuh. Hari berganti hari, minggu, dan bulan. Ya, sudah dua bulan ini kepergian Ibu Rasmi. Dan dua bulan ini Sukma terus mengurung diri di rumah dan tak pernah ke luar sama sekali meskipun itu hanya untuk mencari makan. Saat ini yang Sukma inginkan hanyalah membalaskan dendam ibunya. “Ibu, aku bersumpah akan membalaskan dendammu, nyawa harus dibayar dengan nyawa,” kata Sukma dengan penuh kebencian.

Malam itu, tepatnya malam jum’at kliwon, Sukma ke luar dari rumahnya dengan membawa samurai peninggalan ayahnya. Dia pergi ke perbatasan desa dan membunuh siapa saja yang berada di sana. Banyak orang yang mati terbunuh malam itu, hampir seluruh kepala keluarga yang tinggal di perbatasan di bunuh olehnya tanpa rasa iba. Tidak hanya itu, Sukma bahkan mengambil kedua bola mata orang yang dibunuhnya dan membuangnya di sumur dekat makam ibunya. Ketika Sukma akan melakukan pembunuhan lagi, tiba-tiba ia dihadang oleh seseorang yang ternyata adalah pembunuh Ibu Rasmi waktu itu. Tanpa membuang waktu Sukma segera melayangkan samurainya pada orang itu. Namun, orang itu bisa menghindarinya. Mereka kini ingin saling membunuh, dan akhirnya orang itulah yang kalah. Sukma mengarahkan samurainya tepat di depan leher orang itu, dan bersiap menghunusnya.

“Tunggu, jangan bunuh aku,” pinta orang itu.
“Aku ingin membunuh semua orang di desa ini,” kata Sukma dingin.
“Kau ingin membunuh Ayahmu sendiri?” kata orang itu yang sekaligus membuat Sukma menurunkan samurainya dan memikirkan ucapan orang itu.

Tapi beberapa saat kemudian ia kembali mengarahkan samurainya dan menghunus perut orang itu yang sebenarnya memang ayah Sukma. Sukma juga ikut terbunuh, karena ternyata di belakangnya seorang warga desa Dmeni menusukknya dengan pisau. Pagi itu mayat Sukma dan juga ayahnya dibuang di sungai dan desa Dmeni pun ditinggalkan satu per satu oleh penghuninya. Bahkan kini setiap malam di desa itu selalu terdengar suara jeritan, tangisan, dan hantu-hantu yang bermata bolong.

Cerpen Karangan: Setiyawati
Facebook: Setiyawati

Cerpen Reverange merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Cengkeweng

Oleh:
Pada suatu malam di saat matahari belum terbenam, seorang pria paruh baya bertanya-tanya kepada tahi lembu yang bergoyang. Ia heran, kenapa lembu yang makannya rumput yang warnanya hijau, kotorannya

Sumur Misterius

Oleh:
Aku Putri. Hari ini adalah hari pertama Aku, Nia, Yani, dan ayah Yani berwisata. Tempat wisata cukup jauh, dan konon, di jalan ada sumur misterius. Katanya, ada dua orang

Emmiline

Oleh:
Burung gagak mulai melantunkan suara menjengkelkannya di kala senja. Tunggu, kenapa ada suara burung gagak di sini? Perasaanku tidak enak. Kenapa Ayana, sahabat dekatku meninggal tragis secara tiba-tiba, Aku

Genk Gaib (Setan Junior)

Oleh:
Matahari terbenam tanda hari mulai malam, terdengar burung hantu suaranya merdu. “ups. sorry malah nyanyi gue, hehe…”. Maklum lah kalo udah kelar sunset ini waktunya gue, hmm.. gak cuman

Ketika Aku Hilang (Part 2)

Oleh:
Tubuh mereka ada yang gemuk macam karung dan ada pula yang kurus kering seolah tulang-belulang saja. Yang mengerikan, tubuh mereka tak lagi berbentuk tubuh, maksudku, sudah membusuk, organ dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Reverange”

  1. Fitria eka setiowati says:

    Ceritanya menarik… Tapi kenapa ,ayah sukma membunuh ibu Rasmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *