Riddle Mungkin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 18 July 2018

Tasya melirik jam di dinding. Sudah jam 12 malam lewat. Sudah terlalu malam juga.
“Lebih baik, kusudahi dulu saja perkerjaanku.” Gumam Tasya. Tasya mematikan laptopnya. Mengemasi semua barang yang berserakan di mejanya dan bergegas pulang.

Tangga sangat gelap. Aneh juga jika ia menaiki lift sendirian. Tasya menunggu agak lama di samping pintu lift.
“Loh, mba Tasya kok belum pulang?” Office Boy, Mas Aan menyapanya.
“Saya takut naik lift sendiri. Mas Aan bisa nemenin saya?” Tanya Tasya.
“Ohh, boleh. Ayo. Saya juga mau ke lantai dasar kok”. Keduanya memasuki lift. Tasya menekan tombol lantai bawah.

Entah mengapa, bulu kuduk Tasya tiba tiba meremang. Tasya berusaha tak menatap pantulan cermin di depannya.
Mas Aan mengejutkannya. “Kenapa, mba? Kok dingin gitu?” Tanyanya.
“Cuma kedinginan, Mas.”
Dan, keduanya diam lagi. Angin pelan berhembus. Meniup tengkuk Tasya.
“Kenapa perasaanku tak enak begini?”.

Tiba tiba lampu lift mati. Lift berhenti di tengah jalan.
“Astaghfirullah. Tolong! Tolong! Siapapun bantu kami!” Tasya berteriak sebisanya. Mas Aan menatapnya aneh. Tangannya mencengkeram leher Tasya.
“A-akh.. k-kenap-kenapa? Le-lepasin!” Tasya mulai kehabisa oksigen. Lehernya terasa terbakar. Tasya berontak, mencoba melepaskan cengkraman keras di lehernya. Semua kembali terang.

“Kami menemukan mayat Bu Tasya di dalam lift dan tanpa kepala. Mayat itu seperti tewas tanpa sebab yang jelas. Coba perhatikan rekaman cctv ini,”
Di monitor, terlihat jika Tasya tak mati dibunuh Aan. Tasya mengambil pisau lipat di tasnya. Dengan gila dia menggorok lehernya sendiri.
Tapi, anehnya, kenapa kepala Tasya hilang?
Dan bukannya Tasya ada bersama Aan?
“Coba kita tanyakan sama office boy 3 yang baru itu. Siapa namanya? Ehm, Risko, Aldo, sama Dito.”

Polisi dengan kedua rekannya menghampiri ketiga ob baru tersebut.
“Apa kalian membunuhnya?” Tanya polisi itu.
“Aku tak tahu apa apa tentang pembunuhan ini. Aku pulang jam 16.07 kemarin.” Jawab Risko.
“Kasihan sekali Bu Tasya mati mengenaskan. Aku tak melakukannya juga.” Sela Aldo.
“Aku juga tak tahu apa apa. Aku bahkan kemarin mengambil cuti.” Dito juga ikut menjawab.
Begitu tahu siapa pelakunya, polisi langsung menangkap salah satu dari mereka.

Kalian tahu? Tasya mati tak jelas kan? Haha. Sengaja kubuat rumit agar kalian berpikir serius. Tadi kuceritakan jika Tasya mati karena menggorok lehernya sendiri. Ayolah, itu hanya alasan polisi. Polisi hanya menjebak ketiga ob itu. Polisi tahu jika salah satu dari mereka adalah pelaku pembunuhan itu.
Dan pelakunya adalah, Aldo.

Kau tahu mengapa? Ketiga ob itu baru bekerja secara bersamaan dalam waktu 2 hari. Dito mengambil cuti karena dia sakit. Dan mana mungkin mereka mengenal Tasya? Padahal, polisi tak menyebutkan nama Tasya. Justru Aldo tahu nama Tasya.
Jadi, sudah terbukti jika Aldo lah pelakunya. Karena hanya Aldo yang mengetahui nama Tasya.

Oh ya, satu lagi. Tadi ada nama Aan kan? Aan hanya tokoh fiksi yang sengaja kubuat agar cerpen ini semakin tak jelas. Dan sekarang, arwah Tasya ada di belakang kalian. Bersiaplah kalian. Mungkin kalian bisa selamat, atau akan mati bersamanya.

Aku sendiri tak tahu, apa tujuanku membuat cerpen ini. Jujur saja, aju hanya mengetik kalimat demi kalimat yang tak bermakna. Intinya, aku hanya memutar mutarkan cerita ini.
Mungkin kalian paham. Karena ini sangat mudah sekali dipahami.
Yeah, salam kenal kalian para pembaca^^

Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Blog / Facebook: Rhytmawan Arnold

Cerpen Riddle Mungkin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bermain Dengan Sang Kematian

Oleh:
Tak ada yang bisa menolak kematian. Saat kematian memasuki ruangan, semua kesenangan hilang. Kebahagian berganti menjadi duka. Awan hitam kegelapan menyelimuti setiap relung jiwa yang ditujunya. Dan sekali lagi

Anak yang Misterius

Oleh:
Bus sekolah kami yang kami tumpangi menjadi sangat tidak seru. Tidak seperti yang kami tumpangi kemarin. Seru sekali. Tapi saat ini tidak. Apa sih yang salah? Ban tidak bocor,

Mimpi

Oleh:
Hari itu, aku lihat. Darah, api, orang mati. “Sayap kiri diserang. Ganti.” “Bzzt.. Bzzt” “Tolong! Tolong!” “Aaaarghh. Ayo kawan. Bangun!” Gelap. Pandanganku gelap. “Apa yang terjadi? Bau apa ini?

Mari, Masuklah

Oleh:
“Hufft, cape banget,” kataku sambil duduk di sebuah kursi kantin sekolah seperti biasanya. Biasanya, aku sudah sampai rumah pukul 3 sore. Tapi, karena tadi ada sebuah acara sekolah yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Riddle Mungkin”

  1. jengkol permanen says:

    sudah kuduga
    pasti aldo pelakunya
    ..hmm. krna cm dy yg nyebut tasya
    mngkn knal jd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *