Ritual Bunga Mawar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Aku melangkah dengan pelan menaiki jalanan yang agak mendaki. Rumput rumput liar dan bebatuannya tak menyurutkan semangatku. Matahari bersinar terik hari ini. Birunya langit yang membentang luas dihiasi oleh awan awan putih kecil. Keranjang di tangan bagai benda berharga yang tak boleh lepas dari genggaman. Rok putihku berkibar kibar kala terkena hembusan angin. Kulihat ada sekumpulan anak anak yang sedang bermain layangan. Dengan santai kudekati anak anak manis itu.

“Hei! Kalian sedang bermain ya. Apa kalian tahu ladang Mawar Tujuh Nyawa?” sapaku pada anak anak itu lantas menanyakan letak ladang mawar yang kuincar.
“Sebelah sana!” ujar salah satu anak seraya mengacungkan jari ke arah timur. Aku tersenyum lebar lalu mengusap pipinya.
“Terima kasih. Bersenang senanglah!” ucapku, kemudian kembali berjalan menapaki jalanan. Meski kakiku terasa pegal tetapi hasilnya pasti sebanding. Mungkin akan lebih dari yang kuharapkan.

Setelah sampai, aku dibuat takjub oleh aneka warna yang berkilauan. Luar biasa. Sejauh mata memandang yang kulihat hanyalah hamparan mawar. Sambil berlari kecil aku dekati bunga bunga itu. Tanpa pikir panjang lagi, kupetik bunga mawar yang berbeda warnanya. Ungu. Merah. Putih. Dan terakhir Merah Muda. Tak lupa aku menyiramkan air dari telaga jingga dekat rumah. Selesai sudah tujuanku ke tempat ini. Dengan rona kebahagiaan kutinggalkan tempat itu dan bergegas pulang. Berharap semua akan berjalan lancar, sesuai rencana.

CLAP! CLAP! CLAP!
Satu persatu bunga mawar itu aku ceburkan ke atas mangkuk yang berisi air dari telaga. Pisau yang tajam kugunakan untuk menyayat kecil jari telunjuk tangan kanan. Sakit. Tapi ini tak seberapa dengan rasa sakit yang kurasakan di dalam hati. Sudah jengah aku menahan dan berpura pura tegar. Sebentar lagi dendamku akan terbalaskan. Tetesan darah tercampur dengan air di mangkuk mangkuk itu. Bibirku mulai komat kamit membacakan mantera. Lantas aku tuangkan satu per satu airnya ke dalam guci yang berisi bara api. Namun, mangkuk berisi mawar merah aku teguk airnya sampai habis. Sementara mawarnya kulahap dengan rakus. Rasa pahitnya bagai mencekik. Aromanya yang wangi terasa menjalar ke seluruh tubuh melalui urat nadi. Seraya merebahkan diri, aku tertawa dengan kencang. Kini saatnya menunggu kejutan itu menuju mereka semua.

“Lebih baik kau pergi. Kau tak pantas berada di tempat ini”
“Hah. Bahkan hidup pun kau tak pantas. Enyahlah dasar suram”
“Kemari kau…”
“JANGAN! JANGAN! HENTIKAN! HENTIKAAAN!”

“HAAH” aku terbangun karena mimpi buruk yang kembali menghampiri. Aku masih trauma dengan perlakuan kasar mereka yang telah menggoreskan luka dalam di hati ini. Mereka sering menjambak rambutku sampai berdarah. Hingga menggunduli kepalaku dengan paksa. Bahkan aku sempat dic*buli sampai hamil lalu dipaksa menggugurkan janin. Rasanya sangat sakit. Tak hanya ragaku yang pedih tapi juga batinku. Harga diriku sebagai perempuan yang ingin hidup bahagia. Sama seperti mereka. Apa karena aku miskin dan yatim piatu? Sehingga mereka tega menyiksa dengan kejinya. Sungguh, aku tak akan memaafkan mereka semua.

Pagi yang indah serta cerah. Aku berjalan menuju sebuah tempat. Tempat yang akan merenggut nyawa mereka. Aliye, Emma, dan Ragna. Ketukan sepatu heel yang kukenakan menyadarkan mereka akan kehadiranku. Dengan tatapan yang sinis. Mereka berjalan ke arahku.

PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi. Aku tak merespon. Hanya diam. Sampai akhirnya, di tengah tengah tawa kekejian. Mereka saling terpental ke arah yang berbeda. Aliye. Ia terpental ke arah tembok. Matanya melotot tajam. Tiba tiba wajahnya berubah ungu seperti dicekik kuat kuat. Selanjutnya Emma. Dia memucat seperti kehabisan darah. Urat nadinya terlihat jelas. Perlahan tubuhnya menciut. Nampaknya dia berakhir menjadi seperti nenek tua. Ah. Yang kutunggu tunggu akhirnya. Ragna. Sekujur tubuhnya melepuh dan berbau amis sekali. Tangannya mencakar cakar kulit hingga akhirnya ia mati seperti direbus dalam air yang mendidih. Benar benar pemandangan yang indah. Tawaku kian membludak. Tiga wanita kejam ini telah tewas di tanganku dengan cara yang sangat cantik.

Di kamarku yang sederhana ini. Sedang berdiri sosok pria berparas tampan. Tapi hatinya sangat busuk bak bangkai. Sambil memegang pisau dapur yang amat tajam. Ia meronta ronta namun tubuhnya yang kaku tak mampu mengelak. Dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang apapun, ia akan berakhir seperti janin di perutku dulu.

SLEP! SLASH! SRAT!

Darah segar terciprat ke arahku. Dengan tatapan yang terpaku ke arah pria malang itu. Aku tertawa renyah. Akhirnya pria bernama Alonso ini telah merasakan apa yang dirasakan Kastalla, calon anakku yang harus mati karena paksaan keji.

Akhirnya, semua dendamku yang membara telah usai. Setelah ini, aku akan menenggelamkan diri ke dalam telaga jingga. Hingga aku tertidur tenang dan menjadi dewi lembut penuh kebencian. Tentunya dengan empat budak baru yang senantiasa patuh. Ya. Dewi bunga yang penuh duri.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: facebook.com/fauzimaulana.sukidakara

Cerpen Ritual Bunga Mawar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Genderuwo Di Pohon Sawo

Oleh:
Waktu itu madrasah di kampung nenek akan mengadakan kegiatan samen -acara perayaan kenaikan kelas- yang biasanya berlangsung cukup meriah karena akan diisi oleh berbagai kegiatan pertunjukan di antaranya hafalan

Satu Raga Dua Jiwa

Oleh:
Sesosok tubuh manusia kulihat sedang terduduk lesu sambil memeluk erat lututnya yang runcing di salah satu sudut ruangan. Seolah-olah takut kehilangan lututnya itu. Bangunan yang kumasuki ini bak istana

Blackstreet

Oleh:
Malam semakin pekat, suara anjing liar melengking memenuhi telinga siapapun di tempat itu, Blackstreet. Sebuah kota kecil dengan nama terunik, menurutku nama tersebut lebih cocok untuk sebuah jalan atau

Bukan Home Alone

Oleh:
Rasa takut masih terbayang-bayang di pikiran Hista, sebab tadi sore setelah pulang kuliah ia dan beberapa temannya pergi ke bioskop untuk menonton film horor yang sangat populer. Kemana pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *