Rumah Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 12 August 2015

Aku akan jadikan dunia ini damai dari mulai keluarga, selanjutnya rakyat. Menjaga adikku dengan sepenuh hati agar dia tidak manja dan selalu baik. Menyayangi kedua orangtua dan keluarga. Baik kepada siapapun. Membantu selagi mampu. Berusaha selagi kuat. Melindungi adikku dari tangan-tangan setan. Itu yang harus aku lakukan, untuk membuat aku hatiku nyaman.

Orangtuaku sibuk, pulang pergi ke luar kota. Rumahku berada di daerah yang jauh dari kota, dulu kami memilih tinggal di sini karena Ibuku senang dengan suasana pedesaan. Selera Ibuku hilang saat tempat Ibu bekerja dengan rumah letaknya sangat berjauhan. Ibuku seorang sekertaris di sebuah perusahaan.

Ayahku manager di sebuah pabrik. Dan adikku berusia lima tahun, pikirannya masih kosong dan perlu perhatian dari orangtua. Aku sisiwa kelas 8 bersekolah di Briand Junior High School, sekolah yang letaknya sangat jauh dari rumahku.

Nama ku Dinda dan adikku bernama Tasya. Selagi orangtuaku bekerja dan aku sekolah, adikku diasuh oleh tetangga.

Jam 4 pagi aku bangun tidur, ke luar kamar untuk membangunkan adik. Saat ku buka pintu kamar adikku, ternyata adikku sudah bangun. Lalu aku ke dapur dan melihat Ibu sedang memasak makanan untuk makan pagi.

“bu, Ayah ke mana?” tanyaku.
“Ayah masih tidur, Ibu minta tolong untuk bangunkan Ayah ya!” seru Ibu.
“iya bu” jawabku.

Aku pun berjalan ke kamar Ayah, membuka pintu dan melihat Ayah yang sedang melamun di samping kasur.

“Ayah? Jangan melamun. Ayah memikirkan apa?” tanyaku.
“Ayah berpikir untuk pindah, mencari rumah baru di kota agar mudah jika pergi ke kantor dan Sekolahmu” jawab Ayah.
“iya benar yah. Jika ingin sesuatu mudah, di kota itu dekat jika ingin ke toko-toko” ucapku.
“Ayah akan pulang agak malam karena akan mencari rumah yang kita inginkan, Ayah sudah berbincan-bincang semalam dengan Ibu” ucap Ayah.
“iya yah” jawabku.

Jam menunjukan pukul 04.15 aku pun segera mandi, ganti baju dan makan pagi. Saat selesai makan pagi bersama, Ayah, Ibu dan aku pergi berangkat jam 05.30, karena sekolah dan kantor Ayah, Ibuku letaknya jauh dari rumah.

Sesudah sampai di Sekolah, aku langsung menuju kelas dan menyimpan tas. Tak lama bel masuk pun berbunyi. Kami hanya belajar selama tiga jam, karena guru-guru akan mengadakan rapat. Tak sabar untuk sampai ke rumah menemani adikku.

Jalanan kota yang macet membuat perjalananku menuju rumah bertambah lama. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya sampai juga di rumah.

“adik! Kakak pulang” teriakku dari luar rumah, adikku langsung berlari menghampiriku.
“Kakak mengapa kau pulang cepat?” tanya adikku.
“kau tak perlu tahu, yang penting Kakak bisa menemanimu” ucapku.

Aku pergi ke Ruang Utama untuk menghilangkan rasa lelahku.

“Tasya, kamu tahu tidak? Kata Ayah, perkiraan, besok kita pindah rumah. Kamu senang tidak?” tanyaku. “iya kak aku senang, berarti Kakak pulang lebih cepat dan bisa menemaniku” jawab Tasya.
“iya Tasya” ucapku. Aku pun menyalakan laptop hanya untuk menghIbur diri saja dan adikku sIbuk bermain game.

Hari menjelang malam, Ayah dan Ibu pun pulang.

“Ayah, apakah sudah menemukan rumah untuk kita pindah?” tanyaku.
“sudah, besok kita bisa pindah, apakah besok kau lIbur?” tanya Ayah.
“iya yah, jadi besok sabtu, kita merapikan barang-barang di rumah baru” ucapku dengan wajah yang senang.

Keesokan harinya kami merapikan barang-barang dan dimasukan ke truk pengangkut barang. Kami pun segera berangkat ke Rumah baru. Saat sudah sampai aku melihat rumah itu, besar, indah, halamannya besar dan sejuk karena di samping rumah ini terdapat pohon besar yang rindang.

Kami pun masuk dan aku beranggapan rumah ini seperti istana karena rumah ini luas dan juga indah. Ayah pun menunjukan kamarku, walau tak jauh beda dengan kamarku sebelumnya, aku merasa sudah nyaman.

Sesudah barang-barang dimasukan ke dalam rumah dan sudah dirapikan, aku berjalan-jalan mengelilingi rumah baruku bersama adikku, hanya ada satu ruangan yang tidak dapat kami masuki karena terkunci dan Ayah pun tak diberi kunci ruangan itu oleh pemiliknya.

Makan malam pertama di rumah baru kami, sangat menyenangkan. Suasana perumahan kota pun tampak begitu jelas di suasana siang mau pun malam hari. Aku ingin terus tetap tinggal di rumah ini, walau pesona alam kalah indahnya dengan rumah kami saat di pedesaan, tak apa asalkan bisa membuat kebersamaan yang erat. Sesudah makan malam kami melihat hIburan malam di televisi dan selanjutnya tidur.

Pukul 03.30 aku terbangun karena aku ingin buang air, saat aku berjalan, aku merasakan sesuatu yang aneh, perasaanku mulai memberikan pertanyaan. Ada apa? mengapa? Dari dapur terdengar suara seperti ada yang mengambil piring dan sendok. Saat aku melihat ke dapur, perkiraan aku itu adalah Ibu, tetapi tak ada orang di dapur.

Aku pun masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sesudah buang air aku kembali ke kamar tidur ku. Saat berjalan aku melewati ruangan yang terkunci itu, aku mendengar suara piano yang merdu, terus mendengarkannya dan pada akhirnya terdengar suara wanita sedang menangis.

Aku pun lari menuju kamar orangtuaku dan membangunkan mereka.

“Ibu! Ayah! bangun!” ucapku dengan memegang badan mereka.
“aduh Dinda ada apa?” tanya Ibu.
“itu bu ada orang yang menangis di ruangan yang terkunci, di ujung” ucapku dengan panik.
“ah masa ada orang sih, kan kamar itu dikunci, lagi pula Ayah tidak memegang kuncinya” ucap Ayah.

Aku berusaha meyakinkan mereka dan ternyata mereka mengikutiku, setelah sampai di sana kami tidak mendengar suara tangisan dan suara melodi piano. Orangtuaku tak percaya dan mereka menganggap aku hanya bergurau.

Matahari mulai tampak di ujung timur. Hari sudah siang. Hari ini hari minggu, aku dan Tasya hanya berdiam diri di rumah, sedangkan orangtua kami, ada urusan ke luar kota. Merekapun pergi, hanya ada aku dan adikku.

Aku duduk di depan meja komputer, menyalaakan komputer dan bebuka jejaring sosial facebook. Sedangkan adikku sedang serius bermain game. Saat sedang membuka facebook ternyata listriknya padam, yang membuat aku aneh adalah game yang dipakai adikku ternyata ikut padam dan listrik yang mati hanyalah kamar
ku sedangkan ruangan yang lain tidak padam.

Tak lama arus listrik pun mengalir kembali. Tiba-tiba ada yang membunyikan bel pintu, saat aku dan adikku melihat ke luar rumah, ternyata tidak ada orang. Aku tak melepaskan genggaman tanganku dari tangan adikku karena perasaanku sangat buruk, aku tak mau adikku celaka.

Tiba-tiba hujan besar turun disertai dengan petir yang kencang.

“Kakak aku takut” ucap adikku.
“tidak Tasya, kamu berani, kamu kuat, sebentar lagi Ibu pulang” ucapku agar menenangkan adikku.

Sekilas aku melihat sosok wanita yang berjalan dari ruang utama menuju ruang tamu saat kulihat, ternyata tidak ada siapa-siapa. Entah mengapa tiba-tiba adikku menangis, aku coba menenangkanya, tetapi tetap saja dia menangis.

Sekilas aku mendengar suara air mengalir, saat aku mencari dari mana sumber air mengalir itu, tetap saja tak kutemui. Saat aku dan adikku melewati ruangan yang terkunci, aku dan adikku mendengar suara piano dan tangisan wanita, tangisan wanita itu membuat ku terharu, ingin membuka pintu dan takut.

Keadaan mulai membaik, adikku sudah tidak menangis lagi. Kami pun memutuskan untuk berdiam di kamar Ibu dan Ayah. Saat kami sedang menenangkan diri tiba-tiba sosok wanita berbaju putih menampakan dirinya di jendela kamar. Kami pun merasa takut.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor tempat Ibu bekerja. Aku dan adikku menggunakan sepeda untuk sampai ke sana, aku tak tahu Ibu menyimpan jas hujan di mana, terpaksa kami tak memakai jas hujan untuk sampai ke sana.

Saat aku sedang mengemudikan sepeda, seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Suasana yang sepi membuatku takut. Adikku memegang pundakku.

“ada apa Tasya?” tanya ku.
“Kakak lihat itu adikku menunjuk ke arah kanan jalan, saat ku lihat, itu adalah wanita yang menampakan dirinya di luar jendela.

Aku yang mengemudikan sepeda dengan tenang, menjadi sangat cepat. Aku dan adikku berteduh di pos keamanan, lelah, lemas dan basah, bembuatku berhenti untuk melanjutkan perjalanan.

“Kakak aku kedinginan” ucap adikku. Badannya menggigil.
“iya dek Kakak juga kedinginan” jawabku.

Saat ku lihat dari kejauhan, aku melihat wanita sedang berjalan menggunakan payung dan menghampiri kami.
“aduh, kalian kebasahan, ayo ikut Ibu, ke rumah Ibu” ucap Ibu itu.
“iya bu, terima kasih” jawabku.

Di rumahnya kami diberi baju hangat minuman hangat dan air panas untuk kaki kami.

“kalian adik Kakak?” tanya Ibu itu.
“iya benar bu” jawabku.
“mengapa kalian hujan-hujanan begini?” tanya Ibu itu.
“kami akan ke kantor tempat Ibu bekerja” jawabku.
“di mana rumah kalian?” tanya Ibu itu.
“di jalan melati II, nomor 333” jawabku.

Saat Ibu itu mendengar alamat rumahku dia terlihat terkejut sekali.

“dahulu saat Ibu masih kecil, Ibu tinggal di seberang rumah itu. Di sana ditempati oleh wanita remaja yang cantik, dia senang dan juga pandai bermain piano, entah mengapa dia sering menangis saat bermain piano. Saat sedang bermain piano, dia dirampok lalu di bunuh. Warga menemukan mayatnya sudah tidak bernyawa di ruang belakang dekat dapur, yang dipakai untuk bermain dan menyimpan piano. Sejak itu ruangan tempat ia dibunuh, dikunci dan kuncinya dikubur bersama dengan mayatnya. Rumah itu dijual oleh kerabatnya, lalu turun-temurun dijual dan akhirnya sampai pada keluarga mu” Cerita singkat dari Ibu itu.

“saat semalam aku mendengar suara piano dan tangisan dari ruang itu” ucapku.
“Ibu minta nomor ponsel Ibumu, untuk menjemputmu di sini!” seru Ibu itu.
“ya bu, 08xxxxxx” jawabku.

Saat pukul 17.15 Ibu menjemputku. Aku menceritakan apa yang aku dan adikku alami di rumah itu kepada orangtuaku. Ibu percaya dengan apa yang sudah aku alami.

Pada hari senin kami pindah kembali ke rumah yang lebih aman, nyaman, walau pun tak sebagus rumah kami yang kemarin kami tempati. Akhirnya aku dan keluarga hidup seperti biasa kembali, di tempat tinggal baru. Rumah itu tidak dilihat dari keindahannya tetapi dari kebersamaannya.

Tamat

Cerpen Karangan: Dian Tri Larasati

penulis : Dian Tri Larasati
facebook : dian tri larasati
twitter : @diantrilarasati
sekolah : SMPN 1 padalarang

Cerpen Rumah Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ghost of School

Oleh:
Bel tanda istirahat telah usai berbunyi, Citra, Syfa dan Desi segera berlari ke kelas untuk tidak telat mengikuti pelajaran. “huffthh… Kalian ini, selalu deh pergi ke kantin lamaaaa bangeeett..”

Miss Night

Oleh:
Sounds of owls and howling dogs on the hills tease the eternal loneliness at to night. Momentary voice shouted to each other. Dogs or a owls, I don’t know

Misteri Ayunan Tua

Oleh:
Di sebelah rumah Tiara, terdapat sebuah taman yang indah. Banyak orang yang berkunjung ke sana dan memakai semua sarana permainannya, kecuali sebuah ayunan tua yang sudah mau putus di

Sarinah (Last Part)

Oleh:
Audy, Andre dan July memalingkan pandangannya kearah kanan mereka begitu terlihat ada seberkas cahaya dan bayangan seseorang dari arah dapur. Mbok Surti berjalan pelan-pelan, tangan kanannya memapah Mbah sarinah

Who’s Next

Oleh:
Aku masih terduduk diam di atas tempat tidur dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhku, kejadian yang terasa begitu nyata baru saja membuatku hampir kehabisan oksigen untuk bernapas, suara jerit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *