Rumah Gagak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Berikut adalah salinan dari buku catatan yang ditemukan di Rumah Gagak pada tanggal 21 Maret 2014 atas nama Sarah Lenora.

Rabu, 9 Januari 2014
“Sarah, kita akan pindah besok lusa.”

Papa mengatakannya padaku semalam. Ringan saja. Seakan bagi Papa berita itu tak lebih dari sekedar headline surat kabar yang selalu dibacanya tiap pagi atau topik ringan yang bisa kami bicarakan saat makan malam keluarga. Aku bertanya kenapa begitu mendadak. Papa cuma memandangku dalam diam sebelum berbalik dan pergi. Ku tarik punggung kemejanya dengan kasar, tapi samar-samar ku dengar suara terisak dari dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit di samping kami. Suara Mama. Saat itu baru aku sadar kalau aku… kami, tidak punya pilihan lain. Rumah ini benar-benar akan disita karena kasus itu.

Protes pun sudah tak ada gunanya lagi. Ku lepaskan kemeja Papa dengan perlahan sebelum masuk ke kamar Nanda. Anak itu pasti bingung melihat mata kakaknya yang baru saja lulus SMA ini berkaca-kaca, dan pasti jadi lebih bingung lagi saat ia ku peluk begitu erat sambil menangis. Kenyataan tak bisa lebih jelas dan menyakitkan lagi. Kami harus pindah. Tadi pagi Mama memintaku membantunya memasak. Aku rasa dia berusaha sekuat mungkin agar aku dan Nanda tidak merasakan ada sesuatu yang berubah mengingat kami semua akan pindah besok lusa. Kata Bunda kami harus bersyukur karena tiba-tiba saja seorang saudara jauh Ayah menelepon dan mengatakan bahwa kami ada sebuah rumah di Yogyakarta yang bisa kami tinggali sampai semua masalah ini selesai.

“Rumahnya seperti apa nanti?” tanyaku saat membantu Bunda merapikan pakaian Nanda ke dalam koper.
“Gede kok Sayang. Mama baru lihat fotonya doang sih, tapi yang jelas jauh lebih gede dari rumah kita sekarang.” Mama menjawab pertanyaanku dengan antusiasme yang nampak dipaksakan. “Kamu sama Nanda bakal kerasan kok di sana.”
“Dari kota Jogjanya jauh nggak? Aku denger dari Papa katanya tempatnya di Kaliurang…” Bunda berhenti melipat pakaian lalu dengan lembut meletakkan kedua tangannya di pundakku.
“Tempatnya memang agak jauh sih dari kota, tapi bukannya gitu bisa jadi lebih asyik? Kamu sama Nanda bisa jadi kayak liburan terus tuh. Pemandangannya bagus banget loh. Rumah itu sebenarnya bukan rumah, tapi villa punya Om Chandra dulu. Keren banget nggak tuh?”

Aku hanya membalas tatapan Mama dengan senyum kecil. Entah karena aku merasa tak tega melihat sikapnya yang berusaha keras nampak kuat dan tegar, atau karena memang ada ketenangan dari kata-kata itu. Mungkin memang semuanya tidak terlalu parah. Aku tahu semua ini pasti berat bagi Papa dan Mama, jadi hal yang setidaknya bisa ku lakukan adalah dengan bersikap positif. Omong-omong seingatku Om Chandra meninggal tiga tahun yang lalu. Gantung diri. Aku jadi merasa tak nyaman dengan pikiran akan tinggal di bekas properti seseorang yang bunuh diri, tapi toh aku juga tak yakin.

Minggu, 13 Januari 2014
Rumah ini jauh lebih besar dari yang ku bayangkan! Rumah dua lantai yang kebanyakan dibuat dari kayu lengkap dengan ukiran-ukiran geometris yang indah. Hutan pinus yang mengelilingi lanskap rumah membuat bangunan dengan arsitektur kolonial ini seperti kabin yang ada di daerah Alaska (minus kebun Salak yang ada di samping rumah). Nanda langsung menyebutnya ‘Rumah Sherina’ waktu kami tiba pagi ini. Mungkin karena pohon-pohon pinus yang tinggi dan tua di sekeliling rumah mengingatkan anak itu dengan villa di Petualangan Sherina. Syukurlah. Aku sempat khawatir kepindahan kami yang mendadak ini akan berefek negatif pada anak berusia lima tahun seperti Nanda. Tapi anak itu kelihatan senang. Bersemangat malah. Ia bahkan terus menerus menunjuk-nunjuk loteng lantai dua seakan ada seseorang di sana.

“Sarah kamu mau tidur di mana?” tanya Papa sambil menarik dua koper berat melewati pintu depan. Rumah itu sedikit lembap dan apak di bagian dalam. Mungkin karena sudah lama tidak ditempati. Pemilik sebelumnya dengan baik sudah meninggalkan beberapa perabotan utama seperti sofa, meja, dan tempat tidur. Kesemuanya dilapisi plastik tahan air dan kain putih sebagai pelindung. Rumah itu juga cukup bersih dan terawat. Aneh rasanya mengingat siapa pun yang disuruh menjaga rumah selama ini tidak ikut menyambut kedatangan kami. “Di atas ada kamar yang cocok buatmu kayaknya.” Mama muncul dengan setumpuk kardus berisi buku dan CD musik koleksinya. “Nanti Nanda biar tidur di kamar sampingmu.”

Kami menghabiskan sisa hari itu untuk menata barang-barang. Baru kami sadari kalau ternyata rumah itu ternyata jauh lebih luas dari kelihatannya. Ada semacam bangunan kedua di belakang yang dihubungkan oleh koridor panjang dan sempit dengan bangunan utama. Kata Papa itu mungkin bangunan yang belum selesai direnovasi oleh Om Chandra karena banyak bagian dindingnya yang belum dicat. Tapi kenapa aku merasa tak yakin apa bangunan itu memang sedang direnovasi.

Bentuknya sangat aneh. Ada tangga logam spiral yang lurus menuju langit-langit yang terbuat dari beton. Ada pula ruangan kosong dengan satu jendela yang tidak memiliki pintu, serta sebuah pintu berwarna merah tua dengan keratan gambar tiga lingkaran dalam sebuah segitiga yang ketika dibuka isinya hanya dinding tebal. Aku minta Papa agar pintu menuju koridor sempit itu selalu dikunci. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku seperti mendengar ada suara mengetuk-ngetuk dari bangunan itu saat terbangun kemarin malam.

Selasa, 22 Januari 2014
Waktu Nayra, Linda, dan Yogi bilang kepadaku bahwa mereka akan main ke Jogja rasanya aku ingin melompat dari tempat tidur. Sudah seminggu lebih kami tinggal di sini, dan bukannya aku mau mengeluh, tapi aku tak mengenal siapa pun di sini. Belum lagi kenyataan kalau rumah ini berdiri angkuh sendirian di bukit yang dikelilingi hutan pinus dan salak yang begitu luas. Tetangga terdekat kami jaraknya sekitar 15 menit perjalanan naik kendaraan bermotor. Harus ku akui aku jadi sedikit kesepian walaupun aku tak bisa komplain tentang langit malam spektakuler yang selalu bisa ku intip dari kamarku di lantai dua. Buku kumpulan puisi dan naskah cerpenku selesai dalam waktu seminggu sejak aku ada di sini. Well, mungkin Mama benar. Rumah ini ternyata tidak terlalu buruk.

Rombongan itu datang sekitar pukul 11. Yogi membawa mobil tantenya yang tinggal di Sleman. Aku terpaksa harus menunggu mereka di jalan masuk Kaliurang karena Nayra bilang mereka tak bisa menemukan gang masuk ke daerah arah rumah kami. Yogi bilang mereka sudah melewati gang itu berkali-kali tapi anehnya tak ada seorang dari mereka yang menyadari gang itu ada sampai aku tiba dan melambaikan tangan. Dasar! Pasti alasan mereka aja karena nggak mau repot mencari-cari alamat hahaha… Tapi yang jelas aku senang sekali mereka bisa datang. Kami menghabiskan seharian itu untuk jalan-jalan di sekitar Jogja. Kraton, Tamansari, Candi Prambanan, dan saat senja Yogi mengajak kami semua ke Parangtritis.

Aku sampai rumah sekitar jam 8 malam. Mama sudah menunggu di pintu depan. Katanya khawatir kok kami nggak segera pulang tapi kemarahannya reda saat melihat wajah berseri kami berempat. Aku menawarkan ketiga sahabatku itu untuk tidur di rumah kami dulu malam itu tapi dengan tegas Linda menolak. Waktu kami sekeluarga melepas mereka di pintu pagar depan Linda kelihatan memandang loteng rumah kami dengan pandangan aneh dari dalam jendela mobil. Seperti ketakutan. Entah karena apa.

Oh ya, satu lagi. Nayra bilang padaku kalau Yogi menembaknya minggu lalu. Tepat pada hari saat kami harus pindah. Nayra menerimanya dan dia meminta maaf padaku dengan sungguh-sungguh karena dia tahu aku sudah menyukai Yogi sejak kelas satu SMA. Aku tersenyum lebar sekali sebelum memberi selamat mereka berdua. Ku katakan pada Nayra kalau aku sudah lama kehilangan perasaanku ke Yogi dan aku akan terus mendoakan agar kedua sahabatku itu langgeng. Aku menghabiskan malam itu dengan menangis di kamar.

Selasa, 22 Januari 2014
Ada sesuatu yang aneh dengan rumah ini. Sudah sebulan lebih kami tinggal di sini dan… entahlah, semakin lama aku merasa ada yang tidak beres. Sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak seminggu yang lalu, tapi sebelumnya tak pernah terlalu ku perhatikan. Rumah ini adalah rumah lama dan apa pun suara asing yang mungkin muncul kemungkinan besar berasal dari bagian rumah yang lapuk atau berkarat. Dulu di rumah kami sebelumnya Nanda pernah bilang kalau tiap malam ada suara menggaruk dari kamar mandi. Ternyata seekor katak terjebak di saluran air kami dan suara menggaruk itu tak lebih dari suara kegigihan si katak agar bisa keluar dari lubang itu. Mungkin karena itulah aku tidak terlalu menganggap serius semua keanehan di rumah ini.

Pertama aku merasa suhu di dalam rumah selalu lebih dingin dari udara di luar. Terlalu dingin. Seperti ada yang menyalakan kulkas raksasa di seluruh ruangan. Anehnya suhu udara jadi selalu bertambah dingin semakin aku berjalan ke arah bangunan di belakang rumah. Begitu dinginnya hingga pernah aku melihat ada bunga es menempel di pegangan pintu menuju koridor belakang padahal saat itu sudah pukul sebelas siang. Selain itu sering ada bau-bauan yang tidak bisa ku jelaskan asalnya. Kadang begitu wangi, kadang begitu busuk seakan ada yang dengan sengaja meninggalkan bangkai tikus di pojok ruangan.

Aku juga sering mendengar ada suara orang berbisik atau langkah kaki seseorang padahal aku tahu Mama dan Nanda ada di ruang sebelah sementara Papa sedang ke luar rumah. Suaranya jelas sekali karena lantai rumah terbuat dari kayu. Langkah kaki itu kadang keras dan berderap, seperti suara laki-laki berbadan besar. Tapi pernah juga suaranya ringan seperti langkah anak-anak yang berlarian. Tapi setiap kali aku pergi untuk mengecek sumber suara itu yang ku temukan hanya ruangan kosong yang dingin. Tapi semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan apa yang ku lihat semalam.

Sejak dulu Nanda punya semacam nama khusus untuk boneka favoritnya. Ada Ponpon, boneka Panda yang dibelikan ayahku saat kami pergi ke pasar malam dua tahun yang lalu. Lalu ada pula si Endut, boneka kuda nil dari acara kartun favoritnya, dan entah apa lagi. Nanda bisa mengingat semua nama boneka favoritnya. Sejak kami datang ke rumah ini tanpa sengaja aku mendengar Nanda menyebut nama baru saat bermain boneka. Blacky (atau bleki, kalau menurut kata-kata Nanda). Kemarin aku mendekati Nanda saat ia sedang bermain sendirian di kamarnya.

“Nanda, kok seru banget mainnya. Punya teman baru ya?” tanyaku sambil ku gelitik pinggulnya. Nanda terkikik keras. “Iyaaaa! Ada Bleki nih Kak sekarang…”
“Bleki? Mana? Emang kamu dibeliin boneka baru sama Papa?”
“Nggak! Bleki cuma mau maen kalau aku sendirian aja, hihi…”
“Emang dia boneka apa?” saat itulah aku sadar kalau Nanda mungkin punya semacam ‘teman khayalan’. Aku jadi sedikit merasa bersalah karena itu mungkin cara anak kecil itu untuk bisa menghadapi semua masalah keluarga kami ini.
“Monyet Kak. Matanya item, gede banget, hihi…” kata Nanda sambil membuat bentuk lingkaran dari jempol dan telunjuknya lalu ditempelkan pada matanya sambil menyeringai. Kedua gigi serinya yang kemarin baru tanggal membuat wajahnya kelihatan konyol sekali.

Malam itu aku terbangun karena mendengar suara keras seperti suara pintu yang dibanting tertutup. Dengan cepat aku turun ke lantai bawah. Kosong. Kamar Papa dan Mama masih nampak tertutup rapat dan aku tidak mendengar suara Nanda menangis karena kaget. Aneh sekali mengingat suara barusan terdengar begitu keras hingga saat aku terbangun kaca jendela di sampingku masih bergetar. Aku melihat ke seluruh ruangan rumah tapi tak menemukan ada tanda-tanda pintu terbuka atau jendela rusak.

Tepat saat aku akan kembali ke lantai atas, mataku tanpa sengaja menangkap ada gerakan di daerah belakang rumah. Pintu menuju koridor belakang nampak terbuka sedikit. Aku tak yakin dengan apa yang ku lihat, tapi ingatanku begitu jelas. Di balik pintu itu ada sesuatu sedang balik menatapku. Matanya berbentuk bulat besar dan berwarna hitam total. Dua lingkaran gelap itu nampak berkilat di bawah kisi-kisi pintu yang sedikit terbuka. Sekilas makhluk itu nampak seperti monyet, tapi setelah ku dekati itu jelas itu monyet. Ukurannya terlalu besar. Itu seseorang yang sedang merangkak.

Kamis. 2 Februari 2014
Aku tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Ku habiskan dua minggu belakangan untuk meyakinkan Mama dan Papa bahwa ada yang tidak beres di rumah ini. Bahwa ada sesuatu yang jahat, entah apa, sedang meneror keluarga kami. Tapi toh percuma. Mama memandangku dengan pandangan marah. Ia bilang ini semua cuma cerita karanganku agar Nanda merasa takut dan tak nyaman sehingga kami jadi punya alasan untuk pindah. Mama bahkan membentakku keras saat ku bilang ada sesuatu yang aneh dengan bangunan di belakang rumah. Suatu hal yang seumur hidupku belum pernah ia lakukan padaku. Saat ku lewati cermin kamar mandi pagi ini tak ku temukan Sarah Lenora di sana. Yang ada hanya seorang gadis berusia 19 tahun yang nampak kuyu. Matanya menggembung karena tidur baginya adalah sebuah horor yang lain. Ingin ku tinju wajah di cermin itu tapi tubuhku sudah terlalu letih. Putus asa dan letih.

Ya Tuhan, apa yang mesti ku lakukan… Dan Papa. Papa jadi seperti menjadi orang lain. Dia hanya membisu saat ku ceritakan semua keanehan yang ku lihat dalam rumah. Diam seribu kata. Pandangannya dingin. Ia juga tak pernah bicara dengan Mama. Kemarin sempat ku lihat Mama terisak di kamar sebelum berteriak keras, “Kenapa diam saja!? Apa ini semua salahku!?” Ku genggam sisi pintu kamarku dengan erat sambil menahan air mata. Dari sudut pintu yang terbuka ku lihat papa hanya beranjak pergi dalam diam ke luar rumah. Ku habiskan malam itu dengan tidur mendekap Nanda. Napas Nanda yang lembut menerpa hidungku seakan memberikanku kehatangan. Untuk pertama kalinya, sejak dua minggu terakhir, aku tidur dengan pulas.

Minggu, 5 Februari 2014
Untuk siapa pun yang menemukan buku catatan ini, tolong dengarkan pesan ini. Ada sesuatu yang jahat berada di bangunan di belakang rumah kami. Aku terbangun sekitar setengah jam yang lalu. Pukul 12 lebih satu menit. Aku mendengar ada suara mengetuk yang berulang-ulang dari lantai bawah. Seperti suara sebuah benda yang dipukul-pukul ke pintu secara berulang-ulang. Aku turun ke bawah dan menemukan pintu yang menuju ke bangunan belakang terbuka lebar. Suara mengetuk-ngetuk itu terdengar berasal dari ujung koridor sempit yang gelap di hadapanku. Bunyinya terdengar menggema di dinding koridor yang dingin. Demi Tuhan aku merasakan tubuhku lumpuh karena takut. Ada perasaan yang menekan dari koridor itu.

Aku merasa jadi sulit bernapas. Udara juga jadi begitu dingin. Dengan gelagapan ku ambil senter dari laci dan ku ikuti sumber suara itu menuju bangunan gelap yang ada di belakang rumah. Aku terdiam. Tubuhku terasa kaku melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Papa sedang berdiri diam menghadap pintu merah dengan keratan simbol segitiga berisi tiga lingkaran itu. Suara ketukan berulang-ulang tadi tak lain adalah suara kepala Papa yang dibentur-benturkan secara terus menerus ke pintu itu. Belum sempat ku panggil, Papa menoleh ke arahku.
Makhluk itu bukan ayahku.

Sekarang aku berada di kamar Nanda. Ku dekap tubuhnya dengan erat. Pintu kamar sudah ku kunci. Samar-samar ku dengar ada suara seseorang naik ke lantai atas.

Buku catatan atas nama Sarah Lenora ini merupakan salah satu benda yang ditemukan di TKP ‘Rumah Gagak’ dimana satu keluarga (Ayah, Ibu, seorang putri remaja dan adiknya yang berusia lima tahun) menghilang tanpa jejak. Buku catatan ini ditemukan di tengah-tengah sebuah ruangan kosong dengan pintu berwarna merah dengan keratan simbol tiga lingkaran dalam sebuah segitiga. Di samping buku catatan ini juga ditemukan sebuah gumpalan kain yang berisi rambut, kuku, gigi, dan darah yang telah mengering.

Cerpen Karangan: Angga Prawadika
Blog: menungguminggu.tumblr.com

Cerpen Rumah Gagak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jogjakarta

Oleh:
Aku masih menyusuri jalan ini, jalan yang tak akan pernah membuatku merasa bosan untuk melewatinya. Pedagang-pedagang kaki lima, tukang becak, mbok-mbok penjual gudeg, dan kusir delman yang semuanya seperti

Di Balik Kematian Aldan (Part 2)

Oleh:
Kami bertemu di tempat penampungan anak-anak karena si Kala, dialah yang pertama tahu tentang motor Aldan. Fabian sampai 30 menit setelah sampai, selama menunggu Fabian, Kala bercerita jika banyak

Kisahku di Jembatan Gondolayu

Oleh:
Jembatan Gondolayu. Salah satu jembatan di kota Jogja yang membentang di atas kali code ini memiliki kisah tersendiri. Menurut cerita nenekku dulu berasal dari kata nggondhol ‘melarikan, membawa’ dan

Dream Dark

Oleh:
Beberapa hal terjadi padaku tahun lalu, benar-benar terjadi-sesuatu yang luar biasa dan tidak mungkin, seperti bohong. Aku menemukan pacarku adalah seorang supernatural, Cenayang dengan kutukan. Dia membaginya dalam melodi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Rumah Gagak”

  1. bambang says:

    Cerpenmu sangar gilaa. Terus berkarya sob.

  2. scarlet overkill says:

    cerita yg bagus…tingkatkan!

  3. Nanda Insadani says:

    It’s over-thrill, man! You got it! ^_^
    Hanya saja unsur “background”nya kurang di ekspos lagi, seperti kenapa ayahnya menjedutkan kepalanya di tembok, kenapa ada hantu monyet, dsb.

  4. Septi Gustriani says:

    Cerpenya bagus, cuman kurang jelas kenapa keluarga itu mati, terus hantu monyet jga dari mana. tapi over all keren ko.

  5. dinda says:

    Bagus cerpennya !!!
    Itu nyata atau hanya fiksi ya?
    Kok ngeri banget .
    Hantu monyetnya dari mana?? Trus papanya ngapain?? Apa semacam pemujaan gt ??
    Tanda tanya besar nih

  6. fenty says:

    Bagus cerpen nya!
    oiya izin simpan ya kak untuk tugas mencari cerpen !
    Terima kasih !

  7. Renata says:

    Cerpen yg sungguh bagus banget spt kita ikut terhanyut dlm cerita,, sayang nya hanya cerpen seandainya novel tentu bagus banget sekelas abdullah harahap. Apa ada bagian ke 2 ya,, jd penasaran… keren bangeeeetttttttt…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *