Rumah Nenek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 25 October 2017

Hari ini, Shasya menginap di rumah neneknya. Ia menginap bersama ayah dan ibunya. Malam ini, shasya tidur di kamar neneknya seorang diri. Shasya sebenarnya tidak menyukai kamar neneknya, dikarenakan, aromanya semerbak bunga melati. Namun, kali ini Shasya terpaksa harus tidur di kamar neneknya karena alasan yang sangat mendesak.

Shasya mulai memasuki kamar neneknya, masih tercium aroma semerbak bunga melati. Shasya sudah tak peduli lagi tentang hal mistis, ia segera merobohkan tubuhnya di ranjang. Mata Shasya seakan tak kuat lagi menahan kantuk yang mendalam, ia segera menutup mata dan tertidur.

Jam demi jam berlalu, tampak seorang wanita memasuki kamar dan duduk di samping Shasya. Wanita itu mengenakan pakaian hitam pekat, berambut panjang, dan membawa sekuntum mawar putih nan indah. Tangan wanita itu perlahan mengelus kening Shasya, sayup sayup Shasya membuka mata, Shasya mengusap mata seraya berkata, “Ibu, ini masih malam, kenapa ibu membangunkanku?”. Perlahan mata Shasya terbuka lebar, ia baru sadar bahwa yang duduk di sampingnya bukan ibunya, ia sontak kaget dan berkata “Siapa kau! Kenapa aku tidak mengenalmu?”. Namun, wanita itu hanya terdiam dan mengusap kembali kening Shasya. Entah kenapa, mata Shasya kembali tertutup, wanita itu kemudian menyelimuti kembali Shasya dengan selimut dan keluar pergi dari kamar.

Beberapa jam kemudian, matahari mulai menampakkan cahayanya. Ibu Shasya memasuki kamar nenek Shasya dan membuka jendela kamar. Shasya perlahan membuka matanya seraya berkata, “Ibu, apakah ini sudah pagi?”, “Iya, ini sudah pagi, sebaiknya kamu segera pergi untuk mandi.” jawab ibu Shasya.

Shasya kembali mengingat kejadian semalam, ia sungguh tidak mengerti siapa wanita yang mendatanginya tadi malam, Shasya kembali melontarkan pertanyaan pada ibunya, “Ibu, apakah kita memiliki seorang tamu?”, ibu Shasya hanya menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa ‘tidak ada tamu’. Shasya kembali merenungkan kejadian tadi malam, Shasya kembali bertanya pada ibunya “Ibu, tadi malam ada seorang wanita berpakaian hitam, berambut panjang, dan dia sangat cantik. Wanita itu duduk di sampingku, awalnya aku kira itu adalah ibu, ternyata bukan.”, ibu Shasya hanya tersenyum kecil seraya berkata “Mungkin itu adalah mimpi”. Shasya menganggukan kepalanya, berharap jawaban yang diberikan ibu benar.

Tak lama, ibunya pergi keluar kamar dan menuju ke dapur. Namun, ada yang aneh di kamar itu, Shasya baru menyadarinya setelah ibunya pergi keluar kamar itu, ada sekuntum mawar putih di atas meja di samping ranjang tempat Shasya tidur. Shasya kembali bertanya tanya apakah ini mimpi, ia segera keluar kamar dan pergi menemui ibunya di dapur.

Shasya berlari menuju dapur untuk menemui ibunya. Langkah kakinya tiba tiba terhenti melihat makhluk putih berlari seperti kilat di depannya. Shasya benar benar kaget, namun yang Shasya lakukan adalah mengikuti ke mana makhluk putih itu pergi. Tak lama sampailah Shasya di belakang rumah, di sana terdapat sumur yang digunakan untuk menimba air, konon, kata ayah Shasya, sumur itu sangat angker dan penuh tanda tanya, ayah Shasya bilang sumur itu tidak boleh didatangi seseorang, maka dari itu, Shasya tidak pernah pergi ke sumur belakang rumah itu. Shasya kembali teringat mimpinya tadi malam, ia bertanya tanya apakah bertemu dengan wanita itu hanyalah mimpi atau benar benar terjadi.

Tampak dari jauh Shasya memperhatikan makhluk putih itu meloncat ke dalam sumur, Shasya segera mendekati sumur itu, tapi tak ada apa apa di dalamnya, hanya ada air setinggi 4 meter. Shasya membalikkan badannya untuk pergi, tiba tiba ada seorang wanita di depan Shasya. Shasya ingin menjerit, tapi sekuat apapun tenaga Shasya untuk membuka mulut, saat Shasya menjerit, tak ada suara yang keluar. Wanita itu mendekati Shasya seraya berkata “Matilah kau.” Shasya tak dapat berkutik, ia sangat takut, ia berharap itu hanya mimpi. Shasya menutup matanya seraya menangis, Shasya berkata dengan lirih “Tolong, siapapun tolong aku, kenapa harus aku?”. Wanita itu menjawab “Karena kau…” belum selesai wanita itu bicara, ayah Shasya datang menghampiri Shasya, tiba tiba wanita itu menghilang, entah apa yang membuat wanita itu menghilang.

Ayah Shasya menghanpiri Shasya, ayah Shasya bertanya “Kenapa kamu bisa di sini Shasya?”, Shasya yang benar benar syok, ia hanya bisa pingsan. “Untung aku datang tepat waktu, kalau tidak wanita itu pasti akan memberitahu Shasya semua rahasia Shasya.” marah ayah Shasya.

Ayah Shasya kemudian membawa Shasya ke ruang keluarga, di sana Shasya ditidurkan di kursi panjang. Ayah Shasya mencari ibu Shasya, ternyata ibu Shasya ada di rumah tetangga sedari pagi. Sementara ayah Shasya membujuk ibu Shasya untuk pulang,

Shasya yang ditinggal di ruang keluarga mulai tersadar. keluarga mulai tersadar. Perlahan mata Shasya terbuka, semua terlihat baik baik saja, Shasya berpikir semua itu hanyalah mimpi belaka, mimpi yang tidak akan pernah terwujud di dunia nyata.

Shasya berjalan perlahan menuju dapur untuk minum, tampak seekor serigala putih dan wanita berpakaian hitam di dekat sumur belakang rumah. Shasya segera berlari menuju ruang tamu mencari ayah Shasya, namun, tak seorang pun ada di rumah itu (karena ayah Shasya sedang di rumah tetangga bersama ibu Shasya). Shasya terus berlari hingga dia sampai di ruang tamu, namun saat membuka pintu, ada sesuatu yang menghalanginya.
Ada sesuatu di depan pintu, rupanya itu seekor serigala putih. Shasya benar benar kaget, ia tak dapat menjerit. Shasya hanya bisa pingsan seketika.

Tak lama ayah Shasya datang, yang ayah Shasya lihat, Shasya tergeletak di depan pintu. Ayah Shasya langsung membawa Shasya masuk. “Kenapa ibu Shasya tidak mau dibujuk pulang saat anaknya pingsan, ini pasti ulah Nina!!!” ucap ayah Shasya tampak marah. Ayah Shasya menidurkan Shasya di kursi panjang di ruang keluarga.

Tiba tiba muncul sesosok wanita muncul di depan ayah Shasya, ia berkata “Ada apa kau menyebut namaku?” ucapnya seraya menatap ayah Shasya. “Nina, cukup! aku tau ini bukan kau yang dulu!!!” jawab ayah Shasya, wanita itu kembali berucap “Awalnya aku menganggapnya adikku, tapi setelah aku pikir pikir lagi, dia yang merebut harta, posisi, kebahagiaan, kasih sayang, bahkan orangtuaku!!!” ucap Nina seraya mengelus rambut Shasya. “Untuk apa kau mengelus rambutnya.” gertak ayah Shasya seraya menyingkirkan tangan Nina dari rambut Shasya. “Dia begitu mirip denganku, inikah alasanmu mengadopsinya? seharusnya 15 tahun dulu sebelum kau mengadopsinya aku sudah membunuh anak ini!” ucap Nina seraya menatap ke arah ayah Shasya.

Tak disangka Shasya terbangun dan melihat seorang wanita sedang di sampingnya bersama ayahnya. Shasya mulai penasaran, “Ayah, siapa dia?” tanya Shasya. Ayah Shasya mulai membuka mulut “Dia…” belum selesai ayah Shasya berbicara Nina memotong pembicaraan “Perkenalkan, aku adalah Nina, aku mantan saudara tirimu, mungkin aku sekarang malaikat mautmu.” ucapnya dengan menampilkan senyum tipisnya. “Ayah… apa maksudnya? sepertinya aku pernah melihatnya? kenapa kakinya tidak menyentuh tanah?” tanya Shasya kembali. “Ayahmu takkan menjawab semuanya, ia takkan mampu.” timpal Nina, “Why?” tanya Shasya.

“Biarkan aku yang menjelaskan. Aku dulu adalah anak dari ayah dan ibumu, ups lebih tepatnya ayah dan ibu angkatmu. Aku jatuh tersungkur ke dalam sumur saat usiaku 9 tahun, hidupku berakhir di sana. Ibuku atau ibu angkatmu sangat menderita kehilanganku, sampai suatu saat orangtuaku menemukanmu di panti asuhan, wajahmu begitu mirip dengan wajahku saat itu. Sehingga orangtuaku mengadopsimu.” jelas Nina. “Ayah??? Itu benar??” tanya Shasya, mata Shasya mulai menitikkan beberapa tetes air mata, sementara ayah Shasya hanya bisa mengangguk. “Drama yang dramatis. Oh ya, kedatanganku kemari untuk membalaskan dendam pada yang merebut semuanya dariku, Shasya, kau cukup ikut aku dan semua masalah akan terselesaikan. Ayah dan ibu akan hidup bahagia, mereka takkan mengingat pernah mengadopsimu. Bagaimana?” timpal Nina. Ayah Shasya menjawab “Akan kau apakan Shasya?” tatap ayah Shasya pada Nina, “Aku hanya akan membuat serigala putihku memakannya sampai habis. Its simple.” jawab Nina dengan tenang. “Tidak!” teriak ayah Shasya histeris.

Nina kembali berucap “Shasya, kau harusnya berterima kasih padaku, setelah semua yang aku rencanakan, aku memberitahukan padamu rencanaku. Mungkin aku adalah seorang peri baik hati yang membawa kematian!” Nina kembali menampakkan senyum manisnya itu. Ayah Shasya mulai membuka mulut lagi “Tolong Shasya, jangan, tetap di sini. Setidaknya untuk ibumu.” tangan ayah Shasya memegang tangan Shasya untuk memohon. “Daripada kau hidup tapi merebut milik orang lain. Kalau aku jadi kau, aku akan memilih mati, setelah mengetahui ini semua. Apalagi, selama ini kau dianggap sebagai pengganti orang lain, kau tak pernah diakui sebagai anak kandung.” Nina mulai menghasut Shasya.

“Ayah… aku memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu selamanya, tapi aku juga tak akan mati. Itu cukup adil untuk kalian berdua.” Shasya memalingkan pandangannya dan pergi mengemasi barangnya, tak lama ia keluar dari kamar. “Terima kasih ayah, dan kakak Nina. Mungkin aku akan kembali ke panti itu lagi.” ucap Shasya, lagi lagi airmata mulai mengalir.

“Venus!!!” teriak Nina, tak lama muncul seekor serigala putih. “Makan dia!!!” tangan Nina menunjuk ke arah ayah Shasya, serigalanya dengan cepat segera berlari menuju ke arah ayah Shasya. “Tunggu!!!” Shasya berbalik badan, ia berlari menuju ayahnya dan menghadang serigala yang hendak memakan ayah Shasya. Pada akhirnya, Shasya yang tercabik cabik, darah berceceran di mana mana. “Ay….ya..h…” ucap Shasya dengan tertatih tatih. “Shasya!!! Tidak mungkin, ini pasti mimpi.” ayah Shasya sangat syok melihat putrinya berlumuran darah dan tak bernyawa lagi.

“Drama hampir selesai. Terkadang untuk mencapai sesuatu yang bahagia, kita harus mengorbankan hal yang kita sayang. Sekarang kau harus lupa, bahwa kau pernah mengadopsi seorang anak perempuan, lupakan semuanya! Yang kau ingat adalah penyesalan bahwa kau kehilangan anak perempuanmu bernama NINAMA PUTRI ANGGRAINI, dan kau tidak akan dengar, lihat, ataupun tau sesuatu apapun tentang SHASYA AGNESTYA PUTRI.” Nina mengusap mata ayahnya. Nina memetikkan jarinya membuat semua kembali normal, Nina menghilang bersama serigala putihnya (Venus) dan jasad serta darah Shasya yang bercucuran.

Tak lama ayah Nina kembali tersadar, ia pergi ke rumah tetangga untuk menjemput istrinya. Saat ayah Nina sampai di sana, justru istrinya sudah tergeletak lemas tak bernyawa.

Cerpen Karangan: Sofa Malikatu Dzakiya
Facebook: Malikatu Dzakiya
Ig: Malikatu.0764
Terima kasih karena sudah membaca.

Cerpen Rumah Nenek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 1)

Oleh:
Pagi itu langit cerah. Gumpalan awan putih nampak bertebar membentuk suatu formasi yang indah jika dilihat lebih seksama. Namun tidak seperti kemarin, jika pandangan diarahkan jauh ke utara, puncak

Takdir Akan Berkata

Oleh:
Saat itu hari cerah, namun Orin tidak begitu enak badan hari itu, sampai-sampai mukanya pucat pasi. namun dia menguatkan tekadnya mengikuti pelajaran Olahraga kala itu. saat itu Keni menatapi

Bersama Rembulan

Oleh:
Di tepi jembatan itulah ia tinggal bersama orangtuanya. Namanya Rembulan sering dipanggil Bulan, anak gadis sederhana yang selalu sibuk dengan khayalan-khayalannya itu. Baginya bermimpi itu tidak ada salahnya. Sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *