Rumah Pengungsian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 March 2014

Singkat ceritanya ketika desa kami dilanda bencana. Pergeseran, amblasan dan retakan tanah terjadi dimana-mana. Itu terjadi karena tanah yang menopang desa kami adalah tanah lempung nan rapuh, dan semakin diperparah oleh hujan yang terus turun dan amblasnya batu besar sedalam puluhan kilometer ke dalam tanah di daerah pegunungan yang berada di atas desa.

Aku mengepak koperku. Sebenarnya aku baru saja pulang sekolah. Tapi, ibuku langsung menyuruhku membereskan semua barangku. Aku sudah tahu kami akan mengungsi. Penduduk desa sudah memboyong barang-barang mereka ke tempat yang lebih aman. Retakan di tanah yang kami pijak akan membahayakan. Apalagi beberapa rumah sudah ambruk, retakannya terus meluas dan lubang-lubang bekas retakan sudah menganga semakin lebar.

Aku selesai dengan barangku. Ibu menyuruhku untuk berangkat duluan bersama sepupuku, Willy, yang sudah menunggu di halaman rumah dengan sepeda motornya. Aku menghampirinya.

“Kita mau kemana?” Ucapku basa-basi lalu duduk di atas jok motornya.

Willy menstater motornya, “Desa sebelah. Katanya, ada rumah besar yang ditinggal merantau oleh pemiliknya. Padahal, rumah itu besar dan baru dibangun setahunan yang lalu. Tapi, pemiliknya lebih memilih mengosongkan rumah itu. Barangnya pun masih tersimpan apik di dalamnya.” Ujar Willy sambil mengemudikan motornya. Aku mengernyit heran.

“Kenapa?”

“Entahlah. Dan, pemilik rumah itu masih saudaraan dengan kita.”

“Oh.” sahutku. Tak lama kemudian Willy membelok menuju sebuah gang. Terlihat sebuah rumah besar. Letaknya angak terpisah dari pemukiman warga lain. Gerbang besi yang menjulang tingginya terbuka lebar. Willy memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah.

Rumahnya memang besar. Dan aku yakin akan muat untuk enam keluarga beserta kakek nenekku. Ya, enam. Ibuku punya dua kakak dan tiga adik. Itu otomatis membuatku memiliki banyak Paman, Bibi dan Sepupu. Dan itu membuatku tidak merasa aku anak tunggal karena aku menganggap sepupu-sepupuku sebagai kakak dan adikku. Apalagi Willy. Dia yang paling dekat denganku. Umur kami juga hanya berjarak beberapa bulan.

“Yuk, kita masuk!” seru Willy. Aku pun mengangguk lalu mengikutinya memasuki rumah. Pintu terbuka. Benar saja, seluruh barang masih tersimpan apik disini. Ada sofa dan bahkan guci-gucinya juga. Kami berjalan menuju ruang selanjutnya.

Ruangan ini lebih besar. Sepertinya ruang keluarga. Tak ada sofa seperti di ruang tadi. Hanya ada karpet besar berwarna merah marun yang tampak berdebu. Dan ruangan ini tampak suram. Mungkin karena hanya sedikit cahaya yang masuk mengingat tak ada jendela di sekitar sini.

“Willy, Ayu!” seru nenek yang sukses membuatku terlonjak kaget.

“Ya!” Willy menyahut.

“Kalau kalian ingin beristirahat, kamar kalian di lantai dua. Lantai satu sudah semua ada yang isi.” Ujar Nenek. Kami pun mengangguk.

“Kita pura-pura tidur saja yuk. Pasti kita akan disuruh membereskan rumah, dan aku malas” bisik Willy. Aku pun terkekeh mendengarnya.

Kami berjalan menuju tangga spiral yang bersebelahan dengan sebuah lorong yang aku duga menuju ruang makan. Lorongnya tampak gelap. Bahkan aku bisa merasakan aura menakutkan dari lorong itu. Atau dari rumah ini? Entahlah aku merasa aura mencekam di sekelilingku. Apalagi suara langkah kami yang menggema. Menambah kesan horor.

Willy mendekatkan dirinya dan memeluk tangan kananku. Aku tahu dia merasakan hal yang sama sepertiku.

Kami menaiki undakan tangga. Entah kenapa bulu kudukku meremang ketika posisiku menyampingi lorong gelap itu. Willy memeluk tanganku lebih erat.

Kami hendak berbelok menuruti jalur tangga ini. Tiba-tiba Willy membalikkan tubuhnya secara cepat seperti memastikan sesuatu. Wajahnya pucat dan nafasnya terengah-engah.

“Wil, kau kenapa?” tanyaku curiga. Dia masih menstabilkan deru nafasnya.

“Tidak,” Willy mengatur nafasnya “Aku tak apa.” ujarnya masih mengatur nafas. Aku pun menariknya untuk terus naik.

Kami sampai di tangga terakhir. Lantai dua tak sesuram lantai satu. Ada banyak jendela disini sehingga cahaya leluasa masuk. Tirainya terbuka. Mungkin nenek yang membukanya.
Ada pintu cokelat di sisi kiri. Tampak itu satu-satunya pintu di lantai ini.

Aku berjalan skeptis ke arah pintu itu diiringi Willy yang sudah melepas cengkramannya di tangan kananku.

Kuputar gagang pintu. Dan pintu terbuka, menampakan sebuah kamar besar dengan wallpaper berwarna putih gading dan lantai putih bersih. Ada meja rias di dekat ranjang berkanopi dengan sprei dan bedcover biru tua dengan beberapa lambang Menchester United besar disana sini. Aku ingat, ini spreiku.

Aku melirik Willy. Wajahnya masih pucat, dia duduk di sisi ranjang.

“Kau kenapa, Wils?”

“Entahlah. Aku merasa ada yang aneh di rumah ini.”

“Apa ada hubungannya dengan wajahmu yang memucat?” ujarku berdiri di hadapannya.

Dia menggeleng lalu dengan cepat dia berdiri dan mencengkram pundaku.

“Yu, ada yang tidak beres dengan rumah ini.” bisiknya horor.

Cerpen Karangan: Dealice Susanti
Facebook: http://facebook.com/dealice.rhie

Cerpen Rumah Pengungsian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cursed Doll

Oleh:
Namaku Karen dan aku adalah seorang mahasiswi jurusan Bahasa inggris. Aku mendengar sebuah kabar bahwa salah satu mahasiswi di kampusku telah menghilang secara misterius namun aku tidak menanggapinya secara

Rumah Tua Si Gadis Ayu

Oleh:
Awan berarak menutupi bulan, membendung cahaya menembus permukaan, terlihat bangunan tua belanda memancarkan aura seram penuh kegelapan. Membuat siapapun melihatnya merasa takut. Hembusan angin menerpa pepohonan di pekarangan rumah

Umbrella

Oleh:
Aku harus cepat membereskan pekerjaanku dan harus segera pulang. Ini sudah terlalu larut, jam di dinding kafe menunjukkan pukul 10.03 pm, dan biasanya aku pulang pada pukul 09.00 pm.

Buku-Buku yang Hilang

Oleh:
Malam semakin larut. Setiap malam, di saat orang-orang terlelap tidur, langit malam kota Gaston yang tadinya cemerlang dipenuhi oleh bintang-bintang, kini berubah gelap dipenuhi oleh sesuatu yang beterbangan. Apakah

Misteri Hantu Wanita

Oleh:
Pagi hari terasa indah, hari ini aku dan Para Sahabatku akan menginap di Villa yang terletak di Kota Bandung, kami sangat menantinya, Oh ya namaku Vierra dan kelima sahabatku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Rumah Pengungsian”

  1. cheryl angeline kaban says:

    good
    tapi masih ada lanjutannya kan?

  2. Julyanniza Anindya says:

    Ya, keren banget aku ga sabar nunggu lanjutannya..

  3. Ending ceritanya ngegantung banget ini. Ada kelanjutannya, kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *