Rumah Terlarang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 2 July 2019

Hari mulai malam dan hujan akan segera turun. Aku mulai berjalan dengan putus asa dan rasa ketakutan yang mulai menjalar di tubuhku, ketika aku sadar aku sedang tersesat sendirian dan tidak dapat menemukan camp perkemahan.

Aku terus berjalan menyusuri hutan dengan memegangi senterku erat-erat. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di depanku. Aku menghampiri rumah itu dengan ketakutan luar biasa yang mulai menjalari tubuhku ini. Saat mulai memasuki rumah ini, senter yang kupegang tiba-tiba padam dan pelita di atas meja menyala dengan sendirinya. Aku menelan ludahku sendiri, sambil mencoba tetap tegar.

Aku menyusuru seluruh isi rumah ini. Di ruang tamu aku dapat melihat dinding yang dihiasi foto-foto lama hitam putih yang kusam dan tertutup debu. Tiba-tiba aku melihat sesosok wanita tua yang memakai pakaian gaya tahun 1970 an yang wajahnya tidak terlihat karena gelap.

Aku bersyukur karena ternyata rumah ini berpenghuni. Namun saat itu juga tiba-tiba mataku terasa sangat perih dan gatal. Saat aku mengedipkan mataku, sosok wanita itu tak terlihat lagi.

Waktu sudah tengah malam, hujan semakin lebat. Aku duduk di kursi sekeliling meja panjang sambil memandang salah satu foto wanita belanda. Aku melihat di foto tersebut terdapat tulisan-tulisan di bawahnya. “nyonya Nany Arabele, meninggal 5 Januari 1978 karena racun”. “Astaga!! Berarti wanita itu bukan manusia!!”.

Jantungku seakan berhenti berdetak dan nafasku seakan berhenti. Aku langsung bangkit dari kursi dan berlari sekencang mungkin. Aku berlari keluar tanpa mempedulikan di luar hujan. Sekilas aku mendengar suara bisikan “kau harus mati, kau harus mati.”

Aku langsung mempercepat lariku. Wanita itu melayang-layang di belakangku sambil tertawa seram. Aku berlari ratusan meter jauhnya dari rumah tersebut. Hantu itu sudah tidak terlihat lagi. Aku terpaksa berjalan tanpa istirahat di tengah hujan yang kian deras. Aku berjalan cukup jauh hingga aku melihat sebuah perkampungan di luar hutan ini.

Aku senang ini semua akan berakhir, namun saat aku hendak melangkahkan kakiku keluar, tubuhku tidak dapat bergerak lagi. Darah merembes keluar dari dadaku. Aku kembali mendengar bisikan itu lagi “mati, kau akan mati” yang segera disusul tawa itu lagi.

Cerpen Karangan: Emmanuel Leonardo
Blog / Facebook: Facebook/Emmanuel Leonardo
Hai guys, kenalin aku Leo, umur 13 tahun hobi nulis, yang mau kenal boleh, oh iya jangan lupa kasih kritik n saran buat cerpen-cerpen ku ya, thx

Cerpen Rumah Terlarang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 Cara Melihatnya

Oleh:
Teriknya matahari sangat menyengat kulitku. Namaku Melody Wijaya, siswi kelas XII IPA 3 di salah satu SMA di kotaku. Biasa dipanggil Melody. Siang hari ini sungguh panas. Bel pulang

Misteri Lukisan Wanita

Oleh:
Hai aku wawa, aku tinggal di kampung yang begitu sepi, di rumahku aku memiliki lukisan wanita, wanita itu sangatlah cantik. Saat pagi tiba aku pergi ke rumah reva, ia

Uji Nyali

Oleh:
Kekey, nisa, bayu dan juga tomy sedang merencanakan acara liburan sekolah mereka setelah mereka menempuh ulangan semester.. “ehh guys.. liburan kali ini enaknya ngapain yaa? Gak enak kalo cuman

Ghost of School

Oleh:
Bel tanda istirahat telah usai berbunyi, Citra, Syfa dan Desi segera berlari ke kelas untuk tidak telat mengikuti pelajaran. “huffthh… Kalian ini, selalu deh pergi ke kantin lamaaaa bangeeett..”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rumah Terlarang”

  1. CheMa says:

    Cerpennya bagus tapi kayak kurang gregetan gimana gitu…

    Cuman komentar ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *