Sahabat Dari Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 February 2017

“Huh..” aku merebahkan diri di tempat tidurku yang beralaskan seprai berwarna putih. “Reva!” teriak mama tiba-tiba. “sepertinya mama berada di ruang tamu” gumamku dalam hati. Aku pun langsung beranjak dari tempat tidurku dan langsung menghampiri mama yang berada di ruang tamu. “Ada apa ma?”. Tanyaku. “Ini ada surat”. Kata mama. “Dari siapa ma?” tanyaku penasaran. “Entahlah mama tidak berani membukanya” ucap mama. “Coba kulihat” Kataku. kemudian aku membuka amplop surat itu dan mengeluarkan selembar kertas putih di dalamnya. Aku pun mulai membaca surat itu sambil menuju kamarku.

‘Bontang, 10 November 2015
Untuk reva sahabatku,
Hai Reva? apa kabar? sudah hampir 8 bulan kita saling berkirim surat. Namun, kita belum saling melihat. Aku ingin bertemu denganmu, atau setidaknya melihat wajahmu. Aku ingin kau membalas suratku, dengan mengirimkan juga fotomu. Aku penasaran.. hmm bagaimana kalo kita bertemu saja? Di taman dekat pisangan. Kamu tahu kan? jangan lupa! kita bertemu tanggal 24 desember tahun ini. Ingat ya! pukul 3 sore aku akan menunggumu.
Salam hangat,
Rivo’.

Aku memasukkan kembali surat itu ke amplop dan menyimpannya di laci belajarku yang memang kugunakan untuk menaruh semua surat dari Rivo. Kemudian, aku mengambil sebuah kertas berwarna putih dan mulai menulis dengan tinta berwarna biru mengkilat. Aku menulis surat balasan untuk Rivo, sahabatku. Aku mengisi kertas itu dengan cerita keseharianku dan ceritaku selama di sekolah. Setelah kertas itu penuh, aku mengambil kertas lain yang sama seperti itu. Setelah selesai menulis surat, Aku melihat beberapa fotoku sewaktu kecil hingga sekarang. Akhirnya, aku menemukan foto yang kupikir cocok untuk kukirimkan kepada Rivo. Setelah itu, aku memasukkan surat dan fotoku ke amplop. Aku pun menempelkan prangko bergambar bunga melati putih. Tadinya, aku berencana untuk langsung mengantarkan surat itu ke kantor pos. Namun, jam telah menunjukkan pukul 19. 0. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengirimkan surat itu besok pagi.

Pagi harinya, aku segera beranjak dari tempat tidurku dan mengambil surat yang kemarin kuletakkan di meja belajarku. Tak lupa kusiapkan juga baju dan sepatuku. Setelah selesai mandi dan mengganti baju, aku langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama keluargaku. Aku makan agak terburu-buru, karena ingin segera mengirimkan suratku. Kemudian, saat waktu menunjukkan pukul 10. 00 tepat, aku langsung pamit kepada orangtuaku. Segera aku pergi menuju halaman rumah seusai mendapat izin dari mama dan papa. Tak kusangka, ternyata mang Ujang sudag sejak dari tadi menungguku. Sesampainya di kantor pos, aku langsung memberikan surat itu kepada petugas kantor pos. Aku tak perlu lagi membayar, sebab aku telah menempelkan prangko pada suratku.

Malam harinya, aku tidur dengan nyenyak. Aku bermimpi bertemu dengan Rivo di taman dekat pisangan. Namun mimpi itu bukanlah mimpi yang indah. Dalam mimpiku, wajah Rivo tak begitu jelas kulihat. Dia selalu menjauh, tanpa bisa kudekati. Setelah itu kulihat wajah Rivo yang sangat pucat. Ketika berhasil kugenggam tangannya, kurasakan tangan Rivo begitu dingin seperti es batu. Tangan Rivo pun terlihat sangat putih, seperti tak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tiba-tiba aku tersadar dari mimpi aneh itu, dengan jantung yang berdebar kencang. Tanpa kusadari, aku menitikkan air mata yang semakin lama semakin deras. Aku pun mulai menangis. Kulihat tanganku sedang memegang sebuah surat yang tertera namaku.

‘Maaf Reva..
Aku sudah mengganggu dirimu. Aku hanya sedang kesepian, dan aku hanya ingin mengingatkanmu tentang pertemuan kita pada 24 Desember pukul 3 sore. Jangan lupa! Pertemuan ini sangat penting bagiku.
Your friend…’

Aku bingung, mengapa orang itu tak menuliskan namanya?. Siapakah ‘Your friend’ itu?. Apakah itu Rivo?. Tapi, tak mungkin! bagaimana dia bisa meletakkan surat di tanganku di tengah malam seperti ini?. Surat itu sungguh aneh dan.. ‘MISTERIUS’. Akhirnya aku pun tidur kembali tanpa memikirkan siapa yang mengirimkan surat itu, dan apa maksudnya…

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Hari ini adalah tanggal 24 Desember. Aku menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk bertemu dengan Rivo sore nanti. Aku mengenakan pakaian terusan berwarna putih dengan corak bunga melati, anting putih berbentuk melati, sepatu sandal putih, jepit rambut berbentuk melati berwarna putih, tas putih yang kuisi dengan buku kecil dengan cover putih bergambar melati lengkap dengan bolpoinnya, dompet putih, handphone berwarna putih dengan stiker bunga melati putih di belakangnya, dan topi berwarna putih untuk kukenakan jika nanti panas begitu terik. Tak ku lupa pula kaos biru yang nantinya akan kuberikan kepada Rivo sebagai hadiah. Pada pukul 14.30 aku berangkat ke taman dekat pisangan, diantar oleh Mang Ujang. Di sana Mang Ujang hanya menunggu di mobil, sementara aku turun untuk menunggu Rivo. Cukup lama aku menunggu Rivo. Beberapa. saat kemudian, aku menyadari bahwa ternyata di dekat taman itu ada pemakaman umum. Iseng-iseng aku berjalan mengitari pemakaman itu. Aku merasa heran, karena aku tak sedikitpun merasakan rasa takut, merinding, ataupun ngeri saat aku memasuki daerah pemakaman itu. Aku mengelilingi pemakaman itu sekitar 10 menit. Tiba-tiba saja langkahku terhenti ketika melihat sepucuk surat di sebuah makam. Aku pun mengambil surat itu. Saat aku mengambil surat itu di bawah dekat sepatuku, aku tak sengaja melihat nama Rivo tertera di ‘batu nisan’ makam tersebut. “Oh tidak! ini tidak mungkin!” karena dihantui rasa penasaran, aku pun membaca surat yang kutemukan tadi.

‘Untuk Reva yang cantik…
Kini, aku sudah tidak penasaran lagi dengan wajahmu. Aku telah mengetahuinya. Kamu adalah anak yang cantik dan manis. Maaf ya, jika selama ini aku telah ‘BERDUSTA’. Sebenarnya, aku telah tiada. Aku telah ‘meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya’ sejak Februari 2015. Aku kesepian di sini, maka dari itu Tuhan mengizinkanku untuk berkirim surat denganmu. Mmm.. Aku kan sudah tahu wajahmu, pasti kamu juga sangat penasaran dengan wajahku bukan? Aku kasih tau yh!. Aku adalah Rivo yang muncul dalam mimpimu. Ingat tidak!. Kalau tidak ingat, tak apa. Nanti kita pasti akan berjumpa di surga, walau mungkin butuh waktu yang lama. Jadi aku cuma ingin kamu tahu, bahwa aku senang sekali bisa bersahabat denganmu, dan andai saja aku masih ada di dunia ini, mungkin kamu akan kuanggap lebih dari seorang sahabat. Terima kasih Reva.. aku sudah menerima hadiah darimu. Aku sangat suka dengan kaos biru yang kau berikan padaku. Aku pun juga sudah mengirimkan hadiah untukmu. Kamu tunggu saja. Sampai jumpa sahabatku. Aku akan selalu bersamamu, sebagai balasan kau sudah mau menjadi sahabatku. Sampai jumpa Reva! Teruslah berkirim surat padaku.
Salam manis, Rivo..’

Aku termenung cukup lama. Jadi selama ini aku telah bersahabat dengan orang yang berbeda alam denganku. Aku sedih ketika mengetahui bahwa Rivo telah tiada. Kemudian aku membuka tasku. Kaos biru itu telah hilang, yang ada hanyalah barang-barangku yang kubawa dari rumah. Tetapi aku menemukan sebuah kotak putih yang mengkilat yang berisikan sebuah kalung liontin hati. Aku pun membuka kalung liontin itu, dan terkejut ketika melihat foto yang kukirimkan untuk Rivo ada di bentuk hati bagian kanan. Bahkan yang mengejutkan lagi, di bagian hati sebelah kiri ada ‘foto Rivo’. “Apakah ini wajahmu?” gumamku dalam hati. Aku sangat bahagia, setelah mengetahui betapa tampannya wajah Rivo. Seandainya ia masih hidup, aku akan menganggapnya lebih dari seorang sahabat.

Setelah hari itu, aku selalu berkunjung ke makam Rivo di hari libur.

Cerpen Karangan: Indriani
Facebook: Indrii

Cerpen Sahabat Dari Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat

Oleh:
Hari ini hari terakhir Ospek di SMA 52 Bandung. SMA ini termasuk salah satu SMA favorit di Bandung. Awalnya gue nggak nyangka gue bisa masuk ke SMA ini. Karena

Ranking Satu

Oleh:
Sama seperti hari kemarin. Selesai mandi, sarapan dan berangkat menuju Sekolah, Jihan kembali tersenyum penuh arti. “Jihan, kamu, Ranking satu, ya!” Tebak Kak Indri, Kakak Jihan. “Wah! Hebat Kak

Milia dan Boneka Kayu

Oleh:
Milia gadis kecil berumur sembilan tahun itu memiliki sebuah boneka kayu peninggalan almarhum kakeknya. Milia senang sekali dengan boneka itu, ia selalu membawa boneka itu ke sekolah, sampai sampai

Ketenangan Yang Mematikan

Oleh:
Namanya Ryan Toxic seorang pecandu nark*ba dan sangat tergila-gila dengan barang yang satu itu. Temannya bernama Gebi Long berencana untuk membeli barang haram tersebut kepada seorang bandar yang mereka

Animal Inside Cardboard Part 1

Oleh:
Rintik hujan telah turun, disebuah kota yang ramai akan manusianya yang selalu berlalu lalang. Di sore hari dengan keadaan masih hujan, ada seorang manusia dengan baju basah dan membawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *