Sang Penolong (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 11 June 2021

“Sayang, kamu pindah aja ya, daripada kamu menderita di sini,” bujuk Yudha kepada gadis di sampingnya.
“Aku tidak mau,” tolak gadis itu dingin.

Di tengah malam yang sunyi Yudha terus membujuk gadis tersebut, tak peduli meski harus diam di tempat gelap lebih lama lagi, sebenarnya malam ini bulan terang menderang, namun di sekliling mereka terdapat pohon yang menjulang tinggi, dahan dan ranting berdaunnya melengkung membentuk sebuah atap bagai terowongan kereta, menghadang sinar rembulan untuk menembusnya, gemersik dedaunan diterpa angin dan gemuruh aliran sungai deras menambah kesuraman jembatan yang mereka berdua pijak.

“Setidaknya berhentilah menggoda laki-laki yang lewat,” ujar Yudha bersandar pada pembatas jembatan, sikapnya begitu tenang kala gadis di sebelahnya menatap tajam.
“Aku kehilangan sesuatu yang berharga di sini, bagaimana aku bisa meninggalkan tempat ini?” tanya Gadis tersebut.

Gadis itu bertubuh tinggi dan ramping, rambut hitamnya tergerai indah, senang memandang dengan mata tajam berkilau, senyumnya merekah di bibir tipis dengan pipi yang merona merah, dress merah indahnya berkelebat diterpa angin malam dengan syal yang melingkari lehernya, kesan pertama yang bisa kau lihat pada saat bertemu gadis ini adalah perempuan yang sangat cantik namun dipenuhi dendam dan amarah dibalik keanggunannya.

“Setidaknya jika kau ikut denganku kau akan melupakan masa lalumu dan perlahan kebahagian akan datang kepadamu,” Yudha masih terus membujuknya meski gadis di sampinya berpaling enggan.
“Anak baru tau apa? Sudahlah aku ada urusan,” pungkas gadis tersebut pergi menghilang ditelan kegelapan dan kesunyian malam.

Tak jauh dari sana sebuah cahaya terang menyoroti jalan, membesar begitu cepat, Yudha yang menyadari itu dengan panik lari mendekat, berteriak kepada pengendara motor itu untuk menurunkan kecepatannya, peringatan itu tak sempat digubris oleh si pengendara karena gemuruh knalpotnya yang bising. Ahlasil pengendara itu melewati Yudha begitu saja, pandangan yang kurang fokus saat berkendara membuatnya lambat menyadari bahwa ada seseorang yang menyeberang di dekat jembatan.

Motornya tak terkendali karena keterkejutan yang luar biasa, terpaksa si pengendara membanting stir hingga motornya menghantam pembatas jembatan sementara tubuhnya tersungkur ke seberang, dirinya bernasib baik, dia tak mengalami luka serius selain lecet pada beberapa bagian karena tergores tanah.

“Pak gakpapa kan?” tanya Yudha sembari membantunya bangkit.
“Itu cewek kok nyeberang sembarangan sih?” keluh si pengendara meringis kesakitan.
“Bapak baru di sini ya? Lain kali kalu lewat sini jangan ngebut, soalnya dia emang suka nyelakain orang,” Yudha memberi peringatan sembari membangunkan motor pria itu.
“Makasih ya,” ujar si pengendara.

Perbincangan mereka tak berlangsung lama, si pengendara motor kembali melanjutkan perjalanannya, sementara Yudha menyadari seseorang di belakangnya menatap tajam menusuk, wajah cantiknya perlahan memucat bersamaan dengan mata yang menghitam, Yudha menatap dingin sosok di hadapanya tak peduli dengan bau amis dari darah yang mengalir keluar pada luka sayatan disetiap inci tubuhnya, gemersik dedaunan diterpa angin yang semakin kencang menambah kesuraman dalam dirinya.

“Berani-beraninya kau membuat mangsaku kabur!” teriaknya penuh amarah dengan rambut tergerai mengerikan.
“Penawaran terakhir, pergi denganku atau aku akan memaksamu?” tawar Yudha menyilangkan lengan.

Alih-alih mendapat jawaban Yudha malah terhempas dengan luka goresan di tubuhnya, punggungnya bergesekan dengan tanah ketika jatuh, setelah terdiam beberapa saat dia kembali bangkit dengan helaan nafas menahan kesabaran.

“Kayaknya emang gak bisa diajak negoisasi,” gumam Yudha.

Akhirnya Yudha mendekati mahluk itu lagi, sebelum hantu itu sempat menyerang Yudha sudah terlebih dahulu menjambak rambutnya, membawa dia pergi dengan menyeretnya bagai sebuah koper melintasi gelapnya hutan dengan ranting-ranting dan dedaunan kering sepanjang jalan menuju sisi yang lebih gelap, tak peduli meski si hantu berteriak, meronta-ronta, bersumpah serapah dengan segala upaya melawan Yudha, yang tak disadari si hantu adalah semua itu tak berguna.

“Kau di sini aja ya, sampai melupakan urusanmu dan perlahan pergi dengan tenang, aku tidak mau kau mencelakai orang-orang lagi,” ujar Yudha saat tiba di sebuah pohon besar di tengah hutan sana.
“Aku tidak mau! Lepasin!” teriak si hantu sembari terus meronta-ronta.

Lengan Yudha terlulur, menyentuh pohon tua itu dengan mata terrtutup
“SEGEL!”

Note: Hantu cantik berbaju merah, merupakan urban legend yang menghantui pengendara, yang terkenal salah satunya adalah simanis jembatan ancol, yaitu seorang gadis cantik yang meninggal setelah diperkosa dan dianiyaya lalu jasatnya dibuang ke jembatan, kerap menampakan diri dan menggoda laki-laki hidung belang. Hantu dengan wujud perempuan cantik ini tak hanya di jembatan ancol namun juga terdapat di beberapa jalan, terkadang sosok ini berbahaya biasanya sering meminta tumpangan kepada para pengendara dan berakhir dengan kecelakaan, orang beruntung bisa selamat namun saat ditemukan korban biasanya dalam kondisi linglung di tempat tak lazim macam kuburan atau memeluk pohon seperti kehilangan akal.

Cerpen Karangan: Miftah
Wattapad: MAP171615
Facebook: Miftah Abdul Patah
Jangan lupa suport terus ya teman2, ngasih krisar juga boleh kok, kalau ada waktu saya bisa buat yang seriesnya karena urban legend di indonesia itu banyak banget! Cek wattpad aja ya

Cerpen Sang Penolong (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Disukai Setan

Oleh:
Pada satu ketika fauzi yang baru berusia 23 tahun itu pertama kali mempunyai niatan serius untuk melamar satu wanita yang ia cintai dan sudah cukup lama dekat itu. Nama

Where Are You? (Part 3)

Oleh:
Lalu terdengar suara teriakan histeris perempuan. Ternyata itu seorang guru sama seperti miss Amelia. Dari tampangnya sepertinya miss Grace. Seluruh guru lalu bertanya apa yang terjadi, dan sebagian murid

Jangan Pernah Menyentuh Bonekaku

Oleh:
Masuk sekolah di pertengahan semester ganjil, kami kedatangan murid baru pindahan dari Sulawesi selatan, venisa namanya. Gadis manis itu satu kelas denganku kelas 7.4 entah mengapa aku bisa menaruh

Misteri Gaun Gamis

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 19.00 wib, saatnya embun pulang dari kantornya. Setiap pulang ia harus menaiki taksi, tetapi hari ini tidak. Karena ia pulang lebih cepat, jadi ia memutuskan untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *