Sang Penolong (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 11 June 2021

Yudha berjalan di hutan setelah menyegel makhluk itu, tak jauh dari sana dia mendapati kumpulan cahaya dari senter, ada sekelompok orang yang sepertinya mereka sedang dalam konflik, terbesit dalam pikirannya untuk mendekat hanya sekadar menyapa mereka.

“Permisi,” sapa Yudha mendekat ke arah sekelompok orang itu.
“Alhamdulillah, ada penduduk sini,” ucap syukur seolah ada secercah harapan bagi mereka.
“Kalian kenapa? saya denger suara ribut dari tadi,” tanya Yudha
“Iya maaf Kak, kompas kami tak berfungsi di sini, akhirnya kami tersesat,” jawab salah seorang dari mereka.
“Jadi kalian sekelompok pendaki yang ingin ke puncak gunung?” tanya Yudha lagi yang dijawab dengan anggukan.
“Iya biasanya kami tidak tersesat, tapi rasanya aneh semenjak memasuki hutan ini,” ucap seorang cewek dari mereka.
“Baiklah, aku dulu seorang navigator saat mendaki, dengan senang hati akan kuantar kalian sampai puncak,” ujar Yudha.
Betapa gembiranya mereka ketika ada seorang penyelamat datang, mereka saling berkenalan dan mengucapkan banyak terimaksih karena sudi membantu mereka.

“Hati-hati, banyak lereng curam di sini, tergelincir sekali saja kalian tamat.” Yudha memperingati.

Hutan yang lebat perlahan terpangkas dengan langkah menuju puncak, melewati jalan setapak yang berliku-liku dan licing, medan yang dilalui tak main-main, di kanan dan kirinya diapit oleh kedua ngarai yang dalam, suhunya semakin menipis dan nafas sesak kelelahan, yang kini mereka takuti adalah terkena hipotermia.

Bulan bersinar terang, menerpa pegunungan yang berkilau keperakan di tengah malam mencekam, jaket tebal yang menutupi tubuh para pendaki tak sanggup menahan suhu yang semakin dingin ini.

Sudah 30 menit mereka berjalan melintasi medan terjal, kini mereka harus melewati lagi hutan yang begitu gelap, tantangan terakhir yang harus mereka lewati meski dengan kaki gemetar disetiap langkahnya.

“Kalian harus berpegangan tangan karena di sana licin, puncaknya ada di depan, semua usaha kalian akan terbalas ketika telah melewati medan terjal ini,” ucap Yudha sembari menujukan arah puncak gunung.

Mereka semua berpegangan tangan, saat itu semuanya baru menyadari bahwa seseorang telah menghilang dari kelompok.
“Bella gak ada, dia ngilang!” ujar Mira panik.
“Kalian duluan, aku akan mencarinya,”

Di tengah hutan yang berkabut Bella berjalan membawa kebingungan dalam kepalanya, tak tau arah kemana dia melangkah, saat dia membenarkan tali sepatu sepertinya kabut ini memisahkan dirinya dari kelompok.

“Teman-teman!” teriaknya, “duh gimana ya?” Bella bergumam dibalik keputus asaanya.

Tepat di dekat pohon sana Bella mendapati seorang gadis, dilihat dari pakaian yang dia kenalan sepertinya dia pendaki sama seperti Bella, dengan penuh harap dia mendekatinya.
“Permisi,” sapa Bella ramah, “mbak mau ke puncak juga? “tanya Bella.
“Kau tersesat ya? ayo aku tau jalan pintas,” ajak si gadis itu.

Dengan perasaan lega Bella mengikutinya. Mereka melewati jalan setapak dipenuhi ilalang selutut, kakinya menebas-nebas rerumputan liar melewati setiap celah pohon tua. Beberapa saat kemudian dia menoleh tampak sepasang cahaya merah mendekat cepat ke arahnya. Bella yang terkejut tak memperhatikan jalan di depannya.

“Awas jangan ke sana!” teriak Pria bermata merah itu.

Bella tergelincir hampir terjatuh ke jurang yang dalam, untunya Yudha sempat menahan lengannya dan kembali membantunya naik. Belum sempat merasa lega, dia kembali dikejutkan oleh gadis pendaki itu, Bella menatap gemetar sosok melayang di atas jurang yang dalam itu.
Gadis itu begitu pucat, menyeringai dingin, tubuhnya hampir transparan dengan jarak yang makin mendekat.

“Aku juga tersesat, temani aku tersesat di sini selama,” pinta hantu itu.

Yudha yang menyadari kondisi Bella semakin drop, akhirnya membawanya menjauh, sementara hantu di belakangnya terus mengejar dengan tawa membahana, angin melewati tubuh mereka membuat keringat dingin terus mengalir di sekujur tubuh mereka, Bella mulai menangis dalam ketakutan yang sedang dia hadapi.

Mereka terus berlari menuju cayaha sampai akhirnya tiba di puncak, teman-teman yang melihat Bella mengerumuninya dengan perasaan khawatir, Yudha meminta teman-temannya untuk membiarkan Bella beristirahat di tenda.

Yudha kembali masuk ke dalam hutan, mencari-cari hantu itu, sampai dia temukan di tempat dimana Bella hampir jatuh, di sana hantu itu melayang di atas sebuah mayat seorang gadis yang telah membusuk.

Keesokan harinya para pendaki melaporkan hal tersebut, kini jasadnya telah dievakuasi ternyata ini adalah pendaki yang hilang seminggu lalu, jasadnya akan diautopsi sebelum dikuburkan dengan layak.

Di sore hari yang cerah, dimana langit berwarna jingga, Yudha sedang berjalan santai di dekat kaki gunung, di sana dia kembali melihat gadis pendaki semalam, dia tersenyum memamerkan lesung pipinya yang begitu manis, tak mengatakan sepatah katapun ketika perlahan menghilang dibalik cahaya keemasam mentari terbenam.

Note : Hutan Ghaib. Banyak sekali urban legend yang bisa kau temui di hutan, salah satunya adalah hantu yang menyesatkan, yang sering menjadi korban adalah para pendaki gunung, biasanya mereka tersesat berhari-hari padahal yang terasa cuman beberapa saat. Bagi yang sial biasanya mereka ditemukan tewas terjerumus ke jurang, tapi tak jarang juga para pendaki yang tersesat dibantu ditujukan ke arah yang benar, karena itu kalian harus menjaga tatakrama dimanapun itu.

Cerpen Karangan: Miftah
Wattapad: MAP171615
Facebook: Miftah Abdul Patah
Jangan lupa suport terus ya teman2, ngasih krisar juga boleh kok, kalau ada waktu saya bisa buat yang seriesnya karena urban legend di indonesia itu banyak banget! Cek wattpad aja ya

Cerpen Sang Penolong (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Seorang Gadis

Oleh:
Everyday is holiday. Maha, Aryo, Dani, Yuli, dan Vita mengawali liburan sekolah mereka dengan menginap di villa dekat perkebunan kopi milik orang tua Aryo. Mereka sengaja membangun villa itu

Hysteria

Oleh:
Ayah kau telah berhasil mengubahku sekarang derita adalah bahagiaku dan bahagiaku adalah derita. Terimakasih untuk itu, kau benar selama hidup aku akan selalu mendapat cobaan dan cobaan selalu mendatangkan

Misteri Kamar 513

Oleh:
Nafasku begitu cepat, keringat mengalir di seluruh tubuhku. Kini hanya kupasrahkan semua kepada yang maha kuasa. Aku menangis sejadi jadinya di pojok rumah tua yang tidak layak huni, sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *