Sang Penolong (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 11 June 2021

Matahari bergerak semakin turun, mengubah langit jingga menjadi gelap, para orang tua menarik lengan anak mereka agar memasuki rumah dan sekarang menyisakan jalanan yang begitu sepi.

Adzan berkumandan, bergema begitu merdu dan menentramkan jiwa penasaran akan urusan duniawi, panggilan untuk melaksanakan ibadah yang wajib bagi para pemeluknya.

Setelah Shalat di mesjid, anak-anak pergi mengaji digurui oleh ustadz mereka, namun di sana ada seorang anak yang nakal, malah bermain di halaman mesji sambil memutar-mutar sarungnya, Heru namanya.

Tak jauh dari sana tepat di dekat pohon, seorang gadis kecil berseru, memanggil Heru di depannya, tersenyum begitu manis membuat si anak laki-laki tertarik padanya.

“Main Yuk,” ajak si gadis kecil.

Gadis kecil memegang lengan Heru menariknya ke balik kumpulan pepohonan tinggi, semenjak itu dia tak terlihat lagi. Ibunya menyadari bahwa anaknya tak kunjung pulang padahal sudah jam 10 malam, guru ngaji pun menyangka kalau Heru sudah pulang.

Wargapun mulai mencarinya di sekitar kampung, dengan bunyi kentongan menggema memecah kesunyian, warga tak hentinya memanggil anak itu, sementara si Ibu mencari dalam tangis beserta kekhawatirannya.

Yudha yang mengetahui itu bergegas menuju hutan yang agak jauh dari mesjid itu, dia menelusuri setiap jalan dan pohon sampai menemukan Heru di sana, dia tak sendiri ada gadis kecil yang manis di sampinya.

“Heru ikut kakak yuk pulang,” bujuk Yudha berlutut di dekatnya.
“Kak Yudha pulang aja duluan, aku masih main,” jawab Heru polos.

Yudha pun menarik lengan anak itu, Heru meronta namun berhenti melawan ketika anak itu melihat gadis tadi tak memiliki mata sementara di atas pohon di belakang gadis itu terlihat seorang wanita tua bebadan raksasa berkulit hitam mengerikan, menggantung dan tersenyum sembari menjulurkan lidahnya yang panjang.
Kedua hantu itu mengejar mereka berdua, terbang melayang menembus ranting-ranting yang menghalangi mereka, tawa wanita tua itu begitu melengking ditengan kesunyian hutan gelap ini.

Heru yang menyadari itu menangis, tangisannya terdengar jelas oleh warga, yang menuntun mereka ke tempat dimana Heru berada, anak itu ditemukan menangis di dekat pohon tua sendirian di pintu masuk hutan tanpa adanya kekuatan.

“Heru kamu di sini, nak,” panggil sang Ibu.

Heru memeluk ibunya untuk melepas rasa ketakuan dalam dirinya, para warga dan sang ibu menarik nafas lega, mengucap syukur dapat nemukannya meski dalam kondisi mentalnya Heru masih syok.

Saat warga beranjak meninggalkan tempat itu, si Ibu menoleh mendapati sosok wanita tua dan seorang gadis tanpa mata tersenyum mengerikan, sebelum hilang dibalik kumpulan pohon tua.

Note: Wewe gombel dipercaya memiliki perawakan wanita yang memiliki payudara besar dan menggantung. Dulunya dia adalah seorang wanita yang bunuh diri setelah membunuh suaminya. Dikatakan si wanita tidak bisa memberi keturunan sehingga si suami berselingkuh dengan wanita lain. Karena itulah hantu ini suka menculik anak dan menjadi alasan bagi orangtua zaman dulu melarang anaknya bermain setelah magrib. Jadi kalau udah magrib itu ngaji ya jangan main terus.

Hari ini cerah, langit biru berawan, sinar mentari menghangatkan hamparan yang disebut bumi ini. Hari ini Yudha, Dinda dan juga ibunya pergi berjiarah ke suatu tempat pemakaman umum.

Angin menerpa sejuk disetiap langkah melewati rumah-rumah sang mantan kehidupan yang merupakan gundukan tanah, mereka melewati berbagai tempat itu hati-hati berusaha untuk tidak menginjaknya.

“Ibu sudah mendengar cerita ‘Sang Penolong’ akhir-akhir ini?” tanya Dinda tersenyum kepada Ibunya.
“Ibu dengar katanya dia membantu pendaki yang tersesat,” jawab Ibu membalas senyum putrinya.
“Terakhir mengembalikan Heru, anak itu tidak nakal lagi sekarang,” timpal Dinda.

Yudha yang mendengar itu tersenyum kepada mereka, merasa tersanjung ketika adik dan ibunya menyinggung cerita soal itu.
“Semoga semua ini dapat menebus kesalahannya semasa hidup.”

Mereka telah sampai nampaklah disana sebuah batu nisan tujuan mereka

Yudha Setiawan Putra

Lahir: 4 April 1998
Wafat: 5 Febuari 2021

Note: Sang Penolong, Urban Legend ini biasanya muncul ketika seseorang kesusahan di wilayahnya si penghuni, tidak semua makhluk ghaib itu berniat menakut-nakuti, Sang Penolong digambarkan sebagai hantu yang baik, konon katanya jika manusia tersebut tidak berniat jahat dan berhati bersih, dengan senang hati Sang Penolong ini membantu dikala kesusahan.

Contohnya Yudha, karakter ini terinpirasi dari beberapa urban legend hantu yang menolong para pendaki. Yudha terlahir dari garis kenturunan khusus dan dianugerahi kelebihan daripada manusia pada umunya. Namun kelebihannya itu Ia salah gunakan, dia sering mencuri, menyakiti orang dan melakukan kejahatan lainnya bahkan mendurhakai ibunya sendiri.

Pada suatu hari Yudha mengalami sakit keras selama berbulan-bulan, tak ada yang bisa menyembuhkan dirinya, saat sekarat pun dia kesusahan menemui ajalnya, terksiksa dengan rasa kehausan luar biasa syakaratul maut, sebuah sumpah pun dia iklarkan dan berhasil menutup usianya

Dalam bersumpahnya dia berucap: “Jika diberi kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya dia bersumpah akan menebus kesalahanya di dunia.”

Tamat

Cerpen Karangan: Miftah
Wattapad: MAP171615
Facebook: Miftah Abdul Patah
Jangan lupa suport terus ya teman2, ngasih krisar juga boleh kok, kalau ada waktu saya bisa buat yang seriesnya karena urban legend di indonesia itu banyak banget! Cek wattpad aja ya

Cerpen Sang Penolong (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tawa Iblis

Oleh:
Naya. Itulah nama panggilan Gladissa Nayyara, salah satu sahabat baikku. Gadis yang misterius. Selalu datang tepat waktu dan selalu pulang duluan. Belum pernah ada yang mau bersahabat dengannya kecuali

My Scary Holiday

Oleh:
Hari ini hari pertama libur sekolah. Di rumahnya anggun, Anggun, Novi, Feby, Fuji, Fepi, Reni, Stevi dan Via sedang berbincang mengenai libur sekolah. “guys, enaknya kita ngapain ya kalo

Sepatah Kata Seribu Bencana

Oleh:
Gemerlap kelap-kelip cahaya pasukan bintang di angkasa raya, suguhan panoramanya begitu indah tak boleh dipandang sebelah mata. Akan tetapi, bertolak belakang dengan keadaan di sepanjang jalan Pangeran kornel ini.

Hantu Penyambung Lagu

Oleh:
Sore itu, aku dan kedua temanku, Shilla dan Dena, mencari tempat teduh untuk istirahat. Kami kepanasan setelah selesai bermain. Kebetulan di belakang rumah Shilla banyak pohon-pohon dan ada sebuah

Hantu Pocong

Oleh:
Perkenalkan aku Caca, kali ini aku akan menceritakan secara singkat sedikit tentang pengalaman horor aku di rumah. Waktu itu aku masih SD, di rumah aku tinggal bersama Ibu dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *