Sarinah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 February 2013

Dengan nafas yang terengah-engah Audy menutup pintu kamarnya lalu ia duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu itu. Audy mulai mengatur nafasnya yang mulai menyesakkan dada, wajahnya pucat pasi, lalu ia memejamkan matanya. Hmm. wanita itu? Yaa. wanita itu mirip seperti yang ada di dalam impianku tadi malam pikir Audy dalam hati. Tubuh Audy masih saja gemetaran, bulu di sekujur tubuhnya merinding tidak karuaan. Apa yang terjadi pada diriku belakangan ini, kenapa aku selalu dibayangi oleh wanita tua itu, apa ada yang salah denganku sekarang tanya Audy dalam hatinya.

Tok. tok. tok.. Pintu kamar Audy di ketuk seseorang. Audy mengintip dari lubang pintu pelan-pelan untuk melihat siapakah yang berada di depan kamarnya. Audy lalu tersenyum lega ketika ia mengetahui yang mengetuk pintunya itu adalah July teman dekatnya.
“Lho. muka loe kok pucat kaya orang ketakutan aja tanya July ketika Audy membuka pintu kamarnya”.
“Nggak apa-apa kok, hmm.. Malam ini loe nginap di sini kan Jul kata Audy”.
“Sipp.. Gue kan sudah janji sama nyokap loe, selama dia tugas di luar, gue yang akan nemenin loe dirumah selain Mbok Surti jelas July sambil tersenyum”.

Audy kembali tersenyum begitu mendengar perkataan July. Audy adalah anak semata wayang di keluarganya. Papa Audy seorang pilot yang sibuknya luar biasa, dalam sebulan biasanya Papa hanya seminggu berada di rumah dan selebihnya ia terbang mengelilingi dunia dengan pesawatnya. Sedangkan Mamanya adalah wanita karir yang juga sibuk, contohnya seperti sekarang Mama harus pergi dan menginap di luar kota selama beberapa hari untuk mengurusi keperluan perusahaannya. Dan di saat-saat inilah hanya July sahabat Audy dari SMU dan Mbok Surti wanita setengah baya yang sudah mengurusinya sejak ia kecil yang setia menemani kesendirian Audy di rumah yang lumayan besar itu.

Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Audy membuka matanya perlahan-lahan lalu ia merapatkan tubuhnya di dekat July yang sudah terlelap tidur. Sepertinya saat ini Audy tidak bisa memejamkan matanya untuk beristirahat. Ia masih saja terbayang-bayang dengan wanita tua yang tadi ia temui. Yaa.. Sore tadi Sepulang dari kuliah Audy langsung mengendarai mobilnya keluar kampus. Di perjalanan tepatnya di perempatan lampu merah ia menghentikan mobilnya sejenak untuk menunggu lampu hijau menyalah kembali. Tiba-tiba mata Audy tertuju pada sebuah mobil sedan hitam yang berada tepat di sampingnya.

Hmm kaca mobil itu tidak terlalu gelap, tampak di dalamnya pemuda tampan yang mengendarai mobil tersebut, ia sedang bernyanyi-nyanyi sambil mendengarkan radio di dalam mobilnya. Audy tersenyum melihat kelakuan pemuda itu, lalu tampak sengaja ia menoleh kearah belakang pemuda itu. Audy terperanjat kaget seketika, ketika ia melihat ada sosok wanita tua berpakaian lusuh berwarna merah duduk di jok belakang mobil pemuda itu. Sepertinya pemuda yang menyetir itu tidak tahu kalau ada mahluk lain yang menumpang di dalam mobilnya. Mata Audy masih tertuju kearah mahluk yang menyeramkan itu dan apa yang terjadi tiba-tiba saja wanita tua itu menoleh kearah Audy lalu ia melototkan matanya yang memerah sambil tersenyum sinis padanya, melihat kejadian itu Nafas Audy mulai terengah-engah tidak karuan.

Tin.tin. bunyi klakson mobil yang berada di belakang mobil Audy. Audy pun terkejut mendengarnya, ia menarik nafas panjang lalu persekian detik wanita tua itu menghilang dari jok belakang mobil pemuda itu. Seketika itu pula sekujur tubuh Audy lemas dibuatnya. Audy lalu mengendarai mobilnya lagi ketika lampu hijau menyalah. Selama di perjalanan menuju rumahnya Audy sangat ketakutan, terlebih lagi wanita tua yang tadi dilihatnya adalah wanita yang persis di dalam impiannya dua hari belakangan ini. Yaitu wanita tua yang berbaju lusuh berwarna merah. Apakah ini hanya kebetulan saja atau cuma khayalan aku yang terlalu tinggi yaa Tuhan kata Audy dalam hatinya.

Keesokan harinya ketika Audy dan July tiba dirumah setelah pulang dari kuliah. Audy terheran-heran melihat banyak orang yang berkumpul di halaman rumah. Audy mengerutkan keningnya dan tampak bingung ia pun turun dari mobil.
“Ada apa.. Mbok Surti bisik Audy ketika Mbok Surti menghampiri dirinya”.
“Ada orang dari yayasan panti jompo mau bertemu dengan Non Audy jawab Mbok Surti”.

Audy berjalan kearah seorang laki-laki setengah baya yang tampak cemas.
“Ada yang bisa saya bantu pak, Tanya Audy”.
“Maaf Mbak, saya datang kesini sudah ada persetujuan dari Ibu Novi untuk memulangkan Ibu sarinah kerumah ini jawab Bapak itu”.
“Memulangkan siapa? tanya Audy sekali lagi yang tampak bingung”.
“Ibu Sarinah, yang dititipkan oleh ibu Novi beberapa tahun yang lalu. Sekali lagi maaf Mbak, pengurus yayasan sudah tidak sanggup lagi untuk mengurus Ibu Sarinah saat ini jelas Bapak-bapak itu lagi”.
Audy tersenyum, dalam hatinya ia masih di buat bingung dengan perkataan Bapak itu. Selama hidupnya Audy tidak kenal dengan Ibu Sarinah, Siapakah wanita itu? Setelah orang-orang dari yayasan pulang, Audy berusaha berkali-kali menghubungi Mama nya untuk menanyakan siapakah Ibu Sarinah itu, tetapi ponsel Mama tetap saja tidak bisa di hubungi.
“Ibu sarinah itu siapa sih Mbok, Tanya Audy pada Mbok Surti”.
“Itu non, Ibu Sarinah itu adalah adik angkatnya Eyang Non Audy jawab Mbok Surti”.

Hmmm. Adik angkat? Kok Eyang sama Mama tidak pernah menceritakan tentang keberadaan Ibu Sarinah kata Audy dalam hatinya.
“Terus Ibu Sarinah sekarang ada dimana Tanya Audy”.
“Non Audy kalo panggil Ibu Sarinah itu dengan sebutan Mbah Sarinah toh, karena dia adalah nenek Non Audy jelas Mbok Surti”.
Iyah Mbok, sekarang Mbah Sarinah di mana Tanya Audy sambil menganggukan kepalanya”.
“Ada di kamar belakang Non jelas Mbok Surti”.

Audy melangkahkan kakinya menuju kamar belakang bersama July.
Tok.tok.tok. Audy mengetuk pintu kamar itu pelan-pelan, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
“Masuk aja Non, Ibu Sarinah sudah tidak bisa mendengar bisik Mbok surti”.

Audy dan July saling berpandangan. Audy membuka pintu kamar itu perlahan-lahan, mereka berdua melihat seorang wanita tua yang sedang berbaring di ranjang. Audy tersenyum lalu ia mendekati Mbah Sarinah.
Tetapi sesaat kemudian betapa terkejutnya Audy begitu melihat Wajah Mbah Sarinah terlihat sama persis dengan wanita yang kemarin berada di dalam mobil itu dan yang muncul di impiannya. Wajah Audy mendadak menjadi pucat pasi, tubuhnya gemetar nafasnya pun terengah-engah kembali.
“Dy… hmm kayanya semalam gue liat orang persis kaya Mbah Sarinah deh ada di depan rumah loe bisik July yang tidak kalah sama terkejutnya”.
“Masa Tanya Audy sambil menatap July”.
“Iyaahhh.. Semalam waktu gue buka gerbang ada nenek-nenek di depan pagar lagi melihat-lihat rumah loe, dan waktu gue tanya dia diam aja jelas July penasaran”.
“Mungkin Non July salah lihat orang kali kata Mbok Surti yang tiba-tiba saja ada diantara mereka dan memotong perkataan July”.
Audy dan July sama-sama menoleh kebelakang dan memandang Mbok Surti.
“Ibu Sarinah itu sudah tidak bisa berjalan lagi. Keadaannya seperti ini, setiap hari selalu berada di atas ranjang. Ibu Sarinah juga tidak bisa berbicara dan mendengar lagi, dia hanya bisa mengisyaratkan matanya bila memerlukan sesuatu. Ibu sudah lumpuh karena tua dimakan usianya jelas Mbok Surti”.
“Hmmmm.. Aneh? gue enggak salah lihat Dy, Wajahnya sangat persis seperti Mbah Sarinah bisik July yang nampak bingung”.

Audy terdiam, dalam hatinya ia berfikir.. mana mungkin wanita tua itu adalah Mbah sarinah yang selama ini selalu membayanginya. Dan mengapa July juga sudah pernah melihat orang yang sama persis dengan Mbah Sarinah sebelumnya.
“Dy… gue kok tiba-tiba jadi merinding gini .. yaahhh? Ahh gue keluar aja deh bisik July lagi sambil buru-buru keluar dari kamar meninggalkan Audy”.

Audy masih saja memandangi wajah wanita tua yang berbaring di hadapannya. Mbah Sarinah tertidur dan tidak berdaya di atas ranjang. Wajahnya tampak menghitam dan berkeriput, matanya cekung, pipinya kempot, tubuhnya kurus kering seperti tengkorak yang hanya di lapisi oleh kulit yang sangat tipis. Apakah dia adalah wanita yang sama? Aku yakin July pasti juga terkejut melihat kejadian ini. Tetapi melihat keadaan Mbah Sarinah yang tidak berdaya seperti ini aku jadi ragu untuk menyakininya pikir Audy dalam hatinya. Tidak lama kemudian Audy pun bergegas pergi keluar kamar Mbah Sarinah menyusul July.

Ini sudah malam kedua Mbah Sarinah berada di rumah Audy. Semenjak ada keberadaan Mbah sarinah dirumah. Rumah Audy menjadi lain seperti biasanya. Malam hari terasa begitu panjang dan mencekam, seolah-olah di setiap sudut rumah ada orang yang mengawasi dan memperhatikan gerak-geriknya. Audy merasa tidak begitu nyaman. Keadaan Mbah Sarinah masih sama seperti biasa dia hanya bisa terpejam dan terbaring diatas ranjangnya. Tidak ada sepatah kata pun yang bisa di ucapkan, untungnya ada Mbok Surti yang selalu menjaga dan mengurusinya.

“Huaahhh kenapa gue jadi nggak bisa tidur kaya gini yaa? teriak July sambil memandang Audy yang masih berada di depan komputernya”.
“Sama gue juga nggak bisa tidur Jul jawab Audy sambil menggaruk-garukan kepalanya”.
“Turun kebawah yuk, kita minum susu, siapa tau aja habis minum kita bisa tidur ajak July”.
Hmmm. jam setengah satu malam kata Audy dalam hatinya sambil melihat jam di dinding.
“Yuk Dy, kita turun ajak July lagi”.
Audy menganggukan kepalanya, tidak lama kemudian mereka berdua keluar kamar dan menuruni anak tangga berjalan menuju dapur belakang.
“Jul… bisik Audy sambil memegang lengan July di kegelapan rumahnya”.
“Ada apa jawab July sambil menghentikan langkahnya”.
“Loe dengar sesuatu nggak.. Bisik Audy”.
July dan Audy terdiam sejenak, mereka pun saling berpandangan.
“Iyah.. Gue dengar seperti ada suara gendingan gamelan yang suaranya terdengar sangat jauh kata July”.
“Suara itu berasal dari mana yaa tanya Audy”.
“Hmmmm… sepertinya dari kamar belakang Dy jawab July”.
“Kamar Mbah Sarinah kata Audy”.
“I…iyah sepertinya dari sana bisik July gugup”.

Audy dan July pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju kamar Mbah Sarinah. Makin dekat suara itu semakin jelas terdengar suara gendingan gamelan.
“Iyah.. Suara itu benar-benar berasal dari kamar Mbah Sarinah kata July”.
“Siapa yang menyetel kaset atau CD di tengah malam kaya gini Jul, seingat gue didalam kamar itu tidak ada tipe, dan enggak mungkin juga Mbah Sarinah bisa mendengarkan suara itu bisik Audy”.
Audy dan July semakin mendekati kamar Mbah Sarinah. Dengan rasa penasaran July membuka pintu kamar itu perlahan-lahan lalu mereka mengintipnya. Dan apa yang terjadi, tubuh mereka berdua langsung gemetaran begitu mereka melihat Mbah Sarinah sedang menari dengan gemulai di iringi oleh suara gendingan gamelan yang entah berasal dari mana. Mbah Sarinah memakai kebaya berwarna merah yang sangat bagus, sambil memegang selendang Mbah Sarinah melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti alunan suara itu. Wajahnya sangat berbeda, ia tampak lebih muda dan sangat cantik, kulitnya wajahnya sangat mulus bersinar dan tidak berkeriput… rambutnya hitam lebat dan tergerai indah memanjang hingga sepinggang.

“Dy… bisik July sambil menggengam tangan Audy yang begitu dingin”.
“Apa yang loe lihat sekarang sama dengan apa yang gue lihat kan Jul? bisik Audy dengan suaranya yang gemetar”.
“Iyah… itu..itu.. Mbah Sarinah jelas July”.
Audy dan July saling bertatapan di depan pintu kamar.. Lalu mereka berdua mengintip lagi… lama kelamaan suara gendingan itu terdengar semakin jauh lalu menghilang, seiring dengan itu keadaan Mbah Sarinah pun mulai berubah seperti semula. Tubuh mereka berdua semakin tidak karuan rasanya. Audy dan July berlari menaiki tangga menuju kamar. Begitu setiba diatas mereka berdua pun sangat terkejut ketika melihat keberadaan Mbah Sarinah yang sudah berada di depan kamar Audy. Ia berdiri tubuhnya membongkok kurus kering, wajahnya berkeriput, kepalanya tampak membotak dengan rambutnya yang memerah dan tergerai sepinggang, ia melototkan matanya menatap mereka berdua. Audy dan July pun berteriak dan langsung berlari lagi menuruni anak tangga. July meraih kunci mobil yang tergeletak di meja makan lalu mereka berdua lari terbirit-birit keluar rumah.
“Cepat buka pagarnya.. Dy, teriak July sambil menyalahkan mesin mobil”.

Audy cepat-cepat membuka pintu pagar rumahnya, lalu ia berlari menghampiri mobil yang di kendarai oleh July.
“Cepat masuk..Dy teriak July”.
Tidak lama kemudian Sedan berwarna putih itu pun melaju dengan kencang dari halaman rumah Audy di tengah malam.
“Yaaa Tuhan… teriak Audy, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi”.
“Tuh.kan gue udah tebak kalo ada yang enggak beres sama Mbah loe itu Dy? kata July lantang”.
“Yaa.. Tuhan teriak Audy lagi sambil menoleh memandang July yang sedang menyetir”.
“Ada apa. Dy tanya July”.
“Mbok Surti masih ada di rumah Jul? teriak Audy histeris”.
“Yaaa ampun?? Kata July sambil menepuk keningnya”.
“Bagimana ini Jul, gue takut Mbok Surti nanti kenapa-napa kata Audy”.
“Terus gimana.. Kita mau balik kerumah loe lagi? Gue takut Dy jelas July”
“Terus bagimana dong jadinya, apa yang harus kita lakukan tanya Audy cemas”.
“Mudah-mudahan aman Dy, kalo Mbok Surti mengunci rapat pintu kamarnya? sumpah gue enggak berani balik lagi kerumah loe saat ini jelas July sambil memacu kecepatan mobilnya”.

Tidak lama kemudian mobil yang di kendarai July berhenti di depan rumah yang berpagar hitam.
“Ini rumah siapa…tanya Audy”.
“Rumah sepupu gue.., kita bermalam di sini saja yaa, gue mau hubungi sepupu gue dulu. jawab July”.
July mengeluarkan ponselnya, lalu tidak lama kemudian keluarlah seorang anak laki-laki sebaya mereka menghampiri mobil.
“Ada apa Jul, ayo kita masuk ajak laki-laki itu”.
Audy mengikuti langkah July dan sepupunya itu masuk kedalam rumah.

“Kenalkan nih Dre, teman deket gue kata July sambil menoleh kearah Audy”.
Audy dan Andre lalu berjabat tangan. Andre membuatkan teh hangat untuk July dan Audy yang sedang beristirahat di atas sofa. July menceritakan kejadian yang ia alami berdua dengan Audy malam ini pada Andre. Begitu pula dengan Audy, ia pun bercerita apa yang dialaminya selama beberapa hari belakangan ini, termaksud kejadian sewaktu di lampu merah empat hari yang lalu.
“Apa… loe juga pernah melihat Mbah Sarinah sebelumnya Dy, Tanya July tidak percaya”.
“Iyah… jawab Audy sambil menganggukan kepalanya”.
“Wahhh… parah, bagaimana ini teriak July”.
“Kita harus menyelamatkan Mbok Surti Jul, jelas Audy yang sangat mencemaskan pengasuhnya”.
“Iyah… besok kita kesana jawab July”.
“Aneh ponsel Mama sampai sekarang juga masih nggak bisa di hubungi kata Audy sambil menatap July dan Andre”.
“Hmm.. Bagaimana kalau besok kita pergi ke yayasan yang pernah di tinggalin oleh Mbah Sarinah dulu kata Andre”.
“Ke yayasan panti jompo itu tanya Audy”.
“Iyah.. Kita cari tau tentang keberadaan Mbah Sarinah selama ia tinggal disana, loe berdua tidak penasaran kenapa tiba-tiba saja para pengurus yayasan memulangkan Mbah Sarinah dengan alasan sudah tidak sanggup lagi mengurusinya. Pasti ada hal lain yang di sembunyikan oleh mereka, gue yakin pasti ini berkaitan dengan Mbah Sarinah yang tidak baik jelas Andre”.
“Benar juga tuh Dre.. Kita harus kesana kata July”.
(bersambung…)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
Hi… bertemu lg dengan aku… Ayu, hmmm.. berfikir untuk membuat cerpen dengan cerita misteri atau horor mungkin menjadi suatu tantangan tertentu menulisnya. Selain harus berimajinasi kadang penulis jadi merinding ketakutan sendiri dan tidak berani menulis di malam hari hehehehe…, ini adalah cerpen misteri atau horor pertama yg aku buat. Mudah2an teman2 semua suka yaa….. Selamat Membaca 🙂

Selain cerpen berjudul sarinah, aku jg sudah mempunyai tiga cerpen lain yg sudah di muat di cerpenmu….. (thanks Cerpenmu)

Cerpen Sarinah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Manusia

Oleh:
Siapa yang tak mengenal aku? “Tak ada!”. Siapa yang tak pernah bermain denganku? “Tak ada!”. Aku diciptakan berdampingan dengan manusia. Kadang aku iri dengan mereka yang terbiasa berjalan tanpa

Rumah Tanpa Kepala

Oleh:
Di suatu hari, aku dan teman-temanku sedang berjalan-jalan di suatu tempat. Tiba-tiba kami semua menemukan sebuah rumah tua yang terlihat angker. Salah satu temanku Rizki, mengajak kami semua untuk

Misteri Kado Sebuah Boneka

Oleh:
Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada

My Love Dofi

Oleh:
Pernah terbayang olehku, aku akan berakhir di penggorengan dan disantap manusia manusia yang merasa lapar. Aku tak pernah membayangkan akan berakhir di akuarium, disayang, dimanja, diberi makanan. Firli. Anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *