Sarinah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 17 February 2013

Keesokan harinya setelah sarapan Audy, July dan Andre pergi menuju yayasan panti jompo dimana Mbah Sarinah pernah tinggal disana. Dengan perasaan penasaran bercampur dengan kecemasan mereka bertiga turun dari mobil dan segera berjalan menuju kantor pengurus yayasan panti yang berada di samping rumah utama. Setelah melapor dan mengisi buku tamu kunjungan Audy, July dan Andre di persilakan untuk masuk kedalam rumah yang sangat besar. Walaupun terlihat rumah tua tetapi di dalam rumah itu sangat bersih, nyaman dan asri.

“Tunggu sebentar yaa Dik, saya akan panggilkan kepala yayasannya dulu kata Ibu-ibu berkerudung merah muda itu sambil tersenyum”.
Audy, July dan Andre berjalan menuju taman yang berada di belakang rumah panti. Dan tidak lama kemudian seorang pria berperawakan tinggi besar menghampiri mereka bertiga.
“Ada yang bisa saya bantu Dik Tanya pria itu”.
“Saya Audy… Pak, sapa Audy memperkenalkan dirinya, dan ini teman saya July dan Andre jelasnya lagi kemudian”.
“Saya Bapak Agung, kata Pria itu sambil menjabat tangan Audy”.
“Begini Pak Agung, kedatangan saya kesini untuk menanyakan tentang keberadaan Ibu Sarinah selama ia di urus di panti ini. Beberapa hari yang lalu anak buah Bapak memulangkan Ibu Sarinah kerumah kami. Saya cuma ingin tau apakah Ibu Sarinah sangat merepotkan pihak pengurus sehingga ia di pulangkan Tanya Audy panjang lebar.

Pak Agung terdiam, wajahnya menampakan kecemasan dengan pertanyaan Audy.
“Maaf Dik Audy… Kami tidak bisa menjelaskan tentang keberadaan ia selama di sini, karena ini menyangkut tentang kerahasiaan yang kami jaga jawab Pak Agung dengan singkat”.
Audy tersenyum, dalam hatinya ia makin bingung dengan jawaban Pak Agung. Tidak lama kemudian Pak Agung pamit kepada mereka untuk mengurus kaperluan yang lainnya.
Audy duduk lemas di bangku taman tatapan matanya kosong, tampak dengan jelas kecemasan yang ia rasakan saat ini.
“Sabar Dy, pasti nanti ada jalan keluarnya hibur Andre sambil menepuk lembut bahu Audy”.

“Wow… usttt… lihat deh ada yang melambai lambaikan tangannya kearah kita bertiga bisik July”.
“Siapa… Tanya Audy”.
“Itu yang di depan ruangan, di pojok sana tunjuk July”.
“Sepertinya ia meminta kita untuk menghampirinya bisik Andre”.
“Aduhhhh… gue takut ahhh, sumpah deh kenapa kita harus berurusan dengan nenek-nenek semua sihhh, masih parno nih gue?? kata July sambil meremas-remas tangannya”.
“Yaaa… sudah kalau begitu gue sama Audy yang pergi kesana, loe diam aja disini jelas Andre sambil menggandeng tangan Audy lalu mereka berjalan menuju pojok ruangan”.
“Yay… gue ikut !!!!!…… teriak July sambil berlari mengikuti Andre dan Audy dari belakang”.

Mereka bertiga berjalan menghampiri seorang wanita tua yang duduk di kursi roda yang berada di depan kamarnya.
“Selamat pagi Nek, sapa Andre”.
“Pagi… Jawab Nenek itu, sambil memandang tajam Audy yang berdiri di samping Andre”.
“Nenek memanggil kami Tanya July”.
“Kamu… yaa kamu, apakah kamu orang yang sama di dalam foto ini Tanya Nenek itu sambil menunjukan foto Audy berdua dengan Mama nya”.
Audy terkejut melihat foto yang berada di tangan Nenek itu.
“I… iyah Nek, benar itu adalah saya jawab Audy dengan gugup”.
“Yaaa… Tuhan, jadi benar kamu adalah cucu nya Raden Retno kata Nenek itu lagi dengan matanya yang berkaca-kaca”.
“Iyah… itu nama Eyang saya jawab Audy lagi”.
“Kemari Nak….. mendekatlah, ternyata kamu sudah besar kata Nenek itu sambil memeluk erat tubuh Audy”.

Andre dan July saling berpandangan ketika melihat muka Audy yang sedikit bingung dan takut di dalam pelukan Nenek itu.
“Nenek kenal dengan Eyang saya, Tanya Audy”.
“Iyah… Saya adalah seorang pendamping Eyang kamu, yang telah di percaya untuk membantu dan mengurusi segala keperluannya jelas Nenek itu”.
“Nama Nenek siapa, Tanya Andre”.
“Saya… Karti, panggil saja saya Mbah Karti jawabnya”.
“Berarti Mbah Karti kenal dengan yang namanya Mbah Sarinah, Tanya Audy ragu-ragu”.
Mbah Karti menganggukan kepalanya sambil mengusap air mata yang berlinang di pipinya.
“Mbah Sarinah sekarang berada di rumah saya, saya kemari ingin mengetahui lebih banyak tentang dia, karena selama ini saya tidak pernah tau siapa beliau jelas Audy sambil memandang Mbah Karti”.

“Sarinah itu adalah adik angkat Raden Retno, Raden Retno sangat sayang sekali padanya. Dia sangat di manja oleh Eyang kamu. Tapi lama kelamaan Sarinah mengharap sesuatu yang lebih, yang tidak ia punyai kata Mbah Karti”.
“Apa itu Mbah… Tanya July penasaran”.
“Sarinah… diam-diam menyukai suami Raden Retno yang bernama Pramono, Tapi Tuan Pramono sama sekali tidak tergoda dengannya. Karena ia sangat sayang dan setia dengan istrinya. Raden Retno itu sangat cantik di bandingkan dengan Sarinah. Kecantikannya itu yang membuat suaminya kagum dan tergila-gila dengannya. Segala upaya di tunjukan oleh Sarinah untuk merebut perhatian Tuan Pramono. Tapi sayang Tuan Pramono sama sekali tidak tertarik olehnya”.
“Lho, Eyang Retno memangnya tidak tahu kalau Mbah Sarinah menggoda Eyang Kakung Tanya Audy bingung”.
“Itulah… karena sakin sayangnya dengan Sarinah, Raden Retno tidak percaya kalau adik angkatnya itu menggoda suaminya. Suatu hari Sarinah pergi ke tempat orang pintar yang berilmu hitam, ia ingin mempercantik dirinya agar ia terlihat lebih cantik di bandingkan dengan Raden Retno di mata Tuan Pramono. Entah persyaratan apa yang ia lakukan dan ia setujui dengan orang pintar tersebut. Tiba-tiba saja dirinya menjadi sangat cantik. Bukan itu saja tetapi Sarinah saat itu menjadi sangat pintar menari. Jika ia menari banyak laki-laki yang tergila-gila dengannya. Sarinah selalu menari dengan memakai baju merah, ia terlihat sangat anggun seperti bidadari. Dan akhirnya Tuan Pramono jatuh hati padanya jelas Mbah Karti”.

“Mbah Karti tau dari mana, kalau Mbah Sarinah itu mempercantik dirinya pada orang yang berilmu hitam Tanya Andre”.
“Saya selalu membuntutinya, terus terang saya sangat tidak suka dengan Sarinah. Dia orang yang munafik, orang yang bermuka dua. Saya tau apa yang mau di rencanakannya. Sarinah juga tidak suka dengan saya, karena Raden Retno selalu membela saya jika kami berdua bertengkar. Sehingga pada suatu hari Sarinah menuduh saya yang mengambil perhiasaan milik Raden Retno yang hilang. Saya tau itu adalah salah satu rencana jahatnya untuk menyingkirkan saya, sayangnya saat itu Raden Retno lebih percaya dengan adik angkatnya itu. Dan saya di pecat lalu di usir dari rumah, tetapi dari jauh saya tetap memantaunya karena saya sangat sayang sekali dengan Reden Retno dan keluarganya.

Tidak lama saya keluar, ada kejadian dimana Sarinah kepergok oleh Raden Retno sedang menggoda Tuan Pramono yang saat itu sangat tergila-gila dengan Sarinah. Raden Retno sangat marah, akhirnya ia mengusir Sarinah dari rumahnya. Beberapa bulan kemudian Tuan Pramono meninggal karena penyakit yang sangat misterius, Raden Retno sangat terpukul dan sedih. Akhirnya beliau memanggil saya dan meminta saya untuk tinggal dirumahnya kembali. Saya pun menjelaskan kepada Raden Retno tentang apa yang di perbuat oleh Sarinah selama ini. Raden Retno sangat terkejut dan meminta saya untuk menemukan jalan keluarnya, karena sejak kepergian Sarinah banyak banget kejadiaan yang diluar nalar yang di alami oleh keluarga Raden Retno. Sampai suatu hari saya bertemu dengan orang yang sangat baik dan berilmu tinggi, ia bersedia membantu Raden Retno, ia berkata kalau Sarinah itu tidak akan bisa mati, karena ilmu yang ia pelajari itu akan memperpanjang usianya serta kecantikan yang kekal, tetapi tidak untuk tubuhnya. Karena tubuhnya sama seperti kita yang akan menua, jelas Mbah karti panjang lebar”.

Audy, July dan Andre terkejut mendengar cerita Mbah Karti. Audy menarik nafas panjang, lalu ia menceritakan semua hal yang ia alami sekarang kepada Mbah Karti yang terus memandangnya.

“Lalu apa yang harus saya lakukan Mbah, Tanya Audy dengan mukanya yang memelas”.
“Kamu adalah kunci satu-satunya yang bisa menyelamatkan diri kamu sendiri dan keluarga jawab Mbah Karti”.
“Sa… saya… kata Audy dengan terbata-bata”.
“Iyah… karena yang bisa menghalangi Sarinah adalah generasi ketiga dari keluarga Raden Retno, yaitu kamu jawab Mbah Karti”.
“Mbah Sarinah tahu kalau Mbah Karti juga berada di sini dan tinggal di satu panti dengannya Tanya July”.
“Iyah… itu adalah rencana saya dan Raden Retno untuk memperhatikan tingkah-laku Sarinah Dan sejak saat itu diam-diam Sarinah selalu berusaha untuk menyerang saya. Akan tetapi akhir-akhir ini tubuhnya makin menua, ia tidak bisa beraktifitas lagi, ia hanya bisa berbaring di atas ranjang, tetapi roh nya masih bisa berjalan-jalan ketempat lain dan menakutkan banyak orang. Sejak peristiwa itu Sarinah di pulangkan kerumah kamu. Karena pihak yayasan dan penghuni panti ini sangat tidak nyaman karena sering melihat sosok yang persis dengan Sarinah, yang sering muncul dimalam hari. Saya sangat terkejut dengan keputusan pengurus panti karena ini adalah diluar rencana saya. Sarinah akan semakin dekat dengan kamu, ia akan menjadikan kamu tumbalnya untuk memperkuat tubuhnya agar ia menjadi muda lagi jawab Mbah Karti”.
“Yaaa… Tuhan kata Audy sambil memandang Mbah Karti”.
“Saya sangat lega karena kamu kesini, karena saya tidak di ijinkan keluar oleh yayasan, akhirnya doa saya terkabul kata Mbah Karti”.

Mbah Karti lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam kebayanya.
“Isi botol kecil ini adalah ramuan yang di berikan oleh orang pintar yang saya temui, ia berkata, ilmu yang di miliki Sarinah akan hilang jika ia meminum ramuan ini yang telah tercampur oleh setetes darah dari keturunan ketiga Raden Retno, yaitu kamu jelas Mbah Karti”. Kamu harus menyelamatkan diri kamu sendiri dari rencana sarinah, kamu harus melumpuhkan ia terlebih dahulu. Agar diri kamu selamat kata Mbah Karti”.

Ini seperti mimpi yang sangat buruk kata Audy dalam hatinya. Hmm.. kenapa kejadian ini harus terjadi padaku.
“Ini adalah pesan dari Eyang kamu, agar kamu selamat. Mama kamu tidak pernah tau tentang kejadian ini, Mama kamu yang menitipkan Sarinah di panti ini sewaktu Sarinah di temukan dan tidak ada seorang pun yang mau mengurusnya. Saya dan Raden Retno berjanji akan selalu menjaga kamu, begitu Raden Retno meninggal sayalah yang menjadi tanggung jawab akan kamu dan keluarga besar Raden Retno kata Mbah Karti”.

Audy menerima botol kecil pemberian Mbah karti. Lalu ia menggenggamnya kuat-kuat. Apakah hanya aku, orang yang satu-satunya, yang bisa menolong diri aku sendiri pikir Audy.

Tidak lama kemudian Audy, July dan Andre pamit pada Mbah Karti untuk kembali kerumah. Selama dalam perjalanan mereka bertiga terdiam membisu, mereka masih tidak mempercayai cerita Mbah Karti tentang Mbah Sarinah. Apakah aku mempunyai keberanian untuk melakukan hal ini Yaa Tuhan gumam Audy dalam hatinya.

“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?? Tanya July yang memulai percakapan”.
“Kita harus mempercayai apa yang di katakan oleh Mbah Karti saat ini kata Andre”.
“Tapi apa gue mampu untuk melakukan ini semua, gue harus melawan orang yang mempunyai ilmu gaib sedangkan gue tidak terlalu yakin dengan apa yang gue miliki sekarang jelas Audy”.
“Ini seperti cerita di film saja?? sangat menyeramkan jika teringat kejadian semalam kata July”.
“Loe harus berani Dy, menghadapi ini semua. Loe tega melihat Mbah Sarinah yang sebenarnya sudah tidak berdaya di atas ranjang. Mungkin saja ia sudah lelah, tapi dengan ilmunya yang tinggi roh nya masih kuat untuk memenuhi ambisinya. Dan ini mengancam hidup loe. Loe harus berani Dy… Gue dan July pasti akan membantu loe jelas Andre”.
“Iyah… Dy, benar apa yang dikatakan oleh Andre. Dan… ingat masih ada seseorang lagi yang harus kita selamatkan, yang sekarang berada sangat dekat dengan Mbah Sarinah kata July”.
“Mbok Surti…??? jawab Audy sambil menatap July”.
“Iyah… Mbok Surti pasti bingung mencari kita yang tiba-tiba saja menghilang di tengah malam kata July”.
“Hmmm… kalau nanti kita sudah berada di rumah?? Kita bersikap seperti orang yang tidak tau apa-apa, kita santai saja, jangan perlihatkan kalau kita bertiga panik atau takut. Percaya sama gue Mbah Sarinah itu kalau siang hari pasti tidak berdaya dan hanya bisa terbaring di ranjangnya, Lalu diam-diam kita masuk kedalam kamar Mbah sarinah dan langsung kita cegukkan ramuan ini ke mulutnya sewaktu ia tidak berdaya jelas Andre”.

Audy dan July menganggukan kepalanya tanda mereka telah mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Andre. Mudah-mudahan rencana ini berjalan dengan lancar gumam Audy dalam hatinya. Perjalanan mereka bertiga pun berakhir ketika mereka tiba di depan rumah Audy yang terlihat sangat sepi. Audy memencet bel pintu rumahnya. Tidak lama kemudian Mbok Surti membuka pintu besar yang berwarna coklat tua itu.
“Lho… Non Audy kemana saja toh, kok tiba-tiba saja pergi tidak pamit dengan Mbok Surti tanyanya cemas”.
“Mendadak semalam harus kerumah Andre, ngerjain tugas kuliah… maaf Audy gak sempat pamit sama Mbok jawab Audy berbohong”.
“Mbah Sarinah lagi ngapain Mbok Tanya July yang memberanikan diri menanyakan keberadaan Mbah Sarinah”.
“Sedang beristirahat di dalam kamar, Alhamdulilah tiba-tiba saja sekarang Ibu Sarinah sudah bisa duduk di sofa yang ada kamarnya dan sudah bisa berbicara walaupun masih terbata-bata jawab Mbok Surti dengan gembira”.
“APA…?? teriak Audy dan July terkejut, ketika mendengar penjelasan Mbok Surti”.
“Kenapa Non…?? Tanya Mbok Surti bingung”.
“Hmm… enggak apa-apa kok Mbok jawab Audy sambil tersenyum cemas”.
“Mbok Surti tinggal kedalam dulu yaa, mau menyuapi Ibu Sarinah untuk makan siang pamit Mbok Surti sambil berjalan meninggalkan mereka bertiga”.

Audy, July dan Andre berbisi-bisik setelah Mbok Surti pergi meninggalkan ruang keluarga. Wajah Audy menjadi pucat ketika mendengar Mbah Sarinah sudah bisa duduk dan berbicara. Ia semakin tidak berdaya dan takut menghadapi Mbah Sarinah nanti.
“Aduhhhh… bagaimana ini Tanya Audy cemas”.
“Gileee… kok bisa begitu yaaa?? kata July ketakutan”.
“Hmmmmm… coba kita tunggu sampai keadaan aman, kalau Mbah Sarinah tertidur lelap kita mengendap-ngendap masuk ke kamarnya. Mudah-mudahan berhasil jelas Andre”.
“Tapi apa mungkin, keadaan kita aman-aman saja jika kita berada di sini terus bisik July”.
“Sekarang kita berfikir positif saja, Mbah Sarinah sendiri dan kita berempat dengan Mbok surti… mudah-mudahan rencana kita berhasil hibur Andre”.
“Apakah sebaiknya kita beritahu Mbok Surti saja tentang keadaan Mbah Sarinah Tanya Audy”.
July dan Andre saling berpandangan lalu mereka berdua tersenyum pada Audy sambil menggelengkan kepala mereka.
“Enggak usah Dy, kasihan Mbok Surti sudah tua. Nanti dia ketakutan atau kepikiran terus tentang masalah ini jelas July”.

Hari sudah senja mereka bertiga masih saja terdiam terpaku menunggu keadaan aman untuk menjalankan rencananya di dalam kamar Audy. Keadaan di sekeliling rumah menjadi mencekam sesudah azan Isya berkumandang. Lampu yang biasanya terang menderang seolah-oleh menjadi redup dan suram. Hening… tidak ada suara apapun yang terdengar dari luar rumah. Audy memandangi botol kecil pemberian Mbah Karti. Tubuhnya gemetar, pikirannya melayang jauh entah kemana. Tampak beban yang sangat berat yang ia rasakan saat ini. Audy menarik nafas panjang lalu ia melirikan matanya kearah Andre yang sejak tadi memandanginya dari kejauhan. Andre tersenyum pada Audy, sepertinya ia memberikan semangat yang berarti untuknya. Hmmmm… apakah malam ini aku bisa menyelamatkan diriku ini dan yang lainnya, lalu bagaimana nantinya kalau sesuatu hal menimpah July dan Andre. Mereka berdua tidak ada hubungannya dengan ini semua, bagaimana jika mereka berdua terluka karena aku pikir Audy sedih. Tiba-tiba July masuk kedalam kamar, dengan mimic mukanya yang terlihat bingung ia berkata.

“Guys…?? Aneh kenapa Mbok Surti menyiapkan makan malam banyak banget dan enak-enak yaa, seperti mau pesta saja kata July sambil menggaruk-garukan kepalanya”.
“Maksud loe apa Jul?? Tanya Audy bingung”.
“Iyah… Mbok Surti menyiapkan makanan banyak banget buat makan malam, Hmm tadi gue ngintip sewaktu dia membereskan meja makan jawab July”.
“Mungkin karena ada loe dan Andre kali, jadinya Mbok Surti menyiapkan makan malam yang lebih, takut kurang soalnya jelas Audy”.

Tidak lama kemudian Mbok Surti mengetuk kamar Audy dan menyuruh mereka bertiga turun untuk makan malam. Setiba di ruang makan Audy, July dan Andre terkejut ketika melihat keberadaan Mbah Sarinah yang sudah duduk disana lebih dahulu. Audy langsung buru-buru memasukan botol kecil yang di genggam kedalam saku celananya. Mbah Sarinah memakai kebaya berwarna merah yang pernah Audy lihat sebelumnya, tubuhnya yang tampak kurus tidak berdaya terlihat segar malam itu. Mbah Sarinah tidak berkata sepatah kata pun, tetapi matanya seolah-oleh mengisyaratkan Sesutu yang sangat misteri. Audy dan Mbah Sarinah duduk berhadapan, mata mereka berdua bertatapan. Aku harus kuat untuk menghadapinya, apapun yang terjadi aku harus mengalahkannya. Dia orang yang sangat jahat guman Audy dalam hatinya. Tiba-tiba Mbah Sarinah tersenyum, tatapan matanya tajam memandang Audy, seolah-olah ia mengerti dan tau apa yang sedang Audy pikirkan saat ini. Audy menelan ludahnya lalu ia mulai mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah. Audy pun tersenyum membalas senyuman Mbah Sarinah dengan tatapan matanya yang kosong.

“Ayo… kalian makan?? Sudah malam nih ajak Mbok Surti”.

Mbok Surti segera melayani Mbah Sarinah. Dengan cekatan Mbok Surti memberikan makanan kepada Mbah Sarinah. Mbok Surti terlihat sangat tunduk dan menghormati Mbah sarinah, sepertinya ia senang melihat keadaan Mbah Sarinah yang berbeda dengan sewaktu pertama kali ia datang kerumah ini. Audy, july dan Andre memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Mbah Sarinah tampak lahap memakan apa saja yang Mbok Surti berikan. Seperti orang yang kelaparan Mbah Sarinah dengan cepat mengunyah paha ayam yang berada di piringnya. Audy semakin bingung melihatnya. Cara makannya sangat berbeda ia begitu rakus seperti orang yang telah berhari-hari tidak melihat makanan.

Aneh… sepertinya bukan Mbah Sarinah yang berada di hadapanku pikir Audy. July memandang Audy lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya, Hmmm… mana ada Nenek-nenek cepet amat ngunyah daging ayam?? waduh ada yang tidak beres nih kata July dalam hatinya.
“Lho… kok kalian tidak makan tegur Mbok Surti”.
“Saya sudah kenyang Mbok, jawab July”.

Sungguh pemandangan yang aneh malam itu. Selesai makan Mbah sarinah di papah Mbok Surti menuju kamarnya. Tinggal Audy, July dan Andre yang berada diruang makan.
“Sumpah… Gue enggak berselera untuk makan kata Audy yang bangkit dari kursi lalu ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di ikuti oleh July dan Andre”.
Sesampai di kamar mereka mendiskusikan apa yang telah mereka lihat tadi. Semakin jelas perbedaan yang di tampakan oleh Mbah Sarinah. Malam pun semakin larut dan dingin menusuk hingga ke tulang. Didalam Kamar mereka bertiga terlihat semakin bingung dan gusar. Malam pun terasa begitu sangat panjang.

KLIK… tiba-tiba lampu rumah Audy padam. Gelap menyelimuti semua ruangan didalamnya, Hening dan hawa dingin makin terasa. Audy panik nafasnya sesak seolah-olah ia kehabisan oksigen yang akan di hirupnya. Yaaaa… itu Audy rasakan karena dia takut akan kegelapan.
To… tolong… gue takut bisik Audy sambil mengatur nafasnya, July memeluk erat Audy sedangkan Andre mencoba mencari senter atau sesuatu yang bisa menerangi ruangan kamar.
“Loe ambil nafas yang dalam Dy lalu loe keluarkan perlahan-lahan, loe harus tenang jangan panic yaa kata July yang menenangkan sahabatnya itu”.
Andre menemukan sebuah lilin besar yang berada di dalam laci meja, lalu ia membakar sumbu lilin itu. Ruangan kamar Audy menjadi sedikit agak terang.

“Kenapa zetset rumah ini tidak menyalah kata Audy gugup”.
July menggelangkan kepalanya sambil memandang Audy.
“Sekarang kita harus bagaimana… kata Audy lagi”.
“Sepertinya kita harus keluar dari sini, kita harus mencari Mbok Surti. Gue takut ia dalam bahaya sekarang karena Mbok Surti tidak tau apa-apa jelas Andre”.
Audy dan July menganggukan kepala, lalu mereka bertiga keluar dari kamar menuruni anak tangga yang hanya di terangi oleh cahaya lilin. Sesampai di ruang tengah kembali terdengar sayup-sayup suara gamelan dari kejauhan seperti kemarin malam, tetapi saat ini iramanya terdengar sangat sedih dan memilukan. July dan Audy berpegangan tangan sementara Andre berada di depan mereka memegang lilin untuk menerangi jalan.

“Mbokkk… Mbok Surttiiiiiii… teriak Audy kencang memanggil pengasuhnya”.

Audy memanggil-manggil Mbok Surti berkali-kali tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Mbok Surti. Di sekeliling ruangan itu semakin mencekam. Mereka berjalan pelan-pelan menuju ruang makan, tiba-tiba cahaya lilin yang di pegang Andre mati seketika. Lilin itu padam seperti ada orang yang dengan sengaja meniupnya dari arah depan Andre. Audy memeluk erat July… keadaan di sekeliling mereka menjadi gelap gulita kembali. Alunan suara gamelan terdengar semakin dekat dan mendayu-dayu.
“Kita keluar saja dari sini bisik Audy”.
“Tapi kita harus menemukan Mbok Surti dulu Dy jawab Andre”.
“Mbooooookkkkkkk… Mbookkkk Surti ada di manaaaaaaa????? Teriak Audy untuk sekian kalinya”.
“Saya… saya ada di sini Non?? Jawab Mbok Surti dari kejauhan”.
“Dimanaaaa… Mboookkkkk teriak Audy lagi”.
“Di siniiiiii… jawab Mbok Surti”.
(bersambung…)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
Yay…..aku ayu, ini adalah cerpen misteri/fiksi part.2 yang berjudul Sarinah, semoga teman-teman menyukainya….. “Selamat Membaca”

Baca Juga Cerpen: Sarinah (Part 1)

Cerpen Sarinah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Future

Oleh:
“Apa yang kau lakukan?” teriak seorang laki-laki. “Aku?” jawab laki-laki satunya. “Aku hanya mengambil apa yang aku ingin lakukan?” Sinis laki-laki tersebut. “Sebaiknya kau kembalikan! Kalau tidak…” sahut Suna.

Angelina

Oleh:
Namaku Angelina, biasanya aku dipanggil Angel oleh teman temanku. Saya memiliki sahabat, sahabatku bernama Ica. Menurutku, Ica itu aneh. Bukan orangnya, tetapi rumahnya. Salah satu peraturan rumahnya saja aneh.

The Story Of Soul Eater

Oleh:
Pada suatu jaman hidup sebuah kerajaan dimana sang raja itu sangat rakus, ia berubah jadi rakus dan kejam karena ditinggal mati oleh ratu di dalam peperangan. Raja itu mempunyai

Merah

Oleh:
Sekolah mengadakan class meeting, dan di acara puncak, masing-masing kelas harus perform di atas panggung. Kelasku berencana menampilkan drama, drama pendek gitu dan aku ditunjuk jadi penulis skenario. Berhubung

Diantara Dua Makam

Oleh:
Dua tahun lalu, tepatnya pada tahun 2010 lalu, aku menempati kos baru yang kedua kalinya dikota pahlawan yang terkenal dengan patung Jenderal Sudirman ini. awalnya, aku happy banget dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Sarinah (Part 2)”

  1. Nur Eda says:

    Sarinah (Part 3) memang blm ada yah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *