Scared

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 3 March 2019

Aku anak kost. Ya, ini malam pertamaku pindah ke kost baruku. Ranjang yang lumayan besar. Bahkan cukup untuk dua orang.

Malam, pukul 00.05.
Aku belum juga bisa tidur. Sudah berkali kali kupejamkan kedua mataku. Tapi, aku masih saja terjaga.

Tok.. Tok..
Aku terperanjat kaget. “Siapa yang iseng mengganggu tengah malam begini?” Pikirku.
Aku berniat membuka pintu. Tapi, ketakutan menguasai diriku.
“S-siapa?” Tanyaku. Aku tak mendengar apa apa.

Tok.. Tok..
Lagi lagi kudengar ketukan itu. Sungguh, ini tak lucu. Kuraih headphone yang kutaruh di atas meja. Langsung saja kupakai.

DUK.. DUK..
Kali ini bukan ketukan. Melainkan, pintu ini seperti hendak didobrak. Padahal, aku mendengarkan lagu dengan suara keras. Aku tak menghiraukannya. Tak lama kemudian, aku mulai terlelap.

Paginya, aku bangun lebih awal. Bukan karena hari ini aku sekolah. Aku libur 2 minggu. Hanya saja, aku tak betah melihat keadaan kamarku yang kotor begini.
“Ran, bisa kesini nggak? Ke kost melati. Kamar gue nomor 13.”
“Oke.”

Kirana datang beberapa saat kemudian.
“N-nis? Ini kamar lo?” Kulihat ekspresi kirana nampak ketakutan.
“Iya, emangnya kenapa? Kok lo pucat gitu?” Tanyaku.
“Gue malam ini tidur di sini boleh? Nemenin lo.” Ujar Kirana tiba tiba. Entahlah. Aku juga tak tau apa maunya.
“Terserah lo sih.” Jawabku singkat. Mungkin, kirana melihat sesuatu yang menakutkan. Yap, dia adalah anak yang memiliki kemampuan khusus. Yaitu memiliki indra ke-6. Dia bisa melihat hal hal gaib.

Kirana pulang, mengambil beberapa bajunya. Dan kembali lagi ke kamarku.
“Semalam, lo denger ada sesuatu yang ngetuk pintu kamar lo nggak?” Tanya Kirana. Bagaimana dia bisa tau? Padahal aku belum bercerita padanya.
“N-nis, semua penghuni di kost ini bukan manusia. Kost ini udah sepi sejak 3 tahun yang lalu,” bisik Kirana pelan.
“Mending lo tidur aja di rumah gue. Mumpung kamar gue tempat tidurnya juga luas.” Lanjutnya. Aku menelan ludah. Badanku gemetar menatap pintu yang terbuka sendiri.
“Udah jam 4 sore, ran. Nggak enak sore sore keluar. Di sini aja ya? Satu malam lagi. Abis itu kita pindah.” Jawabku. Entahlah. Kenapa aku malah tertarik untuk menguji nyali di sini.

Kukeluarkan kameraku dari dalam tas.
“Kamera ini akan merekam semua kejadian selama kita tidur,” aku menyalakannya.

Kirana mengajakku keluar membeli makanan. Kubiarkan kameraku dengan keadaan menyala di atas meja.
“Pagi,” sapa anak kost lain sambil tersenyum.
“P-pagi juga,” Kirana menyapanya balik. Kulihat, dia bukan makhluk gaib. Sepertinya memang benar manusia.
“Jangan terkecoh, nis. Lo nggak perhatikan kakinya? Tadi melayang tau,”
Kakiku tiba tiba saja melemas. “Ran, lo ngomong kaya gitu lagi, gue geplak kepala lo pake sendal.” Aku menatapnya tajam. Kirana langsung diam membisu.

Kami kembali ke kost sekitar pukul 8 malam. Aku ingin mandi. Tapi, ketika kubuka pintu kamar mandi…
“What the..? Apa apaan ini?” Cipratan darah baru memenuhi seisi tembok kamar mandi. Ini darah baru. Dari baunya saja, sudah terlihat masih anyir. Aku buru buru kembali ke kamar.

“Kenapa, nis?”
“Nggak kok. Bukan apa apa. Tidur ajalah. Nggak usah mandi. Kamar mandinya agak kotor.” Aku mengalihkan pembicaraan. Tatapan Kirana nampaknya tau jika aku mengalihkan pembicaraan. Tapi, dia hanya diam.

Malam, pukul 00.05
Tok.. tok..
“Aku ada di depan kamarmu..” spontan aku langsung terbangun dengan keringat dingin yang sudah membanjiri bajuku.

Tok.. tok..
“Buka pintunya, aku tau kamu ada di dalam sana.” Aku memaksa diri untuk kembali tidur. Menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Menghiraukan suara menyeramkan itu. Pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Separuh kepala nampak mengintip ke dalam. Badanku semakin gemetar hebat.
Tangan dingin mencengkeram kakiku dengan keras. Wajahku langsung memucat begitu melihat sosok yang kini ada di hadapanku. Dan, aku pingsan.

“Nis! Nisa! Hei, Nisaaa! Bangun! Lo kenapa kok pucat banget kaya gitu?” Kirana panik, berusaha membangunkanku. Aku terbangun. Dan langsung menyambar kamera yang ada di atas meja. Memutar kembali video semalam.

Aku memang sudah tidur. Dan tak melakukan gerakan gaduh seperti tadi malam. Namun, kupicingkan kedua mataku.
Sosok menyeramkan merangkak keluar dari kolong tempat tidurku. Dia menerawang. Seperti sedang mencari sesuatu. Matanya merah menyala. Melihat ke arah kamera. Sesaat, kamera buram. Gambar hilang secara tiba tiba. Lalu, terlihat jelas kembali. Sosok itu berdiri di atasku. Entah apa yang diambilnya. Dia kembali merangkak masuk ke dalam kolong tempat tidur. Aku tak tau apa dia. yang jelas, sosok menyeramkan itu masih ada di bawahku.
Jadi, malam ini, beranikah kamu untuk mengecek kolong tempat tidurmu?

Dan, satu hal lagi. Kamu tidur sendiri? Dan tempat tidurmu cukup luas, bahkan untuk 2 orang saja masih cukup. Kamu tak perlu khawatir. Malam ini, akan ada yang menemanimu tidur. Tapi, kamu tak bisa melihatnya.
Oh ya, kuharap, kamu tak melihat ke atas langit langit kamar mandi ketika kamu mandi. Agar kamu tak terkejut. Bahwa ada yang sedang mengawasimu.
Bukannya aku menakutimu. Tapi, aku serius. Di atasmu, tengah ada sosok yang melihatmu.

Aku mengulang ulang rekaman tersebut sampai 3 kali. Sekujur tubuhku gemetar hebat.
“Nis, nisa, tenangin diri lo dulu. Abis itu, kita pindah ya?” Ujar Kirana. Aku hanya mengangguk pelan. Segera saja kukemasi semua barang barang bawaanku. Berjalan ke arah pemilik kost yang ternyata memang bukan manusia. Wajahnya hitam pekat. Dengan bola mata yang menonjol keluar. Pipi kirinya dipenuhi belatung yang menggeliat. Sungguh, aku benar benar jijik melihatnya! Aku mati matian menahan agar tak muntah di depannya.

“Mau pindah, dek?” Tanyanya.
“Iya, kak. Ternyata, rumah temenku dekat sama sekolah. Ini tagihannya ya. Makasih kak.” Jawabku sambil tersenyum. Dia menatapku aneh. “Kamu? Sadar jika saya bukan..” dia tak meneruskan kalimatnya. Aku makin bergidik ngeri melihatnya.
“Bukan apa? Kakak kan cantik. Pantes aja banyak yang suka sama kakak,” sahut Kirana. Sosok di depanku tersenyum malu.
“Ya udah. Kami pulang dulu, kak. Semoga kost nya makin ramai ya.” Aku memutar badan. Kirana mengikutiku dari belakang.

“R-Ran, gue mau-” BRUK! Aku sudah pingsan duluan di depan rumah Kirana. Kakaknya, Rey menggendongku masuk ke dalam.
“Nisa, bangun, nis. Lo nggak papa kan?” Tepukan pelan menyadarku. Aku mengerjapkan kedua mataku. Terbangun dengan keringat dingin.
“Minum dulu, nis. Lo terlalu panik tadi,” Kak Rey menyodorkan segelas air kepadaku. Aku hanya meminumnya sedikit. Ini lidahku yang bermasalah atau minumnya? Rasanya benar benar aneh. Baunya juga. Dan kini, di depanku bukan Kak Rey. Bukan juga kamar Kirana. Tapi, kamar kost yang kutempati tadi. Dan pemilik kost yang ada di depanku.
“Ki-Kirana, lo dimana?” Aku kembali jatuh tak sadarkan diri.

Aku terbangun lagi pukul 16.00 sore.
“Nisa! Udah sadar? Ini minum dulu,”. Aku mundur menjauhinya.
“Lo siapa? Beneran Kirana atau halusinasi gue?” Tanyaku takut.
“Apaan maksud lo? Lo lama banget pingsan dan baru sekarang bangun. Gue panik tadi. Kak Rey yang menggendong lo ke sini. Ini beneran gue, Nis. Nggak usah takut,” Kirana menarik tanganku. Memelukku pelan pelan. Mungkin, aku masih trauma dengan kejadian tadi.

Tunggu dulu. Tadi itu, mimpi atau nyata? Atau aku hanya mengalami sebuah kejadian yang dinamakan dengan Lucid Dream?
Aku sendiri juga tak tahu. Kirana membawaku ke psikiater.
“Hmm, ini hanyalah Lucid dream, Nisa. Terasa nyata, bukan? Kamu tak perlu takut,” ujar dokter andi.
“Tapi, kenapa aku menyewa kamar kost berhantu?” Tanyaku lagi.
“Kamar kost? Iya emang lu nyewa. Tapi pas mau pindah, lo pingsan. Gue cepat cepat telepon kakak gue. Lo ngigo nggak jelas. Teriak teriak sendiri. Manggil gue sama kak rey.” Jelas Kirana. Aku tertegun. Benarkah aku seperti itu?
“Udah, Nis. Nggak usah dipikir lagi. Nanti lo bisa stres,” Kirana menenangkanku yang masih takut. Sungguh, Ran. Aku tak berbohong tadi. Rasanya seperti benar benar terjadi.
“Tapi, Ran, dok-“. Dokter andi memotong,
“Sudah, Nisa. Tenangkan dirimu. Itu hanya Lucid Dream. Hanya khayalanmu saja. Itu tak nyata. Tapi, semoga saja tak terulang lagi.”.

Kirana memegang dahiku.
“Pantesan. Lo aja panas gitu. Demam kan?” Tanya Kirana. Tapi, aku tak mau tidur. Aku akan tetap terjaga. Aku tak mau kembali melihatnya. Aku tak mau Lucid Dream ini terulang kembali.
Aku hanya takut. Aku ingin mama dan papa ada di sini. Menenangkanku ketika aku seperti ini. Hei, aku memang dari kecil sering mengalami hal aneh. Hanya mama dan papa yang bisa membuatku tenang.
Tapi, kenapa kalian malah pergi bekerja yang letaknya sangat jauh denganku? Padahal, aku benar benar membutuhkan kalian.

“Mama sama papa kapan pulang? Aku benar benar merindukan kalian.” Kukirim pesan singkat ke nomor mama dan papa. Bagus. Hasil tetap sama. Aku sudah mengirim banyak sekali pesan. Dan tak satupun dibalas.

“Sudahlah. Aku mungkin terlalu banyak berkhayal. Berkhayal jika kalian memang masih hidup atau memang sudah meninggal karena kecelakaan waktu itu?”
Aku hanya terlalu merindukan mama dan papa saja.
(Maaf kalau agak nggak nyambung :D)

END

Cerpen Karangan: Qoylila Azzahra Fitri
Blog / Facebook: Qoylila azzahra fitri

Cerpen Scared merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tumbal

Oleh:
Pada suatu hari di tengah siang yang panas, aku sedang menempuh perjalanan ke dareah terpencil di pedesaan memakai mobil dengan pakaian yang sangat bagus. Di tengah perjalanan ke desa

Aku Si Tokoh Utama

Oleh:
Tinggal di hiruk piruknya ibukota memang sangat tak enak. Aku harus terbatuk beberapa kali karena menghirup kepulan asap yang masuk ke rongga paru-paruku. Dan, asap itu sangat mengganggu kecantikan

Warung di Perempatan

Oleh:
“Sudah jam sembilan malam, Kang,” keluh isteriku resah sambil memandang dagangan yang masih menggunung di kaca etalase. “Hmm,” gumanku mengiyakan. Akhir-akhir ini persaingan semakin ketat. Beberapa bulan ini jualan

Siapa Yang Akan Selamat

Oleh:
Siang ini pemakaman telah usai, langkah kakiku terasa berat meninggalkan tempat ini, mungkin karena duka yang mendalam. Ku telusuri jalan setapak itu dengan langkah kecil setengah berlari. “Apakah kau

Setelah Kepergianku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak’kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Kau hanya mimpi bagiku Tak untuk jadi nyata Dan sgala rasa buatku Harus padam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Scared”

  1. Sekar says:

    Aku suka cerpennya.

  2. bagas says:

    keren… lanjutkan

  3. Aisya azzara says:

    Ceritanya bagusss, serasa nyata

  4. Laura S says:

    baguss sih, tapi agak gak nyambung, aku kadang agak bingung menyesuaikan alurnya. diperbaiki ya. Good Luck :’)

  5. Alifia nabila syifa says:

    Bagus dan untung bacanya pagi2 ditemani adek yg lagi main

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *