School Mate

Judul Cerpen School Mate
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Hari pertama masuk sekolah, aku berusaha untuk tidak datang terlambat. Sialnya, aku malah datang terlalu cepat. Masih 45 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Karena tidak mau larut dalam kebosanan, aku memutuskan untuk jalan-jalan di lorong sekolah.

Lampu-lampu di koridor yang sudah dimatikan dan matahari yang bahkan belum terbit menambah kengerian di tempat ini. Tetap berpikir positif, aku bersandar di balkon untuk memperhatikan siapa yang datang. Pikiranku melayang pada harapanku di kelas baru. Aku terpisah dari semua teman-teman dekatku. Mereka terlihat santai saja saat melihat pembagian kelas karena merasa mempunyai teman di sana. Tapi tidak denganku, aku seorang diri. Parahnya lagi, hampir semua anak-anak di kelasku berasal dari kalangan sosialita, baik yang putri maupun yang putra. Aku merasa tahun ini akan menjadi tahun yang berat.

Bagaikan petir yang menyambar awan imajinasiku, seorang anak perempuan berkepang dua lewat dari balkon seberang. Ia juga terlihat sendirian. Kurasa bukan ide buruk bila aku ke sana dan berkenalan dengannya. Dengan hati yang cukup gembira namun tetap santai aku berjalan ke lorong seberang menemuinya untuk berkenalan.

“Hai, aku Yemy dari kelas XI MIPA 2. Salam kenal,” ucapku sambil menjulurkan tangan padanya.

Ia menatapku lalu tersenyum. “Cecilia, XI MIPA 5. Salam kenal juga,” jawabnya lembut.

Kami bercerita banyak hal sampai akhirnya kengerian di sekolah pun sirna. Cahaya matahari mulai menembus kaca jendela, siswa-siswi yang lain pun berdatangan. Aku merasa nyaman saat bicara dengan Cecilia, tapi aku juga merasa ada yang aneh. Tatapannya, terasa kosong. Kupikir aku akan mendekatkan diri dulu padanya baru membantunya menghapus kesedihan di hati.

Keesokan harinya, aku datang lebih pagi dari hari sebelumnya, namun perasaanku jauh lebih bahagia. Selepas meletakan tas di kelas, aku langsung menuju kelas XI MIPA 5 dengan cepat, berharap bisa menemui Cecilia. Sayangnya kelas XI MIPA 5 masih kosong tanpa ada satupun tas di dalamnya. Aku berdiri di koridor depan untuk menunggu Cecilia datang.

Benar saja, Cecilia datang menemuiku. Tapi ia sudah tidak membawa tas.

“Ceci, di mana tasmu?” tanyaku.
“Tentu saja di kelas,” jawabnya singkat.
“Tapi dari tadi aku di sini saja dan tidak melihat satupun tas di kelasmu,” kataku dengan wajah bingung.
“Em, mungkin kau salah lihat. Tentu ada tasku di sana,” ucap Cecilia santai. “Ngomong-ngomong, apa kau mulai merasa tertekan saat berada di kelasmu?” ganti Cecilia yang bertanya.

Hatiku bertanya-tanya. Bagaimana bisa Cecilia tahu hal itu. Memang kemarin aku sudah mulai tertekan dengan perilaku anak-anak di kelasku dan aku jadi merasa tidak nyaman.

“Jangan khawatir, aku pernah merasakannya,” sambung Cecilia. “Apapun yang terjadi, jadilah dirimu sendiri. Jangan biarkan lingkungan membodohimu,” kata Cecilia.

Perkataan Cecilia menyangkut di pikiranku selama seharian penuh. Itu perkataan yang cukup inspiratif. Karena itu, istirahat makan siang ini aku ingin bersamanya. Tapi aku tak pernah menemuinya lagi.

“Tidak ada yang bernama Cecilia di angkatan kita ini, Yemy,” kata Gaby, temanku di XI MIPA 5.
“Iya aku yakin ada. Aku bertemu dengannya setiap pagi. Benar namanya Cecilia,” ucapku dengan berapi-api.
“Huft, Cecilia. Maksudmu Cecilia Valeria?” balas Gaby dengan nada mencibir.
“Mm, mungkin, bisa jadi,” jawabku polos.
“Haha, kau pasti bercanda!” Gaby tertawa mendengar jawabanku, tapi aku tetap terdiam. Melihat responku Gaby berkata, “Jadi kau belum pernah dengar tentang Cecilia Valeria?”
Aku menggelengkan kepalaku.

“Dulu sekali dia jurnalis andalan sekolah kita. Namun dia kurang disukai oleh kalangan sosialita karena dianggap kampungan dalam penampilan dan terlalu serius. Tentu saja dia dibully di kelasnya,” cerita Gaby.
“Lalu bagaimana dengannya? Apa ia tinggal kelas lalu sekarang menjadi kakak kelas kita?” tanyaku.
“Ia bunuh diri setelah menuliskan pengalaman pahitnya di sekolah ini. Sebelumnya juga ia menerbitkan sebuah buku pembunuhan berantai di satu sekolah dengan nama karakter terbunuh yang sama dengan nama orang-orang yang membullynya,” lanjut Gaby.

Jantungku terasa berhenti berdetak. Aku tidak mau berakhir sama seperti Cecilia Valeria. Hal terakhir yang kuingat adalah Gaby yang meneriakkan namaku sebelum pandanganku ditutupi bintang-bintang.

Cerpen Karangan: Sindy Sintya
Blog: thesparkleofstar.blogspot.co.id

Cerita School Mate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Ayunan Tua

Oleh:
Di sebelah rumah Tiara, terdapat sebuah taman yang indah. Banyak orang yang berkunjung ke sana dan memakai semua sarana permainannya, kecuali sebuah ayunan tua yang sudah mau putus di

Sarinah (Part 1)

Oleh:
Dengan nafas yang terengah-engah Audy menutup pintu kamarnya lalu ia duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu itu. Audy mulai mengatur nafasnya yang mulai menyesakkan dada, wajahnya pucat

Nadine is Calling

Oleh:
“Doni!” teriak Dhika, sahabatku, sembari mengejarku. “Apa?” tanyaku dengan cuek sambil menghentikan langkah dan menoleh kepadanya. “GAWAT! Ada anak pingsan!” kata Dhika sambil terengah-engah. Aku, memang anggota PMR SMA

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *