Sebuah Dongeng

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 17 November 2015

“Aku hamil Vion!”
Jeritan Bellla terdengar begitu miris di antara gelapnya malam sabtu itu, suasana yang mencekam semakin mendramatisir keadaan, Bella menangis hingga ia berlutut di hadapan laki-laki yang kini ia mintai pertanggung jawaban. Vion frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri, wajahnya terlihat semakin kusut, ia berjalan menjauh dari hadapan Bella, berniat melarikan diri, jelas ia enggan untuk dimintai pertanggungjawaban. Namun sebelum ia berjalan semakin jauh, Bella sudah berdiri menghadangnya, perut yang sudah tampak membuncit itu dielusnya, wajahnya memelas, air matanya semakin berlinang. Namun Vion memang laki-laki tak punya hati, ia bahkan memalingkan mukanya.

“Kamu harus tanggung jawab Vion!” Bella kembali meraung memecahkan keheningan di malam sabtu, jika mereka mau melirik jam tangan masing-masing, mereka akan tahu kalau sekarang sudah hampir tengah malam. Entah apa yang merasuki pikiran Bella hingga ia bertekad menemui Vion di malam sabtu kelabu itu.
“Kenapa kamu minta aku yang bertanggung jawab, memangnya kamu yakin kalau aku Bapak dari bayimu itu!” kini Vion sudah ikut membentak, dipandanginya wanita yang kini bermata sembab di hadapannya.

Hati kecilnya merasa bersalah, namun setan lebih berhasil menguasai sebagian besar hatinya. Bella semakin menangis, ia mundur perlahan hingga kira-kira 3 meter di hadapan Vion. Ia tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai, dari tangannya telah tergenggam sebilah pisau tajam yang entah sejak kapan ia simpan. Vion terkejut, tubuhnya mulai menegang.
“M-mau apa kamu!” bentaknya ketakutan, ia mulai mundur saat Bella semakin mendekat, seringai di wajahnya tetap sama, namun sedetik kemudian berubah menjadi tangis yang memilukan,.
“Kalau kamu tidak mau tanggung jawab, biarlah ku akhiri hidupku ini!” Bella mengacungkan pisaunya hingga tepat berada di depan perutnya, pisau itu telah siap menusuknya, dan..

“Huaahh..” Aku menegakkan punggungku yang rasanya sudah mau patah, ku lirik jam dinding yang bertengger tenang di sisi tembok bercat ungu milikku. Pukul 20.30. Aku menguap, ku tutup laptopku yang tengah menampilkan Microsoft office word. Entah mengapa akhir-akhir ini otakku semakin buntu saja, sudah satu bulan ini, cerita tentang Bella dan Vion tidak selesai-selesai, aku sendiri semakin bingung dengan ending cerita ini. Bahkan kalau ku baca dari awal, ku rasa cerpen ini membosankan. Aku jadi ragu apakah akan ada yang meminatinya nanti.
“Huaahhh,” aku kembali menguap, ini sudah jam tidurku, segera saja ku rebahkan tubuhku ke ranjang empuk bersprei hello kitty pemberian Mama.

Pukul 04.30.
“Jenia banguun! salat subuh dulu sana!” itu suara Mamaku, gedoran pintu kamar yang keras benar-benar berisik. Memang begitu cara Mamaku membangunkanku saat subuh tiba. Kadang aku merasa ingin Mama membangunkanku dengan kata-kata lembut.
“Jenia.. bangun sayang, sudah subuh, salat dulu ya..” begitu kira-kira yang aku ingin.
Tapi.. “Jenia dengar tidak!” aku menyerah, ku buka pintu dan memandang Mama sendu.
“Iya, Ma,” ucapku.

Tumben sekali pagi ini kereta ekonomi yang ku tumpangi sepi, mungkin karena ini masih terlalu pagi, masih pukul 06.06 saat ku lirik jam tanganku. Ku masukkan tanganku ke dalam jaket kulitku.
“Jeni !” suara seseorang memanggilku, aku menoleh ke arah belakang, rupanya Erwin, teman sekelasku. Ku lambaikan tanganku padanya, tapi tunggu dulu, siapa wanita itu yang duduk berjarak dua kursi di belakangku, kenapa tatapannya tajam sekali padaku, sepertinya ia tengah hamil muda, ah mungkin saja ia ingin punya anak yang cantik sepertiku, tapi tunggu dulu, apa itu di tangannya. Pisau?! untuk apa dia membawa pisau? Alah mungkin saja ia habis masak dan lupa menaruh alatnya.

“Hei Jenia,” Aku tersentak. Erwin sudah tiba di hadapanku selagi aku memandangi wanita itu yang masih memandangku juga. Ku persilahkan ia duduk di dekat jendela. Ku lirik wanita itu lagi, tapi.. dia sudah lenyap.
“Ada apa sih?” Tanya Erwin yang mungkin menyadari tingkah anehku. Ku alihkan pandanganku padanya dan tersenyum lalu menggeleng, enggan untuk bercerita. Suasana kembali sunyi, aku kembali berkutat dengan pikiranku. Apa mungkin itu tadi penampakan? masih pagi gini juga. Huufft..
“Jenia!”
“Arrrgghh..” aku menggeram kesal dengan tingkah anak ini, dalam hari ini sudah 5 kali dia membuatku jantungan.

“Ada apa sih!” tanyaku kesal sambil menggeser pantatku agar Erwin dapat duduk di bangkuku.
“Bisa nggak kalau manggil itu nggak usah pake teriak?” tukasku lagi.
“Kamu sih ngelamun mulu, makanya kaget, ikut ke kantin yuk, mumpung istirahat,” ajaknya dan tanpa menunggu anggukanku Erwin langsung menarik tanganku agar dapat mengikutinya. Aku hanya bisa mendengus kesal.

Namun sebelum sampai ke kantin, rupanya aku lebih tertarik dengan sebuah ruang bertuliskan Perpustakan, segera saja aku membelot dari ajakan Erwin.
“Hei Jenia, mau ke mana?” teriaknya. Aku hanya menoleh dan meneruskan jalanku. Erwin mengikutiku dan kembali menarik tanganku.
“Ke kantin yuk ah, laper nih,” pintanya memelas.
“Kamu aja sana, aku mau ke perpus, titip cilok aja 5 ribu yang pedes,” ujarku lalu kembali melangkah menuju perpus, Erwin akhirnya menyerah.

Satu hal yang membuatku tertarik untuk sekolah di SMA ini adalah ruang perpustakaannya yang besar bahkan hampir sebesar perpustkaan daerah. Aku segera menuju rak yang berisi buku-buku fiksi, dan aku tertarik dengan sebuah komik jepang berjudul A Mistery, aku langsung mengambilnya dan membawanya ke ruang baca. Lumayan bikin tegang juga komik ini, ada sebuah kata-kata di dalamnya yang menarik perhatianku.

“Jika kau tengah mendongengkan sebuah cerita pada adikmu, kau harus menceritakannya hingga tuntas, karena kalau tidak, kau akan merasakan akibatnya.” Langsung saja ku keluarkan Handphone made in china-ku dan browsing ke FB -tanpa harus ku jelaskan kau pasti tahu maksudnya- di kolom status ku tuliskan kata-kata tersebut tanpa berminat untuk memikirkan maksudnya. Ku pandangi wall-ku menunggu ada yang nge-like atau comment, hingga sekelibat bayangan tiba-tiba melintas.

“Astaga!” seruku terkaget-kaget, sosok itu ikut kaget.
“Apaan sih Jen, teriak-teriak gitu?”
“Kamu tuh bisa nggak sih nggak ngagetin!” gertakku kesal. Erwin mencelos.
“Aku manggil dulu salah, langsung duduk juga salah, huufft,” Erwin berkata seolah dia manusia paling sengsara di dunia ini.
“Mana ciloknya?” tanyaku, ia menyodorkan cilok pesananku.

Ku buka lagi laptopku dan berniat untuk melanjutkan cerpen yang ku buat, tapi membaca ulang cerpenku itu justru membuat otakku semakin buntu saja, aku pun menutup halaman Microsoft office word dan beralih menuju internet, berniat membaca cerpen online, hitung-hitung buat bahan referensi.
Wuuussshhh!!
“Dingin banget sih anginnya,” aku beranjak untuk menutup jendela kamarku yang terbuka karena tiupan angin.
“Ehh..” aku teringat sesuatu, bukannya tadi sudah ku kunci ya?

Sebelum menutup kembali jendela, ku sempatkan menengok keadaan di luar yang gelap karena ini memang sudah malam. Wuussh. Kali ini bukan angin yang lewat, tapi sekelebat bayangan yang entah apa wujudnya melintas dari arah kiri, ke kanan kira-kira berjarak 5m dari mataku, aku terkesiap dan buru-buru menutup jendela dengan kasar hingga menimbulkan bunyi Brakkk. Dadaku terasa mendesir.
“Apa itu tadi?” gumamku ketakutan.

Aku segera melompat ke atas ranjangku, buru-buru ku shut down laptoku, eh tapi tunggu? Kenapa menampilkan jendela Microsoft word gini? tepat membuka cerpen tentang Bella dan Vion pula. Jantungku semakin berdegup kencang sekarang. Tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol on/off dan langsung menutup laptopku, ku tarik selimutku hingga menutupi seluruh tubuhku.

Tok, tok, tok. “Apa itu?” aku semakin ketakutan mendengar suara ketukan di pintu kamarku, aku pernah membaca sebuah artikel tentang tanda-tanda kedatangan hantu, salah satunya suara ketukan di pintu sebanyak kelipatan tiga, dan ketukan di pintu itu terdengar tiga kali, aku semakin merinding, ku rapatkan selimutku.
Tok, tok, tok tok, tok, tok. Enam kali sekarang, Oh Tuhan tolong aku..

Tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, brakkk!!

Hei tunggu dulu, kenapa jadi berantakan sekarang, aku sampai tidak sempat menghitungnya, ditambah suara pintu yang digebrak.
“Jenia! Kamu dengar tidak sih!” Oh rupanya Mamaku, bilang dong dari tadi.
“Ada apa sih Ma?” tanyaku setelah membuka pintu kamar, muka Mama tampak kusut.
“Kamu ngapain malem-malem bikin gaduh, nutup jendela kaya banting meja, semua orang pada bangun tahu,” celoteh Mamaku, ku tengok di balik punggung Mama, rupanya Ayah dan adikku Rehan juga turut serta.
“Hehe iya maaf ma,” ucapku cengengesan.
“Dasar,” Mama berlalu, tinggal aku termangu, buru-buru ku tutup pintu dan kembali ke peraduanku kembali berusaha terlelap dalam tidurku. Yeah lama-lama seperti menulis puisi saja. Ku tarik lagi selimutku dan akhirnya tertidur.

Tok, tok, tok.
“Huahh, ada apa lagi sih?” gerutuku kesal karena lagi-lagi Mama mengetuk pintu, dengan langkah gontai aku berjalan menghampiri pintu dan membukanya. Tapi apa yang ku lihat..
Deg deg deg. Aku mundur perlahan, suaraku seakan tercekat di tenggorokan hingga aku tak mampu berteriak. Mahluk itu terus memojokkanku, mahluk berbentuk wanita hamil muda yang membawa pisau di tangannya, ya dia hantu yang ku temui di kereta beberapa hari yang lalu.

“S-siapa kamu, apa maumu?” tanyaku semakin terpojok.
“Kau sangat mengenalku,” ucap wanita.
“Kau hantu!” teriakku sambil menudingnya. Ia sepertinya marah.
“Tidaakkk!” mahluk itu berteriak marah.
“Kalau kamu bukan hantu, lalu makhluk sejenis apa kamu?!” tanyaku setengah beerteriak juga, berharap Mama mendengar dan menghampiriku.
“aku adalah sosok yang kau ciptakan dengan imajinasimu,”
“Hah?” aku melongo tak mengerti.

“Kau yang telah menyeretku untuk masuk dalam dunia khayalanmu, kau ciptakan aku sebagai wanita muda yang cantik, dan kau sungguh bodoh dalam membuat cerita, aku mulai benci saat laki-laki yang awalnya kau gambarkan sebagai laki-laki baik itu menodai, awalnya aku senang kau buat aku akan bunuh diri, tapi sekarang kau menggantungnya, kau membuatku bingung keputusan apa yang ku ambil, saat nyawaku sudah hampir lepas dari ragaku, kau justru menghentikan ceritamu dan itu membuatku muak! sudah sebulan aku terkurung dalam fiksimu itu, aku ingin bebas, cepat selesaikan ceritamu atau aku yang akan membawamu ke sana agar kau dapat menyelesaikannya!” makhluk itu bercerita panjang lebar tanpa mengambil jeda sedikit pun, aku melongo tak percaya.

“B-bohong!” hardikku, makhluk itu menjerit lagi. Ia menudingku.
“Cepat selesaikan ceritamu, aku ingin bebas!” bentaknya lagi, sedetik kemudian ia sudah hilang bagai tertiup angin, ku atur napasku yang mulai tak beraturan. Meneguk segelas air putih untuk menenangkan.
Ini seperti mimpi. Ia adalah mahkluk yang ku ciptakan dengan imajinasiku sendiri? Benar-benar khayal.

Fiuhh.. pagi ini dingin sekali, koridor sekolah juga masih sepi, mana Erwin, mengapa aku tidak melihatnya, padahal aku ingin menunjukkan cerpen buatanku yang tokohnya menjadi nyata. Semalamanaku berpikir tentang hal tersebut, kalau si tokoh wanita muncul, lalu mana tokoh prianya? Ini semakin menimbulkan tanda tanya besar bagiku.
“Erwin!” panggilku begitu melihat Erwin yang tengah duduk membelakangiku. Ia menoleh.
“Ada apa?” tanyanya, aku mengambil posisi duduk di sampingnya. Ku buka laptopku.
“Tumben kamu nggak naik kereta,” ucapku.
“Tadi di antar sama Ayah,”sahutnya.

“Oh, eh iya lihat deh,” aku mengaktifkan laptopku dan menunjukkan cerpen itu padanya, cerpen yang belum ku beri judul.
“Apanya yang dilihat?” tanyanya, aku menatapnya dan menjukkan kalimat terakhir yang ku tulis.
“Enaknya dilanjutin gimana?” tanyaku meminta pendapatnya, ia angkat bahu,
“Kamu tahu kan aku nggak bisa bikin cerpen, ” tukasnya,
“ayolah hanya kasih saran,” pintaku lagi, aku tak mau salah pilihan dalam menentukan ending.
“Matikan saja dua-duanya, selesai kan!” ujar Erwin, aku berpikir sejenak. Benar juga, kalau aku mematikan dua-duanya, pasti akan cepat selesai, dan makhluk imajinasi itu akan segera bebas. Namun baru saja tanganku mulai mengetik, bel sekolah sudah berbunyi, aku pun membatalkan niatku dan memilih untuk mengikuti pelajaran hari ini.

Cape sekali hari ini, pelajaran olahraga tadi sangat menguras energiku, sampai aku tidak sempat menulis lanjutan cerpenku. Aku segera memasuki kamar untuk merebahkan diri, tapi tunggu dulu, makhluk apa itu yang tengkurap di atas kasurku sambil membaca salah satu novel koleksiku.
“Vanny! ngapain kamu?” rupanya sepupuku Vanny, dia memang sering main ke rumahku untuk meminjam novel. Vanny membalikkan badannya.
“Hai Jen, ini novel terbaru kamu ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk dan beranjak duduk di sampingnya, ku buka laptopku, namun baru saja akan mengetik, panggilan alam datang, buru-buru aku lari ke kamar mandi dan mendekam di sana.

“Huufft lega,” gumamku. Aku kembali masuk ke dalam kamarku dan menemukan Vanny tengah membaca cerpenku.
“Cerpenmu bagus, kenapa tidak dilanjutkan?” tanyanya.
“Pikiranku masih buntu,” sahutku. Vanny merubah posisinya dari tengkurap menjadi duduk.
“Kalau gitu biar aku yang lanjutin ya?”
Aku terkejut mendengar pernyataan Vanny.

“A-apa?”
“Jangan kawatir, kamu tahu kan aku juga senang bikin cerpen, aku juga udah punya banyak ide untuk cerpenmu ini, biar aku lanjutin ya, ya, ya,” Aku menatap Vanny iba, sepertinya ia benar-benar berniat untuk melanjutkan cerpen itu, tapi apa jadinya kalau ia sampai sepertiku yang pikirannya buntu lalu menggantungkan ceritanya, dan wanita itu akan muncul. Kasihan sekali dia. Melihatku diam, tanpa menunggu lagi Vanny mengeluarkan Flasdisknya dan meng-cut cerpen tersebut, ingat ya! men-cut, bukan men-copy, alhasil cerpen itu lenyap dari laptopku, diam-diam ada perasaan lega di hatiku. Vanny tampak senang.
“Tapi kamu harus nyelesain sampe ending loh ya, awas kalau berhenti di tengah jalan,” ucapku memperingatkan, Vanny mengangguk. Ku tatap ia dengan perasaan was-was.

Dua minggu berlalu, aku tengah tiduran di kamar sambil membaca novel yang baru ku beli tadi siang, sampai saat ini jujur aku belum berani menulis cerpen lagi, untung saja wanita itu tidak datang lagi, mungkin saja Vanny sudah menyelesaikan cerpennya. Ding.. ding.. ding.. ding. Nada dering handphone-ku berbunyi, rupanya Vanny.

“Hallo Van, Ada apa?” tanyaku, aku terkejut mendengar suara Vanny yang ketakutan.
“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Laki-laki itu selalu menakuti dan mengancamku, dia bilang aku menyiksanya, tiap malam dia selalu dateng dengan dandanan kumal, aku takut Jen, ku pikir dia hantu, tapi dia bilang dia sosok imajinasi yang ku buat sendiri, katanya dia tersiksa berada di dalam cerpen itu, huhuhu,” Vanny bercerita panjang lebar, aku termangu.
“memangnya kamu bikin seperti apa ceritanya?” tanyaku, ku dengar Vanny menarik napas berat.

“Aku bikin si Bella mati bunuh diri, rohnya gentayangan dan selalu menghantui Vion, terus otakku buntu dan aku nggak bisa meneruskannya,” sahut Vanny, kini giliran aku yang menarik napas berat.
“Kan aku udah bilang selesaikan cerpennya, kamu sih,”
“Terus gimana Jen?”
“Satu-satunya jalan, ya selesaikan cerpennya,” ucapku. Vanny terdiam di ujung sana.
“Ya baiklah,”

Tut, tut, tut, aku menatap layar handphone, ku pikir lagi masalah yang kini menimpa Vanny, kenapa bisa tokoh-tokoh dalam cerpen itu menjadi nyata dan protes kepada penulisnya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, lebih tepatnya sebuah kalimat “Jika kau tengah mendongengkan sebuah cerita pada adikmu, kau harus menceritakannya hingga tuntas, karena kalau tidak, kau akan merasakan akibatnya.”

Mungkin kini aku tahu apa maksudnya, setiap apa yang kita kerjakan, harus kita selesaikan, karena kalau tidak, kita akan merasakan akibatnya. Mungkin seperti yang aku dulu dan Vanny rasakan sekarang. Tapi ya sudahlah, Vanny pasti bisa menyelesaikannya.

The End

Cerpen Karangan: Wirdha Marissa

Cerpen Sebuah Dongeng merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Angker

Oleh:
Hening malam itu begitu mencengang nama saya Natan yang sering pulang malam lewat di depat rumah itu, suasana begitu misterius keadaan bagai malam tiada habisnya dengan waktu yang terus

Who’s Next

Oleh:
Aku masih terduduk diam di atas tempat tidur dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhku, kejadian yang terasa begitu nyata baru saja membuatku hampir kehabisan oksigen untuk bernapas, suara jerit

The Elementer’s Games

Oleh:
“Yak! Latihan hari ini cukup sampai di sini. Kerja bagus semuanya!” Seru Petra, pelatih di Elementers Academy. “hei kau!” Seorang gadis bertubuh mungil berbalik. “Aku?” Tanyanya. “Iya kau! Latihlah

Lester’s Life

Oleh:
Pada zaman dahulu kala, ada sepasang sandal yang ditaruh di depan rumah. Namun saat hujan deras menerjang, salah satu sandal itu terbawa arus air hujan. Mereka terpisah jauh. Terpisah

Call From The Past

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, aku merenggangkan badan dan menguap. Hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Gara-gara sekretarisku cuti, aku harus mengerjakan semuanya sendirian. “Miss, sudah larut, lebih baik Miss selesaikan pekerjaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Sebuah Dongeng”

  1. me, says:

    Pertama baca tentang Bella dan Vion (dan drama mereka yg terlalu mengikuti ‘arus utama’), langsung mikir kenapa harus minta org lain untuk tanggung jawab, padahal dia sendiri juga harus nanggung (malu, anak?, pregnat, etc). Dan itu kan cuman pemikiran org2 yg masih belum nerima, kalau sendirinya bisa kenapa engga.
    Lalu dikejutkan dg Jeni yg bangun di dpn laptop (dan itu semua adalah imaginasinya!) oh, dan baca ke bawah imho, intinya u/ ‘mengakhiri apa yg sudah dimulai’ merujuk pd cerita yg belum terselesaikan
    tapi, tapi, yg namanya ceritakan memang bnyak yg dibikin gantung, pernah nemu satu penulis yg bilang, “biar pembaca yg menerka.” Nah! masa iya, penulis harus nulis 1 cerita mulu sampe tamat, tamat, setamat-tamatnya, sampe mati, bosen dong. No offense. Biarkan pembaca penasaran, menerka, gregetan, gigit jari. Biarkan tokoh karangan berkembang dg pemikiran cerdas/unik/berbeda dg penjabaran epik dr penulis (dan akan tau sekirany spt apa akhirannya) .ciyee xD
    keep up the good work for this author, keep writing =D

  2. Elinise Via Triwina says:

    bagus ceritanya

  3. imel says:

    Bagus cerpennya… 🙂

  4. Pera Pebrian says:

    keren bnget cerpennya:)memiliki karakteristik keunikan alur cerita yang kalau boleh jujur baru pertama kalinya aku baca dan temukan selama aku slalu baca cerpen di cerpenmu.com,

  5. dhika says:

    Dari Awal sampe sebelum ending keren, tp endingnya malah ngancurin mood yg udah dibangun dg baik dan siap dipoles akhir… ah kenapa harus ada kata2 yg mendikte dan basi diakhirnya ? tapi keren kok cerpennya 🙂 sorry ngritik haha 😀

    btw, film ink heart sumber inspirasi utamanya ya kak ?

  6. Dayu says:

    kereeeeen. ide ceritanya gak pasaran, keren deh pokoknya

  7. Cerpennya keren dan unik. Tidak heran meraih cerpenmu of the month.

    Jujur, cerpen seperti ini adalah salah satu cerpen yang telah lama saya tunggu, yaitu cerpen yang menceritakan sebuah cerpen.

    Rencananya saya juga akan membuat cerpen yang juga menceritakan sebuah cerpen.

  8. meisysari says:

    bagus!
    huh….
    hanyut dalam alur.
    tapi akhir cerita atau resolution penulis sedikit menggantung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *