Sekarang Aku Tahu Maksudmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 6 January 2018

Jam 21.00.
Sudah kesepuluh kalinya aku melihat gadis itu di sini. Di halte bus ini. Ya, gadis semampai, dengan rambut bergelombang pirang itu. Bukan apa-apa sih. Tapi selama sepuluh kali itu, kami sering memandang satu sama lain tanpa sengaja. Dan bagiku, rasanya kurang baik kalau aku tak mengajaknya berkenalan.

“Hai,” sapaku.
Gadis berkulit pucat itu hanya membalasku dengan sebuah senyum kecil.
“Hai. Umm, aku Nathan. Aku sering melihatmu di sini. Kau pun pasti juga pernah melihatku di sini.” Lalu aku terdiam sesaat. “Bolehkah kita berkenalan?”
Gadis itu memandangku datar. “Namaku Ellen. Tapi kau takkan mungkin mau jadi temanku,” jawabnya. Di saat yang sama, sebuah bus yang bukan tujuanku datang.
“Apa maksudmu?” tanyaku. Tapi gadis itu tak menjawab, dan langsung masuk ke bus.

Entahlah. Aku tak merasa tersinggung dengan sikap itu. Sebaliknya, aku malah jadi penasaran denganya. Apa mungkin Ellen juga menjalani kerja malam sepertiku? Dia masih tampak muda. Mungkin setahun lebih muda dariku yang berumur 22 tahun.

Setelah Ellen pergi, kualihkan pandanganku pada lembaran Koran hari ini. Yang kutemukan di kursi sebelahku. Koran yang sebenarnya sudah basi pada jam segini. Kubolak-balikan lembaran itu satu demi satu. Dan perhatianku tertuju pada satu berita yang menarik.
Berita itu memberitahukan, kalau di beberapa kota tetangga sedang terjadi beberapa kasus pembunuhan bermotif sama. Yakni semua korban mati dengan luka gigitan di leher, dan kehabisan darah. Serta bagian yang paling menggerikan adalah kondisi kepala mereka yang terbalik. Diduga pelaku memang sengaja memelintir kepala mereka untuk alasan tertantu. Banyak spekulasi yang mengatakan, kalau semua ini perbuatan vampire.
Aku terkekeh sendiri membaca spekulasi yang menurutku sangat konyol itu. Mana ada vampire di dunia ini?

Seminggu kemudian, temanku mengajakku untuk melakukan camping di luar kota. Tepatnya di sebuah hutan yang berada di dekat kota, tempat penemuan para mayat di berita koran malam itu. Walaupun tak terlalu dekat, sehingga tidak ada pihak yang melarang. Adalah Alfred yang punya ide. Dia begitu obsesif untuk dianggap sebagai cowok pemberani oleh pacarnya, Roxy. Selain itu juga ada Mandy, teman kuliahnya Roxy. Aku sih ngikut saja. Jadi waktu itu ada kami berempat: Alfred, Roxy, Mandy, dan aku sendiri.

Waktu kami duduk mengelilingi api unggun. Seperti yang sudah kuduga Alfred, yang bahu sampingnya menjadi bantalan bagi kepala Roxy, terus berkoar kalau dia sama sekali tak percaya dengan adanya isu vampire di kawasan itu. Kalaupun ada, Alfred takkan takut. Sementara Mandy, sepertinya malah terbawa oleh isu tersebut. Sehingga ia mendekatkan dirinya denganku.

“Aku takut,” bisik Mandy padaku.
“Jangan takut,” jawabku, sembari tertawa kecil.
“Aku menyesal telah ikut kemari.”

Lalu setelah itu kami pun tidur. Alfred dan Roxy tidur di kemah yang sama. Mandy yang masih takut awalnya memintaku untuk tidur di kemahnya. Namun aku menolak karena merasa sungkan. Akhirnya aku memilih sebuah jalan tengah. Aku memilih tidur dalam kantung tidur di depan kemahnya Mandy. Dengan begitu aku bisa tetap mengawasi Mandy.
Aku terbangun kala aku merasa mendengar suara-suara misterius di sekitar perkemahan kami. Entah saat itu aku sedang sinting karena ngantuk. Atau karena aku memang punya rasa penasaran yang tinggi. Aku beranjak untuk mencari asal suara itu. Aku berjalan sembari membawa senter.

Hutan begitu gelap dengan suara-suara penghuninya. Sumber cahaya satu-satunya (selain senterku) adalah bulan purnama, yang cahayanya sebagian besar terhalang pepohonan.

Suara-suara itu muncul kembali. Itu seperti suara yang bergerak. Maksudku, seperti suara binatang yang berlarian. Apa mungkin serigala? Beruang grizzly? Entahlah. Sorot senterku belum menemukan apa-apa. Suara itu terkadang muncul, dan terkadang menghilang.

Mungkin hampir sepuluh menit aku mencari-cari di situ.
Pencarianku berhenti saat jeritan di area perkemahan terdengar. Aku segera berlari ke sana. Berlari secepat yang kubisa. Dan kudapati perapian kami telah padam. Namun, sorot senterku mendapati ada lima sosok misterius baru di sini. Mereka menyerupai manusia, walaupun wajah mereka tak terlalu jelas karena minimnya cahaya. Dua di antara mereka masuk ke kemah Alfred dan Roxy. Dua lagi masuk ke kemah Mandy. Dan yang satunya lagi berlari ke arahku.
Aku tak tahu mereka ini apa. Tapi mereka begitu cepat. Dalam waktu kurang dari dua detik, satu di antara mereka sudah berada tepat di depanku. Dan langsung mendorongku dan memojokkanku di salah satu pohon. Ia mencengkeram kedua bahuku dengan tenaga yang luar biasa kuat. Kini setelah begitu dekat, aku lumayan bisa melihat wajahnya: seorang laki-laki paruh baya, berkulit pucat, dengan sepasang taring di mulutnya…
Yang hendak ia tancapkan di leherku. Mereka vampire!
Mereka ternyata memang ada! Ternyata aku salah!

Ketakutan dan adrenalin dalam darahku mengalir deras. Tapi di sisi lain, aku juga harus bertahan hidup. Aku harus melawan. Jadi kuayunkan lutut kananku yang masih bebas ke selangkangan vampire itu. Walau aku tak tahu apakah hasilnya akan sama seperti manusia. Tapi nyatanya, tindakanku berhasil membuatnya tersentak mundur. Walau sepertinya, ia tak merasakan sakit. Tapi itu membuatnya kehilangan momentum. Aku memanfaatkan keadaan ini untuk menendang kepalanya sekuat tenaga. Dan ia terjatuh… Walau kakiku juga jadi ikut sakit.

Aku mendengar jeritan teman-temanku. Alfred, Roxy, Mandy. Mereka semua membutuhkan bantuanku. Walau kutahu aku tak bisa menolong mereka semua sekaligus. Tapi aku harus tetap berusaha. Beruntung aku menemukan sebuah batang kayu bakar berukuran cukup besar. Kayu itu terlebih dahulu kupukulkan pada vampire yang tadi menyerangku. Berkali-kali.
Namun, seperti tadi, ia sama sekali tak merasakan sakit. Ia bahkan menangkap ayunan kayuku, dan melemparnya denganku sekaligus! Tubuh terlemparku disambut oleh sebuah pohon besar. Tepatnya bagian punggung. Lalu aku mendarat di tanah. Rasanya mungkin beberapa tulangku ada yang remuk.

Tubuhku sudah terlalu lemah untuk bergerak. Namun, aku masih tersadar. Cahaya bulan yang lumayan bebas di area perkemahan, membuatku cukup bisa melihat pembantaian teman-temanku oleh para vampire ini. Alfred, Roxy, Mandy, yang telah kalah dalam perlawananya. Dan akhirnya mati karena kehabisan darah. Mayat mereka diseret keluar dari kemah.
Si vampire laki-laki, yang tadi melemparku, berjalan ke arahku. Aku tersenyum, karena setidaknya aku akan mati dalam perlawananku. Namun kusadari, kengerianya bukanlah tentang diriku. Melainkan saat aku melihat mayat-mayat temanku, yang kepalanya dipelintir hingga terbalik dengan kejamnya. Satu persatu. Seperti yang ada di koran. Aku berasumsi di saat-saat terakhirku, kalau itu mereka lakukan agar teman-temanku benar-benar telah mati. Agar mereka yang telah digigit tak bangkit menjadi vampire baru.

Kini vampire itu berlutut di samping tubuhku. Ia membaringkanku. Ia tersenyum puas karena telah memenangkan pertarungan kami tadi. Ia membuka mulutnya, dan mendekatkanya ke leherku. Ya. Riwayatku akan segera berakhir.

Tapi kemudian aku melihat sosok lain di belakang laki-laki itu. Aku seperti mengenalnya. Seorang wanita. Rambut pirang cemerlangnya merefleksikan cahaya bulan purnama. Ia sepertinya tak ingin laki-laki itu membunuhku. Ia menyingkirkan laki-laki yang hendak memangsaku dengan sekali sentakan. Ya. Dua ekor kucing berebut seekor tikus.
Tapi wanita itu tak juga membunuhku. Ia malah menyebut namaku. “Nathan?” Entah bagaimana ia tahu namaku. Tapi semuanya terjawab saat aku bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas.
“Ellen?” bisikku. Lalu perlahan-lahan mataku mulai menutup. Ketidaksadaran mulai menguasaiku. Lalu aku mendengar suaranya untuk terakhir kali. “Sudah kubilang, kau takkan mungkin mau jadi temanku,” ujarnya, mengulang perkataan di halte saat itu. Entah kemudian aku berada di mana.

Setahun kemudian.
Kini aku paham apa yang Ellen katakan saat itu. Waktu di halte. Ia menganggap dirinya adalah monster yang tak pantas untuk dijadikan teman. Tapi aku sendiri tak tahu harus setuju hal itu atau tidak. Yang jelas, ia telah menyelamatkanku. Walau aku juga menyimpan dendam atas kematian teman-temanku.
Aku tak pernah lagi bertemu denganya. Termasuk di halte itu.

Sekarang aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis lepas. Yang khusus mencari berita tentang para vampire dan makhluk mitos lain. Aku melakukanya, walau sampai harus berkeliling dunia. Aku ingin mengungkapkan keberadaan mereka pada masyarakat.

Kereta subway New York tak bisa disamakan dengan bus di halte Bomont, kotaku waktu itu. Jauh lebih ramai dan padat penumpang. Aku termasuk yang tak mendapat kursi, sehingga harus berdiri di tengah koridor bersama yang lain.
Kereta yang melaju membuatku harus mempertahankan keseimbangan tubuhku. Waktu ada sedikit guncangan, aku merasakan punggungku mendorong seseorang di belakangku. Aku menoleh, hendak untuk meminta maaf. Tapi saat aku melihatnya…
Wajah pucat bercahayanya. Rambut pirang cemerlangnya. Dia ada di sini. Ia juga terkejut saat menyadari keberadaanku. Entah apa yang kini sedang ia pikirkan tentangku. Aku sendiri juga tak tahu apa yang kurasakan terhadapnya. Marah, benci, dendam. Tapi juga kagum dan penasaran. Dan anehnya… juga rindu.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita
Facebook: Danang Sasmi (Facebook)
Danang Sasmi. Cowok yang mungkin terlalu luas angan-anganya, sehingga perlu ditulis.

Cerpen Sekarang Aku Tahu Maksudmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me Is The Next Commando (Part 2)

Oleh:
Aku tak menghiraukan perkataan teman temanku itu, terserah mereka suka sama siapa batinku, aku tak bisa berdusta kalau aku benar benar deg degan, mengingat menjadi kapten commando bukan hal

Misteri Gelang Kaki (Part 1)

Oleh:
Kriiinnggg…!!! Bunyi alarm mengejutkanku yang sedang dalam buaian mimpi indah. Dengan gerak lambat dan agak malas, aku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Pukul 06.30 aku sudah rapi

The Forest

Oleh:
“Yohio!” Panggil seorang laki-laki berjaket biru tua sambil melambaikan tangannya membuat seorang laki-laki berambut hitam yang sedang merangkul tas menghentikan langkahnya. “Hm? Ada apanya.” Tanya Yohio, laki-laki berambut hitam

Misteri Kado Sebuah Boneka

Oleh:
Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada

The Flower of War (Part 2)

Oleh:
Rabu, 21 November 2018 Anya bangun dari tidurnya dengan malas. Kesiangan pula. Membuat Mamanya marah-marah. “Anyaaaa! Kenapa bangun siang lagi? Kasihan Papamu setiap hari harus telat karena kamu. Udah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *