Sekarat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

“Mimpi itu lagi,” gerutuku.

Baru saja bangun tidur sudah disuguhi mimpi seram. Ah, tidak boleh terlalu dipikirkan. Lagi pula, banyak kerjaan kantor dan mengajar di kelas yang mesti ku selesaikan. Baru saja beranjak dari tempat tidur, aku terperanjat kaget. Tanganku berdarah! Aliran hangat cairan kental rupanya juga terasa dari pelipisku. Cepat-cepat aku bercermin. Tapi kepalaku dan tanganku baik-baik saja. Ku lihat sekali lagi tanganku. Rupanya tidak ada noda darah sama sekali. Halusinasi.

Dentangan jam bandul membuyarkan lamunanku. Sudah pukul 6. Aku harus segera berangkat. Cepat-cepat ku bereskan semuanya, mandi, sarapan, laptop di tas, dompet, dan… selesai. Mobil avanza biru metalik sudah duduk manis lama menantiku di garasi apartemen. Hari ini 24 Maret, berarti aku harus ke lab TPB dahulu di Dramaga, siangnya baru aku Kampus Baranangsiang.

Urusan bimbingan dengan mahasiswa banyak menyita perhatianku. Mereka biasa berkorespondensi melalui surel untuk sekadar bimbingan atau perbaikan naskah, baik itu skripsi maupun praktik lapangan. Sudah jam 9 malam rupanya. Di umur yang beranjak pertengahan kepala tiga ini, kadang imajinasi liarku merindukan adanya dekapan mesra seorang wanita. Khayalanku rupanya harus ditebus dengan mandi. Ah, lepas kontrol lagi. Apa aku tak akan pernah berpasangan selamanya? Kadang aku masih mengingat dirinya. Apa dia sudah bersuami? Sepertinya aku harus melamarnya segera.

Baru saja membuka pintu kamar mandi, suguhan pemandangan horor di balik cermin besar menyapaku. Sekujur tubuhku penuh darah. Di dadaku tembus semacam batang logam. Kepalaku hampir putus seperti tertebas sesuatu. Ususku terburai dan mengeluarkan darah segar. Oh, tidak mimpi itu lagi. Belum puas rasanya cermin itu mengejek, di belakangku seseorang berjubah hitam berkuku panjang mengerikan dengan tatapan mata merah berdiri mematung dengan latar belakang hutan dan siluet mobil yang ringsek.

Aku terkesiap. Perlahan sosok di belakangku mendekatiku. Otakku memerintahkanku segera masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Ku kunci pintu dan ku tahan sekuat tenaga. Sosok itu rupanya mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. Lama-lama ia seperti ingin mendobrak pintu kamar mandi. Kencang sekali. Lalu mendadak semuanya sunyi. Aku hanya bisa berdoa dalam ketakukan yang sangat. Ya Allah, ada apa lagi ini.

Setelah itu sayup-sayup ku dengar alunan lagu Dear God-Avenged Sevenfold dari laptopku. Aku pun buka pintu dan melihat ke sekeliling. Rupanya masih berupa kamarku. Ya, kamarku. Bukan hutan dengan siluet mobil ringsek. Apalagi sosok itu. Bukan itu semua. Baiklah. Cermin besar itu menyapaku dengan tampilan tubuhku yang penuh peluh kengerian. Tak ada noda darah, usus terburai, kepala yang nyaris putus, apalagi hujaman batang logam tepat ke jantung. Fyuuh.

“Pak Aulia, ini draft yang harus Bapak tanda tangani. Ini ada titipan dari mahasiswa juga, ini draft skripsi dan praktik lapang. Oh, ya. Nanti cek surel dari Pak Kosasih, katanya Beliau sudah kirim draft proposalnya juga.”

Percakapan itu menandai rutinitasku di Jumat malam. Memang tak ada waktu bagi jomblo sejati yah. Semuanya harus didedikasikan ke tanggung jawab yang mesti diemban. Sabtu pagi aku harus balik ke Bandung, bertemu Kakak iparku, menginap di sana sampai hari Senin. Selasa depan balik lagi ke Bogor untuk mengajar. Oh, ya ampun rupanya ada jadwal seminar di Bali ya pekan depan. Aku harus hubungi mahasiswa bimbinganku agar cepat membuat proposal dan posternya.

Sore ini aku bisa beristirahat lebih awal di apartemen. Gedung rektorat IPB terlihat aneh dari balik jendela. Sore ini hujan badai sepertinya turun dengan cepat. Aku nyaris basah kuyup saat rinai air mulai menampar pipiku di parkiran. Ponselku menjerit-jerit menyita perhatianku. Mendadak aku merasa aneh. Mengapa ponselku retak? Petir di Bogor benar-benar mantap menaikkan adrenalinku. Mobil-mobil pun berbunyi dibuatnya. Tapi mobilku hanya berbunyi sesaat saja. Ah, iyalah… mobil baru. Tapi… Tepat saat aku balik badan, aku bahkan tambah bingung. Mengapa seaneh ini? Mobilku ringsek parah. Kotor penuh sampah daun dan ranting pohon. Pintu kanan mobil hampir putus. Lampu kanan depan mobil menyala, yang kiri pecah. Kaca depan mobil juga pecah. Sesosok tubuh terlihat terkapar di kursi supir.

Jantungku berdebar kencang. Aku berlari kencang menuju pintu kamarku. Aku berusaha membuka pintu kamarku, namun anehnya tidak terbuka. Ia seperti ditahan seseorang dari dalam. Dalam kepanikanku, ku lihat sesosok menyeramkan dari ujung gang berjalan cepat menujuku. Ia menunduk membawa sabit besar yang meneteskan darah. A*jrit. Apalagi ini? Dengan tenaga yang tersisa, aku berhasil mendobrak pintu kamar dan mengunci kamarku. Baru saja ku kunci ku dengar ketukan dan bel berulang-ulang. Gila! Apa-apaan ini. Aku hanya bisa membaca ayat kursi berulang-ulang sambil menangis.

Ada 10 menit sepertinya sampai suara ketukan dan bel itu lenyap disapu amarah hujan angin disertai kilatan guntur. Aku terpaku di depan pintu kamar. Perlahan aku menuju ke tempat tidur dan mencoba merebahkan diri. Jam dingdong berdentang mengagetkanku. Ah, sudah jam 10 malam. Eh? 10 malam? Rasanya baru sebentar. Ponselku ribut lagi menandakan ratusan pesan masuk. Layar ponselku dengan pongahnya menampilkan angka 10:00 pm. Tak percaya apa yang terjadi, aku sibak tirai. Gelap. Dan hujan.

Hari minggu yang menyenangkan. Aku dapat menemui iparku di Bandung. Ia selalu berseloroh padaku, kapan aku menikah. Ingin rasanya ku jitak dia. Hehehe. At least I am a high quality jomblo and stright. Senin esok ku putuskan pulang pagi karena Senin sore ada rapat mendadak dengan wakil dekan di FMIPA. Untuk persiapan fisik, aku tidur lebih awal. Sore-sore aku berangkat mengendarai mobil dari Bandung melalui tol Cipularang. Mobil-mobil melaju kencang terengah-engah diperintah tuannya yang egois. Malam ini bulan tidak menampakkan dirinya. Hujan deras telah menemani perjalananku dari Bandung. Semoga saja sampai Bogor jam 10. Kecepatanku hanya kisaran 70-80 km/jam. Cukup lambat dibandingkan dengan laju pengendara lainnya. Selama di perjalanan aku menyetel radio dan mendengarkan musik.

Hujan rupanya makin deras. Jarak pandangan makin kabur. Ku pelankan laju mobil dan ambil sen kiri. Ada keheningan yang aneh di tengah alunan Dear God-Avenged Sevenfold yang ku putar. Aku merasakan adanya kehadiran seseorang di kursi belakangku. Saat ku lihat melalui cermin supir, di kursi belakang duduk dengan manis sesosok makhluk berjubah hitam berkuku panjang. Tangannya putih keabu-abuan seperti mayat dan sangat kurus namun menakutkan seperti tinggal kerangka saja. Ia membawa semacam sabit besar yang meneteskan darah.

Tepat saat aku meliriknya, ia menatap tajam melalui bola matanya yang merah dari muka yang rusak seperti tengkorak. Ia tersenyum sinis padaku. No!! Aku berusaha mengerem mobil. Tak disangka ada mobil lain di depanku. Ku banting stir ke kiri. Semuanya tiba-tiba berguncang dan berputar-putar. Lalu hempasan terakhir menusukkanku pada suatu benda yang seperti tongkat tepat ke dada. Leherku pun seperti teriris sesuatu yang menyebabkanku tak bisa bicara. Pandanganku kabur. Aku merasakan diriku terangkat. Apakah aku mati?

Alarm ponselku menyadarkanku dari mimpi buruk itu lagi. S*it. Mimpi ini lagi. Layar ponsel menunjukkan tanggal 30 Maret 2015 jam 4:30 am. Ah, sebentar lagi subuh. Aku bangun dan segera bersiap-siap ke masjid. Dari senin seminggu yang lalu. Aku selalu bermimpi buruk seperti ini. Padahal aku sudah baca doa sebelum tidur. Apa yang salah dengan diriku. Sesaat sebelum aku mengambil wudu, dadaku terasa sakit sekali, aku pun muntah. Darah berceceran di westafel. Aku terkejut setengah mati. Saat ku tatap cermin, tak ada noda darah sama sekali. Ku alihkan pandanganku ke westafel. Tak ada darah sedikit pun di sana. Ya Allah Ya Rabbi… Aku kena sihir kah?

Aku sudah tiba di apartemen jam 10 pagi. Pikiranku sudah bertumpuk-tumpuk antara proposal, skripsi, praktik lapang, rapat, dan jadwal mengajar. Setidaknya aku istirahat dulu sambil membaca proposal dan mengoreksinya. Ku lemparkan bajuku, tas ku keluarkan isinya. Laptop sudah tersedia, dan secangkir kopi hangat sudah menanti untuk diteguk. Cermin kamarku memperhatikanku, ia memperlihatkan tubuh atletisku bak seorang petinju. Ah, lama juga ya seminggu nggak ke tempat latihan tinju lagi. Thomas padahal mau sparring lawan ku. Ku tandai di HP jadwal ke tempat latihan tinju dan aku mulai mengoreksi tulisan-tulisan mahasiswa bimbinganku.

Bel pintu apartemen berdentang tanda ada tamu datang. Ku berkemas dan membukakan pintu. Tak ada orang. Dasar orang iseng. Baru saja ku tutup bel itu berdentang kembali. Saat ku buka tak ada orang lagi. Sial. Main-main rupanya. Belum pernah kena hook dan uppercut rupanya. Bel berdentang lagi. Sebelum aku buka, aku cek dulu melalui kamera. Dan aku pun bergidik. Tak ada seorang pun di depan pintu. Bel tetap berdentang diiringi ketukan pintu yang menyeramkan. Tetap saja, di kamera pengawas. Tak tampak satu makhluk pun. Adrenalin memacu tubuhku meringsut ke belakang.

Tiba-tiba pintu apartemen dirusak dengan parang besar. Parang itu menembus di tempat kaca pengintai. Sial. Ke mana aku harus kabur.
Aku mundur teratur ke arah meja kerja. Tapi tanganku meraba sesuatu yang tidak biasa. Benda itu mencengkramku dan menarikku ke belakang. Dan sekarang aku bertatap-tatapan dengan mata merahnya.

“Masih belum sadar juga?” Ia berdesis dan menghujamkan parangnya tepat ke perutku. Aku tak sempat melawan, merasakan kesakitan yang amat dahsyat. Aku terjatuh ke kursi. Eh, ini bukan kursi di apartemen. Ini kursi mobil. Lalu pemandangan berganti menjadi gelap gulita bercampur hujan. Lelehan darah terasa ke luar dari banyak bagian tubuhku. Aku tak dapat bergerak. Ku coba berteriak meminta tolong yang ke luar adalah suara seperti sapi yang disembelih.

Jam tangan kananku menunjukkan waktu yang aneh sekali. Aku makin tak paham apa yang terjadi. Aku hanya dapat berdoa dalam hati agar aku ke luar dengan selamat. Ya Allah, tolong aku.

Bendera seluruh fakultas di lapangan depan Rektorat IPB dikibarkan setengah tiang, tanda ada masa berkabung. Aktivitas kampus berjalan seperti biasa pada tanggal 24 Maret 2015. Di Departemen Kimia, beberapa dosen tidak jadi mengajar karena harus melawat pemakaman salah seorang dosen muda yang meninggal akibat kecelakaan pada malam Selasa di tol Cipularang. Kegiatan perkuliahan pun sepi. Ya, sama sunyinya dengan kondisi ruang di meja kerja Dr. Aulia Rahman Ghozali, MSi di lab bagian Fisik. Tumpukan draft yang tak kan pernah ditanda tangani olehnya, dan tumpukan berkas mahasiswa yang tak kan pernah lagi dibaca olehnya.

Cerpen Karangan: Nekomatan

Cerpen Sekarat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fake After School

Oleh:
Hari ke-131, 1 Agustus 2014 “Awaaaas.” Aah, peristiwa ini terjadi lagi. Sebuah truk merah muncul dari perempatan jalan, kelihatannya supir truk tidak melihat lampu lalu lintas berwarna merah, dan

Saat Misteri Terungkapkan

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, lagu berjudul “Waktu” karya Bondan Prakoso itu terdengar khas tepat di sebelah kamar kos ku. Entah apa yang membuat yudi, begitu panggilan pemilik kamar sebelah sangat

Story of Ma’ndu

Oleh:
Malam ini, aku dan kelompok supranatural kami pergi untuk memenuhi panggilan dari salah seorang warga. Ia menginginkan kami untuk mencari tahu kebenaran dari keberadaan “Ma’ndu”, sosok yang baru-baru ini

Trio Kunti Penghuni Asrama

Oleh:
Sekelompok perempuan muda menginjakkan kakinya di area LPK ( Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan ). Tawa mereka riang, penuh suka cita menyambut mimpi kecil mereka. Kegembiraan makin bertambah ketika

Tak Bisa Dibayangkan

Oleh:
Malam ini, aku baru saja pulang sekolah. Rutinitas di sekolahku yang sangat padat inilah yang membuatku harus pulang sekolah pada pukul hampir sebelas malam. Bayangkan saja, sesudah kegiatan mengajar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sekarat”

  1. galuh yuliana says:

    Bagian mana yang ada kaitannya ama sekarat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *