Selamat Jalan Anakku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 June 2013

Aku sejak SMP di kenal sebagai anak yang tomboy, tak jarang sering bertengkar dengan laki laki. Saat SMP aku tak pernah sekalipun membuka hati pada siapapun hingga saat ku mulai memasuki bangku SMA aku bertemu dengan fikri. Dengannya aku tak punya perasaan apapun tapi sikap dia yang terus meminta aku jadi pacarnya akhirnya aku setujui juga karena aku kasihan walaupun aku suruh dia mematuhi semua keinginanku, supaya dia sadar dan tergerak untuk tidak mencintaiku.. aku menyuruh dia beli ini itu dan membuat dia tak nyaman, tapi ternyata ketegarannya sekeras batu.. Berdua dengannya membuat hari-hariku buruk, tak pernah pembicaraanku dengannya nyambung.

Beberapa tahun kemudian aku kuliah dan bertemu dengan laki-laki yang bernama Andi, yang suatu saat nanti menjadi suamiku.
Dia kuliah di jurusan desain grafis di tempat kuliahku. Dengan fikri aku tetap berkomunikasi walaupun dia telah di luar kota untuk melanjutkan kuliah, walaupun dia yang sering menelponku.. Aku sudah bilang untuk memutuskan hubungan ini karena aku tak cinta sama sekali.

Waktu terus berlalu, aku malah sering mengobrol dengan Andi, sampai timbul sedikit benih cinta di hati kami walaupun tipis. Dia sering memberi aku hadiah dan lainnya dan pembicaraan kami nyambung. Sebenarnya aku ingin bilang ke Andi kalau aku sebenarnya sudah punya pacar, tapi lidahku kelu tak mampu untuk bicara..

Suatu hari Andi bertanya padaku

“Kamu mau gak jadi istriku?”

aku yang memang biasa bicara tanpa berpikir sempat berkata

“kalau kamu berani, bawa seserahan ke rumahku!”

walau sebenarnya ingin sekedar bercanda
Hingga akhirnya tekadnya yang kuat untuk datang ke rumahku bersama keluarganya di hari minggu bulan September tak ku duga. Ia mengetuk pintu rumahku di saat aku tertidur dan ibuku yang membukakan pintu

“Ibu, saya Andi dan ini keluarga saya, saya mau melamar anak ibu..”

Ibuku yang mendengar tak bisa berkata apa apa dan mempersilahkan mereka duduk. Ibuku memanggilku yang masih tertidur

“Lia, bangun!, ada keluarga nak Andi yang mau melamar kamu!, kenapa kamu gak bilang ke ibu kalau ingin di lamar? bukannya kamu masih mau kuliah?”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu..

“Ibu, bukan begitu maksudku, aku gak minta di lamar, aku cuma bercanda!”

“Ibu tak tahu harus bilang apa, lebih baik kamu terima lamaran mereka, pamali nak..”

Dalam hati ku sedih karena aku tak mau cepat-cepat menikah, tapi aku juga tak ingin melanggar perintah ibu.. sungguh ucapan yang buat aku amat sangat menyesalinya seumur hidupku.. Dan ini ternyata baru awal dari kesedihanku selanjutnya yang tak berhenti menerpaku..

Aku pergi ke ruang tamu, memasang tampang senyum semampuku walaupun sangat kupaksakan. Aku berkata dalam hati, mungkin benih cinta akan tertanam saat aku menikah nanti.

Sebenarnya sebelum datang lamaran itu, aku sempat bertemu 3 ular besar dalam mimpiku, yang satu datang menggigitku, yang satu terus mengawasiku dan yang terakhir hanya diam ditempatnya, aku tak mengerti arti mimpi itu..

Mudah-mudahan tak terjadi hal buruk menimpaku, dalam acara lamaran itu aku tak mempersiapkan apa-apa dan ibuku memberi cincin dari nenek kepadaku sebagai tanda lamaran, begitu pula cincin pemberian Andi.. sebagai pengikat..
Semua terjadi secara instan..

Beberapa bulan kemudian aku menikah dengannya dan berbulan madu, dia sangat baik sekali padaku, sampai memperhatikan makananku dan juga menjemputku dengan motor, karena aku tak bisa naik motor dan agak takut karena pernah belajar dengan temanku dan sempat menabrak tukang becak, untungnya aku dan tukang becak tidak apa-apa tapi apesnya uang jajan ludes buat bayar tukang becak..

kembali kesuamiku, pernah dia melatihku naik motor walaupun aku tak bisa juga untuk mengendarainya. Perhatian ekstranya padaku buat aku jatuh cinta, tapi itu ternyata tak bertahan lama. Makin lama jiwa posesifnya yang kuat buatku tak nyaman.

Teman kuliahku yang datang kerumahku di buat tak nyaman oleh suamiku, tak boleh lama-lama ngobrol, padahal mereka teman lamaku. Satu persatu temanku pergi meninggalkanku karena mereka tak suka dengan sikap suamiku..
aku tak sebebas dulu, Aku mengerti kewajibanku sebagai istri tapi jika harus terisolasi aku tak nyaman.

Aku pergi dan pulang kuliah di antar olehnya, aku di buat tak mampu pergi tanpa suamiku. Aku pun lulus kuliah dan mulailah petaka menimpaku. Bibinya yang datang kerumahku sering menanyakan

“Mana momongannya?”

Aku hanya tersenyum dan menjawab sebisaku.
Waktu terus berlalu, tak terasa telah 2 tahun dan menginjak tahun ke-3 Bibi suamiku menginap ke rumahku. Saat ada suamiku beliau baik kepadaku. Tapi saat suamiku bekerja, aku di ghibah dibelakangnya

“Sudah menginjak tahun ke-3 tapi belum punya anak jeng, aku rasa istri keponakanku mandul, di keluarga kami gak ada garis kemandulan!”

Hatiku sakit mendengar perkataan Bibiku yang terhitung masih mertuaku, mulai saat itu aku melakukan tes ke rumah sakit dengan suamiku, dari mulai di beri vitamin untuk kesuburan dan asupan makan yang bergizi tapi tetap tidak membuahkan hasil, aku sama sekali tidak hamil.

Rahimku subur saat di cek, dan ternyata suamiku lah yang kurang subur, walaupun akhirnya berhasil kemungkinan bayi akan terlahir cacat, begitu kata dokterku.. Aku menutupi kekurangan suamiku dari keluarganya, itu sudah kewajibanku.. mungkin kalau wanita lain tidak berpikir 2 kali untuk pergi, tapi aku tidak melakukannya..

Tapi entah mengapa, isu aku mandul menyebar ruak, tapi aku tetap optimis aku bisa hamil, hingga dokter menyarankanku suntik hormon walaupun resiko buatku cukup besar. Tapi aku tetap ngotot untuk suntik agar membuktikan pada mertuaku kalau aku bisa HAMIL!

6 bulan sekali aku suntik hormon dan setelah beberapa kali suntik hormon, badanku membesar karena efek suntikan itu. Dan akhirnya yang aku tunggu tunggu tiba, dokter memberitahukan kalau aku hamil. Suamiku memberitahukan kekeluarganya tapi bibinya tetap tidak suka padaku.

4 bulan berlalu, janinku sudah 4 bulan tapi tiba tiba perutku terasa sakit, aku pun ke dokter bersama suamiku dan disana dokter memutuskan agar aku di kuret, karena bayinya lemah dan kalau dipaksakan akan cacat total dan berakhir kematian.

Aku menolak karena aku ingin bayiku, aku ingin buktikan kalau aku bisa hamil. Saat itu aku semakin kalut dan mengeluarkan darah hingga terpaksa dokter menguretku dengan persetujuan suamiku,

Beberapa jam kemudian aku siuman dan mendapati bayi mungilku sudah teronggok kaku di kantong plastik putih itu, aku menangis menatapnya, biarlah aku yang mati asal jangan janinku!. Aku pingsan kembali seakan tak menerima kalau bayiku telah tiada,
Berjam-jam aku syok, masih tidak menerima takdir, hidupku semakin rumit di saat aku butuh dukungan moril dari keluarga suamiku tetapi mereka menyuruh menceraikanku..,

“Sudah ceraikan saja istrimu itu, masih banyak wanita yang ingin menikah walaupun kamu jadi duda!!” perintah sang bibi kepada suamiku,

Aku mendengar dari balik pintu perkataan bibiku, dan hanya terperangah melihat suamiku yang hanya diam dan menuruti perkataan bibinya, ingin rasanya ku berteriak memberitahu mereka semua bahwa suamikulah yang lemah, walau tak satu pun perkataanku keluar, aku tak tahan lagi dengan semua ini,

“Mas, aku ingin kita pindah, aku tak mau bertemu bibi kamu .. apa yang ada di lisannya cuma mencemoohku..!!!” bentakku keras setelah bibiku telah pergi dari rumah,

“Sudah kubilang ia familiku, bagaimana jika kamu jadi aku? Dan yang bicara adalah ibumu? Coba kamu mikir lagi!!!”

“Tapi…”

“Gak ada tapi..” bentaknya keras

Aku menangis dan pergi ke kamar, ku kunci dari dalam..

“Lia, buka pintunya! Baiklah kalau itu mau kamu, kita pindah rumah..”

Begitulah akhirnya, suamiku berubah dan menyewa rumah di daerah banten dan juga pindah kerja, tapi disana ia akhirnya berhenti dan menganggur, hingga akhirnya bibinya mampir lagi ke rumah itu dan menyuruh suamiku menceraikanku, karena hanya membawa sial.. aku yang mendengarnya tak tahan lagi dengan perkataan itu, sudah cukup bagiku. Malam itu juga aku minta cerai darinya, tapi ia tak mau.. aku tetap kukuh pada pendirianku dan mengancam akan pergi dari rumah.., dia malah balik mengancam kepadaku,

“sampai dunia akhirat aku tak mau menceraikanmu, kalau kamu tetap untuk minta cerai, aku bakar ijasah mu!!!”
Akhirnya perkataannya benar benar ia lakukan, seluruh ijasah sd smp sma ia bakar, aku kalut karena tidak mungkin di terima kerja tanpa ijasah itu, masa depan yang kelam tampak jelas di balik tangisku melihatnya membakar ijasah itu juga. Akhirnya aku kabur dari rumah itu, tanpa membawa apa apa, tanpa uang sama sekali.. aku kabur malam harinya, sambil membayangkan ijasah itu. Bukti keseriusanku dari remaja hingga dewasa tak dihargainya, pernahkah ia membayangkan bagaimana hasil jerih payahnya di bakar di depan mata? Tak ada penghargaankah sedikit pun untukku? Aku berlari tanpa tujuan malam itu sambil menangis, hingga akhirnya ada seseorang bapak yang melihatku seorang diri dan berniat mengantarku pulang, aku bersyukur masih ada orang yang baik, aku akhirnya sampai di rumah ibuku di tangerang. Ku katakan semuanya pada ibuku, karena ia tak pernah mencampuri urusanku. Ternyata beliau masih menyayangiku dan menyuruhku tinggal dan mengurus perceraianku di pengadilan, dihadapan hukum kami sah bercerai…

Dan semenjak dari pengadilan itu ku tak tahu kapan, tapi saat kusendiri mendekam di kamar ternyata aku merasakannya, saat kusendiri ada sosok yang memelukku, sosok tanpa wajah.. di tengah banyaknya beban yang membuatku stress itulah aku bertemu anakku, sosok tanpa wajah.. tiap malam ia menjagaku, memelukku yang kesepian. Kumenyuruh ibuku membuatkan susu, kukatakan untukku padahal untuk anakku, aku terdiam di lantai sambil menaruh segelas susu, anakku tersenyum walau tanpa wajah..
Berhari hari aku terdiam di kamar dan akhirnya ibuku semakin yakin ada yang tidak beres..

“Susu itu kenapa gak di minum? Kamu taruh di lantai lia?”

“mah, liat ni.. anakku lagi minum susu di lantai…”

Tak ada sosok apapun,

“Ya tuhan, lia..” beliau sedih karena tahu, pasti ada yang tidak beres,
“kita harus ke orang pintar.. sekarang juga!”

Aku menuruti maunya sambil menggendong, anakku minta di gendong. Saat tiba di rumah ustad ibuku memberitahu semua hal pada sang ustad kalau anaknya melihat sang anak yang sudah meninggal, lalu sang ustadz melihatku yang masih terlihat menggendong sesuatu..

“Anak ibu masih belum merelakan bayinya.. sang bayi itulah yang menemani dia, menenangkan pikirannya, karena ibunya belum merelakannya tenang.. mungkin ini khorin si bayi..”

“cara supaya anak saya kembali normal gimana ustadz? Saya sedih melihat keadaannya seperti itu..”

“ada 2 hal yang harus ibu dan anak ibu lakukan, yang pertama relakan anak itu tenang disana, tiap anak ada ikatan batin dengan ibunya, jadi jika ibu sedih maka anaknya tidak tenang, biarlah ia jadi penolong kita di akhirat nanti, yang kedua tolong ibu berikan nama pada anak yang sudah meninggal, karena ia sudah di tiup ruh.. jadi sekalian selametan..

“Aku gak mau pisah dengannya ustadz!” bisikku pilu sambil menatap bayi itu, ia tahu anaknya tak ingin pisah

“Lia, biar anakmu tenang di alam sana, jangan kamu biarkan bebanmu di ambil anakmu!” ujar ibuku dengan sedih

“Gak kenapa-napa bu, biarlah kita beri kesempatan untuk berpikir. Beban moril anak ibu mungkin yang membuatnya susah melepasnya.. ya sudah mungkin cuma itu saja yang bisa ustadz bantu, keputusan semuanya ada di anak ibu..”

Itu akhir perbincangan kami dan aku tetap kukuh untuk tetap bersama anakku, di rumah aku semakin tak sadar dengan keadaanku sendiri, berbincang dan menimang, memberi susu dan biskuit.. tapi beberapa hari kemudian aku sadar kalau semua ini salah. Tak seharusnya anakku yang menanggung beban ibunya, dan entah dari mana asalnya.. saat ku tatap sosoknya, aku katakan apa adanya

“Nak, kamu mau kan nolong ibu di shirat?” kurasakan ia setuju denganku walau mungkin hanya halusinasiku..

“Maafin ibu ya yang gak bisa ngejaga kamu nak, ibu membiarkan kamu pergi.. terimakasih sayang sudah jaga ibu..,” kurasakan ia sekarang tak mau untuk pergi.

“Ibu sayang kamu, ibu gak bakal lupain kamu nak, kamu mau kan nurutin ibu?” bisikku dengan berlinang air mata..

Akhirnya ia pun pergi, beban di pundakku juga hilang dan aku tak berhalusinasi semenjak itu, dan beberapa hari kemudian diadakan selamatan dan pemberian nama.

Ku mulai membuka hatiku pada lawan jenis sejak saat itu, tapi di tempat tidurku aku mulai merasakan hal ganjil. Di tembok dinding kamar saat kumatikan lampu ternyata ada sesosok wajah, rupanya seperti mantan suamiku.. ya tuhan apalagi ini?
kulihat keesokan harinya ternyata bayang wajah itu ada di tembok itu. Aku jadi paranoid dengan semua ini, aku benci dia tetapi kenapa bayangnya slalu muncul di tembok juga mimpiku akhir-akhir ini?

Hal itu tak ku katakan pada ibuku karena dia pasti khawatir padaku, aku akhirnya berbicara pada teman dan dia setuju membantuku. Beberapa hari kemudian mantan suamiku menanyakan keadaanku, aku tak tahu ternyata ia yang menelpon. Semenjak itu ku tak angkat telpon itu.

Aku di kenalkan pada seorang lelaki oleh sahabatku yang tahu statusku, tapi saat ia menyapaku ia menghindar.. aku tak tahu apa yang salah padaku, dan saat berkenalan dengan lelaki lain hal serupa juga terjadi, semua menghindar kepadaku..

Aku serasa sendiri di dunia ini, malam hari ku mengadu pada tuhan kenapa keadaanku seperti ini? kenapa hanya kesedihan bertubi-tubi yang kuperoleh?

Sebulan kemudian temanku datang dan membawaku ke tempat pamannya yang seorang cenayang, dan kuceritakan segala keadaanku.

“Setelah paman lihat ternyata mantan suami kamu menaruh gendam berupa benda di sekitar rumah, aku tak tahu apa tapi yang pasti karena itulah lelaki lain merasa tak suka kepadamu dan bayangan di kamar kamu itu berupa gendam agar kamu kembali ke mantan suami kamu dan halusinasi bertemu mantan suamimu, dan yang paman lihat ada 2 orang yang membantu mantan suami kamu. Yang satu di daerah banten yang satu semarang, tapi kamu tak usah khawatir. Yang kamu lakukan harus berserah diri kepada Allah, perbanyak ibadah sholat malam Insya Allah gendam itu musnah. Dan paman lihat nanti ada seseorang yang membuat hidupmu mudah, dia ada di pelabuhan, paman tak tahu dimana. Tapi jangan terpaku pada yang paman lihat. Kamu berpikir positif saja…”

Aku yang mendengar menjadi semakin sadar, bahwa hidup ini tak selamanya indah. Semenjak itu aku telah memaafkan mantan suamiku walau sepahit apapun yang ia perbuat, ia juga akhirnya telah menikah dan ku mulai membenahi hidup ini ke arah lebih baik dan mulai belajar ikhlas dengan keadaan yang diperoleh, bahwa tuhan tak akan meninggalkan hambaNya ditengah kesendirian..

END

pesan moral
1. hati hatilah dengan ucapan kita yang tak di sengaja, bijaklah dalam berkata
2. tuhan tak pernah meninggalkan kita, tapi ujian hanya agar kita belajar untuk ikhlas dan berharap hanya kepada sang kuasa dan yakinlah kebahagiaan suatu saat nanti akan diperoleh,

Cerpen Karangan: Wildan
Facebook: https://www.facebook.com/anthony.green.33046
Gak terlalu hobi menulis jadi sekedar iseng dan asah kosakata, cerpen ini adalah kisah nyata, tapi nama orang di tutup dan memang di minta untuk di share walau sekarang ia sudah entah dimana.. m

Untuk kaum hawa..

Cerpen Selamat Jalan Anakku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sehidup Semati

Oleh:
“Wahahaha!”, “ayo kesini! Disini!” begitulah teriakan anak-anak sore itu di taman bermain. Banyak anak-anak yang bermain di taman bunga yang indah sore ini. Maklum saja hari itu adalah hari

Rindu Nenek Menggerutu

Oleh:
“Rio notanya mana?” Tanya nenek yang sedang mencari nota di kardus yang masih dipenuhi dagangan. “Ya gak tau lah nek, orang rio dari tadi lagi bungkus gula merah” jawabku

Nyanyian Di WC Sekolah

Oleh:
Ini hari pertama aku masuk sekolah Dasar. Saat Mama mengantarku memasuki gerbang sekolah, bulu kudukku merinding tapi aku tidak mau bilang ini pada Mama. Kedua bola mataku melirik kiri

Cerita Mas Danu

Oleh:
“Udah dapet belum yang di cari. Hampir sore ntar dicariin ayah di rumah!” kataku sembari menepuk bahu seorang anak laki-laki disampingku. Aku melihat ke seberang rak buku. Anak perempuan

Hantu di Rumah Tua

Oleh:
Hai, Namaku Ira Melisa. Panggil saja aku Melisa. Aku duduk di bangku kelas 6 SD. Aku tinggal di sebuah desa terpencil di kota Bogor, Jawa Barat. Letak rumahku tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selamat Jalan Anakku”

  1. sarah nur fatimah says:

    Aku bag ca ini sedih banget. Jadi pengen nangis.
    Klo dipikir-pikir kasian juga ya
    Aku jadi iba:'(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *