Selembar Puisi Kematian

Judul Cerpen Selembar Puisi Kematian
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Namaku riza matsui aku ini merupakan seorang bertipe melankolis.. Yang selalu mengungkapkan perasaan dan suasana hatiku dalam puisi, sampai aku berteman dengan seseorang laki laki yang bodoh dan pemalas bahkan ia sangat cerewet
Namanya adalah gin fujiwara

Hoamm kini aku harus mengirim puisiku lagi ke mading tapi aku tak ada ide, suasana hatiku kini datar dan kosong, tiba tiba aku jadi melamun bukannya mencari ide

“Heii riza bagaimana puisi anehmu itu?!” tanya gin menepuk bahuku dan membuyarkan lamunanku
“Anooo aku.. Ahh sudah berapa kali aku bilang puisiku tidak aneh kau saja yang bodoh!” Ucapku kesal
“Kau ini yah pendiam tapi sekali berbicara sangat menyakitkan..!” ucap gin mengacak ngacak poni rataku

Aku mengembungkan pipi dan menghembuskan napas lalu aku menatap gin yang duduk di sampingku ia sedang asik bersama ipod mp3 nya mendengarkan musik yang membuatnya keasikan menggoyangkan jari jarinya

Melihat gin seperti itu aku jadi mendapatkan ide untuk puisiku kali ini yap akan kuberikan judul puisinya itu; kebodohan darimu

Yapp tak beberapa lama puisiku selesai aku benar benar bahagia tanpa sadar saking membuat aku bahagia aku sampai memeluk gin, Gin sontak kaget dan memerah tapi ia membiarkan saja aku memeluknya sampai sadar aku telah memeluknya aku kemudian menjitaknya. Aku berlari ke luar kelas sementara gin hanya terpaku menatapku

Keesokan hari
Bel istirahat berbunyi di sekolah, semua siswa sekolah mulai mengerubungi mading dan banyak sekali yang tertawa aku sangat kebingungan dan ada seseorang yang tampak murung… Orang itu adalah gin

“Hai gin kenapa?” tanyaku menepuk pundaknya namun gin menangkis tanganku dan pergi
“Aku adalah teman yang bodoh! Aku tak pantas menjadi temanmu!” Ucap gin berbicara dengan nada yang berat dan pergi ke gudang sekolah

Aku pun mengejar gin ke gudang tapi aku tidak menemukan gin di gudang yang gelap tapi aku melihat sosok anak kecil perempuan yang membawa selembar kertas ia mempunyai matanya berwarna putih keseluruhan dan satu lagi berwana seperti orang pada umumnya, aku tidak ketakutan aku berpikir yahh mungkin saja ia mempunyai penyakit mata

“Siapa namamu? Lihat temanku tidak?” tanyaku
“Ohh kakak yang tadi menangis itu hmm dia sudah mati di pojok sana karena membaca ini.. Aku ingin kau membacanya!” ucap anak itu padaku
“Umm apa ini.. Oh ini puisi sebentar..” aku memang membacanya tapi kebiasaanku itu membacanya dalam hati agar aku bisa menghayati

Dan kagetnya aku banyak sekali kata kematian, mati, mengalirkan darah dan pergi ke neraka.. Namun aku yang seorang yang suka puisi aku coba berpikir mungkin saja ini kata kiasan aku kagum anak sekecil dia bisa membuat puisi yang banyak mengandung kata kiasan

“Etto… Maaf iyah kakak membacanya dalam hati agar bisa menghayati dan memaknai lebih dalam! Puisimu bagus keren!” ucapku sambil memberikan selembar kertas itu pada anak kecil di hadapanku
“Wahh terima kasih! Oh ya namaku tomino.. Anoo kakak mau tidak menjadi temanku?” ucap anak yang bernama tomino itu tersenyum ceria
“Iyah tentu saja!” aku pun tersenyum
“Kakak harus menemaniku tapi kan kakak sudah menjadi temanku” ucap anak yang bernama tomino itu
“Boleh temani kemana?” tanyaku sambil tersenyum
“Kakak harus menemaniku ke neraka!” ucap anak itu tersenyum kecut

Sontak aku kaget tapi tiba tiba tubuhku lemas kurasakan detak jantungku melambat temponya dadaku sesak dan pandanganku menjadi gelap aku kemudian tidak dapat merasakan tubuhku. Lalu aku terlepas dari ragaku, aku melihat tomino membawaku pergi meninggalkan tubuhku untuk selama lamanya

Tamat

Cerpen Karangan: Hana Nabilah
Blog: akiyamahana26.blogspot.com
Namaku Hana Nabilah
lahir pada tanggal 12 mei 1998 di Kota Tangerang, Indonesia
kini tinggal dibandung
hobi menulis, membaca dan menggambar
sangat menyukai makanan sushi dan ikan bakar
menyukai teh apel dan teh hijau
mengidolakan nogizaka46 dan LISA
Cita cita ingin menjadi penulis light novel dan animator sukses
kutipan: dengan membaca kita akan mengenal dunia tetapi kalau kita menulis maka dunia akan mengenal kita
Motto: Ganbatte And Never Give Up!

Cerita Selembar Puisi Kematian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malam Jumat ke 13

Oleh:
“Aku gak butuh kamu, aku bisa mengurusnya sendiri” ucap lelaki paruh baya itu “ck, jangankan mengurusnya menyempatkan waktu untuk dia saja kau tak pernah” jawab seorang wanita dengan wajah

Scorned Love

Oleh:
Aku melihat berita di televisi pagi ini. Tentang kejadian yang ‘katanya’ sudah sering terjadi pada sekolah-sekolah umum. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini dianggap biasa. “Gadis yang berinisial

Buku Misterius

Oleh:
Namaku Linda. Aku sekolah di Story Schools. Kami hanya membaca dan mengarang cerita. Kali ini aku dan sahabat sahabat ku berlibur di vila. Semoga tidak menyeramkan. “Berangkat sekarang yuk”

Anabel (Part 1)

Oleh:
Suara tangisan seorang wanita mengganggu indra pendengaranku dan sukses membangunkanku, merinding yah itulah yang kurasakan sekarang. Tengah malam jam 11:30 dan terdengar suara tangisan wanita bukannya ini familiar? seperti

Anabel (Part 3)

Oleh:
Tak berapa lama Andra datang dengan nafas ngos-ngosan. “Anabel dia bicara, dia menceritakan semuanya” ucapku. Andra memandangku bingung. “Abangnya… Anabel bilang abangnya pelaku pembunuhan itu dan dia bilang abangnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selembar Puisi Kematian”

  1. rara says:

    Saran saja, jika mengetik nama, depannya harus dengan huruf kapital. Jadi, mungkin bagus namun hanya kurang lengkap huruf kapitalnya untuk nama. Thanks…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *